Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Tidak Baik-baik Saja.


__ADS_3

"Kamu kenapa Mi? Semenjak papa pulang dari luar kota, kamu murung terus?" tanya Denis pada Ami yang tengah melamun di teras rumahnya.


Ami mendongak, menatap papanya yang sedang berdiri di samping kursi yang dia duduki.


"Ami baik-baik saja Pa," sahut Ami berusaha menampilkan senyumnya.


"Beneran tidak ada apa-apa?" tanya Denis lagi memastikan.


"Iya Pa, Ami baik-baik saja kok, Papa tidak ke mana-mana hari ini?" tanya Ami.


Denis menggeleng dan mendudukan dirinya di kursi yang ada di samping Ami, terhalang oleh meja kecil.


"Tidak ah, mumpung libur jadi papa mau istirahat di rumah saja seharian ini," sahut Denis.


"Oh." Ami manggut-manggut paham.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan antara ayah dan anak itu, Denis fokus melihat ke arah luar gerbangnya, dimana banyak orang hilir mudik berlari santai di pagi hari, sebagai kebiasaan para tetangganya di saat libur.


Tini datang dengan nampan yang terisi cemilan dan teh untuk Ami dan Denis, dia menyimpannya di meja yang ada di antara Ami dan Denis.


"Terima kasih, Bi," ucap Denis saat Tini selesai dengan tugasnya itu.


"Iya sama-sama Tuan." Tini tersenyum dan mengangguk, dia kemudian pamit kembali pada mereka karena pekerjaannya belum selesai.


Denis kemudian mengalihkan pandangannya pada Candra yang juga tengah duduk di kursi yang berada di teras samping, tepat di dekat pintu garasi.


"Kamu udah sarapan Can?" tanya Denis pada sopir sekaligus penjaga rumahnya itu.


"Sudah Tuan," sahut Candra sambil mengangguk.


"Baguslah," sambung Denis lagi, dia mulai mengambil teh miliknya dan mulai meminum sedikit demi sedikit tehnya itu.


Sementara Ami dari tadi hanya diam, menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosongnya. Melihat anaknya yang seperti itu, Denis menjadi heran dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada anak itu, belakangan ini sikapnya sangat aneh, lebih sering melamun.


"Oh iya, tumben kamu ada di rumah terus, tidak jalan-jalan sama teman kamu?" Denis kembali memulai percakapan.


Ami menoleh ke arah Denis, dia kemudian menggelengkan kepala, berusaha mempertahankan raut wajahnya, saat hatinya kembali sakit mendapat pertanyaan seperti itu yang membuatnya, mengingat Fariz.


"Dia sedang sibuk, jadi sekarang jarang ngajak Ami jalan lagi," sahut Ami.


"Oh pantes, kamu ada di rumah terus beberapa hari ini." Denia manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


"Pa, Ami mau ke kamar dulu ya," pamit Ami yang langsung berdiri.


"Kenapa kamu ke kamar lagi, ini teh kamu belum kamu sentuh," ucap Denis dengan heran.


"Ami kurang enak badan," alibi Ami.


"Kamu sakit, mau papa anterin ke rumah sakit," tawar Denis yang langsung dijawab gelengan oleh Ami.


"Tidak perlu Pa, aku baik-baik saja, aku hanya ingin istirahat saja," ucap Ami masih berusaha tersenyum.


"Ya udah kamu istirahatlah," sahut Denis sambil mengangguk.


"Iya Pa."


Ami mulai melangkah pergi menuju kamarnya, dia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, membenamkan wajahnya itu ke bantal, tak lama kemudian terdengar suara isakan yang tertahan dari balik bantal itu.


Dia tidak baik-baik saja saat ini, setelah malam itu, rasanya seluruh semangat hidupnya telah ikut pergi, bersama dengan kepergian Fariz dalam hidupnya.


Ingin sekali rasanya dia menghubungi pria itu, tapi dia tidak bisa melakukan itu, takut tidak bisa mengendalikan dirinya lag, akhirnya yang dia lakukan hanyalah seperti itu, sepanjang waktu mengurung diri, menangis dan menangis.


"Aku tidak baik-baik saja, Mas. Aku seperti orang bodoh yang terus-terusan memutar ulang kenangan-kenangan singkat tentang kita yang aku miliki, hanya untuk membuat aku semakin tidak sanggup," gumamnya di sela-sela tangisnya itu.


