
Seminggu sudah, setelah pernikahan Zoya dan Daffin digelar, Denis yang belum menyelesaikan masalah pekerjaannya, terpaksa harus pergi lagi, setelah tiga hari usai pesta itu.
Zoya dan Daffin saat ini tinggal di rumah Denis, karena saat ini dia belum menemukan rumah yang cocok untuk mereka tinggali, sedangkan Zoya tidak ingin tinggal bersama dengan mamanya, ditambah Denis meminta Zoya untuk tinggal di sana sampai dia kembali dari luar kota.
Saat tengah malam, Ami terganggu dari lelapnya karena merasa tenggorokan kering, dia mendudukkan dirinya dan meraba nakas yang berada di samping tempat tidurnya.
Biasanya dia menyimpan botol yang berisi air putih di sana, untuk dia minum jika tengah malam haus seperti saat ini. Namun, saat meraba-raba ternyata dia tidak menemukan botol air yang biasa berada di sana.
"Aku lupa bawa botol minumnya," gerutunya sambil menepuk kening karena baru ingat, jika setelah makan malam dia langsung ke kamarnya.
Mau tidak mau, Ami pun turun dari ranjang berjalan dengan pelan menuju ke pintu kamarnya, dia berjalan tanpa memakai tongkat karena sudah hapal setiap sudut rumahnya.
Ami menuju ke dapur dan tujan utamanya adalah meja yang berada di samping kulksa, di mana terakhir kali, dia menyimpan botol yang telah diisi oleh air sebelum makan malam.
Dia meraba permukaan meja itu dengan teramat pelan dan saat tangannya menyentuh botol yang dicarinya, dia segera mengambil botol itu.
Karena sudah mendapatkan apa yang dia cari, dia memutuskan untuk kembali ke kamar dan akan meminum air itu di kamarnya saja. Namun, saat dia hendak keluar dari pintu dapur, sebuah suara di depannya membuat langkahnya terhenti.
"Mi, kamu ngapain di sini malam-malam?" tanya pria yang kini sudah menjadi kakak iparnya.
"Ami mau ngambil air minum, Kak." Ami menjawabnya dengan canggung, karena setelah kejadian beberapa minggu yang lalu, juga setelah pernikahan Zoya dan Daffin ini kali pertamanya, dia bertegur sapa secara langsung dengan pria itu.
"Kenapa kamu ngambil sendiri, kenapa gak minta Bi Tini untuk mengambilnya," ucap Daffin yang kini sudah mensejajarkan dirinya dengan Ami.
"Aku bisa sendiri, maaf aku harus kembali ke kamar untuk istirahat." Ami segera menjauh dari Daffin dan melangkah meninggalkan Daffin yang masih berdiri di depan pintu dapur.
Karena ingin segera pergi dari hadapan Daffin, tanpa sadar dia berjalan dengan kurang hati-hati hingga akhirnya, dia menabrak salah satu kursi yang berada di meja makan, hingga menimbulkan suara gaduh disertai linu di kakinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Daffin yang kembali mendekat dan melihat kondisinya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja," sahut Ami melanjutkan langkahnya dengan jalan yang sedikit pincang.
Daffin melihat Ami berjalan dengan sedikit kesusahan pun, berinisiatif untuk menawarkan bantuan dan mengantarkannya untuk kembali ke kamar.
"Biar aku bantu ke kamar kamu, Mi."
"Tidak perlu, Kak. Aku bisa sendiri," sahut Ami yang masih melanjutkan lamgkah pelannya.
"Tapi, kalau kamu jalan seperti itu, aku yakin, kamu pasti akan menabrak sesuatu lagi," ucap Daffin.
"Aku tidak ak—," ucapan Ami terhenti karena dia menabrak nakas kecil yang berada di ruang tengah.
"Bukankah aku sudah bilang, kalau kamu jalan dengan sembarangan begitu pasti akan menabrak sesuatu lagi," decak Daffin yang sudah merangkul Ami, agar bisa menuntun adik iparnya itu kembali ke kamar.
"Lepaskan, Kak. Aku bisa sendiri, aku gak mau Kakak melihat kita seperti ini dan unung-ujungnya berpikiran yang tidak-tidak pada kita," ucap Ami berontak, berusaha melepaskan dirinya dari Daffin.
