Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Penolong.


__ADS_3

Dinginnya angin malam yang berhembus, menyusup ke pakaian yang dikenakan Ami hingga rasa dingin itu sampai ke tulangnya. Namun, dia masih belum menyerah.


Kakinya terus melangkah meski terpincang, tongkat yang digenggamnya terus dia gerakan ke kanan dan ke kiri tak beraturan.


Dalam hati berdoa, semoga saja dia bertemu dengan orang baik yang sudi untuk menolong, telinganya tak mendengar ada tanda-tanda kehidupan di tempat yang dilewatinya itu, hanya keheningan yang ada.


Tempat apa sebenarnya ini, akankah ada orang yang menolongnya, atau dia meninggal secara perlahan di tempat asing itu.


Lelah ... kaki terasa sudah lelah untuk terus melangkah, tubuh semakin tidak bertenaga, bagaimana dia bisa bertahan, baru beberapa waktu saja, dia rasanya sudah ingin menyerah akan hidupnya itu.


"Pa, Ami takut," gumamnya dengan air mata yang kian deras mengalir di pipinya.


Tubuhnya semakin menggigil karena udara yang semakin dingin, jaket yang dikenakannya tidak mampu menghilangkan rasa dingin di tubuhnya itu.


Adakah orang yang akan menolongnya saat ini, bagaimana jika ternyata dia bertemu orang jahat dan diperlakukan tidak baik, mungkinkah dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan papanya lagi.


Di tengah-tengah keputus-asaan dalam dirinya, dia mendengar ada suara mesin mobil yang mendekat, mungkinkah orang itu bisa menolongnya, harapnya dalam hati.


"Hey wanita cantik kenapa berjalan sendiri di tengah malam seperti ini," ucap seorang pria dengan suara serak dari dalam mobil yang berhenti di sampingnya.


Tak lama kemudian Ami mendengar pintu mobil itu terbuka dan dia dapat merasakan, jika ada seseorang yang berdiri di depannya, aroma alkohol sangat menyengat dipenciumannya.


Ami yakin, jika orang yang saat ini berada di depannya, bukanlah orang baik, pria itu pasti pria yang habis mabuk. Menyadari jika dirinya ada dalam bahaya, Ami memundurkan tubuhnya, berusaha menghindar.


"Kenapa menghindar, aku tidak akan menyakitimu, percayalah. Aku hanya akan memainkan satu permainan denganmu," ucap pria itu yang mulai memegang tangan Ami.


"Cepat bawalah ke mobil jangan kelamaan," ucap pria lain dari dalam mobil.


Ami menggeleng dan berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman pria itu, dia berteriak meminta pertolongan.

__ADS_1


"Tidak, lepaskan aku. Tolong!"


"Mau ku teriak sampai pita suaramu putus pun, tidak akan ada orang yang datang menolongmu, apa kamu tau saat ini kamu berada di tempat yang jauh dari area pemukiman," bisik pria itu tepat di depan wajah Ami.


Ami ingin muntah karena aroma alkohol yang keluar dari mulut pria itu membuatnya sangat mual dan pusing.


"Sayang sekali, cantik-cantik tapi buta." sarkas pria itu sambil terkekeh, pria itu kemudian menarik tangan Ami dengan kencang, memyeret tubuhnya untuk mengikuti langkahnya.


"Lepaskan aku!" teriak Ami lagi masih berusaha berontak.


"Diamlah jangan banyak melawan!" bentak pria itu dan mendorong Ami ke dalam mobil dengan kasar, hingga tongkat Ami jatuh dan pria itu tidak mengambilnya, melainkan langsung masuk ke dalam mobil menyusul Ami.


Ami memeluk erat tubuhnya dengan gemetar, apa yang akan terjadi padanya selanjutnya, apakah dia akan dinodai bahkan sampai di bunuh, membayangkan hal itu tangisnya semakin tidak terkendali lagi.


"Diam!" bentak pria itu tepat di depan wajah Ami yang merasa kesal dengan suara tangisannya.


"Tu-turunkan aku, a-aku mohon," ucap Ami dengan terputus-putus.


