Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Pasangan.


__ADS_3

Saat dua sejoli yang baru saja mengutarakan perasaan mereka masing-masing, masih menikmati hangatnya cinta yang baru saja bermekaran, Ijah hadir di antara mereka.


Ijah baru menampakkan dirinya, setelah beberapa saat berusaha menyibukkan dirinya, dengan peralatan di dapur dengan telinga yang berusaha mendengar, apa yang terjadi di ruang tengah tadi.


"Maaf mengganggu Den, ini sudah waktunya Bibi untuk pulang," ucap Ijah membuat pasangan yang masih berpelukan itu, terpaksa melepaskan dekapannya.


"Iya, Bi," sahut Fariz dengan kepala mengangguk.


"Makan malam udah saya siapkan di meja makan," ucap Ijah lagi,


"Iya, Bibi hati-hati ya pulangnya," ucap Ami pada Ijah.


"Iya, Non." Ijah tersenyum dan mulai melangkah pergi dari apartemen itu, meninggalkan Fariz dan Ami yang masih dalam suasana dimabuk cinta.


Ami dan Fariz saling menatap dengan hening dan beberapa saat kemudian Ami langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


Dia baru merasakan kecanggungan karena hanya berduaan dengan Fariz, pria yang baru saja beberapa menit yang lalu resmi menjadi pacarnya, memikirkan tentang status mereka kali ini membuat pipi Ami terasa memanas.


"Kenapa pipi kamu memerah? Kamu sakit?" tanya Fariz dengan polosnya.


"Tidak kenapa-napa, Mas," sahut Ami menggeleng.


"Beneran?" Fariz menempelkan punggung tanganya di kening Ami. Dia takut Ami tidak enak badan, hingga pipinya tampak memerah.


"Ami baik-baik saja, Mas," sahut Ami menatap Fariz.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," sahut Fariz yang sudah menarik kembali tangannya dari kening Ami yang memang tidak bermasalah.


"Mau makan sekarang?" tanya Fariz.


"Ak—" Ami baru saja membuka mulutnya untuk bicara, tapi langsung terhenti karena perutnya tiba-tiba saja berbunyi.


"Ayo kita makan, perut kamu udah minta diisi tuh," ucap Fariz yang sudah mulai berdiri, lalu menarik tangan Ami agar ikut berdiri.


"Kamu tadi siang tidak makan?" tanya Fariz yang sudah sampai di meja makan.


Ami menggelengkan kepalanya lalu berucap, "Sebenarnya tadi siang aku mau makan, tapi gak sempat."


"Kenapa?" tanya Fariz yang sudah mulai mengambil makanannya.


"Karena tadi siang Rayyan ngirim alamat di sini , jadi aku langsung lupa sama makan siangnya dan langsung ke sini," sahut Ami.


"Lain kali, jangan seperti itu. Jangan sampai telat makan, itu tidak baik untuk kesehatan," ucap Fariz penuh perhatian, membuat Ami merasa tersentuh.


"Iya, Mas."


"Sekarang makanlah, nanti aku anterin kamu pulang," ucap Fariz yang sudah mulai makan.


"Mas, ngusir aku," ucap Ami yang langsung memasang wajah sedih.

__ADS_1


"Bukan gitu, nanti ayah kamu nyariin kalau kamu pulangnya terlalu malam," sahut Fariz mencoba memberikan pengertian.


"Nanti kita bisa ketemu lagi, masih banyak waktu untuk kita bertemu lagi," sambung Fariz menggenggam tangan Ami yang berada di satas meja.


Tatapan lembut dan senyuman tipis yang dia berikan pada Ami, membuat Ami merasa dicintai, hingga serasa ada ribuan kupu-kupu yang hinggap di hatinya.


Menggelitik hatinya yang kini telah di isi oleh bunga-bunga yang tengah bermekaran.


"Cepatlah makannya, kenapa kamu malah melamun," ucap Fariz membuat Ami langsung tersadar.


"Iya Mas," sahut Ami mengangguk antusias dan melanjutkan makannya.


Beberapa saat kemudian, mereka selesai makan malam, Ami berniat akan membereskan meja makan di sana, tapi dihentikan oleh Fariz.


"Tidak perlu dibereskan, biar Mas, aja yang membereskannya," ucap Fariz membuat Ami menghentikan gerakannya.


"Biar Ami, aja Mas," sahut Ami.


"Tidak kamu tunggu saja di sofa, biar ini aku yang bereskan," tolak Fariz.


"Tapi—"


"Mi!" panggil Fariz dengan sedikit menekan suaranya.


"Baiklah, Ami tunggu di sofa ya," sahut Ami pada akhirnya menurut.


Sementara Ami, melangkah menuju ke sofa, dia mendudukkan dirinya di sofa dan tak lama setelah, dia duduk. Ponsel yang ada di tasnya berbunyi.


