Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Ingin Berbicara.


__ADS_3

Hari ini Ami dan Fariz menghabiskan waktu mereka seharian dengan berjalan-jalan, menikmati waktu mereka di kota itu, karena nesok harinya mereka sudah harus pulang lagi.


Mereka mengunjungi beberapa destinasi yang cukup diminati oleh orang-orang untuk berlibur, juga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap.


Fariz sudah menghadiri, acara dari rekan bisnisnya Nevan yang diadakan pada malam, saat mereka berangkat ke kota itu.


Fariz baru saja memarkirkan mobilnya, di parkiran hotel tempat mereka menginap, mereka tidak langsung turun dari mobil.


"Kamu mau makan malam di mana?" tanya Fariz yang sudah mulai membalikkan tubuhnya menghadap pada Ami.


"Perut aku udah begah, Mas, seharian sudah berapa banyak makanan atau jajanan khas kota ini yang aku cobain, aku kayaknya gak sanggup lagi menampung makan malam di perutku," keluh Ami sambil mengusap perutnya yang terasa penuh.


Melihat Ami yang kekenyangan seperti itu, Fariz tersenyum dan mengacak rambut Ami dengan gemas.


"Baiklah sekarang, mending kita langsung istirahat saja, besok kita pulang setelah sarapan," ucap Fariz yang langsung diangguki oleh Ami.


Mereka akhirnya turun dari mobil, berjalan dengan beriringan menuju ke kamar mereka masing-masing.


"Selamat istirahat, Mas," ucap Ami pada Fariz saat mereka sudah berada di depan kamar mereka yang bersebelahan.


"Iya, kamu masuklah duluan, kalau nanti ada apa-apa tinggal telepon atau ketuk pintu kamarku," ucap Fariz pada Ami.


Posisi mereka saat ini saling berhadapan, pria itu secara perlahan, semakin mendekatkan tubuhnya pada Ami dan memberikan sebuah kecupan lembut di kening Ami.


Ami yang baru pertama kali mendapat kecupan hangat di kening dari pacarnya itu, memejamkan mata menikmati sapuan lembut nan hangat yang menyentuh kulit keningnya.


Setelah Fariz selesai dan mulai menjauhkan tubuhnya dari Ami, mata mereka saling menatap dengan dalam dan penuh cinta.


Beberapa saat kemudian, Ami yang baru sadar apa yang terjadi itu, menjadi salah tingkah, ini memang baru pertama kalinya pria itu memberikan kecupan di kening, karena biasanya Fariz hanya memberikan kecupan di tangannya saja.


"Selama istirahat, semoga tidurmu nyenyak," ucap Fariz dengan nada yang lembut, selembut kapas. Tatapan mata yang seakan mampu membuat Ami merasa, dicintai dengan begitu besarnya.


"Iya Mas, Ami masuk duluan ya, mau langsung istirahat, seharian jalan-jalan lumayan capek ," sahut Ami dengan pipi yang sudah memerah.

__ADS_1


Fariz tersenyum melihat hal itu, dia selalu merasa gemas, saat melihat pipi Ami yang sedikit bulat itu bersemu, seperti buah tomat yang baru matang, dia rasanya ingin menggigit pipi itu, saking gemesnya.


"Iya." Fariz menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang masih terpatri di wajah tampannya itu.


Ami mulai melangkah ke kamarnya dan membuka pintu kamar itu, dia kemudian segera menutupnya lagi, saat sudah berada di dalam.


"Ya ampun, jantungku kayak mau lepas dari tempatnya," gumam Ami sambil menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang.


Ami segera pergi ke kamar mandi, membersihkan dirinya dan memakai baju santai, kemudian dia mulai merebahkan dirinya di ranjang yang berukuran lumayan besar.


Dia memakai selimut hingga ke lehernya, udara malam di kota itu, lebih dingin daripada udara di tempatnya, hingga dia tidak pernah lepas dari selimut, selama tidur.


Tubuhnya yang lelah, membuat dia cepat mengantuk dan tanpa menunggu lama, akhirnya dia pun segera mengarungi alam mimpinya.


