
Saat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Fariz yang baru saja satu jam terlelap, kembali membuka mata karena kerongkongannya terasa kering.
Dia keluar dari kamar dan menuju ke dapur, suasana di ruang tengah terasa sepi dan gelap karena sebelumnya dia telah mematikan lampu.
Fariz menyalakan lampu dan melanjutkan niatnya untuk menuntaskan kekeringan yang terasa di kerongkongannya itu.
Saat sedang fokus meneguk air dari gelas, ekor matanya melihat ada yang memasuki dapur dengan meraba-raba dinding dan jalan terpincang-pincang.
"Kamu ngapain malam-malam begini kelayapan?" tanya Fariz pada Ami yang baru saja menginjakkan kakinya di dapur.
"Mas, aku haus mau minum. Mas sendiri ngapain di dapur malam-malam gini?" tanya Ami, melanjutkan langkahnya menuju ke lemari tempat penyimpanan peralatan untuk mengambil gelas.
"Sama, aku juga haus," sahut Fariz.
"Oh," sahutan yang keluar dari mulut Ami yang sudah berhasil mengambil gelas dan mulai menuangkan air dari dispenser.
Fariz seperti biasa, dia memperhatikan setiap gerak-gerik Ami, hingga matanya terfokus pada celana Ami, di bagian belakang yang terdapat noda merah.
Dia tentu saja paham hal itu, itu adalah tamu wanita yang selalu datang tiap bulannya, pria itu tidak berniat memberitahu Ami tentang hal itu karena dia yakin wanita itu akan malu.
Kini dia paham, kenapa tadi Ami terlihat seperti ada yang mengganggu pikirannya saat dia mengantarkan makan malam, sepertinya wanita itu ingin meminta bantuan pada Ijah seblumnya. Namun, karena Ijah sudah pulang, jadi dia mengurungkan niatnya itu.
Tak lama kemudian dia pergi dari dapur dan masuk ke kamarnya, setelah itu turun lagi ke lantai bawah dan pergi dari apartemen.
"Mau ke mana Mas Fariz, bukankah ini sudah malam," gumam Ami saat mendengar pintu apartemen itu terbuka dan tertutup.
Tidak mau terlalu memikirkan hal itu, Ami pun berniat kembali ke kamarnya dengan gelas yang berisi air putih.
Sebenarnya saat ini dia sedang sakit perut, efek dari tamu bulanannya, dia juga belum persiapan p*mbal*t karena tadi Ijah keburu pulang, saat dia mau meminta tolong untuk membelikannya.
Setelah sampai ke kamarnya, dia segera merebahkan tubuhnya dan memiringkan tubuhnya itu, mencari posisi yang nyaman untuk mengurangi sakitnya.
Diusapnya secara perlahan perut bagian bawahnya yang terasa paling sakit dengan hati-hati, berharap bisa segera menghilangkan rasa sakit itu.
Sementara itu Fariz, saat ini sudah mengendarai mobilnya, mencari minimarket yang masih buka untuk membeli kebutuhan wanita, saat dengan mendapatkan siklusnya.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, dia pun sampai di minimarket yang masih buka dan segera memarkirkan mobilnya di parkiran minimarket itu.
Dia turun dari mobilnya dan memasuki minimarket itu, tidak lupa juga, dia mengambil keranjang terlebih dahulu untuk wadah belanjaannya.
Dia mencari rak yang khusus untuk kebutuhan wanita dan setelah menemukannya, dia bingung karena ternyata banyak macamnya.
"Yang kayak ini apa yang ini ya," gumamnya menimbang antara dua kemasan beda merek dari p*mbal*t itu.
Karena bingung dan tidak ingin terlalu lama, dia pun menyimpan dua benda itu ke keranjang dan mencari minuman yang bisa meringankan sakit saat datang bulan, seperti yang biasa mamanya beli dulu.
Akibat dari seringnya nganterin mamanya belanja dulu, dia jadi sedikit tahu tentang hal itu.
Fariz berjalan ke arah kasir dan menyimpan keranjangnya ke meja kasir yang dijaga oleh seorang laki-laki masih muda.
...*****...
