
Denis saat ini masih menyebarkan selembaran pencarian orang yang hilang, dia masih belum menyerah dengan niatnya agar bisa cepat-capat menemukan anak bungsunya.
Matahari sangat terik, hal itu membuat pria paruh baya itu terpaksa harus beristirahat terlebih dahulu, dia duduk di kursi yang tersedia di mini market, berteduh sambil mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa panas.
Pandangannya lurus melihat hilir mudik kendaraan yang melintas di depannya, masih tersisa banyak selembaran yang belum tersebar, entah sudah ke berapa tempat yang dia datangi untuk menyebarkan selembaran itu.
Dia juga sudah sudah membuat pencarian orang di internet, bahkan dengan bantuan polisi, tapi sampai saat ini belum ada petunjuk tentang anaknya itu.
"Di mana kamu, Nak?" gumamnya sambil mengusap gambar Ami di selembaran kertas yang dipegangnya.
Saat tengah serius menatap gambar anaknya itu, seseorang menyimpan sebuah minuman di meja yang ada di depannya.
Denis pun mendongakkan kepalanya dan melihat seorang pria yang berdiri di depannya dengan sekantong keresek yang berada di tangannya.
Denis menatap botol minuman dan pria yang tidak lain adalah Fariz itu dengan bingung, dia tidak mengerti apa yang Fariz lakukan itu.
Melihat kebingungan dari pria paruh baya yang terlihat kelelahan itu, Fariz mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu, setelah itu memperlihatkan ponselnya pada Denis.
Itu minuman untuk Anda, Pak.
Denis membaca tulisan di ponselnya itu, lalu mengangguk dan tersenyum pada Fariz.
"Terima kasih," ucap Denis yang mulai mengambil minuman itu dan membuka tutupnya.
Fariz mengangguk sebagai jawaban dengan posisi masih berdiri di depan Denis, melihat hal itu Denis pun menyuruhnya untuk duduk di kursi yang ada di sana.
"Duduklah, Nak."
Fariz menurut, dia duduk dan membuka botol yang dibawanya juga, setelah selesai menuntaskan dahaga mereka, hanya keheningan yang ada di antara mereka.
"Kamu tinggal di mana, Nak? Apa rumah kamu jauh?" tanya Denis membuka suara, setelah beberapa saat hening.
Fariz menunjuk sebuah bangunan yang menjulang, bangunan yang terlihat sangat jelas dari tempatnya saat ini, bangunan yang tida lain adalah gedung apartemennya.
"Oh kamu tinggal di gedung apartemen itu."
Fariz kembali mengangguk sebagai jawaban dan sesekali meneguk minuman dingin miliknya itu.
__ADS_1
Fariz kemudian melihat tumpukan kertas yang berada di atas meja, dia menatapnya dengan seksama karena tahu, jika wanita yang ada di foto dalam kertas itu, adalah foto wanita yang saat ini tinggal di tempatnya.
"Apa kamu pernah melihatnya, Nak?" tanya Denis saat menyadari, jika Fariz terus menatap lembaran itu.
Fariz hanya diam, dia ragu haruskah dia memberitahukan pada pria paruh baya itu, jika Ami ada di tempatnya, tapi dia belum tahu hubungan pria itu dengan Ami.
"Dia adalah anak bungsuku, dia sudah hilang dua bulan lebih," terang Denis dengan sebuah senyuman samar dari wajah lelahnya.
Kenapa anak Anda, bisa hilang? Isi tulisan di ponsel Fariz.
"Anak pertamaku bilang, mereka sedang makan malam di luar dan adiknya itu tiba-tiba menghilang," jawab Denis.
Fariz mengangguk, tak lama kemudian dia bangun dari tempat duduknya, dia membungkukkan sedikit badannya sebagai isyarat, jika dia berpamitan pada Denis.
"Terima Kasih untuk minumannya, sama ini bawalah, siapa tau nanti kamu melihat anakku, bisa tolong hubungi aku di nomor itu," ucap Denis menyerahkan satu lembar kertas itu pada Fariz.
Fariz menerima kertas itu dan mengangguk, tidak lupa dia juga tersenyum samar pada pria paruh baya itu.
Fariz meninggalkan Denis dengan perasaan tidak menentu, apa yang harus dia lakukan sekarang, apakah dia harus memberitahu Ami tentang ayahnya yang mencarinya.
