Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Menjaga Anak Zoya.


__ADS_3

"Makasih ya, untuk tumpangannya," ucap Ami saat turun dari motor Rayyan.


"Cuma gitu doang, gak ada niatan buat menunjukkan rasa terima kasih dengan cara apa gitu?" ucap Rayyan dengan alis yang dinaik turunkan.


"Terus mau apa lagi? Mau aku bayar buat gantiin bensin, oh baiklah aku bayar," sahut Ami yang langsung merogoh tas selempangnya dan mengambil uang 50 ribu.


"Nih, buat ganti bensinnya cukup, kan?" Ami menyodorkan uang itu pada Rayyan, hingga membuat Rayyan memutar matanya malas.


"Bukan bayaran itu kali, emang kamu pikir aku semiskin itu sampai tidak bisa buat beli bensin sendiri," decak Rayyan.


"Terus mau bayar pakai apa?" Ami semakin mengerutkan keningnya karena semakin tidak mengerti dengan apa yang Rayyan maksud.


"Ya bayarnya pakai ci*m pipi atau perkataan manis dari bibir manismu itu," sahut Rayyan yang langsung dihadiahi pukulan lagi di kepalanya yang tertutup oleh helm itu.


"Otak kamu perlu dicuci pakai pemutih kayaknya, biar gak berpikiran yang aneh-aneh terus," sahut Ami dengan kesal.


"Canda elah, main geplak aja, untung pakai pelindung kalau gak, aku yakin kepalaku bisa benjol atau mungkin jadi geger otak, lagian baperan banget, padahal cuma dibecandain gitu aja apalagi kala—"


"Sudah sana pergi," potong Ami yang tidak membiarkan Rayyan menyelesaikan ucapannya.


"Iya, iya jangan marah-marah lagi, nanti cepat tua," sahut Rayyan lagi yang masih diselingi dengan candaan.


Ami melotot pada Rayyan, sedangkan Rayyan yang mendapat pelototan itu bukannya takut atau apa, tapi dia malah terkekeh geli, melihat bola mata Ami yang melebar, hingga nyaris keluar itu.


"Iya, iya, cantik. Aku bakal langsung pulang, jangan rindu ya."


"Terserah," sahut Ami yang sudah malas untuk menyahuti ucapannya itu. Dia berjalan memasuki gerbang rumahnya tidak memedulikan pria itu lagi.


"Bye Ami-ku!" ucap Rayyan dengan setengah teriak, dia kemudian menjalankan motornya meninggalkan rumah Ami.


"Dasar punya teman satu, bikin orang kesel terus kerjaannya," gumam Ami saat mendengar motor Rayyan telah menjauh.

__ADS_1


Baru saja kakinya menyentuh lantai teras rumah, terdengar suara mobil berhenti di depan gerbang dan pintu mobil dibuka disusul oleh suara gerbang terbuka.


Candra membuka pintu gerbang dan kembali memasuki mobil, memasukkan mobilnya ke dalam gerbang, Ami hanya diam di teras melihat kakaknya turun dengan anaknya yang ada di gendongan.


"Mau titipin anak lagi, emangnya ini tempat penitipan anak apa!" sindir Ami saat Zoya sudah berada di depannya.


"Kalau kamu gak mau jagain anakku, biar Bi Tini aja yang jagain, lagian aku juga gak maksa kamu buat jagain Andra," sahut Zoya yang langsung melewatinya.


"Meskipun gak maksa, tetap aja dengan kakak terus nitipin Andra di sini itu sama saja memintaku untuk bantuin ngurus dia," ucap Ami yang mengekori Zoya.


Zoya menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, menatap Ami dengan sengit, dibalas tatapan malas oleh Ami.


"Kayaknya semenjak kamu bisa melihat lagi, kamu semakin kurang ajar ya," desis Zoya. "Kenapa apa sekarang kamu merasa kamu sudah hebat karena bisa melihat lagi, sebaiknya kamu jangan membuat masalah denganku atau aku ak—"


"Kakak akan apa? Akan mencelakaiku lagi atau akan meninggalkan aku di tempat asing lagi atau bahkan kakak akan membunuhku," Ami dengan cepat memotong ucapa Zoya.


"Kamu!" geram Zoya mengangkat tangannya akan menampar Ami, tapi anaknya yang dari masih di gendongannya menangis.


