Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Pertemuan.


__ADS_3

"Entah kenapa mataku seolah enggan untuk beralih dari pria itu, mataku seolah terpaku untuk terus menatap pria yang menurutku asing, tapi hatiku merasa hal yang lain."


Rayyan yang mendengar ucapan Ami, bergidik ngeri, dia benar-benar berpikir jika temannya itu benar-benar telah kerasukan mahluk tak kasat mata, karena berbicara aneh.


Dia kemudian menusuk-nusuk pundak Ami dengan jari telunjuknya, hingga mengganggu si empunya yang tengah serius menatap Fariz di depan sana.


"Apain sih," ketus Ami.


"Mi, kamu bikin aku merinding, serius," ucap Rayyan menatap Ami dengan takut.


"Aku baik-baik saja, paham!" ucap Ami sambil menyikut perut Rayyan karena kesal.


"Acaranya masih lama gak, sih? Aku harus segera pulang," sambung Ami lagi yang semakin tidak nyaman berada di sana.


"Bentar lagi, kita harus nyapa dulu keluarga Om Nevan, setelah itu kita langsung pamit," ucap Rayyan.


"Baiklah, aku mau ke toilet dulu ya," pamit Ami yang sudah mulai bangun dari tempat duduknya.


"Mau aku anter gak?"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."


"Yakin, gak akan nyasar."


Ami memutar matanya malas mendengar ucapan Rayyan, apa temannya itu menganggapnya anak kecil. Dia tidak mungkin nyasar.


"Tidak mungkin aku nyasar," sahut Ami yang mulai berjalan meninggalkan Rayyan.


Ami berjalan menuju ke seorang pelayan yang ada di dekatnya, dia menanyakan di mana letak toilet pada pelayan itu.


"Makasih, Mbak," ucap Ami saat pelayan itu selesai menunjukkan letak toilet.


"Iya sama-sama, Mbak." Pelayan itu tersenyum ramah pada Ami.


Ami berjalan menuju ke arah yang pelayan itu tunjukkan, dia memasuki toilet dan menuntaskan apa yang sedari tadi mendesak ingin keluar.


Tak membutuhkan waktu lama, Ami sudah keluar lagi dari toilet, dia berjalan menyusuri lorong yang sepi dengan santai, saat sampai di ujung lorong dan akan ke tempat acara itu lagi, telinganya mendengar suara yang sangat dikenalnya.


Dia menghentikan langkahnya terlebih dahulu, menajamkan telinganya untuk memastikan, jika saat ini dia sedang tidak salah dengar.

__ADS_1


"Mas Fariz,"


Cukup! Bukankah kamu sendiri yang memutuskan hubungan antara kita dengan pergi begitu saja, saat aku dan Mama lagi membutuhkanmu! suara dari seorang pria itu terdengar jelas di telinga Ami.


Suara itu benar-benar, suaranya Fariz, apakah pria itu ada di sini. Dengan perasaan yang tak karuan, wanita itu berjalan dengan perlahan mencari asal suara itu.


Seiring kakinya melangkah, hatinya berdetak dengan kencang, dia yakin jika suara itu suara yang selalu dia rindukan selama ini, apakah dia akan bertemu dengan si pemilik suara itu sekarang, sebuah senyuman terbit di bibirnya, dia melangkah secara perlahan dengan hati yang penuh harap.


Namun saat samapai di tempatnya, kosong ... tidak ada siapa pun di sana, dia memutar badannya, mencari di tempat yang dia yakini asal dari suara itu berasal, tapi tempat itu hanya sebuah sudut yang kosong tidak ada benda atau pun orang di sana.


"Aku yakin tadi suaranya berasal dari sini, tapi kenapa tempat ini kosong," gumamnya dengan sedih.


"Apa aku hanya berhalusinasi saja, Mas apa kita tidak akan bertemu lagi," gumamnya lagi.


Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di dinding dan menatap kesembarang arah dengan tatapan kosong.


"Mi, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Rayyan yang kini sudah berada di sampingnya, menatapnya dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja, hanya lagi pengen ngadem aja di sini, di sana terlalu bising," sahut Ami dengan terkekeh, menyembunyikan kesedihannya karena tidak ingin membuat temannya itu khawatir.


"Aku kira kamu kenapa-napa, soalnya lama banget gak kembali lagi," ucap Rayyan dengan lega. Jika sampai terjadi apa-apa pada temannya itu, apa yang harus dia katakan nanti pada ayah dari wanita itu.


