
"Sebenarnya aku kasihan melihat perempuan itu," ucap Aaric, saat Ami sudah menghilang dari balik pintu.
"Aku juga tidak tega melihat dia selalu sedih seperti itu," sahut Fariz dengan tatapan lurus ke arah pintu.
"Kamu yakin akan melakukan apa yang kamu katakan tadi?" tanya Aaric kini berubah menjadi serius.
"Iya, jadi saat ini bantulah aku," sahut Fariz.
Dia mentap Aaric dengan tatapan memohon, Aaric yang merasa tidak tega melihat ketidakberdayaan Fariz dan keseriusan Ami yang terlihat tulus mencintai saudaranya itu, membuat dia mengangguk.
"Baiklah, aku akan membantumu kali ini, tidak akan mengecewakanmu lagi," ucap Aaric dengan yakin.
Fariz tersenyum mendegar ucapan Aaric itu, dia berharap kali ini semuanya, akan berjalan sesuai dengan harapannya, dia juga berharap kali ini takdir berpihak padanya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu kembali terbuka, membuat kedua pria itu mengunci mulutnya, tidak bersuara lagi.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Nak," ucap Alish berjalan mendekati ranjang.
Fariz hanya tersenyum samar, menanggapi ucapan mamanya itu, dia hanya melirik sekilas ke arah Cindy yang kini sudah berada di sisi lain ranjangnya.
"Maaf ya, semalam saat dapat kabar kamu kecelakaan, aku tidak langsung ke sini, semalam aku baru pulang dan sudah malam, jadi tidak datang," terang Cindy yang hanya ditanggapi oleh anggukan samar dari Fariz.
"Tidak apa-apa Cindy, kami mengerti jika kamu pasti lelah dan butuh istirahat," sahut Alish.
"Iya Tan." Cindy mengangguk dan tersenyum pada Alish.
Karena sudah siang, akhirnya Aaric dan Nevan memutuskan untuk pergi bekerja, tapi Aaric pulang terlebih dahulu untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
Kini tinggalah mereka bertiga yang ada di ruangan itu, Alish melihat ke arah nakas melihat mangkuk bubur yang tinggal terisi setengahnya.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Alish menunjuk mangkuk itu. Fariz pun mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu belum minum obat ya, biar aku bantu minum obatnya," tawar Cindy yang melihat obat yang masih utuh di nakas.
Tanpa menunggu respon dari Fariz, Cindy mengambil obat-obat itu dan mengeluarkannya dari cangkangnya.
"Ini," ucap Cindy menyodorkan obat di tangannya.
Fariz segera mengambilnya dan langsung memasukkan obat-obat itu ke mulutnya, sedangkan Cindy mengambil segelas air dan memberikannya pada Fariz lagi.
__ADS_1
"Kamu langsung istirahat lagi ya," ucap Cindy setelah menyimpan gelas yang sudah Fariz minum isinya.
Fariz hanya mengangguk sebagai sahutan, Cindy segera mengatur ranjangnya agar Fariz bisa istirahat dengan nyaman, dia juga membenarkan selimut Fariz.
Sementara Alish yang memperhatikan perlakuan Cindy, tersenyum senang karena wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri dari anak angkatnya, terlihat bisa mengurus Fariz dengan baik nantinya.
"Oh iya Cin, kamu gak kerja hari ini?" tanya Alish Cindy.
"Tidak Tan, hari ini aku libur," jawab Cindy.
"Oh baiklah, sebaiknya kita duduk di sofa, biarkan Fariz istirahat," ucap Alish sambil berjalan ke arah sofa, karena lelah terlalu lama berdiri.
"Iya Tan," sahut Cindy yang terpaksa mengikuti Alish untuk duduk di sofa, meski sebenarnya dia ingin duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
...******...
"Terima kasih Pak," ucap Ami sambil menyerahkan ongkos taksi online yang mengantarkannya pulang.
Ami berjalan ke arah gerbang, dia membuka gerbang Candra sedang tidak berada di tempatnya, karena sedang sarapan.
Ami mengetuk pintu rumahnya tak lama kemudian pintu rumahnya itu terbuka, tapi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, ternyata yang membuka pintu rumahnya itu adalah Denis.
Denis menatap Ami dengan tatapan menyelidik dan raut wajahnya tegas, tidak selembut biasanya, Ami berusaha menenangkan dirinya, dia mencoba memutar otak untuk mencari alasan yang tepat, jika papanya bertanya.
Ami yang terbiasa mendapatkan sikap lembut dari papanya, menelan ludahnya dengan susah payah, biasanya dia mendengar nada tegas itu selalu ditujukkan pada kakaknya.
