Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 94


__ADS_3

"Terima kasih telah berkunjung ke restoran kami, semoga anda puas dengan pelayanan kami," ucap Ami dengan tersenyum ramah pada pengunjung yang baru saja selesai membayar.


Pengunjung itu hanya tersenyum dan mengangguk, lalu pergi dari sana, sedangkan Ami menghembuskan napas lelah, bukan lelah karena pekerjaan, tapi lelah karena kepalanya terus memikirkan Fariz.


"Kamu kayaknya lelah banget Mi, kalau capek kamu bisa istirahat dulu yang dari tadi sudah memperhatikan Ami?" ucap seorang pria yang menjadi bartender di sana pada Ami.


Jarak dari meja bartender sama meja kasir memang tidak terlalu jauh, Ami di sana memang bekerja sebagai kasir, bersama satu teman lainnya, tapi saat belum ada pengunjung, di pagi hari biasanya dia membantu pekerjaan pegawai lainnya, contohnya seperti mengepel atau mengelap meja dan kaca.


Sementara Rini, dia lebih memilih menjadi waiters atau pelayan, karena dia bilang jika dia tidak suka berdiam diri terlalu lama di satu tempat, dia akan gampang bosen, jika harus duduk di meja kasir, sepanjang waktu.


Sistem kerja di sana memang full time, tidak memakai sistem shift, restoran itu buka dari jam tujuh pagi dan akan tutup jam 10 malam, tapi ada jatah istirahat di jam-jam tertentu dengan saling bergantian.


"Tidak perlu aku baik-baik saja," sahut Ami tersenyum pada pria yang tiga tahun lebih tua darinya itu.


Pria itu hanya mengangguk mendengar jawaban dari Ami itu, tak lama kemudian pelayan lain datang ke meja bartender, memberikan catatan yang berisi menu minuman yang diinginkan oleh pengunjung.


Ami memperhatikan sekitar restoran itu, hingga perhatiannya teralihkan pada suara telepon yang berada di samping mesin kasir yang berbunyi, dia pun segera mengangkat telepon itu dengan ramah.


"Halo dengan Alanya Resto, ada yang bisa kami bantu?"


'Ke ruanganku sekarang, aku butuh bantuanmu.'


Mendengar perintah dari dalam telepon itu, Ami mengerutkan kening heran, dia tahu jika yang meneleponnya itu adalah Fariz.


"Tapi saat ini saya sedang sibuk Pak," tolak Ami.


'Yang aku lihat tidak seperti itu, kamu dari beberapa menit yang lalu hanya melamun, di balik meja kasir itu.'


Ami hanya mencebikkan bibirnya dengan pelan, mendengar ucapan Fariz yang seperti sindiran itu.


"Tapi—"


'Aku tunggu.'


Ami menatap tak percaya pada telepon yang kini sudah hening itu, Fariz memotong ucapannya dan langsung mematikan teleponnya begitu saja.


"Kenapa Mi? Siapa yang barusan nelepon?" tanya temennya yang berada di sampingnya.


"Pak Fariz," sahut Ami.


"Siapa Pak Fariz?" tanya temannya yang memang belum mengetahui nama Fariz.


"Orang yang menggantikan Bu Kia, namanya adalah Pak Fariz," sahut Ami, temannya hanya mengangguk paham.

__ADS_1


"Ngapain dia nelepon kamu?"


"Dia meminta aku agar ke ruangannya, katanya butuh bantuan."


"Oh, kalau gitu kamu pergilah, di sini biar aku saja yang urus."


"Tidak apa-apa gitu, kalau aku pergi?" tanya Ami meragu.


"Tidak apa-apa, kamu pergilah, mungkin dia memang butuh bantuanmu," sahut temannya itu.


"Ya udah, aku pergi dulu ya," ucap Ami yang mulai beranjak dari tempatnya itu.


Dia berjalan dengan langkah malas, saat menaiki satu per satu anak tangga menuju ke ruangan Fariz, setelah sampai, dia mencoba menenangkan dirinya dan mengatakan jika semua akan baik-baik saja.


Secara perlahan tangannya mulai bergerak, mengetuk pintu itu dan seperti sebelumnya, dia tidak mendapatkan sahutan dari dalam ruangan, dia pun berinisiatif untuk langsung membuka pintu.


"Selamat sore Pak," sapa Ami sambil memasuki ruangan itu.


"Duduklah," perintah Fariz menunjuk kursi yang ada di seberang meja kerjanya, dengan isyarat mata.


"Baik Pak," sahut Ami terus melangkah, hingga langkahnya terhenti di depan meja dan menarik kursi.


"Bapak butuh bantuan apa ya?" tanya Ami tidak berani menatap wajah Fariz terlalu lama.


"Itu hanya bentuk formalitas sebagai bawahan terhadap atasannya. Atau anda mau saya panggil Tuan?" tanya Ami menatap Fariz sekilas, setelah itu kembali membuang pandangannya ke arah lain.


