Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 90


__ADS_3

Terdengar suara pintu terbuka membuat Alish dan Ijah mengalihkan perhatian pada pintu, tak lama kemudian, Fariz keluar dari pintu itu dengan duduk di kursi roda.


Fariz melihat ke arahnya sekilas dengan wajah datarnya dan terus menjalankan kursi rodanya.


"Riz, kamu sudah bangun?" Alish berusaha memulai percakapan dan mengusap pipinya yang basah dengan cepat.


"Untuk apa Mama ke sini?"


"Mama khawatir dengan keadaan kamu, Nak," jawab Alish memberikan senyuman terbaiknya pada Fariz.


Sementara Ijah segera bangun dari duduknya dan mulai pergi meninggalkan mereka berdua, memberikan ruang pada Alish dan Fariz untuk berbincang.


"Fariz baik-baik saja, Mama tidak perlu repot-repot seperti itu."


"Mama tidak merasa repot sama sekali Nak, selain itu, ada yang mau mama sampaikan juga pada kamu," ucap Alish.


"Ada apa?" Fariz memajukan kursi rodanya dan berhenti, tepat di samping sofa tempat duduk Alish.


"Ini masalah pernikahanmu dengan Cindy—"


"Fariz pasti akan hadir Ma, Mama tenang saja pernikahan itu akan tetap terjadi." Fariz memotong ucapan Alish


Alish menggelengkan kepala, menyanggah ucapan Fariz itu, "Pernikahan kalian tidak akan pernah terjadi."


Fariz menatap Alish dengan heran, akhirnya dia pun bertanya, "Maksud Mama apa?"


"Iya, pernikahan kalian batal, tidak akan ada pernikahan yang akan terjadi di tiga hari mendatang," sahut Alish menganggukkan kepalanya, menatap Fariz dengan tersenyum.


"Kenapa pernikahannya bisa batal?" tanya Fariz memastikan.


"Ternyata Cindy juga tidak menginginkan pernikahan itu, jadi dia pergi dari rumah dan semalam orang-tuanya datang ke rumah, mereka meminta maaf pada kita karena pernikahan itu harus dibatalkan," terang Alish.


"Benarkah," gumam Fariz dengan senyum samar dan singkat yang hadir di bibirnya, Alish tidak menyadari hal itu. Karena Fariz segera menormalkan ekspresi wajahnya seperti semula.


"Iya," sahut Alish kembali tersenyum.


"Baguslah kalau gitu, itu artinya aku tidak perlu berpura-pura lagi," ucap Fariz.

__ADS_1


"Mama juga datang ke sini untuk minta maaf atas apa yang terjadi beberapa hari yang lalu," ucap Alish menunduk.


"Maafkan mama, Nak, karena mama tanpa sadar telah egois, bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu dan menyakitimu," sambung Alish dengan suara lirih.


"Tidak apa-apa Ma, Fariz ngerti kondisi Mama," sahut Fariz dengan nada yang sudah mulai biasa.


Alish mengangkat kembali wajahnya, seutas senyum kembali terbit dari bibirnya dengan tatapan lurus pada Fariz, setelah mendengar sahutam dari Fariz itu.


"Kamu tidak marah lagi pada mama, Nak?" tanya Alish dengan serius.


"Tidak Ma," sahut Fariz menggelengkan kepalanya.


"Syukurlah jika memang seperti itu, mama lega dengarnya," sahut Alish disertai hembusan napas lega.


Fariz hanya mengangguk sebagai jwaban, rasanya memang tidak ada gunanya dia marah terlalu lama karena hal itu.


"Oh iya, kapan kamu akan kontrol ke rumah sakit lagi?" tanya Alish membuka lagi percakapan.


"Rencananya besok,"sahut Fariz.


"Baiklah, besok mama saja yang mengantarkanku," ucap Fariz mengangguk kembali.


"Beneran boleh Nak," ucap Alish dengan senang.


"Iya Ma," sahut Fariz.


"Baiklah, besok mama akan ke sini lagi ya."


Fariz Kembali mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Alish merasa lega karena dia Fariz telah memaafkannya, atas kesalahan yang diperbuatnya tempo hari.


"Kalau gitu mau ke dapur ya, mau bantuin Bi Ijah membuat makan malam untukmu nanti," ucap Alish.


"Iya Ma, kalau Mama tidak merasa repot," sahut Fariz.


"Tidak repot sama sekali," sahut Alish lalu berdiri dari sofanya dan mulai pergi meninggalkan Fariz.


"Akhirnya satu masalah selesai," gumam Fariz menghela napas leganya, setelah melihat Alish menjauh darinya.

__ADS_1


...*****...


Sementara itu di sisi lain, Ami saat ini sedang duduk santai di balik meja untuk menerima pesanan dari pelayan lain restoran tempatnya bekerja.


Ami saat ini memang bekerja di sebuah restoran yang cukup mewah, dia baru beberapa hari bekerja di sana dan dia menyukai pekerjaannya itu, karena dengan menyibukan diri seperti itu, dia bisa mengalihkan pikirannya dari hal yang bersangkutan dengan Fariz.


"Oh iya Rin, di sekitaran sini, kira-kira ada tempat kos yang kosong tidak ya," ucap Alish pada temannya yang telah berdiri berseberangan dengannya.


"Emangnya kamu mau ngekos gitu?" Temannya yang semula fokus memperhatikan setiap pengunjung, mulai mengalihkan perhatian ke arahnya.


"Iya," sahut Ami mengangguk.


"Kenapa?" tanya temannya singkat.


"Rumah aku sama restoran ini jauh, jadi aku ingin ngekos di daerah sini aja, agar tidak terlalu memakan waktu untuk bolak-baliknya," sahut Ami, membuat Rini mengangguk.


"Oh gitu, kemarin kayaknya penghuni di samping kamarku baru aja keluar deh, gak tau udah yang nempati atau belum."


Mendengar ucapan Rini– temannya itu, Ami menatapnya dengan senang.


"Gimana kalau nanti kamu tanyain sama pemilik kosan itu ya, udah ada yang mau ngisi lagi apa belum? Kalau belum kasih tau aku, aku akan langsung lihat ke sana," ucap Ami dengan senang.


"Baiklah, nanti aku coba tanyain, tapi kosan di sana tidak terlalu besar, cuma kalau masalah harga sih cukup murah menurutku," ucap Rini.


"Kalau besar sama kecilnya tidak masalah, tapi kamar mandi di dalam, kan? Jadi kita tidak harus ngantri ke kamar mandi," ucap Ami.


"Di sana kamar mandi di dalam, kecuali kalau ada masalah dengan kamar mandinya aja, baru terpaksa harus pakai kamar mandi yang di luar," terang Rini.


"Baiklah," ucap Ami mengangguk dengan antusias.


"Ya udah, kalau gitu aku ke sana dulu ya, ada pengunjung yang manggil," pamit Rini sambil melangkah menuju ke meja pengunjung yang memanggilnya.


Ami hanya mengangguk, tak lama kemudian ada seorang teman kerjanya yang lain, mendatangi mejanya, seorang pria yang memakai pakaian yang sama dengannya.


"Ini pesanan meja nomor 28 dan 32," ucap temannya itu memberikan catatan yang berisi menu makanan.


"Baiklah, tunggu sebentar," sahut Ami yang langsung membawa menu itu ke dapur dan meminta koki di sana untuk menyiapkan menu makanan, sesuai dengan apa yang ada di kertas itu.

__ADS_1


__ADS_2