Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Kehidupan Baru Ami.


__ADS_3

Setahun kemudian....


Seorang wanita yang kini sudah berusia 24 tahun tengah berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah ringan.


Tujuan utama wanita adalah meja makan, sekarang sudah waktunya untuk sarapan, saat kakinya mulai menginjak lantai dapur. Ternyata papanya sudah duduk manis menunggu kedatangannya untuk sarapan bersama.


"Maaf telat, Pa." ucap wanita yang tidak lain adalah Ami itu, mulai mendudukkan dirinya di hadapan papanya.


"Tidak apa, papa juga baru turun," sahut Denis tersenyum. "Sebaiknya kita segera sarapan, papa harus segera berangkat ke kantor," sambung Denis.


"Iya Pa," sahut Ami mengangguk dan memulai sarapannya.


Kini kehidupan Ami sudah kembali seperti sebelumnya, dia sudah dapat melihat setelah dokter spesialis mata yang menanganinya menyarankan untuk melakukan operasi pada matanya.


"Nanti kakak kamu akan ke sini lagi," ucap Denis.


"Mau nitipin Andra lagi," tebak Ami yang sudah tahu kebiasaan kakaknya itu.


"Iya, nanti malam dia harus menemani Daffin menghadiri undangan dari atasannya," terang Denis.


"Baiklah, nanti Ami tidak akan keluar," sahut Ami pasrah.


Dia lagi-lagi harus mengasuh keponakannya itu, kebiasaan Zoya yang  tidak mau berpergian dengan membawa anaknya dengan alasan ribet.


Alhasil, dialah yang harus menjaga keponakannya itu, sampai kakak dan kakak iparnya selesai dengan urusan mereka.


"Ya udah, papa berangkat dulu ya, kalau mau mau keluar, pergi aja dulu, biar papa suruh kakak kamu datang ke sininya sore," ucap Denis.


"Iya Pa, hati-hati ya," sahut Ami mengangguk.


Denis mengusap kepalanya dan langsung melangkah meninggalkan dia sendiri di meja makan, Ami melanjutkan sarapannya yang belum selesai.


Saat sedang asyik menghabiskan sarapan, Tini mendatanginya dengan ponsel di tangannya.


"Non, ini ponselnya dari tadi terus bunyi," ucap Tini yang sedang beres-beres di depan kamarnya dan mendengar ponsel Ami berbunyi.


"Oh iya, makasih ya Bi," ucap Ami mengambil alih ponsel itu dari Tini.


Tini hanya mengangguk dan kembali pergi dari sana karena pekerjaannya masih belum selesai.

__ADS_1


"Maaf Ray, tadi aku lagi sarapan," ucap Ani saat mengangkat telepon.


" .... "


"Di panti mana?"


" .... "


"Baiklah, nanti aku akan ke sana, tungguin aja ya," sahut Ami.


Setelah panggilan selesai, Ami langsung menyelesaikan sarapannya dan membereskan meja makan, setelah meja makan rapi, dia melanjutkan dengan mencuci peralatan yang sudah menumpuk di wastafel.


Tidak ada banyak perubahan dalam hidupnya. Yang berubah hanyalah dia yang kini sudah dapat melihat, apa yang ada di depan matanya.


Banyak warna yang dapat dilihatnya, tidak hanya terpaku pada kegelapan yang menjadi penghalang geraknya. Namun, sudut di hati masih kosong, menunggu si pengisi hati kembali mengisi kekosongan itu.


"Non, padahal biar Bibi aja yang kerjain itu," ucap Tini yang sedang berjalan ke arahnya.


Ami menengok ke belakang, untuk melihat Tini, lalu tersenyum dan berucap, "Tidak apa-apa, Bi. Lagian aku juga gak ada kerjaan lagi."


"Bibi senang sekarang, Non Ami sudah bisa melihat dengan normal lagi," ucap Tini tersenyum pada Ami.


"Non, masih berharap bertemu lagi dengan orang yang nolong, Non waktu itu?" tanya Tini.


"Ya, meskipun sekarang Ami gak tau bisa bertemu atau tidak," sahut Ami tersenyum paksa dan melanjutkan mencuci peralatan yang sempat terhebti beberapa saat.


