
Ami saat ini sudah siap dengan penampilan sederhananya, tapi tetap cantik dengan dandanan yang tampak natural, tidak berlebih-lebihan itu.
Dalam hati dia berharap, papanya tidak benar-benar berniat menjodohkan dirinya malam ini, dia juga berharap orang yang datang saat ini benar-benar hanya rekan kerja papanya, tidak ada maksud lain.
Saat sedang asyik dengan lamunannya, terdengar pintu yang diketuk dari luar, disusul oleh suara papanya yang memanggil namanya, membuat dia segera beranjak dari tempatnya dan membukakan pintu.
"Kamu sudah siap, kan? Ayo sebentar lagi tamunya sampai, kita harus menyambutnya," ucap Denis dengan pakaian yang sudah terlihat rapi dengan setelan jas dan celana bahannya.
"Baiklah Pa." Ami mengangguk dan mulai mengikuti papanya menuju ke pintu utama.
Mereka membuka pintu utama dan ternyata benar, saat mereka ke teras, dua mobil memasuki gerbang yang telah dibuka oleh Candra.
Ami menatap mobil itu dengan tenang, tapi saat melihat siapa saja yang turun dari mobil itu, matanya membelalak tak percaya, saat satu per satu orang di dalam mobil itu turun.
Dimulai dari Nevan yang keluar dari mobil yang tadi lebih dulu masuk, disusul oleh Alish. Aaric dan Kia yang turun dari mobil yang berada di belakang, tapi ternyata kekagetan dirinya tidak sampai di situ.
Matanya nyaris keluar dari tempatnya, saat melihat siapa yang turun paling terakhir, pria yang berjalan dengan bantuan tongkat yang beberapa waktu itu selalu mengganggu dirinya saat bekerja.
Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, dia pun ikut melangkah mendekati Ami dan Denis, mengikuti anggota keluarga yang lainnya.
"Selamat malam, Tuan, Nyonya, selamat datang di rumah sederhana saya," sapa Denis pada tamunya membuat Ami dengan segera menyadarkan dirinya.
"Selamat malam juga, Pak Denis, Nak Ami," sahut Nevan tersenyum ramah pada Denis dan Ami.
"Selamat malam Tuan," sahut Ami yang juga berusaha tersenyum, meskipun sedikit dipaksakan.
Dia menatap satu per satu orang-orang itu dengan tatapan yang masih bingung, Alish tersenyum saat tatapan mereka saling bertemu. Sementara itu Fariz juga tersenyum samar, saat melihat reaksi Ami yang terlihat kebingungan itu.
"Baiklah, ayo kita masuk terlebih dahulu," ucap Denis mempersilakan para tamunya untuk masuk.
"Terima kasih Pak," ucap Nevan yang sudah mulai berjalan, memimpin keluarganya untuk masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Denis yang sudah lebih dulu berjalan.
__ADS_1
"Ayo Mi, kenapa kamu malah diam di sana," ucap Kia pada Ami yang hanya berdiri di depan pintu.
"I-iya Bu," sahut Ami dengan gugup.
Kenapa keluarga mereka tiba-tiba saja ke sini? Oh iya aku lupa, Tuan Aaric adalah atasan Papa, mereka pasti berkunjung karena hal itu. Batin Ami sambil berjalan mengikuti yang lainnya.
"Silakan duduk Tuan dan yang lainnya." Denis menuntun tamunya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Terima kasih Pak," ucap Nevan, memberi isyarat pada keluarganya untuk duduk.
Sementara Ami sudah kembali ke dapur, membantu Tini untuk membawakan minuman dan beberapa kudapan untuk para tamu papanya itu.
Tak lama kemudian Ami dan Tini datang, dengan nampan yang ada di tangan mereka masing-masing, Ami membawa nampan yang terisi minuman, sedangkan Tini, membawa nampan yang terisi kudapan.
"Silakan dicicipi makanan sederhana ini, Tuan, Nyonya," ucap Denis dengan tersenyum, "Oh iya, ini anak kedua saya Zamira Azliana, saya yakin, mungkin Tuan dan Nyonya, sudah mengenalnya," sambung Denis, memperkenalkan Ami yang sudah mendudukkan dirinya di samping Denis.
"Yang lainnya, mungkin sudah mengenalnya, tapi saya belum terlalu, kita hanya pernah bertemu sekali ya," ucap Nevan pada Ami dengan ramah.
"Iya Tuan," sahut Ami mengangguk sopan.