"Baiklah ayo, acaranya sudah selesai. Kita langsung menyapa yang punya acara dulu, sekalian kita langsung pamit, biar pulangnya gak kemalaman," ucap Rayyan yang dijawab anggukkan oleh Ami.


Mereka mendekati keluarga Nevan dan keluarga Cindy yang telah berbincang, setelah acara intinya selesai, Alish yang sudah melihat kehadiran Rayyan, langsung memasang senyum pada Rayyan.


"Halo, Om, Tante," sapa Rayyan dengan sopan pada Alish dan Nevan.


"Rayyan, tante kira dari keluarga kamu tidak ada yang akan datang," ucap Alish.


"Karena aku lagi gak ada halangan jadi bisa datang, Tan. Ayah sama bunda gak bisa datang karena mereka lagi ada urusan," sahut Rayyan.


"Om sama tante kamu juga tidak datang."


"Kalau gak salah, Om Bara sama Tante Irene lagi di luar negeri untuk menghadiri acara wisuda Kak Bryan," sahut Rayyan.


"Oh iya, Bryan udah menyelesaikan S2-nya ya," sahut Ami mengangguk.


"Iya, Tan."

__ADS_1


"Ini siapa, tumben kamu bawa cewek Yan," ucap Alish pada Ami yang tengah memasang senyum ramah padanya.


"Aku temannya Rayyan, Tante. Namaku Zamira," ucap Ami yang berinisiatif memperkenalkan dirinya. Dia kemudian mengulurkan tangannya itu pada Alish.


Alish menyambut uluran tangan itu dengan tersenyum ramah pula, dia memindai rupa Ami dengan seksama, wanita yang manis dan anggun, juga ramah membuatnya merasa suka pada Ami.


"Oh iya saya A—" Alish tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Fariz yang ada di sampingnya menepuk lengannya, hingga dia pun menengok ke arah pria itu.


Apa acaranya masih lama, Ma. aku merasa sedikit pusing, ucap Fariz dengan menggunakan isyarat tangan seperti biasa.


"Bentar lagi selesai," sahut Alish pada Fariz dengan nada pelan.


Fariz pun mengangguk dan kembali melihat ke arah lain, berusaha tidak saling bertatapan dengan Ami yang kini tengah menatapnya dalam.


"Maaf ya, anak Tante ini emang gak terlalu betah kalau terlalu lama di tempat keramaian," ucap Alish kembali menyadarkan Ami yang masih betah menatap Fariz.


"Iya tidak apa-apa, Tante," sahut Ami tersenyum.


Rayyan yang sebelumnya berbicara dengan Nevan, melangkah dan berdiri di hadapan Fariz yang hanya tersenyum tipis dan singkat padanya.


"Selamat ya, Kak. Mudah-mudahan hubungannya lancar terus," ucap Rayyan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Fariz.


Fariz menerima uluran tangan itu dan mengagguk, setelah itu mereka kembali melepaskan tangan mereka, kini giliran Ami yang tengah berdiri di hadapan Fariz.


Pria yang sebenarnya, sedang dicarinya tengah berdiri dengan memasang wajah datar padanya, tatapan matanya terlihat dingin, tapi malah membuat hatinya terasa menghangat, saat dia dan pria yang menurutnya asing itu hanya berjarak kurang dari setengah meter.


"Mi," bisik Rayyan, menyadarkan Ami karena melihat wanita itu lagi-lagi, menatap Fariz tanpa berkedip.


"Selamat untuk pertunangannya," ucap Ami setelah kembali tersadar, mengulurkan tangannya, tapi tidak mendapat sambutan dari pria di depannya itu.


"Maaf, tunanganku ini tidak terlalu suka bersalaman sama lawan jenis," ucap Cindy dengan nada halus, tapi tatapan mata menatap Ami dengan lain.


Cindy merasa tidak suka pada Ami yang terus menatap Fariz dengan intens, dia melihat jika Ami tertarik pada Fariz.


"Oh, ya udah kalau gitu, selamat ya, Kak. Untuk pertunangannya, semoga jadi pasangan yang abadi," ucap Ami yang sudah beralih di depan Cindy.


Dia mengulurkan tangannya pada Cindy dan tersenyum lebar, Cindy menyambut uluran tangan itu dan tersenyum pula, meski sedikit terpaksa.


"Iya, makasih."

__ADS_1


__ADS_2