"Panggil aku seperti biasa," ucap Fariz masih menatap Ami tanpa mengalihkan sedetik pun matanya dari Ami.


"Tapi—"


"Panggil aku seperti sebelumnya atau gaji kamu aku potong!" ancam Fariz, membuat Ami menatapnya dengan bola mata membesar yang malah membuat Fariz ingin tertawa, tapi sekuat tenaga dia berusaha tetap mempertahankan ekspresinya.


"Tidak bisa gitu, apa hak anda memotong gaji orang sembarangan, saya tidak melakukan kesalahan apa pun," protes Ami.


"Aku saat ini adalah atasan kamu, aku berhak melakukan itu, karena kamu telah membuat kesalahan. Dan kesalahanmu adalah membantah apa yang aku perintahkan," ucap Fariz santai.


Ami menatap Fariz dengan kesal, kenapa pria yang biasanya terlihat dewasa itu, kini jadi kekanakan seperti itu, apakah orang di depannya itu sama dengan orang yang selama beberapa bulan lalu menjadi pacarnya.


Mungkin karena sudah menikah jadi sikapnya juga berubah. Batin Ami.


"Baiklah, jadi apa yang perlu saya bantu—"


"Gaya bicaramu juga harus seperti beberapa bulan yang lalu," potong Fariz membuat Ami mendelik.

__ADS_1


"Apa itu penting?" tanya Ami dengan kesal.


"Penting, karena biar aku merasa nyaman saat berbicara denganmu," sahut Fariz mengangguk yakin.


Ami menghela napas dalam, berusaha bersabar mengahadapi pria yang entah kenapa jadi menyebalkan seperti itu.


"Baiklah Mas Fariz, apa yang bisa Ami bantu," ucap Ami dengan nada terpaksa.


Fariz berusaha sekuat tenaga agar tidak tersenyum, dia saat ini seperti remaja yang baru saja kasmaran, bisa berada di depan wanita yang begitu dia cintai, seolah mampu membuat ruangan yang semula gelap gulita, dihiasi bintang yang berkelipan juga aurora yang berwarna dan bercahaya di tengah kegelapan.


"Ini bantu aku memeriksa ini, mataku rasanya sudah lelah, mungkin karena aku belum sepenuhnya sembuh," ucap Fariz memberikan beberapa berkas pada Ami.


"Baiklah," sahut Ami mengambil berkas itu dan mulai melihatnya.


"Ini bukannya laporan restoran lima bulan ke belakang, apa perlu memeriksa ini?" tanya Ami menatap Fariz dengan heran.


"Tentu saja perlu, saat ini aku dipercaya untuk menjalankan restoran ini, itu artinya aku harus tau semua tentang restoran ini dari beberapa bulan, bahkan dari beberapa tahun ke belakang," sahut Fariz lugas, seolah itu adalah yang sebenarnya.


Namun, itu semua sebenarnya adalah alibi Fariz yang ingin lebih lama berada di dekat Ami, setelah pertemuan tak terduga tadi siang, dia berpikir cara agar Ami diam di ruangnya lebih lama lagi.


Fariz juga melihat-lihat berkas di tangannya, tapi matanya sesekali melihat ke arah Ami yang tengah serius menatap kertas di tangannya.


"Nanti kamu laporkan, poin dari laporan itu," ucap Fariz.


"Iya," sahut Ami tanpa melihat ke arahnya.


Fariz kembali diam begitu pun dengan Ami, untuk beberapa saat mereka tampak benar-benar tenggelam dengan apa yang mereka lakukan, meskipun Fariz sesekali melihat ke arah Ami.


Perlahan perhatian mereka teralihkan oleh sebuah notifikasi dari ponsel Fariz, Ami dapat melihat layar ponsel itu sekilas, meskipun tidak jelas, tapi dia yakin jika itu adalah notifikasi chat, karena dia masin ingat nada chat dari ponsel milik Fariz itu.


Fariz mulai mengambil ponselnya dan tak lama kemudian, dia tersenyum saat melihat chat itu.


Bagaimana? Kamu pasti senang, kan bekerja di sana, jangan mengucapkan terima kasih.


Nikmatilah waktumu di sana, semoga kali ini kamu berhasil mendapatkannya lagi.


Dua pesan dari aplikasi chat berwarna hijau itu, adalah chat dari Aaric, hal itu membuat dia tersenyum, tidak menyangka jika Aaric merencanakan ini.


Terima kasih. Balasan yang Fariz kirimkan pada Aaric.


Apa yang Fariz lakukan itu, tidak lepas dari perhatian Ami yang berpikir, jika pesan di ponselnya itu adalah pesan dari Cindy.


Mas Fariz sepertinya, bahagia dengan pernikahannya, bahkan hanya dengan pesannya saja, dia bisa tersenyum seperti itu. Batin Ami.

__ADS_1


__ADS_2