"Sudahlah, sebentar lagi kita sampai di depan pintu kamar kamu dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan Zoya, karena dia sudah tidur sekarang."
Tak menunggu lama lagi, dia segera berjalan dengan cepat menuju ke-dua orang yang itu, tanpa aba-aba dia menarik lengan Daffin agar terpisah dari Ami.
"Apa yang kalian lakukan di malam-malam seperti ini, kalian berselingkuh di belakang aku hah!" tuduh Zoya pada Ami dan Daffin yang tidak mengerti apa-apa.
"Bukan gitu, Kak. Tadi itu ...."
Zoya tidak membiarkan Ami melanjutkan ucapannya, dia langsung melayangkan sebuah tamparan di pipi mulus adiknya itu dan tanpa perasaan mendorong tubuh Ami hingga bok*ng Ami bersentuhan dengan lantai.
"Zoya, kamu salah paham, kenapa harus sekasar itu," ucap Daffin yang tidak menyangka akan apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Apa? Kamu mau belain dia, kamu masih cinta sama dia, iya!" marah Zoya, menatap suaminya dengan sengit.
__ADS_1
"Bukan gitu, Sayang."
"Terus apa yang aku lihat barusan, kamu sama dia jelas-jelas lagi perluk-pelukkan, emangnya kamu pikir aku buta apa!"
"Aku gak pelukan sama dia, aku hanya bantu dia karena dia kesulitan saat berjalan," terang Daffin bicara dengan lembut, untuk memberikan pengertian pada istrinya itu.
"Beneran hanya itu?" tanya Zoya yang sudah terlihat lebih tenang.
"Iya beneran, barusan aku haus dan saat ke dapur, kebetulan Ami juga ada di sana dan tadi dia jalan kurang hati-hati, jadi nabrak kursi dan nakas itu," terang Daffin sambil menunjuk ke arah nakas yang sudah sedikit bergeser dari tempatnya.
"Karena takut, dia nabrak barang lainnya lagi. Aku bantuin dia untuk ke kamarnya," sambung Daffin lagi.
"Baiklah, aku percaya sama kamu, terus apa kamu sudah minumnya?" tanya Zoya yang sudah lebih tenang.
"Belum sempat," jawab Daffin.
"Ya udah, kalau gitu kamu minum dulu aja gih, biar aku yang anter Ami kembali ke kamarnya," ucap Zoya yang kini sudah menatap Ami yang sudah berdiri.
"Baiklah, kamu hati-hati, aku mau minum dulu. Nanti kita kembali ke kamar bareng," sahut Daffin dan mulai melangkahkan kakinya kembali ke dapur.
Setelah Daffin menghilang dari pandangannya, tatapan Zoya kembali tajam pada Ami, dia berpikiran buruk terhadap adiknya yang tidak salah apa pun itu.
"Ayo jalan, jangan cari-cari perhatian orang lain, karena kondisimu seperti itu. Belum cukupkah kamu mengambil semua perhatian Papa dan sekarang kamu mau mencari perhatian Kakak iparmu sendiri, apa kamu tidak malu," ketus Zoya sambil menarik tangan Ami dengan kasar.
Ami meringis, karena tarikan Zoya di tangannya lumayan kencang, kakinya juga masih ngilu dan terpaksa mengikuti langkah cepat kakaknya untuk menuju ke kamarnya.
"Aku tidak ingin ada lain kali lagi, kamu mencari perhatian suamiku. Jangan pernah bermimpi untuk mencari perhatiannya dan mendekati dia agar kamu bisa kembali bersamanya," cecar Zoya saat mereka sudah sampai di kamar Ami.
"Ami gak pernah punya niat seperti itu, Kak." Ami menggeleng berusaha menyanggah semua yang Zoya katakan itu.
__ADS_1
"Kalau gitu, jangan pernah dekat-dekat lagi dengan suamiku dan lupakan, jika kalian pernah bersama sebelumnya!" tekan Zoya dan setelah pergi meniggalkan kamar Ami.
"Kenapa, Kakak selalu saja berpikir jelek tentang Ami, kapan kita bisa hidup normal layaknya saudara yang saling menyayangi," gumam Ami dengan sedih.