Ami beringsut mundur mendengar hal itu, dia harus bisa membebaskan dirinya dari ke-dua pria itu, Ami mulai meredam tangisannya dan memikirkan cara untuk keluar dari mobil itu.


Secara perlahan dia mulai memundurkan tubuhnya secara perlahan mendekati pintu mobil itu, selagi ke-dua pria itu sibuk berbicara.


Saat tubuhnya sudah berada di dekat pintu mobil itu, tangannya secara perlahan meraba pintu itu dan saat tangannya sudah berhasil memegang handel mobil itu, saat dia akan membukanya. Namun, suara pria di sampingnya membuatnya menghentikan niatnya.


"Kamu cantik, tapi siapa yang begitu kejam meninggalkanmu di tempat sepi itu sendirian," ucap pria di sampingnya mulai beringsut mendekati tubuhnya, memepet tubuh Ami yang kembali gemetar karena taku.


Ami dapat merasakan hembusan napas bau alkohol yang memenuhi hidungnya, hingga membuatnya semakin merasakan pusing, tubuhnya meremang, takut saat kulit pipinya merasakan usapan lembut dari tangan pria itu.


Dia memejamkan matanya mengambil ancang-ancang, kemudian tanpa pikir panjang dia menendang perut pria itu, hingga pria itu menjauh dari tubuhnya dan segera membuka pintu mobil.

__ADS_1


'Dukk' Ami berguling di aspal, dia tidak peduli meskipun dia harus mati. Itu lebih baik daripada dia harus dilecehkan dan kehilangan kehormatannya saat dia masih hidup.


Tubuhnya sudah berhenti berguling, sekujur tubuhnya terasa sakit. Mungkinkah dia akan menenui ajalnya saat ini.


Mungkinkah dia tidak akan bertemu dengan papanya lagi, bayangan saat dirinya masih bisa melihat telintas dipikirannya, senyuman papanya dan Tini, pengasuhnya dari kecil.


Wajah cantik kakaknya yang selalu jutek dan memandangnya dengan tatapan permusuhan membuatnya tersenyum samar.


Kepalanya terasa berat saat dirinya di ambang kesadaran, terdengar suara mobil yang berhenti dengn tiba-tiba di dekat tubuhnya yang tidak mampu untuk digerakkan lagi.


Ami berpikir jika mobil itu adalah mobil ke-dua pria itu ... tidak, dia tidak boleh tertangkap lagi, tapi dia dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi.


Kepalanya semakin terasa berat, seolah ada benda yang besar menindih kepalanya itu, kesadarannya semakin lama kian menipis, dia bergumam untuk minta dilepaskan.


"Jangan bawa aku, aku mohon. Lepaskan aku," gumaman yang keluar dari mulutnya dengan sangat pelan, hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri.


Orang yang baru saja keluar dari mobil itu, berjongkok dan menatapnya dengan heran, dia kemudian menggoyangkan tubuhnya untuk membuat wanita yang berada di depannya tersadar.


Dia berusaha membangunkan Ami, tapi tidak berhasil, tidak kata yang keluar dari mulutnya, menyadari niatnya untuk menyadarkan Ami tidak membuahkan hasil.


Akhirnya dengan terpaksa dia pun mengangkat tubuh Ami dan memasukkannya ke dalam mobilnya, setelah memasangkan sabuk pengaman dia kemudian memasuki mobil dan duduk di balik kemudi.


Dia kembali menjalankan mobilnya itu dengan bingung, harus membawa wanita yang saat ini tidak sadarkan diri itu ke mana, ini sudah tengah malam.


Rumah sakit lumayan jauh, tempat terdekat dengan posisinya adalah apartemennya, tapi dia sedikit ragu untuk membawa wanita asing itu ke tempat tinggalnya.


Dia melirik sekilas sekilas wanita itu, dia belum melihat wajahnya dengan jelas, karena gelap.


Apa aku harus membawanya ke apartemen, tapi gimana kalau wanita ini wanita jahat, gumamnya dalam hati sambil berpikir.

__ADS_1


Karena tubuhnya sudah merasa lelah habis bekerja, dia pun malas untuk mengantarkan wanita itu ke rumah sakit, akhirnya memutuskan untuk membawa wanita itu ke tempat tinggalnya.


__ADS_2