"Ami- Ami—"
"Dari mana!" Suara Denis semakin tegas, dia takut anaknya melakukan hal yang tidak baik di belakangnya.
Apalagi ini pertama kalinya, dia mendapati anak bungsunya itu tidak ada saat pagi seperti ini, sementara semalam dia melihat anaknya sudah pergi ke kamar.
"Maaf Pa, Ami nengok teman yang kecelakaan, karena terlalu khawatir, Ami tidak kepikiran untuk membangunkan Papa dan meminta," terang Ami menatap wajah papanya.
Dia berharap papanya percaya dengan alasan itu.
"Benar kamu menengok teman kamu yang kecelakaan, tidak pergi ke sembarang tempat?" tanya Denis dengan nada yang sudah mulai normal.
"Iya Pa, kalau tidak percaya Papa tanya saja pada Pak Candra," ucap Ami menunjuk Candra yang datang dari arah samping rumahnya.
__ADS_1
"Candra apa benar, kamu semalam nganterin Ami ke rumah sakit?" tanya Denis menatap Candra dengan serius.
"Iya Tuan, semalam saya mengantarkan Non Ami ke rumah sakit," sahut Candra menganggukkan kepalanya. "Non kenapa tidak telepon Pak Candra pulangnya?" sambung Candra menatap Ami.
"Ami tadi pesan taksi online saja agar lebih cepat," sahut Ami pada Candra, dia kemudian beralih menatap papanya. "Papa percaya, kan sama Ami?" sambung Ami.
"Iya, kalau gitu papa percaya, tapi kenapa kamu harus menginap?" tanya Denis lagi, membuat Ami kembali berpikir mencari alasan lain.
"Di sana hanya ada seorang teman wanita yang nungguin, karena keluarga dari orang yang kecelakaan di luar kota, jadi Ami temani teman Ami itu," terang Ami, membuat Denis mengangguk paham.
"Bohong Pa, pasti semalam Ami habis ketemuan sama pacarnya dan keasyikan bareng pacarnya itu."
Sebuah suara dari arah belakang Ami, membuat perhatian Ami dan Denis tersita pada asal suara itu, Zoya sedang berjalan ke arah mereka dengan anaknya yang berada di gendongannya.
"Kakak apaan, sih dateng-dateng bicaranya asal," ketus Ami, menatap kakanya dengan kesal.
"Asal gimana, aku yakin apa yang aku katakan itu benar," sahut Zoya mengangkat bahunya.
"Benar dari mana, Kakak lihat penampilan aku, apa Kakak pikir ada wanita yang akan ketemuan sama pacarnya dengan penampilan acak-acakan seperti ini," ucap Ami menunjuk dirinya yang memang acak-acakan.
"Ya bisa aja itu akal-akalan kamu yang sengaja berpenampilan seperti itu, untuk mengelabui Papa," sahut Zoya menatap Ami dengan sinis.
Ami menatap kakanya itu dengan sengit, hingga terjadilah perang melalui tatapan antara kedua saudara itu.
Denis pun melerai kedua anaknya itu agar ributnya tidak semakin berlanjut, Daffin yang baru saja mendekati mereka dengan sebuah tas cukup besar pun, ikut melerai, dia memperingati istrinya agar tidak mencari ribut.
"Kenapa sih kamu selalu belain dia, kamu masih ada perasaan sama dia!" ketus Zoya pada suaminya itu sambil menunjuk Ami.
"Bukan gitu Yang, kamu tidak sadar, kalau kalian itu ribut di depan Andra," ucap Daffin memberikan pengertian pada istrinya yang masih selalu salah sangka padanya.
"Iya suami kamu benar Zoy, lagian kalian itu gak capek apa berantem terus, udah pada dewasa juga," sahut Denis.
"Kalau Kakak yang tidak memulai, Ami juga gak bakal ribut. Pa. Ya udah aku mau ke kamar dulu ya, mau bersih-bersih," ucap Ami yang langsung pergi memasuki rumahnya.
"Ya udah kalau gitu, ayo kalian juga masuk," ajak Denis pada anak dan menantunya.
"Oh iya Pa, Daffin mau titip Zoya sama Andra di sini ya, Daffin ada kerjaan di luar kota dan sepertinya akan lumayan lama," ucap Daffin sambil berjalan mengikuti mertua dan istrinya.
Daffin membawa tas yang berisi keperluan anak dan istrinya, selama mereka tinggal di sana selama dia ke luar kota.
__ADS_1
"Iya kamu pergi saja, biar mereka di sini selama kamu pergi," sahut Denis.
"Terima kasih, Pa." Daffin tersenyum pada Denis, sedangkan Denis hanya mengangguk.