Saat melihat siapa yang menelponnya, dia pun segera mengangkat telepon yang tidak lain, telepon dari papanya itu.


Setelah beberapa saat mengobrol dengan papanya, sambungan telepon itu pun terputus, Ami kembali menyimpan ponsel ke dalam tasnya.


"Siapa yang menelepon?" tanya Fariz yang ternyata sudah datang dari dapur.


"Papa," sahut Ami singkat.


"Nyuruh kamu pulang?" tanya Fariz yang kini sudah berdiri di depan Ami yang masih mendudukkan dirinya.


"Tidak, hanya menanyakan aku ke mana aja, soalnya tadi aku pergi tidak bilang dulu sama orang yang ada di rumah," sahut Ami dengan tersenyum.


"Oh gitu." Fariz mengangguk paham dengan ucapan Ami itu.


"Ayo, aku anterin pulang sekarang," sambung Fariz lagi.


"Aku masih mau di sini, Mas," rengek Ami yang masih tidak ingin pergi dari sana.


"Ini sudah malam, papa kamu pasti nungguin kamu untuk pulang," bujuk Fariz.


"Tapi ini belum terlalu malam," sahut Ami yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Ini udah malam, Mi. Kamu mau pulang tengah malam apa?" ucap Fariz dengan sabar, menghadapi sikap Ami yang sedikit kekanakan itu.


Ami masih bergeming di tempatnya, melihat hal itu, Fariz menjadi gemas, akhirnya dia pun mendekati Ami dan membungkukkan badannya, menatap Ami dengan intens.


"Ma-Mas, mau ngapain?" tanya Ami dengan gugup karena gelagat aneh Fariz.


"Kamu benaran masih mau di sini agak lama?" tanya Fariz yang terus memojokan Ami.


Bahkan saat ini Ami sudah menyandarkan dirinya di sandaran sofa, dia berusaha menghindar dari Fariz yang menatapnya, seolah ingin menelannya hidup-hidup.


Pikirannya sudah berkelana ke sembarang arah, dia berpikir, mungkinkah Fariz akan melakukan sesuatu padanya, mengingat kondisi mereka saat ini, hanya berdua saja di tempat itu.


"Tidak! Ami akan pulang sekarang!" pekik Ami yang langsung mendorong bahu Fariz agar menjauh darinya.


"Mas, meskipun kita sudah resmi pacaran, tapi Mas jangan melakukan hal-hal yang tidak boleh kita lakukan, sebelum ikatan pernikahan ya!" ancam Ami dengan tegas.


Dia melayangkan tatapan sengit pada Fariz dan menyilangkan tangannya di dada, sebagai tameng.


Mendengar ucapa Ami itu, Fariz mengerutkan keningnya dengan tajam, dia berpikir maksud dari ucapan pacarnya itu.


"Apa yang kamu pikirkan dengan kepala kecilmu itu, hemm," ucap Fariz menujuk kening Ami.


"Mas jangan macam-macam ya," ucap Ami lagi dengan tegas.


"Siapa yang mau macam-macam, aku barusan hanya berniat akan menarik kamu untuk berdiri, agar aku bisa segera mengantarkanmu pulang," terang Fariz apa adanya.


"Bukannya mau—"


"Mau apa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Fariz terkekeh geli, karena berpikir jika Ami sedang berpikiran yang tidak-tidak padanya.


Ami jadi malu karena sadar, jika dia terlalu berpikiran jauh tentang pria di depannya itu, entah kenapa pikirkan seperti itu bisa muncul dalam benaknya itu.


Padahal jika Fariz orang seperti itu, mungkin dulu saat dia tinggal di sana, Fariz sudah melakukan hal yang tidak baik, tapi buktinya, tidak. Pria itu justru menjaganya dengan baik, saat dia tinggal di sana dulu.


"Sudah jangan melamun, ayo pulang," ajak Fariz menarik tangan Ami dengan lembut, karena Ami hanya melamun.


Ami akhirnya menurut, dia mengikuti langkah Fariz tanpa suara, masih merasa canggung dengan apa yang terjadi barusan, lebih tepatnya malu karena telah berpikiran buruk.


"Kenapa diam?" tanya Fariz saat mereka sudah berada di dalam lift.


"Tidak kenapa-napa, Mas," sahut Ami menggeleng dan tersenyum.


"Beneran?" tanya Fariz lagi meyakinkan, dia menatap Ami yang berdiri di sampingnya.


"Iya, Mas, aku gak kenapa-napa kok."


"Baguslah," sahut Fariz setelah itu kembali melihat ke arah depan.


Setelah lift berhenti di lantai dasar, mereka keluar dari lift, berjalan menuju ke mobil yang berada di basement apartemen itu.

__ADS_1


__ADS_2