
Saat ini Ami tengah sibuk berada di depan cermin, meja riasnya. Dia sedang sibuk mengaplikasikan peralatan make-up pada wajannya itu.
Dia berdandan karena akan menemani Rayyan untuk menghadiri sebuah acara yang entah acara apa, Ami pun belum mengetahuinya dengan pasti karena Rayyan hanya memintanya untuk menemani dia tanpa menjelaskan lebih jauh lagi.
Awalnya Ami menolak, dia tidak ingin menemani temannya itu, tapi Rayyan bahkan sampai memohon padanya agar dia setuju untuk menemaninya.
Alhasil, inilah yang terjadi sekarang, Ami tidak bisa menolak lagi dan mau tidak mau dia pun menuruti permintaan temannya itu.
"Non, Den Rayyan sudah sampai di sini," ucap Tini dari balik pintu kamarnya.
"Suruh tunggu sebentar lagi, Bi" sahut Ami yang masih fokus merias wajahnya yang tinggal sebentar lagi.
"Baik, Non." sahut Tini yang langsung berjalan ke arah ruang tamu dan meminta Rayyan untuk menunggu.
Ami segera menyelesaikan ritualnya, dia tidak ingin membuat Rayyan menunggunya terlalu lama, waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
Wanita itu berdiri dan memperhatikan dirinya dengan cermat, mencari kesalahan dalam penampilannya, saat dirasa penampilannya sudah sempurna dia pun mulai keluar dari kamar, menemui Rayyan yang telah menunggunya.
"Ayo Yan, ini sudah malam, nanti telat lagi," ucap Ami membuat Rayyan yang semula sibuk bermain game di ponselnya, langsung mengalihkan perhatiannya pada Ami yang sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya.
Rayyan tidak bergerak, malah mematung di tempatnya dengan tatapan menelisik, memindai seluruh tubuh wanita yang nampak anggun dan cantik, dalam waktu bersamaan dengan gaun warna putih tulang polos yang hanya sebatas lutut itu.
Dia menatap tubuh Ami dari ujung kepala hingga ujung kaki, seperti biasa dandanan temannya, selalu simpel dan natural, tapi membuatnya semakin cantik, rambut yang lurus di biarkan tergerak bebas melambai jika tertiup angin, seakan memeberinya kode untuk dijamah.
"Rayyan jadi pergi gak sih!" sentak Ami menyadarkan Rayyan yang tengah menikmati keanggunan dan kecantikannya.
"Yaelah, Mi. Ganggu aja, orang lagi menikmati kecantikan kamu juga," cebik Rayyan yang merasa terganggu.
"Cepat Rayyan, ini sudah malam. Aku harus pulang lagi saat jam sepuluh malam," sahut Ami dengan sedikit kesal.
"Iya, iya ayo." Rayyan mulai bangun dari sofa.
"Kalian kenapa belum pergi dan malah ribut." Suara Denis yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka, membuat ke-dua orang itu menoleh padanya.
__ADS_1
"Papa, belum berangkat?" tanya Ami heran, karena tadi papanya mengatakan, jika dia akan pergi malam ini untuk menghadiri acara yang diadakan oleh atasannya.
"Ini tadinya mau berangkat, tapi papa dengar suara ribut jadi ke sini dulu," sahut Denis.
"Maaf, Om. Tadi aku terpesona pada kecantikan anak Om, jadi gak bisa beranjak dari tempat dan anak Om kesal karena hal itu."
Ami melotot pada Rayyan yang berbicara asal, sedangkan Denis terkekeh mendengar Rayyan yang berbicara terang-terangan.
"Anak Om, memang cantik," kekeh Denis membuat Ami merengut kesal.
"Aku kembali lagi ke kamar kalau gitu, kayaknya kamu gak jadi pergi ke acara itu," ucap Ami yang langsung berbalik badan.
"Iya, iya Ami-ku, kita berangkat sekarang ya, jangan ngambek terus napa, nanti gak cantik lagi loh," ucap Rayyan menaik turunkan alisnya, sedangkan Ami memutar matanya malas.
