Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Nonton Bareng.


__ADS_3

Keesokan harinya, Fariz memutuskan untuk diam di rumah, karena hari ini adalah hari libur, dia ingin menghabiskan waktu liburnya dengan bersantai di rumah.


Saat ini dia sedang duduk di depan tv, menonton layar datar yang tengah menyiarkan sebuah film action kesukaannya.


Saat tengah fokus pada filmnya, terdengar suara Ami yang tengah mengobrol, dari dalam ruangan yang biasa Ijah gunakan untuk menyetrika pakaian.


Sesekali telinganya dapat mendengar suara tawa Ami yang pecah, saat Ijah tengah bercerita hal-hal yang lucu, kini fokusnya tidak hanya ke film yang ada di depannya saja. Tapi, telinganya juga menjadi fokus ke suara yang ada di ruangan itu.


Tanpa sadar, dia mengangkat ujung bibirnya, ketika lagi-lagi suara tawa Ami yang terdengar lepas, seolah tanpa beban itu mengusik indera pendengarannya.


"Wanita aneh, dia malah merasa tenang tinggal di rumah seorang pria lajang sepertiku, apa dia tidak takut kalau aku berbuat macan-macam padanya," gumamnya dengan mata lurus menatap layar tv dan telinganya mendengar suara canda tawa dari ruangan tempat setrika.


Tak lama kemudian, dia memutuskan untuk membuat kopi, karena terasa belum lengkap jika nonton tanpa kopi atau cemilan.


Fariz mulai melangkah ke dapur dan menyeduh kopinya, saat sudah siap, dia hendak pergi, kembali ke ruang tengah.


Namun, saat membalikkan badannya, dia tersentak kaget karena nyaris saja bertabrakan dengan Ami yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.


Kenapa aku tidak mendengar langkah kakinya, hampir saja kita tabrakan, batin Faris dengan bibir berdecak.


"Kamu!"


"Mas Fariz, sedang membuat kopi?" tanya Ami yang dapat mencium aroma kopi memenuhi ruangan itu.


"Apa kamu melayang?"


Ami mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang Fariz katakan itu.


"Maksud, Mas apa?" tanya Ami.


"Bagaimana bisa kamu, jalan tanpa suara seperti itu," sahut Fariz.


"Aku jalannya pelan-pelan karena takut nabrak, makanya gak kedengeran. Bukan melayang, kalau bisa melayang, berarti aku bukan manusia, tapi hantu," sahut Ami dengan diiringi kekehan.


Fariz masih diam di tempatnya, tidak bergerak sedikit pun dengan tatapan fokus pada Ami yang tengah tersenyum itu, tiba-tiba saja dia merasa terpukau melihat senyuman itu, ada hal yang aneh dalam dirinya.


Seolah ada getaran samar. Namun, terasa hangat di hatinya, tak lama kemudian. Dia segera mengembalikan kesadarannya dan berdehem, setelah itu pergi meninggalkan Ami di dapur.


Fariz mendudukkan dirinya kembali di tempat semula, dia menyimpan cangkir kopi yang dibawanya, setelah itu menyimpan telapak tangannya di dada.

__ADS_1


"Kenapa terasa ada yang aneh," gumamnya.


"Mas."


Panggilan dari Ami, itu membuatnya kembali tersenak, hingga lngsung menarik tangannya dari dada dan menatap wanita yang kini beriri di samping sofa yang dia duduki.


Sebuah senyuman yang terpatri dari wajah ayu nan manis itu, meski wajahnya tidak menghadap ke arahnya.


"Apa?"


"Ami boleh ikut duduk di sini?" tanya Ami yang sudah berniat untuk ikut bergabung dengan Fariz.


Di tangannya bahkan sudah ada gelas yang berisi jus strawberry yang dibuatkan oleh Ijah tadi.


"Duduklah," sahut Fariz datar dan kembali memfokuskan dirinya pada tv.


Senyum Ami semakin lebar, saat mendapat persetujuan dengan langkah hati-hati, dia memutari sofa dan duduk di sofa lainnya.


Dia menyimpan gelas yang dibawanya, ke meja dan mulai mendengarkan suara film yang tengah berlangsung dengan serius, beragam ekspresi ditunjukkannya selama film itu berganti adegan.


