Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Takut.


__ADS_3

Fariz yang tengah serius mencari kemeja yang cocok untuknya, tiba-tiba saja terganggu oleh suara ponselnya yang berbunyi.


Setelah melihat siapa yang menelponnya dia pun beralih ke tempat yang sepi untuk mengangkat telepon itu agar lebih tenang karena di tempatnya semula sedikit bising.


"Ya Ma?"


" ... "


"Fariz lagi di mall, ada yang mau Fariz beli, kenapa gitu?"


" ... "


Di saat Fariz sedang sibuk berbicara dengan orang di teleponnya, Ami yang sudah menunggu cukup lama menjadi gelisah, dia merasa sudah cukup lama menunggu pria itu. Namun, Fariz belum kembali juga.


"Kenapa Mas Fariz lama banget ya," gumamnya menjadi cemas.


Dia masih berusaha duduk dengan tenang dan saat mendengar suara langkah di depannya dia pun mulai bersuara.


"Maaf, bisa saya bertanya?" tanya Ami yang membuat orang yang lewat di depannya menghentikan langkahnya.


"Ada apa Mbak?" tanya seorang wanita di depannya itu.


"Mbak bisa tolong panggilkan pelayan di sini gak?" ucap Ami dengan penuh harap.


"Baiklah," sahut wanita itu mengangguk. "Mbak sini!" sambungnya, memanggil salah satu pelayan yang sedang memperhatikan para pembeli di toko itu.


Tak lama kemudian, seorang pelayan toko pun menghampiri mereka dan menanyakan keperluannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya pelayan itu dengan ramah.


Sementara wanita yang tadi Ami mintain tolong, telah pergi melanjutkan niatnya untuk berbelanja.


"Ini, dia yang bnutuh bantuan," sahut wanita asing itu menunjuk Ami yang terlihat gelisah.


"Kenapa ya, Mbak?" tanya pelayan itu pada Ami.


"Mbak, tadi melihat pria yang datang sama saya gak?" tanya Ami.


"Oh iya saya lihat, kenapa gitu?" sahut pelayan mengangguk dan bertanya.


"Apa dia masih ada di sini?"


Pelayan itu langsung memindai seluruh penjuru toko itu, mencari keberadaan Fariz yang tadi sempat dilihatnya.

__ADS_1


"Tidak ada, Bu."


Mendengar hal itu Ami menjadi kian cemas, pikirannya sudah ke mana-mana, apakah Fariz meninggalkan dirinya sendiri di sini.


"Bisa tolong cari lagi gak?" ucap Ami penuh permohonan.


"Baiklah, tunggu sebentar," sahut pelayan itu, karena merasa kasihan dia pun mencari keberadaan Fariz.


Jujur saja dia tidak melihat jelas wajah Fariz tadi, dia hanya ingat bajunya saja, saat dia melihat ke arah pintu, terlihat seorang pria yang memakai warna kaos yang sama dengan yang Fariz pakai baru saja keluar dari toko itu.


Dia segera berjalan ke sofa tempat Ami menunggu, lalu mengatakan apa yang dilihatnya, secara reflek Ami langsung bangun dari sofa yang didudukinya, setelah mendengar hal itu.


"Apa udah jauh, Mbak?" tanya Ami dengan panik.


"Belum, sekarang masih kelihatan, dia di luar toko ini," jawab pelayan itu.


"Baiklah, aku akan menyusulnya," ucap Ami segera mengambil beberapa paperback yang berisi baju-bajunya dan melangkah pergi dari sana.


"Mbak, biar saya bantu mengejarnya," tawar pelayan itu yang merasa iba dengan Ami.


"Tidak perlu, Mbak saya sendiri saja, saya pergi dulu ya, makasih Mbak," ucap Ami yang langsung melangkah menjauh dari pelayan itu.


"Arahnya ke sebelah kanan Mbak," ucap pelayan itu memberitahu arah perginya pria yang dia anggap Fariz.


"Mas," panggil Ami dengan langkah kaki lebar.


Meskipun dia tidak tahu, apakah Fariz akan berbalik dan melihatnya atau tidak, tapi dia tetap melangkah, mencari keberadaan pria yang dia anggap Fariz itu.


"Mas," panggil Ami lagi yang tak terasa kini telah melangkah jauh dari tempat sebelumnya.


"Kenapa Mas Fariz juga ninggalin aku," gumamnya dengan sedih tanpa menghentikan langkahnya.


"Mas," panggilnya lagi, tapi tetap tidak ada yang menyahutinya, dia yakin saat ini orang-orang sedang sedang menatapnya aneh.


