
Ami turun dari mobil, dia berhenti di sebuah restoran tempat dia membuat janji dengan orang yang tadi di teleponnya.
"Non, nanti Pak Candra jemput jam berapa?" tanya Candra yang mengeluarkan sedikit kepalanya dari jendela mobil.
"Gak usah, Pak. Nanti Ami pulangnya naik taksi aja," sahut Ami.
"Baiklah kalau gitu, Pak Candra pulang dulu ya, Non" pamit Candra.
"Iya Pak," sahut Ami
Ami langsung memasuki restoran itu, dia mencari orang yang dikenalnya dan saat netranya, menangkap seorang pria yang melambaikan tangan padanya.
Dia pun tersenyum dan mendekati meja yang lumayan besar yang telah ditempati oleh beberapa orang yang menjadi anggota dari tim relawan itu.
"Maaf lama ya nunggunya," ucap Ami saat sudah berada di meja itu.
"Santai aja, kita juga baru beres sarapan kok," sahut seorang pria bernama Rayyan, teman Ami saat di sekolah menengah pertama dan anggota dari relawan itu.
"Jadi hari ini kegiatan kita apa?" tanya Ami pada orang-orang yang ada di sana.
"Hari ini kita akan mendatangi panti asuhan khusus untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus," sahut ketua dari anggota itu yang bernama Irwan.
"Kita sebaiknya berangkat sekarang, karena tempatnya lumayan jauh," saran salah satu anggota wanita lainnya.
"Ya udah ayo," sahut Irwan, mengangguk setuju.
"Aku bawa motor, kamu ikut aku aja yuk," ajak Rayyan pada Ami.
Ami menimbang beberapa saat, setelah itu dia mengangguk setuju dengan ajakan dari temannya itu.
"Baiklah ayo." Rayyan berjalan lebih dulu mengikuti anggota lainnya yang sudah mulai keluar dari restoran itu.
Ami mengikuti Rayyan dari belakang, hingga sampai ke motor sport Rayyan yang terparkir tidak jauh dari mobil anggota relawan lainnya.
Ada tiga orang yang membawa motor termasuk Rayyan, sedangkan yang lainnya menggunakan mobil, hingga jadi dua mobil dan tiga motor yang pergi.
"Nih pakai," ucap Rayyan menyerahkan helm pada Ami.
Ami mengambil helm itu dan memakainya, dia kemudian mulai menaiki motor itu dengan hati-hati, karena motor itu adalah motor besar, setelah memastikan Ami duduk dengan nyaman, Rayyan mulai menjalankan motornya mengikuti para relawan lain di depannya.
__ADS_1
"Kamu belum mulai koas?" tanya Ami dengan suara yang lumayan keras agar terdengar oleh Rayyan.
Koas adalah tahapan paling krusial yang harus dilalui seorang calon dokter. Pada tahapan ini, mereka yang sudah menamatkan studinya harus menjalani masa praktik di rumah sakit untuk mendapatkan gelar.
Rayyan adalah seorang pria yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di jurusan kedokteran, dia tidak langsung melakukan koas karena ingin menjadi relawan yang sebelumnya sudah dia geluti semenjak dirinya masih kuliah.
"Aku mulai koas bulan depan, itu artinya aku gak bakal sering ikut gabung lagi nantinya," terang Rayyan.
"Oh," sahut Ami singkat.
"Jangan kangen ya, karena nanti aku bakal jarang hubungi kamu pasti bakal sibuk," ucap Rayyan menggoda Ami.
"Siapa yang bakal kangen, justru kayaknya aku bakal tenang, karena gak akan ada orang gangguin terus," ucap Ami mencebikkan bibirnya, mendengar godaan dari temannya itu.
"Serius gak bakal kangen nih?"
"Dua rius malah," sahut Ami memutar matanya malas.
"Tapi kayaknya aku bakal kangen deh Mi, sama kamu," ucap Rayyan disertai kekehan di akhir ucapannya.
"Suka-suka kamu sajalah," sahut Ami dengan malas.
"Belum, kenapa gitu?"
"Ngapain sih nungguin orang yang gak jelas, Mi. Mending sama aku aja yang udah pasti."
"Jangan ngawur kamu, fokus saja bawa motornya, jangan ngomong sembarangan, aku gak mau mati muda," ucap Ami sambil memukul pundak Rayyan.
