Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Tak Sesuai Harapan


__ADS_3

Saat ini Fariz sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Nevan, selama di perjalanan itu, senyuman di wajahnya selalu dia pertahankan.


Dia tidak sabar ingin melihat Ami tersenyum penuh rasa haru, saat mendapati kabar darinya, jika orang-tuanya merestui hubungan mereka dan mengijinkan dia untuk mengakhiri pertunangan dengan Cindy.


Namun, di tengah-tengah lamunan dirinya tentang Ami yang akan terharu itu, suara ponsel yang ada di saku celananya berbunyi. Dia pun segera mengeluarkan ponsel itu dan mengangkat, telepon dengan tangan sebelah kirinya.


"Iya Ric, ada apa? Ini juga aku lagi di jalan mau ke rumah Papa," ucap Fariz yang tidak membiarkan orang yang meneleponnya untuk berbicara terlebih dahulu.


" .... "


"Apa! Kenapa tiba-tiba, bukankah semalam masih baik-baik saja?" Fariz yang tadi memasang wajah bahagia, langsung merubah ekspresi di wajahnya dengan ekspresi khawatir.


" .... "


"Baiklah aku akan menyusul ke sana."


Setelah itu sambungan telepon pun terputus, Fariz memutar setirnya ke arah lain, dia pun sedikit mempercepat laju mobilnya agar bisa segera sampai ke tempat tujuannya.


Hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit, mobilnya pun sudah terparkir dengan sempurna di parkiran sebuah rumah sakit.


Pria itu berjalan dengan langkah cepat, menuju ke tempat yang Aaric katakan tadi, saat sampai di sebuah lorong, dia melihat keluarganya telah duduk di depan ruang UGD dengan wajah khawatir mereka.


"Pa, bagaimana keadaan Mama?" tanya Fariz saat sudah berdiri di depan Nevan yang tengah menundukkan kepalanya.


"Mama kamu masih ditangani, semoga dia baik-baik saja," sahut Nevan yang sudah mengangkat wajahnya untuk melihat Fariz.


Nada bicaranya begitu lemah, sangat terlihat jika pria yang sudah berumur 60 tahun itu sangat menghawatirkan istrinya.


"Iya Pa," sahut Fariz dengan kepala mengangguk dan berlalu untuk duduk di dekat saudaranya.


"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Mama bisa tiba-tiba pingsan seperti itu?" tanya Fariz pada Aaric. Saat ini dia sudah mendudukkan dirinya, di samping pria itu.


"Tadi Mama lagi di kamar, dia sebelumnya pamit pada kami untuk shalat sambil menunggu kedatanganmu, tapi setelah beberapa saat tidak kembali lagi, akhirnya Papa nyusulin dan ternyata Mama sudah tidak sadarkan diri di kamar," terang Aaric yang juga dengan wajah sedih bercampur khawatir.


"Semoga saja Mama baik-baik saja," sahut Fariz penuh harap, dia juga merasakan hal yang sama dengan papa dan saudaranya, merasa khawatir dengan keadaan mamanya itu, dia terus merapalkan doa, agar mamanya itu baik-baik saja.


Tak lama kemudian, keluar seorang dokter yang menangani Alish, melihat itu Nevan langsung berdiri dan bertanya tentang keadaan istrinya pada dokter itu.

__ADS_1


"Bagaimana istri saya Dok? Dia baik-baik saja bukan?" tanya Nevan dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


"Alhamdulillah, pasien sudah baik-baik saja, tadi dia mengalami tekanan darah tinggi, sepertinya pasien terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini, hingga dia tiba-tiba tidak sadarkan diri. Dia harus dirawat di sini selama beberapa hari untuk memantau kesehatannya," terang Dokter itu.


"Apa semuanya akan baik-baik saja Dok?" tanya Nevan memastikan.


"Semua akan baik-baik saja, tapi saya sarankan jangan membiarkan dia terlalu banyak pikiran, karena jika pasien tetap seperti ini, saya takutnya tekanan pada darahnya, kian meningkat dan menyebabkan pasien terkena stroke," ucap Dokter itu.


"Iya Dok, terima kasih, nanti saya akan urus kepindahan istri saya ke ruang perawatan."


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu Pak, nanti akan ada suster yang mengawasi perkembangan pasien," pamit Dokter.


"Iya silakan Dok," sahut Nevan.


Setelah dokter pergi, Nevan pun pergi untuk mengurus kepindahan ruangan untuk Alish, meninggalkan Aaric dan Fariz yang masih duduk.


"Apa kamu akan tetap mengatakan pada Mama dan Papa tentang apa yang kamu katakan padaku semalam?" tanya Aaric menengok ke arah Fariz di sampingnya.