Jika dia mengatakan hal itu, maka artinya dia harus segera mengantarkan wanita itu untuk pulang dan dia harus siap untuk berpisah dengan wanita yang beberapa waktu itu sudah menemani hari-harinya.
Dia mematung di depan pintu apartemennya dengan pandangan lurus ke arah sofa yang sudah diduduki oleh dua orang wanita berbeda generasi.
Ma, dari kapan Mama di sini? Tanya Fariz menggunakan isyarat, setelah berhasil mengatasi keterkejutannya karena keberadaan mamanya.
"Mama baru saja sampai, mama juga sengaja ngajak Cindy ke sini karena dia ingin tau tempat tinggalmu," terang Alisha dengan tersenyum lebar.
"Hay, Riz." Cindy menyapanya denga terseyum ramah pula.
Fariz hanya menjawabnya dengan anggukan samar dan senyum kaku.
"Kamu dari mana, tumben keluar," ucap Alisha.
Fariz mengangkat kantong keresek yang dibawanya, sebagai jawaban atas pertanyaan Alisha itu.
"Tumben beli cemilan banyak gitu. Kamu, kan biasanya tidak terlalu suka negemil?" Alisha mengerutkan keningnya dengan heran.
__ADS_1
Ini untuk stok beberapa hari, soalnya akhir-akhir ini Fariz jarang bisa tidur cepat kalau malam, jadi sengaja nyetok cemilan. Tulis Fariz pada ponselnya.
Padahal yang sebenarnya, cemilan itu niatnya untuk dia dan Ami makan bersama saat mereka menonton, seperti biasa.
"Oh gitu ya, ngapain kamu masih berdiri di sana, duduklah," ucap Alisha karena Fariz masih belum beranjak dari depan pintu.
Fariz mengangguk dan berjalan menuju ke sofa singgel yang ada di sana, dia kemudian menyimpan kantong keresek itu di atas meja.
Tak lama kemudian, Ijah datang dengan membawa nampan yang berisi minuman di atasnya juga kue kering yang masih hangat, kue yang baru saja dia buat bersama Ami.
"Silakan, Bu," ucap Ijah menyimpan minuman beserta kue kering itu ke meja.
"Bibi, bikin kue, tumben?" tanya Alisha dengan heran lagi.
Ini pertama kalinya, art anaknya itu membuat kue seperti itu, karena dia juga tau jika Fariz tidak terlalu suka makan makanan yang manis.
Fariz menatap Ijah, memberikan isyarat untuk tidak mengatakan yang sesungguhnya.
"Ini Bu, sebenarnya akhir-akhir ini, Bibi sering buat kue seperti ini, karena sedang mencoba beberapa resep, di rumah Bibi, kan tidak ada alat-alat dan bahan-bahannya jadi Bibi, minta ijin sama, Den Fariz untuk membuatnya di sini," terang Ijah dengan lugas seolah apa yang dikatakannya itu adalah yang sebenarnya.
"Oh, tapi ini enak, Bi." Alisha sudah mulai mencicipi kue itu.
"Iya makasih, Bu. Ini sebenarnya resep baru dan Bibi baru pertama kali membuatnya," ucap Ijah.
"Tapi ini udah enak," sahut Alisha yang memakan kue itu dengan lahap.
"Syukurlah kalau begitu, Bu. Ya udah saya pamit dulu ya, Bu, Den dan Non."
"Iya, Bi," sahut Alisha.
Ijah pun pergi meninggalkan mereka bertiga, Alisha meminta Cindy untuk ikut memakan kue yang dimakannya dan Cindy pun menurutinya.
Pandangan Cindy dari tadi terus menatap Fariz dan akan melihat ke arah Alisha, saat wanita itu mengajaknya bicara.
Fariz yang menyadari hal itu tentu saja, merasa tidak nyaman. Dia tidak terbiasa berhadapan dengan orang lain lebih lama, kecuali Ami, entah kenapa semenjak bertemu kembali dengan wanita itu.
Dia sama sekali tidak merasa risih atau tidak nyaman saat berada di dekatnya, justru sebaliknya, ada rasa nyama dalam dirinya dan hatinya terasa hangat saat dia berada di dekat wanita tunanetra itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu terus melihat ke arah kamar tamu terus, Riz?"