Seperti saat film sedang di adegan, terjadinya pertarungan Ami memasang wajah tegang, seolah dia dapat melihat apa yang terjadi. bukan hanya saling memukul, tapi saling menembak juga terjadi dalam adegan itu.


"Tidak, hanya cedera saja, bukankah sudah biasa pemain utama selalu kalah dulu," sahut Fariz yang dari tadi sudah mengalihkan perhatiannya dari tv pada wajah serius Ami.


Entah kenapa, melihat ekspresi wajah wanita itu yang tengah serius, lebih menarik daripada berlangsungnya film itu, hingga membuat matanya seolah tidak ingin beralih dari pemandangan itu.


"Apa itu pacarnya atau istrinya?" tanya Ami membuat Fariz akhirnya mengalihkan perhatiannya ke layar tv.


Dia bahkan tidak sadar, jika adegan di tv itu telah berganti ke adegan romantis, di mana adegan pemeran pria sudah berada di rumah sakit ditemani oleh seorang wanita.


Sudah berapa lama aku terus menatapnya, ucapnya dalam hati karena ternyata filmnya sudah sudah hampir selesai.


"Mas."


"Ya," sahut Fariz.


"Wanita itu istrinya atau pacarnya?" tanya Ami lagi yang belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya.


"Pacarnya," sahut Fariz asal, jujur saja dia sampai lupa alur film itu.

__ADS_1


"Wanitanya pasti merasa bahagia ya, karena memiliki pacar yang begitu mencintainya, bahkan sampai rela mempertaruhkan nyawa, demi bisa bersama dengannya," ucap Ami tersenyum saat mendengar film telah selesai.


"Itu hanya fiksi."


"Menurut, Mas. Kira-kira di dunia nyata ada gak pria yang kayak gitu?" tanya Ami sambil meneguk jus yang masih tersisa setengahnya itu.


"Sepertinya tidak ada."


"Benar, hal seperti itu hanya ada di film atau di novel romantis aja," gumam Ami.


Fariz meneguk, kopi yang belum tersentuh itu. Bahkan kopinya sudah sangat dingin, tapi dia tetap meneguknya sedikit dan kembali menaruh cangkir itu di meja.


"Apa kamu tidak memiliki pikiran buruk tentangku?" tanya Fariz yang kembali menatap Ami.


"Kenapa, Mas bertanya seperti itu?


"Walau bagaimanpun aku adalah orang asing dan sepertinya kamu terlihat tenang tinggal di tempat seorang pria asing," terang Fariz.


Mendengar apa yang Fariz katakan itu, Ami tersenym setelah itu baru menjawab, "Karena aku tau, kalau Mas Fariz adalah orang yang baik."


"Bagaiman kamu bisa seyakin itu?"


"Kalau, Mas bukan orang baik, Mas pasti tidak akan membawaku dan membiarkan aku tinggal di sini," jawab Ami tanpa ragu.


"Bagaima kalau aku melakukan itu karena ada maksud lain?"


"Kalau memang, Mas memiliki niat yang tidak baik untukku, kenapa tidak melakuan hal itu dari kemarin-kemarin. Kenapa harus menunggu hingga beberapa hari," terang Ami sambil tersenyum.


"Kamu tau, kalau terlalu mudah percaya pada orang lain, nanti kamu sendiri yang akan rugi, karena orang yang mudah percaya pada orang lain akan sering dimanfaatkan oleh orang yang tidak baik."


"Siapa yang akan memanfaatkan orang sepertiku, tidak ada hal yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain dari orang buta sepertiku," ucap Ami trsenyum samar.


Fariz menatap dalam, ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita di depannya itu. Meskipun wanita itu berusaha tersenyum, tapi raut kesedihan jelas kentara, di wajahnya.


"Aku mau ke dapur dulu ya, Mas, mau menyimpas gelas, bekas kopi Mas mana? Biar sekalian aku simpan ke dapur," ucap Ami yang kini sudah berdiri dan mengambil gelasnya.


"Tidak perlu, biar aku saja yang nyimpannya nanti, kopinya belum habis," tolak Fariz.


"Baiklah," sahut Ami setelah itu mulai melangkah meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Fariz menatap punggung Ami yang semakin menjauh dan menghilang dari balik pintu dapur, dengan pikiran kosong,


__ADS_2