"Iya, saya punya dua anak perempuan, Nyonya. Dan dia kakaknya Ami, dia saat ini tinggal dengan suaminya dan tidak bisa hadir di sini karena ada urusan lain," terang Denis, Alish hanya mengangguk sebagai tanggapan.
"Silakan minum dulu, Tuan, Nyonya" sambug Denis lagi.
Nevan dan yang lainnya pun mengangguk, mereka mulai mengambil minuman yang sudah tersaji di meja yang ada di depan mereka, begitu pun dengan Ami dan Denis.
"Saya akan langsung ke intinya saja ya Pak, tentang apa maksud kedatangan kami semua ke sini, agar mempersingkat waktu," ucap Nevan menatap Denis dan Ami bergantian.
"Iya silakan Tuan," sahut Denis mengangguk.
"Jadi maksud kedatangan kami ke sini, adalah untuk menanyakan pada Nak Ami, apakah dia bersedia menjadi istri dari anak kami Fariz?"
__ADS_1
"Dan meminta izin pada Pak Denis, agar menerima anak kami sebagai menantu Pak Denis dan menjadi suami anak Bapak."
Ami yang mendengar hal itu, nyaris tersedak ludahnya sendiri, dia menatap semua orang dengan tatapan bingung dan tak mengerti.
Apa yang ditanyakan oleh Nevan itu, apa mereka ke sini untuk melamarnya, agar menikah dengan Fariz, apa ada yang salah dengan orang-orang itu, bagaimana tidak, mereka melamarnya untuk Fariz.
Sementara pria itu sudah menikah, meskipun dia memang mencintai Fariz, tapi untuk menjadi istri kedua dia tidak mungkin mau, dia tidak akan sanggup berbagi.
"Saya menyerahkan semua keputusan pada anak saya, karena kelak dialah yang akan menjalaninya dan dia berhak menentukan pilihan untuk masa depannya sendiri," sahut Denis dengan sopan.
Dia tetap memberikan, keputusan akhir pada anaknya itu sepenuhnya. Karena baginya yang terpenting adalah kebahagiaan anaknya.
"Jadi, Nak Ami, apa Nak Ami mau menerima Fariz sebagai suamimu kelak?" tanya Nevan beralih menatap Ami.
Semua orang di sana juga tengah menatap Ami yang menatap kosong ke depannya, wanita itu belum bisa mencerna apa yang terjadi itu dengan baik, pikirannya melayang entah ke mana.
"Mi, Tuan Nevan bertanya," ucap Denis mengusap punggung Ami untuk menyadarkan anaknya itu.
"Tidak!" Ami menjawab dengan cepat, dia juga menggelengkan kepalanya.
Mendengar jawaban Ami itu, Fariz menatap Ami dengan sedih, wanita itu menolak lamaran yang sudah dia rencakan dari beberapa waktu yang lalu itu, begitu saja.
Seluruh keluarga Nevan juga menatapnya dengan kecewa, sementara Denis menatap anaknya itu dengan bingung, bukankah anaknya itu mencintai Fariz, tapi kenapa sekarang dia malah menolak lamarannya.
Melihat tatapan beragam dari orang-orang di sana, Ami menghela napas panjang dan menatap satu per satu orang-orang itu, sebelum akhirnya membuka suaranya lagi.
"Maaf sebelumnya, saya memang mencintai Mas Fariz … tapi saya tidak mau jadi istri kedua, saya tidak sanggup untuk berbagi nantinya," ucap Ami apa adanya.
Aaric yang mendengar hal itu, hampir menyemburkan tawanya, jika istrinya tidak mencubit pinggangnya, alhasil dia berusaha menutup mulutnya dengan kuat, sementara Nevan dan Alish menatap Ami bingung, mereka kemudian menatap Fariz yang terlihat meringis.
Pria itu baru ingat, jika dia memang tidak mengatakan, tentang dia yang tidak jadi menikah dengan Cindy, Nevan dan Alish menatap Fariz yang tengah memasang wajah merasa bersalah pada pasangan lanjut usia itu.
__ADS_1
Mereka nyaris, terkena serangan jantung karena lamarannya ditolak mentah-mentah, tapi ternyata anak merekalah yang menjadi sumber masalahnya.
"Sepertinya terjadi kesalahpahaman di antara kamu dan Fariz, Fariz sebenarnya tidak jadi menikah dengan Cindy dan saya akan pastikan, hanya kamu yang akan menjadi istri satu-satunya untuk Fariz."