"Ayo pergi ... Pa, Ami pergi dulu ya, Papa nanti hati-hati ya di jalannya," pamit Ami pada Denis.
"Iya kamu juga hati-hati," sahut Denis tersenyum pada anaknya itu.
Ami melangkah lebih dulu keluar dari rumahnya, tidak menunggu Rayyan yang sedang berpamitan dulu pada Denis.
"Iya hati-hati, bawa mobilnya jangan kebut-kebutan," peringat Denis.
"Siap Om, tenang aja aku gak akan membiarkan masa depanku celaka," sahut Rayyan yang terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Ya udah, ayo kita ke depan bareng," ajak Denis.
Rayyan mengangguk dan mengikuti langkah Denis yang sudah mempimpin jalan di depannya, keluar dari rumah itu.
Setelah sampai di luar, Rayyan langsung menuju ke mobilnya, di mana Ami sudah menunggunya dengan duduk manis di kursi penumpang yang ada di samping kursi sopir.
"Kita pergi dulu ya, Om," pamit Rayyan lagi yang berbicara dari dalam mobilnya dengan kaca jendela mobil yang terbuka.
"Iya hati-hati, sama anterin Ami-nya jangan kemalaman," ucap Denis.
__ADS_1
"Siap, Om," sahut Rayyan dengan nada tegas.
Rayyan kemudian mulai menghidupkan mobilnya dan berlalu secara perlahan meninggalkan rumah itu, Denis menggelengkan kepala, melihat kelakuan teman dari anaknya.
Dia yakin jika Rayyan adalah laki-laki yang baik dan cocok untuk anaknya, mereka juga sudah mengenal lama. Denis akan sangat senang, jika seandainya Rayyan dan Ami menjalin hubungan.
Denis mulai melangkah, menuju ke mobilnya hari ini dia harus pergi menghadiri undangan dari atasannya.
...******...
"Kamu kenapa dadakan sih ngajak ke acaranya aku, kan jadi gak persiapan dulu sebelumnya," ucap Ami yang memulai percakapan di dalam mobil.
"Maaf, Mi. Aku juga baru dikabari tadi sama Ayah aku, dia katanya lupa kalau dia diundang oleh temannya, dia gak bisa hadir karena sedang ada urusan, jadi memintaku untuk datang, gak enak katanya kalau sampai gak datang, itu teman dekatnya," terang Rayyan panjang lebar.
"Untung saja aku masih ada gaun yang masih baru, kalau tidak ada ini aku pasti bakal ribet, harus cari gaun lagi," ucap Ami.
"Kamu selalu cantik mau pakai apa pun," ucap Rayyan apa adanya.
"Jangan mulai deh Yan," ucap Ami memutar matanya malas.
"Kenapa, sih kamu gak mau banget aku puji, takut baper ya," goda Rayyan.
Menurutnya, jika dia dan wanita di sampingnya itu bertemu, terasa tidak lengkap jika dia tidak menggoda temannya itu, dia selalu merasa senang setiap kali melihat Ami memasang wajah kesal.
"Siapa yang bakal baper, aku bukannya takut baper, hanya males saja dengar ocehan unfaedah dari kamu itu." Ami bicara dengan mata lurus melihat jalan di depannya.
"Sekarang aja malas, nanti kalau aku udah jarang ketemu kamu, kamu pasti bakal merasa kehilangan yang teramat menyiksa," ucap Rayyan dengan dramatis.
"Aku tidak akan pernah merasa hal yang seperti itu," sahut Ami malas.
"Lihat aja entar," ucap Rayyan.
Mereka terus berbicara, membuat suasana mobil penuh dengan perdebatan antara mereka, penuh dengan godaan-godaan Rayyan untuk Ami.
__ADS_1
Ami menimpali setiap ocehan dari pria di sampingnya itu, baginya kelakuan Rayyan lebih-lebih dari seorang wanita jika sedang bicara, hingga membuat Ami kadang capek meladeni laki-laki satu itu.