Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Pulang.


__ADS_3

"Turunlah," ucap Fariz dengan nada datar, dia sampai membukakan pintu di samping Ami, agar Ami segera turun dari mobilnya itu.


Ami tidak mendengarkannya, dia malah menghamburkan diri ke pelukan Fariz yang tubuhnya masih condong padanya, karena baru selesai membukakan pintu mobil.


"Lepas!" tekan Fariz yang berontak, berusaha menjauhkan dirinya dari Ami.


"Biarkan seperti ini dulu, Mas." Ami memeluk tubuh pria itu dengan erat.


"Nanti aku akan sangat merindukanmu, Mas Fariz, juga pasti akan merindukanku, kan?" sambung Ami masih enggan untuk melepaskan pelukanya dari Fariz.


Fariz hanya diam, tidak membalas pelukan Ami itu, dia berusaha untuk tidak membalas pelukan wanita yang tanpa disadarinya telah mengisi hatinya itu yang semula selalu terasa kosong itu.


Tidak mendapatkan balasan dari pria itu membuat Ami, lagi dan lagi sedih, tapi dia meyakinkan dirinya, jika Fariz melakukan ini juga karena terpaksa.


Ami mulai melepaskan pelukannya itu, dia berusaha tersenyum menyebunyikan kegetiran di dalam hatinya karena sikap tak acuh dari pria di depannya itu.


"Mas jaga diri baik-baik ya, sampai jumpa lagi," ucap Ami, masih memasang senyum terpaksanya.


Dia kemudian, membuka pintu mobilnya lebih lebar dan mulai menurunkan kakinya, kemudian memanjangkan tongkatnya, dia masih berharap Fariz akan mengatakan sesuatu yang baik untuk melepaskan kepergiaanya itu.


"Semoga setelah ini, kamu bisa menjalani hidup lebih baik lagi, selamat tin—"


"Jangan ucapkan kata itu, Mas," potong Ami yang tidak ingin mndengar kata selamat tinggal dari Fariz karena dia yakin, jika mereka akan kembali bertemu lagi.


"Kita akan bertemu lagi, Mas."


Fariz tidak bersuara lagi melihat senyuman yang masih terpatri di wajah Ami, dia sendiri tahu, jika itu senyuman yang sangat dipaksakan.


Dia menutup pintu mobil dan mulai menghidupkan kembali mobil itu. Secara perlahan, mobilnya mulai menjauh dari Ami yang masih belum bergerak di tempatnya.


"Kita akan bertmu lagi, Mas," gumam Ami mengusap pipinya saat sadar ada air mata yang mulai turun.


Ami masih tidak beranjak dari tempatnya, kakinya seolah berat untuk melangkah memasuki rumahnya, di sisi lain dia senang, karena akan bertemu kmbali dengan papanya, tapi di sisi lain dia merasa hatinya kemali terasa kosong.


"Nak, akhirnya kamu pulang."


Sebuah suara yang sangat dikenalnya dan juga dirindukan olehnya, membuat Ami membalikkan badan pada sang papa yang tengah menatapnya dengan bahagia.

__ADS_1


Denis yang baru saja pulang, merasa sangat bahagia, saat melihat anak bungsunya berada di depan gerbang rumahnya, tanpa menunggu lama dia pun segera turun dari mobil dan mendekati Ami.


"Pa!" lirih Ami dengan tangis yang dari tadi berusaha ditahannya, langsung mencuat ke permukaan.


"Papa kangen sama kamu," ucap Denis memeluk Ami.


Ami menangis dalam pelukan papanya, menumpahkan kesedihan dalam hatinya yang dari tadi dia tahan, sekuat tenaga itu.


"Sudah ya, sekarang kamu sudah ada di rumah, ayo kita masuk dulu, nanti kamu ceritakan apa yang terjadi selama ini," ucap Denis menuntun Ami memasuki gerbang rumahnya.


Denis mengira, tangisan Ami itu terjadi karena dia merindukanmu dirinya dan keluarganya, dia mengira itu adalah tangis bahagia Ami.


Padahal alasan terbesar Ami menangis bukanlah itu, meskipun wanita itu memang merindukan keluarganya, tapi ada hal yang membuat Ami menagis hingga seperti itu.


Alasan terbesarnya adalah, perpisahan dirinya dan pria yang seolah jauh untuk digapainya, tapi dia ingin berusaha menggapai pria itu, meskipun tidaklah mudah. 


Ami membenamkan dirinya di dekapan papanya, sama seperti saat dia masih kecil, jika sedang sedih, mencari ketenangan dalam dekapan papanya.


"Alhamdulillah, Non Ami sudah ketemu Tuan," ucap Candra saat membuka gerbang.