Kini Fariz sudah sampai di apartemennya, pria itu mengunci kembali pintu apartemennya dan segera menuju kamar Ami dengan satu kantong berukuran sedang yang berada di tangannya.
"Mi," panggilnya sambil memgetuk pintu.
Fariz membuka pintu dan melihat Ami yang sedang meringkuk di atas ranjang dengan memeluk perutnya, di balik selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
"Ini," ucap Fariz singkat dan langsung menyimpan kantong kresek yang dibawanya tepat di samping Ami.
"Apa ini, Mas?" tanya Ami mendudukkan dirinya dan meraba kantong itu.
"Priksa saja sendiri."
Ami mengikuti perkataan Fariz dan membuka kantong yang masih tertutup itu dan meraba ke dalamnya.
"Ini—" Ami tidak melanjutkan perkataannya.
Dia tentu saja tau benda yang sudah sangat familiar itu untuk perempuan, jadi pria itu pergi malam-malam hanya untuk ini.
Bagaimana dia tahu, jika dirinya sedang datang bulan. Jangan Bilang kalau aku bocor, hingga mengotori celanaku dan dia melihatnya.
__ADS_1
Wajah Ami bersemu merah, jika apa yang menjadi perkiraan dalam hatinya itu, benar-benar terjadi.
Dia malu, kenapa dia tidak menyadari hal itu tadi, sekarang bagaimana cara dia menghadapi pria yang saat ini masih berada di kamarnya itu.
"Kenapa malah diam, cepat pergi ke kamar mandi, apa perlu aku bantu juga?" tanya Fariz sekenanya.
Mendengar ucapan Fariz itu, Ami menggerutu dalam hati, bagaimana dia bisa bergerak sekarang, jika pria itu masih ada di kamarnya.
Tidakkah pria itu tahu, jika saat ini dia merasa canggung dan malu. Ingin rasanya dia meneggelamkan dirinya ke rawa-rawa, saking malunya.
"I-itu ... bisakah Mas Fariz keluar dulu, ini juga sudah malam, Mas seharusnya kembali beristirahat," ucap Ami mengusir Fariz dengan cara halus.
Iya, ya. Untuk apa aku masih di sini? batin Fariz yang baru sadar, Fariz berdehem sesaat untuk menghilangkan kecanggungan.
"Iya, aku akan segera istirahat," ucap Fariz mengangguk.
"Makasih, untuk semua ini ya, Mas, maaf merepotkan," ucap Ami, merasa tersentuh dengan apa yang pria itu lakukan untuknya.
Seorang pria tengah malam pergi hanya untuk mencari barang keperluan wanita, wanita itu mengagumi sikap Fariz yang terlihat acuh. Namun, peka terhadap orang yang berada di dekatnya.
Entah kenapa, tiba-tiba saja terbesit di pikirannya, jika dia ingin melihat bagaimana rupa pria itu, dia ingin melihat bagaimana ragam ekspresi dari pria baik itu.
"Apa kamu akan terus melamun seperti itu, sepanjang malam."
Mendengar suara Fariz, Ami tersentak kaget, karena ternyata pria itu masih di kamarnya dan belum pergi juga.
"Mas Fariz, masih di sini? Aku kira udah pergi," ucapan Ami itu seperti sebuah sindiran di telinga Fariz, hingga dia mencebikkan bibirnya karena merasa sedikit kesal.
"Ini tempat tinggalku, jadi suka-suka aku mau berada di mana pun," sahut Fariz dengan sedikit ketus.
"Eh, bukan gitu maksud aku, Mas. Tadi aku hanya kaget saja, karena aku kira mas sudah pergi dari sini," terang Ami tidak ingin pria itu salah paham.
"Aku pergi sekarang," ucap Fariz, akhirnya melangkah meninggalkan kamar itu.
Saat mendengar Fariz membuka pintu kamarnya, Ami kembali berbicara. "Selamat malam, Mas dan sekali lagi makasih."
__ADS_1
Fariz tidak menyahutinya, tapi sedikit sudut bibirnya tertarik ke atas menimbulkan sebuh senyum yang sangat samar, entah kenapa dia ingin tersenyum saat ini.