
Fariz tidak menyahutinya, dia hanya memejamkan mata dengan hati yang terasa hancur tak bersisa mendengar racauan Ami itu.
Bagaimana bisa, dia melanjutkan hidupnya dengan baik setelah ini, dulu saja dia tidak baik-baik saja, saat berjauhan dengan wanita yang saat ini berada dipelukannya, apalagi sekarang, Ami sudah benar-benar memenuhi hidupnya, seolah jadi bagian dari hidupnya itu.
Jadi bagaimana bisa dia akan baik-baik saja setelah ini, apalagi jika dia benar-benar menikah dengan wanita lain, tidak akan bisa, hidupnya itu tidak akan pernah baik-baik saja.
"Mas sekarang udah terlalu larut, sebaiknya Mas segera pulang tidak enak, jika ada tetangga yang lihat kamu di sini malam-malam," ucap Ami setelah puas menangis dalam pelukan Fariz, dia segera melepaskan pelukan di antara mereka.
Dia sadar hari semakin larut, Fariz tidak bisa terus berada di sana, apalagi saat ini papanya tidak ada di rumah, dia mengusap pipinya yang basah.
"Baiklah aku akan pulang, kamu jaga diri baik-baik ya," ucap Fariz pasrah, dia mulai bangun dari tempat duduknya.
"Iya Mas juga," ucap Ami dengan sisa-sisa tangisnya.
Fariz dan Ami akhirnya mulai melangkah dengan langkah beratnya menuju ke pintu utama, selama perjalanan itu, tangan mereka saling bertautan.
Tidak ada yang rela untuk berpisah, entah bagaimana kehidupan mereka setelah Fariz melewati pintu besar itu.
Akhirnya mereka sampai di depan pintu utama, Fariz menatap Ami dengan hati yang teramat berst, dia kemudian memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.
Ami kembali menangis dalam diam mendapatkan pelukan itu lagi, dia berat, teramat berat pula, akan melepaskan kepergian Fariz saat ini.
"Istirahatlah dengan baik, jaga dirimu baik-baik," lirih Fariz mulai melangkah melepaskan pelukannya.
Ami menggenggam tangan Fariz saat pria itu mulai membuka pintu rumahnya, kali ini tidak ada lagi senyuman di wajahnya itu yang ada hanya air mata yang terus mengalir di pipinya.
Secara perlahan genggaman tangan antara mereka mulai terlepas, dia menatap Fariz yang mulai semakin menjauh dengan nanar, ingin rasanya dia menahan pria itu agar tidak pergi.
"Mas jangan pergi, aku mohon!" lirih Ami dengan suara serak, tapi tidak dapat Fariz dengar karena jarak Fariz sudah terlalu jauh.
Siluet Fariz mulai menghilang dari balik gerbang yang sudah kembali ditutup oleh Candra, Ami segera masuk dan menutup kembali pintunya.
__ADS_1
Dia tidak langsung pergi ke kamarnya, tapi malah menjatuhkan dirinya di depan pintu dan kembali menangis, kali ini tangisannya semakin pecah, hingga membuat Tini yang hampir saja terlelap kembali terbangun dan keluar dari kamarnya.
Tini berjalan dengan cepat ke arah Ami, dia bertanya dengan khwatir pada Ami yang tengah menangis itu.
"Non kenapa?" tanya Tini sambi berjongkok di depan Ami.
"Apa Ami tidak boleh bahagia, Bi. kenapa pria yang Ami cintai selalu pergi dari hidup Ami, dulu Mas Daffin dan sekarang Mas Fariz, dia pergi Bi. Ami ditinggalkan lagi," racau Ami di sela-sela tangisnya.
"Kenapa kita harus dipertemukan, jika akhirnya kita dipisahkan dengan cara menyakitkan seperti ini, sakit Bi, sakit banget." Tangis Ami semakin menjaji-jadi, setelah selesai mengucapkan keluh kesahnya itu.
"Non yang tenang Non, sebenarnya ada apa, coba cerita ke Bibi, apa laki-laki barusan yang Non maksud itu?" tanya Tini yang membantu Ami untuk bangun dari lantai yang dingin itu.
Mereka berjalan kembali ke sofa, Ami menghamburkan dirinya memeluk Tini saat mereka telah sampai di sofa, dia masih melanjutkan tangisnya itu.
Tini tidak bertanya lagi, dia hanya mengusap kepala hingga punggung Ami untuk menenangkan Ami yang masih menangis dengan suara yang sudah semakin serak itu.