Dia berucap syukur, saat melihat Denis datang bersama dengan nona-nya yang beberapa waktu itu tiba-tiba menghilang.


"Baik, Tuan." Candra mengangguk dengan antusias dan mulai berjalan ke arah mobil Denis yang ada di depan gerbang.


Sementara Denis memasuki rumah bersama dengan Ami yang masih berada di dekapannya, dia membawa Ami ke ruang keluarga, di sana ternyata sudah ada Daffin yang baru saja pulang bekerja bersama dengan Zoya.


"Non Ami," panggil Tini yang baru keluar dari pintu dapur dan melihat Ami yang sedang dipapah oleh Denis, menuju ke ruang keluarga.


Mendengar panggilan Tini itu, Zoya dan Daffin yang tengah berbincang, menghentikan obrolan mereka dan mengalihkan perhatian ke arah pintu.


"Papa, Ami," ucap Zoya dan Daffin barengan dengan ekspresi wajah berbeda.


Jika Daffin senang dengan kepulangan Ami, berbeda dengan Zoya yang tidak senang dengan kepulangan, adiknya itu.


"Syukurlah kamu sudah pulang, Mi. Ke mana saja kamu selama ini, kita semua khawatir dengan keadaan kamu," sambung Daffin.


Ami yang sedang dituntun oleh Denis untuk duduk, hanya tersenyum tipis mendengar penuturan dari kakak iparnya.

__ADS_1


"Gimana kabar kamu selama di luar sana, Nak. Apa kamu hidup dengan baik? Apa kamu bertemu orang yang baik di sana?" Runtutan pertanyaan dilayangkan oleh Denis yang sudah duduk berhadapan dengan Ami.


Ami mengambil tangan papanya dan menggenggam tangan yang selalu memberikan perlindungan dan kehangatan untuknya itu.


"Ami baik-baik saja, aku juga ditolong oleh orang yang baik, makanya sekarang aku ada di sini dengan selamat, tanpa kekurangan apa pun, orang yang nolong Ami benar-benar orang yang baik, dia menjagaku meskipun aku adalah orang asing," sahut Ami tersenyum pada Denis.


"Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja, terus ke mana orang yang nolongin kamu dan jagain kamu itu, kenapa tadi tidak ada, padahal papa ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih," ucap Denis mengusap punggung tangan Ami.


"Tadi dia ada kepentingan mendadak, jadi dia harus segera pergi lagi," sahut Ami.


"Ya udah kalau gitu, lain kali kita akan berkunjung ke tempatnya dan berterima kasih padanya," ucap Denis.


"Iya, Pa."


Tak lama kemudian Tini datang kembali ke ruangan itu, dia menyajikan minuman untuk mereka berempat.


"Jadi, kenapa kamu waktu itu pergi, Mi? Kamu tau gak kakak kamu nyari kamu sampai kelelahan waktu itu," ucap Daffin.


Mendengar ucapan dari kakak iparnya itu, Ami hanya tersenyum, jadi itu yang kakaknya katakan pada keluarganya, dia mengatakan jika dirinya pergi begitu saja.


"Iya, kenapa kamu pergi, bukankah kakak menyuruhmu untuk menunggu dulu saat kakak pergi ke toilet." Zoya menyela Ami yang baru saja akan membuka suara.


Dia takut, jika Ami mengatakan yang sebenarnya pada semua orang, jadi dia menyela terlebih dahulu.


"Waktu itu Ami, bosen kak. Jadi aku pergi, bermaksud akan ke mobil, tapi ternyata aku tanpa sadar berjalan terlalu jauh," sahut Ami tersenyum.


Dia memilih untuk mengikuti permainan kakaknya lagi untuk sekarang, untuk saat ini dia ingin tinggal dengan tenang untuk sesaat di rumah itu.


"Aku sampai kelelahan nyari kamu yang tiba-tiba ngilang," ucap Zoya dengan mencebikkan bibirnya.


Ami tersenyum, lalu berucap, "Maaf ya, sudah buat kalian semua repot."


"Iya tidak apa-apa, Nak. Yang penting sekarang kamu sudah pulang dan baik-baik saja," sahut Denis dengan penuh syukur.


"Pa, Ami mau ke kamar dulu ya, mau istirahat dulu," pamit Ami.


"Iya, Nak. pergilah, nanti kita kumpul lagi untuk makan malam ya," ucap Denis mengusap ujung kepala Ami.

__ADS_1


"Iya, Pa."


Ami bangun dari sofa dan mulai melangkah tanpa semangat, ada sudut di hatinya yang kini terasa kosong kembali, meskipun dia sudah berkumpul dengan keluarganya.


__ADS_2