Saat tengah larut dalam tangisnya itu, tiba-tiba saja terdengar suara ponselnya, dia segera mengangkat wajahnya yang sudah basah itu dan melihat siapa yang menelponnya.


"Halo Yan."


Rayyan di balik telepon mengerutkan kening, saat mendengar suara Ami yang berbeda, dia pun bertanya tentang apa yang sedang terjadi pada wanita itu.


"Aku baik-baik saja Yan, ada apa kamu meneleponku, kamu tidak sibuk gitu?" Ami langsung mengalihkan pembicaraan, agar temannya itu, tidak terlalu banyak bertanya.


Rayyan pun tidak bertanya lagi dan menjawab pertanyaan Ami, dia mengatakan maksudnya menelpon Ami, karena dia ingin memgajak Ami untuk jalan-jalan, mumpung dia lagi libur.


Ami yang merasa butuh pengalihan pun, menyetujui ajakan dari temannya itu.


"Baiklah aku siap-siap dulu, kamu jemput aku atau kita ketemu di mana?" tanya Ami.


Rayyan menjawab, jika dia akan menjemput Ami di rumahnya, Ami pun mengiyakannya dan mulai mematikan teleponnya itu.


Dia memasuki kamar mandi, karena dia belum mandi, saat bangun tidur tadi, dia hanya menggosok gigi dan membasuh wajahnya saja.


...*****...

__ADS_1


"Non, di depan ada Den Rayyan," ucap Tini dari luar kamarnya.


"Iya Bi," sahut Ami yang langsung melangkah keluar dari kamarnya, karena dia sudah selesai bersiap.


Dia menutupi wajahnya yang pucat karena sering menangis itu dengan sedikit make-up, dia segera membuka pintu kamarnya.


"Non mau jalan-jalan ya?" tanya Tini pada Ami.


"Iya Bi, Ami kayaknya butuh udara, beberapa hari ini dalam kamar terus, serasa sesak," sahut Ami berjalan menuju ke teras rumahnya.


"Iya Non, Non Ami memang harus pergi keluar, untuk merilekskan pikiran Non," sahut Tini.


"Iya Bi." Ami tersenyum mendengar ucapann art-nya itu.


Di teras Rayyan sedang mengobrol ringan dengan Denis yang masih bersantai di kursi teras, belum masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu sudah siap Mi, tadi katanya kamu tidak enak badan " ucap Denis saat melihat Ami.


"Udah baikan kok Pa, ayo Yan kita berangkat," ucap Ami sambil menatap Rayyan.


"Iya ayo, Om kami berangkat dulu ya," pamit Rayyan pada Denis.


"Iya kalian hati-hatilah," sahut Denis.


Rayyan dan ami pun mengangguk mereka akhirnya peegi dari sana, langsung memasuki mobil Rayyan yang terparkir di depan gerbang rumah Denis.


Ami tidak bersuara saat mobil sudah mulai melaju, hingga akhirnya Rayyan pun mulai membuka percakapan karena kurang nyaman dengan situasi yang hening seperti itu.


"Kamu ada masalah Mi?" tanya Rayyan, membuat Ami menoleh padanya dan tak lama kemudian menggelengkan kepalanya.


"Jangan bohong, Mi. Kamu pasti ada masalah, kan? Ada masalah apa, kamu bisa cerita ke aku," ucap Rayyan sambil fokus pada setirnya.


"Aku baik-baik saja, Yan," ucap Ami yang tidak ingin bercerita, tentang dirinya yang memang tidak baik-baik saja saat ini.


"Baiklah kalau tidak ada apa-apa, eh btw kamu mau ke mana?" tanya Rayyan pada Ami.


"Bukannya kamu yang ngajak jalan, ya kamulah yang nentuin tempatnya," sahut Ami memutar matanya malas.


"Berhubung setiap waktu aku selalu di dalam ruangan terus, akhir-akhir ini. Gimana kalau ke taman aja ya, hari libur gini pasti banyak orang yang lagi jalan-jalan juga," ucap Rayyan.


"Ya, terserah kamu aja," sahut Ami pasrah.

__ADS_1


__ADS_2