Setelah tangisan Ami mereda, Tini mulai bertanya tentang apa yang dari tadi jadi pertanyaan dalam hatinya itu.
"I-iya, di-dia Mas Fariz, kami sudah beberapa bulan bersama, tapi sebenarnya dia sudah memiliki tunangan dan barusan dia mengatakan jika dia akan menikah bulan depan," cerita Ami yang terputus-putus karena sisa-sisa tangisnya.
"Fariz laki-laki yang dulu nolongin Non?" tanya Tini yang sempat mengingat nama pria yang sering Ami sebut sebagai orang yang menolongnya.
"Iya dia Mas Fariz, kami akhirnya bertemu kembali dan kami berpacaran beberapa bulan ini, tapi bulan depan dia akan menikah," cerita Ami lagi dengan air mata yang masih menganak sungai di pipinya itu.
"Dia sudah memiliki pasangan?" tanya Tini memastikan pendengarannya tidaklah salah.
Dia berpikir, bagaimana bisa nona-nya itu menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah memiliki pasangan, bahkan sudah bertunangan dan akan menikah.
"Dia dijodohkan oleh orang-tuanya, jadi dia tidak mencintai tunangannya itu dan barusan dia mengatakan, jika mamanya sakit dan orang-tuanya meminta dia untuk menikah bulan depan," cerita Ami yang kembali merasa dadanya sesak mengucapkan hal itu.
"Kenapa Ami selalu seperti ini, Bi. Kenapa laki-laki yang Ami cintai selalu pergi dan bersama orang lain, apa Ami tidak boleh bahagia dengan orang yang Ami cintai."
__ADS_1
Ami mulai melepaskan pelukannya dengan Tini, dia membersihkan pipinya yang semakin basah, oleh air mata.
"Mungkin belum saatnya Non Ami, bertemu dengan jodoh Non yang sebenarnya," sahut Tini.
"Non harus percaya jika memang dia jodoh Non, apa pun yang terjadi, sebanyak apa pun masalah yang terjadi, kalian pasti akan bersama," sambung Tini berusaha menghibur Ami.
"Tapi kali ini lebih sakit, Bi. lebih sakit daripada saat Mas Daffin nikah sama Kakak, apa yang harus Ami lakukan sekarang, Bi. Aku merasa tidak kuat," tutur Ami dengan pikiran kacaunya.
Apakah kali ini dia benar-benar akan berpisah, tidak adakah takdir untuknya dan Fariz bersama, apa mereka benar-benar berakhir sekarang.
Tatapan Ami menerawang jauh, memikirkan jalan yang akan dia dan Fariz hadapi setelah ini, kepalanya terasa pening, efek tangis yang tiada hentinya.
"Non sebaiknya, sekarang Non istirahat yuk, ini udah malam, nanti Non sakit lagi," ucap Tini pada Ami.
"Ami tidak mengantuk, Bi. kalau Bibi mau tidur, pergi duluan saja, nanti Ami akan tidur kalau sudah mengantuk," sahut Ami dengan tatapan kosong.
"Tapi Non, ini sudah malam, Non tidur ya, ayo Bibi antar ke kamar, biar Non bisa istirahat."
Ami terpaksa menurut, saat Tini menarik tangannya dengan lembut dan membawanya ke kamar, art-nya itu meminta Ami untuk tidur.
Ami pun menurut, dia merebahkan tubuhnya menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya, membiarkan Tini memakaikan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Bibi keluar ya, Non harus tidur," pamit Tini yang tidak mendapatkan sahutan dari Ami.
Tini keluar dari kamar Ami, dia mematikan lampu di lantai bawah dan hanya menyisakan satu lampu saja dan pergi ke kamarnya untuk tidur.
"Padahal tadi siang kita masih baik-baik saja Mas, tadi pagi juga kamu mengatakan hal yang membuat aku merasa jadi wanita yang paling bahagia," gumam Ami mengingat pembicaraan mereka sebelumnya.
Akhirnya malam yang dingin, setelah hujan itu pun, dia habiskan dengan merenungi kesedihan yang baru saja terjadi seperti mimpi buruk yang mengganggu tidurnya.
Dia lebih berharap jika itu adalah Mimpi, agar ketika dia bangun semuanya kembali baik-baik saja, tidak ada lagi hati yang terasa hancur itu.
__ADS_1