"Maafin Bibi ya, Non. Seandainya Bibi gak menghilangkan tas itu, mungkin sekarang Non udah bertemu lagi sama orang yang menolong, Non itu," ucap Tini menyesal.


Waktu itu saat Ami sudah selesai melakukan operasi dan sudah dapat melihat lagi, Ami langsung meminta Tini untuk mengambilkan tas yang berisi foto Fariz yang di simpan di rumah, dia begitu tidak sabar untuk melihat rupa pria itu.


Namun, saat di perjalanan, Tini berhenti karena ingin membeli makanan untuk Ami dan dia dijambret, nahasnya tas itulah yang diambil oleh penjambret itu.


Ami yang mendapat kabar itu, tentu saja sangat sedih, padahal itu adalah satu-satunya petunjuk yang dia miliki tentang Fariz dan sekarang petunjuk itu sudah hilang.


Itulah kenapa sampai saat ini, dia masih belum menemukan Fariz dan belum tahu tentang pria itu lagi.


"Gak apa-apa, Bi. Itu bukan salah Bibi, siapa yang tau kalau bakal ada musibah seperti itu, untuk masalah orang yang menolongku itu, kini aku hanya bisa menyerahkan semuanya pada takdir, jika takdirku memang untuk bertemu lagi, pasti kelak akan bertemu lagi dengannya," terang Ami tersenyum pada Tini yang selalu merasa bersalah tentang hal itu.


Dia juga tidak pernah menyalahkan Tini tentang hal itu, semua itu di luar kendali Tini juga, jadi tidak alasan untuknya menyalahkan art-nya itu.

__ADS_1


"Oh iya, Bi. Nanti aku akan pergi untuk membantu para relawan mengunjungi panti asuhan lagi, kalau Kakak datang, bilang aja aku pergi dulu dan tolong jagain dulu Andra-nya ya."


"Baiklah, Non. Biar nanti Bibi yang jagain, Den Andra." Tini mengangguk setuju dengan permintaan Ami.


Ami yang sudah selesai mencuci piringnya, segera mengelap tangan dan berpamitan pada Tini untuk bersiap, dia akan pergi ke sebuah panti asuhan untuk membantu anggota sukarelawan lainnya memberikan sumbangan yang mereka kumpulkan sebelumnya.


Dia memang ikut bergabung menjadi sukarelawan sejak sembilan bulan yang lalu, semenjak dapat melihat, tidak kegiatan yang dilakukannya, dia pun memutuskan untuk menjadi sukarelawan, membantu orang-orang yang kurang beruntung.


Setelah selesai bersiap, Ami kembali keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke teras rumahnya.


"Bi, Ami pergi dulu ya," pamit Ami pada Tini yang kini sudah berada di teras rumahnya.


"Iya, Non hati-hati ya," sahut Tini.


"Iya Bi," sahut Ami. "Pak, anterin aku ya," sambung Ami yang kini bicara pada Candra yang sedang duduk santai di sebuah kursi yang ada di halaman.


"Siap Non, langsung tancap gas," ucap Candra dengan gerakan cepat dia mengambil mobil yang masih di garasi.


Ami hanya terkekeh dan menggelengkan kepala, dengan kelakuan sopirnya itu, Candra menghentikan mobil tepat di depannya, Ami pun segera memasuki mobil itu.


"Ke jalan ... ya, Pak," ucap Ami menyebutkan nama jalan yang dijanjikan dirinya bersama dengan orang yang tadi menelponnya.


"Iya Non, mau jadi relawan lagi ya?" tebak Candra.


"Iya, Pak." Ami mengangguk sebagai jawaban.


"Tadi, Non Zoya ngirim pesan katanya Pak Candra harus jemput dia, Non," cerita Candra yang sedang fokus pada setirnya.


"Iya, Pak. Nanti jemput saja, jangan nungguin, biar aku ikut sama teman aja pergi ke tempat tujuannya," ucap Ami.


"Baiklah kalau gitu, Non," sahut Candra mengangguk.


"Oh ita gimana kabar istri Bapak?" tanya Ami karena beberapa waktu yang lalu, Candra ijin pulang dulu karena istrinya di kampung halamannya sakit.


"Sekarang sudah sehat lagi, Non."


"Syukurlah kalau gitu, Pak."


Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan antara mereka berdua. Ami melihat ke luar jendela melihat hilir mudik, orang dan kendaraan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2