"Yaelah, Mi. Aku kan lagi usaha, siapa tau hati kamu jadi tergugah dan berubah haluan."
"Mimpi," ucap Ami malas.
"Kamu tau aja, kalau itu mimpi terbesarku, Mi."
Ami kembali memukul pundak Rayyan lebih kencang lagi karena merasa pria itu, berbicara asal-asalan, Rayyan hanya meringis mendapat pukulan berkali-kali dari temannya.
"Jangan kdrt napa, Mi. Kalau aku sampai oleng gimana, katanya kamu gak mau mati muda."
"Makanya jangan asal bicara, fokus saja jalanin motornya," sahut Ami yang sudah mulai ketus.
__ADS_1
Rayyan hanya patuh, dia tidak lagi menggoda Ami karena mendengar nada bicara wanita yang diboncengnya sudah mulai berubah.
Ami dan Rayyan, adalah teman yang lumayan dekat saat di sekolah menengah pertama, tapi saat SMA mereka sekolah terpisah, jadi mereka jarang berkomunikasi lagi.
Namun, tidak diduga jika mereka dipertemukan lagi, saat Ami mendaftarkan dirinya untuk ikut gabung di organisasi relawan itu melalui situs online.
Kini hubungan mereka kembali dekat, selain sering bertemu saat melakukan kegiatan dengan anggota lainnya, mereka juga kadang sering ketemu secara pribadi atau sekedar berkomunikasi lewat ponsel.
...******...
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, mereka pun telah sampai di sebuah panti asuhan yang bangunannya tidak terlalu besar.
Saat mereka turun, dari kendaraan mereka masing-masing, di halaman panti, mereka dapat melihat beberapa anak tengah bermain di halaman dan di teras.
"Ayo," ajak Irwan pada seluruh anggota untuk mendekati panti itu.
Mereka mengucapkan salam seperti biasa dan beramah-tamah, pengurus panti meminta mereka semua untuk masuk ke dalam dan berbincang dengan pengurus panti, mereka menanyakan tentang bagaimana saja kondisi anak-anak di situ.
Anak-anak di sana, kebanyakan adalah anak yang ditinggalkan begitu saja oleh orang tuanya, karena mereka terlahir tidak sempurna, ada juga yang di tinggalkan oleh orang tua mereka karena menderita penyakit yang serius.
Saat yang lainnya tengah sibuk berbincang Ami memutuskan untuk berkeliling di area panti asuhan itu.
"Mau ke mana?" tanya Rayyan saat melihat Ami bangun dari tempat duduknya.
"Aku mau lihat-lihat ke luar," jawab Ami, dia kemudian menatap pengurus panti dan meminta ijin. "Boleh, kan Bu. Jika saya berkeliling?" Ami tersenyum sopan pada ibu pengurus panti.
"Boleh, Nak. Biar ditemani oleh Via berkelilingnya," sahut Bu panti, sambil memberikan isyarat pada seorang gadis untuk mengantarkan Ami.
Gadis bernama Via, adalah anak yang memiliki masalah dengan pendengarannya, jadi ketika berbicara padanya harus dengan isyarat mulut yang jelas.
"Ayo Kak, biar Via antar," ucap Via.
Ami menganangguk dan mengikuti langkah Via, keluar dari panti menuju ke teras melihat anak-anak yang sedang bermain, ada yang memainkan boneka, ada yang main bekel, ada yang bermain bola di halaman dan ada juga yang hanya diam memperhatikan sekitar dengan duduk kursi roda, sambil sesekali tersenyum melihat teman-temannya yang sedang bermain itu.
Ami tersenyum, melihat anak-anak yang tetap bisa tersenyum bahkan terlihat bahagia tanpa beban, meskipun hidup mereka tidaklah sempurna.
Inilah yang selalu Ami sukai dari kegiatannya itu, dia jadi selalu bisa merasa bersyukur dengan hidupnya yang jauh lebih beruntung dari orang-orang yang memiliki kekurangan, juga dari orang-orang yang mengalami musibah, tapi tetap dapat bersyukur dan menjalani hidup mereka dengan baik.
Hal itu, dapat memberikan dampak positif juga pada dirinya, hingga dia dapat menjalani hidup yang lebih baik lagi dan lebih mensyukuri hidupnya.
__ADS_1