Sementara itu di kamar sebelah, Fariz baru saja selesai mandi, dia sudah berpakaian lengkap dan tengah mengusap rambutnya yang basah dengan haduk kecil.


Dia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, tangannya terulur menggapai ponsel yang ada di nakas samping tempat tidurnya.


Dia melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari mamanya, karena takut ada yang penting dan melihat jam, belum terlalu malam, dia pun menghubungi mamanya itu.


Mama kira, kamu kenapa-kenapa, Riz.


"Aku baik-baik saja, Ma, cuma tadi Fariz terlalu asyik berkeliling, jadi lupa periksa ponsel."


Tumben, kamu berkeliling, biasanya juga kalau tujuan kamu udah selesai kamu akan diam di tempat kamu menginap atau langsung pulang.


Ya, dulu memang Fariz seperti itu, tapi semuanya berubah sekarang, semenjak dia bersama dengan Ami, kebiasaan yang dulu perlahan mulai berubah.


"Fariz lagi pengen jalan-jalan saja, Ma. Oh iya ada apa Ma? Kenapa sampai nelepon Fariz berkali-kali?"


Tidak apa-apa, mama hanya ingin tau kabar kamu aja di sana, takutnya kamu tidak nyaman dengan tempat itu.


"Nyaman kok berada di sini, makanya tadi Fariz berkeliling dan mencoba aneka makanan di sini," sahut Fariz. Sebenarnya yang membuatku nyaman, bukan tempatnya, tapi orang yang bersama akulah yang membuat nyaman. Sambung Fariz dalam hatinya.

__ADS_1


Baguslah kalau gitu, ya udah mama mau istirahat, kamu juga istirahatlah, besok kamu jadi pulangnya, kan? Tanya Alish


"Iya besok Fariz pulang, ya udah kalau gitu Mama istirahatlah," ucap Fariz.


Iya.


"Eh tunggu, Ma." Fariz teringat akan suatu hal, jadi dia menghentikan mamanya yang akan mematikan sambungan teleponnya.


Ada Apa?


"Besok ada yang mau Fariz sampaikan," ucap Fariz.


Apa? Di balik teleponnya Alish mengerutkan keningnya heran.


"Besok saja Fariz akan pulang ke rumah, aku akan mengatakan sesuatu pada Mama dan yang lainnya, ini hal yanga sangat penting, jadi akan lebih baik jika dibicarakan secara langsung," sahut Fariz.


Baiklah, mama tunggu, kalau gitu mama tutup ya teleponnya.


"Iya Ma."


Setelah itu sambungan telepon antara dirinya dan Alish pun berakhir, Fariz kembali menyimpan ponselnya ke nakas dan mulai merebahhkan tubuhnya.


Dia menatap langit-langit kamarnya, pikirannya melanglang buana, mencoba meyakinkan hatinya untuk menghadapi hari esok.


Dia sudah memikirkan semuanya dengan matang, tentang hubungannya dengan Ami dan Cindy, dia memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada keluarganya.


"Aku tidak bisa terus-terusan memberikan hubungan seperti pada Ami, dia butuh sebuah hubungan yang nyata."


"Aku harus segera mengakhiri pertunanganku dengan Cindy dan memberikan hubungan yang resmi untuk Ami, aku tidak ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya," gumam Fariz.


Dia kemudian mengambil lagi ponselnya dan mengirimkan pesan pada Aaric, pria itu mengetikkan sesuatu di ponselnya itu.


Setelah beberapa saat berbalas pesan dengan Aaric, dia pun tersenyum lega, karena setidaknya, pria yang sudah dia anggap saudara kandung itu, mengerti akan dirinya, dia pun menyimpan kembali ponselnya ke tempat semula dan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


Dalam hatinya berdoa semoga hari esok, adalah hari yang baru untuknya dan Ami, dia berharap agar besok semua berjalan dengan baik sesuai dengan harapannya.


...----------------...


__ADS_2