"Susuin dulu anak Kakak itu, aku gak mau nanti dia rewel saat Kakak pergi nanti, sama satu lagi, nanti pulangnya jangan terlalu malam, harus ingat anak di rumah, jangan keasyikan," ucap Ami yang langsung menuju ke kamarnya.


Melihat Ami pergi begitu saja, Zoya memdegkus kesal, dia kemudian melangkah menuju ke kamarnya dan memberikan susu dan menyiapkan susu untuk anaknya yang baru berusia tujuh bulan itu.


Beberapa saat kemudian, dia keluar dari kamarnya dan menemui Tini yang tengah memasak di dapur.


"Bi, aku mau pergi dulu, jagain Andra ya, semua keperluannya sudah ada di kamarku, sekarang dia lagi tidur," ucap Zoya pada Tini.


"Non mau pergi sekarang?" ucap Tini dengan heran, " Bukankah acaranya malam Non?" sambung Tini.


"Aku akan ke salon dulu, takut nanti lama di salonnya, jadi aku pergi lebih awal," sahut Zoya.


"Oh baiklah kalau gitu, Non. Biar Bibi jagain Den Andra," sahut Tini menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Zoya tidak menyahutinya dan memilih pergi meninggalkan Tini, karena sudah sore jadi dia harus segera pergi ke salon terlebih dahulu sebelum menemani suaminya pergi.


Setelah Zoya menghilang, Ami keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah berganti menjadi baju santai dan berjalan ke arah dapur, dia berniat akan membantu Tini membuatkan makan malam.


"Kakak udah berangkat, Bi?" tanya Ami pada Tini yang tengah serius dengan beberapa bahan masakan.


"Sudah, Non. Baru saja pergi, katanya mau ke salon dulu," sahut Tini tersenyum pada Ami.


"Perasaan tiap mau pergi menemani Mas Daffin selalu ke salon, kenapa gak dandan sendiri aja di rumah," gumam Ami, menggelengkan kepala.?


"Mungkin pengen lebih kinclong, Non," timpal Tini terkekeh.


"Emangnya dia kaca apa bisa kinclong, ada-ada saja," sahut Ami yang juga ikut terkekeh.


Baru saja Ami akan membantu Tini mengiris bawang, terdengar tangisan nyaring dari arah kamar Zoya, dia pun menyimpan kembali pisau dan bawang yang tadi diambilnya.


Dia mencuci tangannya terlebih dahulu, sebelum menyentuh keponakannya itu, setelah dirasa tangannya sudah bersih, dia segera menuju ke kamar.


"Halo ponakan tante yang cakep, maaf ya barusan tantenya lagi di dapur," ucap Ami yang langsung menggsendong Andra dan menenangkannya.


"Kita tungguin Kakek di bawah yuk, sebentar lagi kakek pulang," ucap Ami lagi sambil berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga.


Andra langsung tenang, saat Ami menggendongnya dan mengajaknya bicara, dia menatap Ami dengan mata yang agak sipit seperti Daffin.


"Kenapa hemmm, kangen ya sama tante, sama tante juga kangen sama kamu, ponakan tante yang cakep," ucap Ami sambil beberapa mendaratkan kecupan di pipi gembul Andra.


Andra tertawa nyaring mendapatkan kecupan beruntun itu, hal itu membuat Ami semakin gemas dan kembali melanjutkan aksinya, saat dia sudah duduk di sofa ruang keluarga dan menidurkan Andra di sofa.


"Seandainya mama kamu gak nyebelin terus, tante pasti akan sering ketemu sama kamu," gumam Ami mengusap pipi Andra yang kini tengah serius memainkan jari-jarinya.


Dia memang menyayangi keponakannya itu, begitu pun dengan kakaknya, meskipun akhir-akhir ini dia selalu melawan saat Zoya membuatnya kesal.

__ADS_1


Dalam hatinya, dia tetap ingin dia dan kakaknya bisa dekat, meskipun sepertinya sulit untuk dia dekat dengan Zoya.


Ami menjaga keponakannya dengan baik, hingga waktu malam tiba dan dia menidurkan Andra, menunggu kakak dan kakak iparnya menjemput anak itu.


__ADS_2