"Siapa pun tolong saya," ucap Ami dengan memohon, berharap ada orang baik yang mau membantunya.


Tidak ada yang menyahutinya, padahal dia dapat mendengar di sana sangat ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang.


"Tolong saya," ucap Ami mencegat seseorang saat mendengar ada yang berjalan di depannya.


"Maaf gak bisa, Mbak saya juga lagi buru-buru," ucap remaja yang Ami mintai tolong.


Setelah mengatakan hal itu, gadis yang Ami mintai pertolongan pergi begitu saja, tanpa memsdulikan Ami.

__ADS_1


"Aku harus gimana sekarang, ke mana arah menuju lobby, ini terlalu ramai dan tempat ini terlalu besar," gumamnya dengan sedih.


Dia terus melangkah dengan bantuan tongkatnya, saat sedang berjalan dengan santai tiba-tiba saja ada yang menabrak kakinya dari belakang, disusul oleh suara tangisan nyaring dari seorang anak kecil.


"Mbak, kalau jalan hati-hati dong, lihat anak saya jadi nangis karena jatuh, lagian ngapain sih, gak bisa liat, tapi berpergian sendiri, jadi ngerugiin orang lain, kan."


Wanita yang merupakan ibu dari anak yang menambrak Ami sebelumnya itu, terus berbicara tanpa mendengar penjelasan Ami terlebih dahulu.


Ami hanya menundukkan kepala, dia meremas tongkat dan tali paperback yang dinggamannya karena mendengar omelan wanita di depannya itu.


"Maaf!" lirih Ami yang tidak wanita itu hiraukan, wanita itu segera pergi dengan anaknya yang berada di gendongannya.


"Tolong aku, aku mau ke lobby," ucap Ami berharap ada yang menolongnya. Namun, tetap tidak ada yang memedulikannya.


Entah semua orang memang tengah buru-buru, hingga tidak ada satu pun yang mau membantunya, atau kepedulian mereka terhadap sesama telah tiada.


Ami kembali melanjutkan langkahnya dengan air mata yang mulai turun di pipinya, dia berpikiran jika Fariz sengaja meninggalkannya di sana.


"Tidak mungkin, Mas Fariz ninggalin aku gitu aja, dia mungkin sedang buru-buru sehingga pergi dengan terburu-buru, jadi lupa sama aku" ucap Ami meyakinkan hatinya sendiri, jika Fariz tidak mungkin melakukan hal yang jahat seperti yang ada dalam benaknya.


Tersesat di tempat keramaian, tidak ada bedanya dengan tersesat di tempat yang teramat sepi, meskipun dia dapat mengengar banyak suara langkah kaki, banyak suara orang dari berbagai gender dan generasi.


Namun, tidak ada satu orang yang berniat membantu seorang tunanetra seperti dirinya itu, begitu rapuhkah, nilai membantu sesama saat ini, hingga setiap orang mengabaikan orang yang memiliki kekurangan seperti dirinya itu.


Ami jarang berpergian, semenjak buta dia selalu pergi deng ditemani Tini di sisinya, tapi sekarang dia berada di tempat ramai seperti itu sendirian, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.


"Mbak, Mas, Dik, bisa bantu saya," ucap Ami lagi masih mencoba mencari pertolongan.


Dia merasa putus-asa,  apakah akan ada orang baik yang akan menolongnya sekarang, bagaimana dia bisa keluar dari sana.


Ami memutuskan untuk istirahat, saat ujung tongkatnya menyentuh sebuah bangku di depannya, dia mendudukkan dirinya di bangku itu, dia berharap akan ada petugas di sana yang membantunya nanti.


"Mas, apa Mas sudah benar-benar pergi, aku takut di sini. Pa, Ami takut," ucap Ami menundukkan kepalanya dengan sedih.


Dia kemudian mulai terisak. dia tidak peduli jika orang lain yang ada di sana menganggapnya aneh.


Dia takut, bukan hanya takut jika tidak akan ada yang menolongnya, tapi dia takut, jika dia tidak dapat bertemu lagi dengan Fariz,


Wanita itu masih ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama lagi bersama pria itu, sebelum dia benar-benar pulang, kembali pada keluarganya kelak.


"Apakah kita akan bertemu lagi, Mas," gumamnya yang sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Isakkan yang teramat lirih terdengar, dari balik telapak tangan itu, air mata mulai merembes dan menetes membasa baju yang dikenakannya.

__ADS_1


__ADS_2