"Bagaimana bisa, aku mengatakan hal itu, di saat kondisi Mama yang seperti ini," gumam Fariz dengan suara lemah.


Bagaimana tidak sedih, melihat kondisi mamanya sekarang, dia tidak mungkin mengatakan hal itu, apalagi setelah mendengar penunuturan dari dari dokter tadi tentang kemungkinan yang akan terjadi, jika mamanya itu kembali mendapatkan tekanan.


Dia tidak mungkin nekat, mengatakan itu meskipun hatinya kembali sakit karena lagi-lagi dia tidak bisa berkutik untuk membuat hubungan antara dirinya dan Ami menjadi lebih baik.


"Aku janji akan membantumu untuk menjelaskan pada mereka, tapi bisakah kamu menunggu sampai kesehatan Mama benar-benar stabil," ucap Aaric menatap Fariz dengan memohon.


"Apa kamu pikir aku akan tega menyakiti Mama, tentu saja tidak. Kamu tenang saja aku tidak akan membahas masalah ini pada Mama sekarang, aku rasa pacarku masih bisa menunggu untuk beberapa saat lagi," sahut Fariz berusaha tersenyum pada saudranya itu.


"Terima kasih Riz," ucap Aaric tersenyum.


"Sama-sama, dia Mama aku juga, aku juga sama sepertimu, tidak ingin dia kenapa-napa." Fariz menepuk punggung Aaric.


Terdengar beberapa langkah yang mendekati mereka, membuat kedua pria itu mengalihkan netra mereka ke asal suara, itu adalah langkah Nevan dengan seorang suster, Nevan berdiri di depan pintu, di saat suster memasuki ruangan UGD.


Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, suster keluar disusul oleh ranjang rumah sakit yang ditempati Alish tengah di dorong oleh beberapa suster lainnya.


"Pasien sudah mulai stabil, dia saat ini masih tidur karena efek dari obat saja, sekitar satu jam lagi pasien pasti sudah bangun," terang suster yang sudah selesai memindahkan Alish ke ruang rawat.

__ADS_1


"Terima kasih Sus," ucap Aaric, sedangkan Nevan saat ini sudah duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien.


"Iya sama-sama, kami permisi dulu," pamit suster dijawab anggukan oleh Fariz dan Nevan.


"Aku mau keluar dulu, mau ngabarin Kia, kalau Mama sudah baik-baik saja, dia pasti masih khawatir," ucap Aaric pada Fariz.


"Pergilah," sahut Fariz.


Aaric pun pergi keluar dari kamar itu untuk menelpon istrinya yang berada di rumah Nevan, sedangkan Fariz duduk di sofa yang ada di sana, dia menatap Alish dengan sedih.


Sedih melihat wanita yang sudah dia anggap ibu sendiri, terbaring lemah dan tak berdaya seperti itu, sedih karena hari ini semua yang sudah, dia rencakan tidak berjalan dengan sesuai harapannya.


Maafkan aku Mi, aku belum bisa mengatakan tentang kita pada orang-tuaku. Batin Fariz dengan sedih.


Bayangan tentang Ami yang sedih dengan hubungan mereka yang seperti itu, membuat hatinya terasa ngilu dan sesak.


Dia ingin selalu melihat senyum tulus dari wanita itu, dia tahu, meskipun Ami selalu berusaha tersenyum saat dia membahas tentang masalah dirinya dan Cindy.


Hati kecil wanita itu pasti merasa sakit, meskipun dia sekuat tenaga menahan rasa itu, karena cintanya pada Fariz, wanita mana yang akan terus kuat bila pria yang dia cintai bersama dengan wanita lain, memikirkan hal itu membuat hati Fariz semakin sakit.


Kenapa takdir, sepertinya tidak bisa membiarkan dia dan Ami bersatu secepatnya, apa ini ujian untuk cinta mereka, mampukah mereka menghadapi ujian ini dengan baik.


"Fariz." Suara Nevan yang memanggilnya membuat dia tersadar dari lamunannya.


"Eh iya Pa, ada apa?" tanya Fariz menatap Nevan.


"Riz, kamu kenapa? Kamu capek ya habis perjalanan jauh, Papa panggil dari tadi diam saja."


Fariz menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan dari Nevan itu, dia juga berusaha memasang senyumnya kembali, menyembunyikan kesedihan yang timbul di hatinya.


...----------------...


Jangan marah-marah ya, pengamat Ami dan Fariz✌😁


Bukankah hidup kita juga kadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan? Begitu pun dengan kisah mereka, tidak selancar jalan tol😉


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya👍

__ADS_1


__ADS_2