Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Memulai.


__ADS_3

Saat Ami sedang berdiri menunggu lift untuk terbuka, tiba-tiba saja ada yang melingkar di perutnya, disusul oleh pundaknya yang terasa berat.


Ami menunjukkan kepalanya, melihat perutnya yang telah dibelit oleh tangan yang lebih besar dari tangannya, serta suara lirih yang terdengar tepat di samping telinganya.


"Maaf!"


"Kenapa minta maaf, kamu tidak salah, akulah yang salah karena terlalu banyak berharap, sejak awal, seharusnya aku sadar diri, jika—"


"Kamu tidak salah, justru akulah yang salah, aku takut tidak dapat memberikan apa yang kamu harapkan, aku takut tidak dapat memberikanmu sebuah kebahagiaan, hingga akhirnya tanpa sadar aku tidak hanya menyakiti diriku sendiri, tapi aku juga menyakitimu."


"Seingatku, aku tidak pernah tau bagaimana rasanya hidup dalam keluarga yang damai, bahagia, saling mengasihi dan melindungi, tapi semenjak aku masuk ke keluarga itu, aku tau bagaimana rasanya semua itu, aku menemukan semua itu dari keluarga itu."


"Aku hanya ingin melihat keluarga itu merasa bahagia dengan apa yang aku lakukan, hingga aku berpikir untuk tidak mendengarkan apa kata hatiku," ucap Fariz panjang lebar dengan kepala yang dia simpan di bahu Ami.


Ami secara perlahan, melepaskan belitan tangan Fariz di perutnya, dia kemudian membalikkan badannya, hingga mereka saling berhadapan.


Dia menatap mata Fariz yang sudah memerah, seolah akan melelehkan air yang berada di dalamnya, dia mengangkat tangannya dan menyimpannya di pipi Fariz.


"Aku tau itu, aku mengerti dengan kegundahan yang hatimu alami, jadi ijinkan aku untuk membantumu mengurangi kegundahan itu, ayo kita bersama menghadapinya," ucap Ami dengan tulus.


"Aku takut, aku tidak akan bisa memberikan kehidupan yang sempurna untukmu, aku takut tidak bisa memberikamu kejelasannya nantinya," gumam Fariz yang juga menatap Ami, dia mengusap pipi Ami yang basah, hingga beberapa helai rambut wanita itu menempel di pipinya itu.


"Aku tidak butuh kesempurnaan itu. Yang aku butuhkan adalah bisa bersama denganmu, berjalan bersama, melewati masalah yang ada di depan kita bersama," sahut Ami.


"Tapi keluargaku?" lirih Fariz dengan helaan napas dalam.


"Aku tidak memintamu untuk menentang keluargamu, karena aku yakin jika mereka benar-benar menyayangimu, mereka akan mengerti dengan hal itu."


Fariz menatap Ami dengan dalam, saat melihat Ami pergi dari hadapannya, hatinya benar-benar sakit, ini pertama kalinya dia merasakan apa yang namanya mencintai.


Bisikan-bisikan dalam benaknya, meminta dia untuk tidak membiarkan Ami pergi lagi, hingga akhirnya tanpa berpikir lagi, dia pun memutuskan untuk pergi menyusul wanita yang kini masih berdiri di depannya.


"Jadi aku tidak boleh pergi, kan?" tanya Ami pada Fariz yang hanya diam.


Fariz secara perlahan menggelengkan kepalanya, melihat hal itu Ami tersenyum dalam hatinya dia menjerit senang karena pria itu tidak membiarkannya pergi.

__ADS_1


"Baiklah ayo kita bicarakan di dalam, gak enak bicara di sini, takut ada orang lain yang lihat, aku tidak ingin kita jadi tontonan," ucap Ami.


"Baiklah ayo," sahut Fariz yang pasrah mengikuti langkah Ami yang kembali menuju ke apartemennya.


Kini mereka sudah duduk saling berhadapan di sofa apartemen Fariz, Ami menatap Fariz begitu pun sebaliknya.


"Aku tidak tau kapan rasa itu hadir, tapi saat rasa itu hadir mamaku juga mengutarakan keinginannya itu, hingga aku memilih untuk mengabaikan rasa itu dan mengikuti keinginan mamaku," ucap Fariz yang mulai membuka suaranya, setelah beberapa saat terdiam.


"Selain itu kamu juga tidak ingin memberikan aku harapan, di saat kamu sendiri pun tidak tau akan seperti apa, kehidupan kamu selanjutnya," ucap Ami yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Fariz.


"Kamu benar-benar sudah membuatku sakit hati berkali-kali, tau tidak, untung saja stok cinta dan sabar aku banyak, kalau tidak, mungkin aku sudah menyerah dari dulu," ucap Ami dengan nada kesal.


"Maaf," ucap Fariz menatap Ami dengan menyesal.


"Kamu harus menggati semua itu dengan menerima aku," ucap Ami.


"Tapi bagaimana dengan orang-tuaku?" tanya Fariz dengan nada pelan dan frustasi, dia masih belum bisa melepaskan bayang-bayang itu, dari benaknya.


Ami mengambil tangan pria itu dan menggenggamnya, disertai elusan lembut di punggung tangan itu.


"Kalau kamu mau, aku akan bicara pada mama kamu, tentang kita dan perasaan kamu yang sebenarnya," usul Ami yang langsung ditolak oleh Fariz.


"Gimana kalau kita berhubungan tanpa mereka ketahui, kamu tetap menjadi tunangan wanita itu dan kita menjalin hubungan di belakangnya," ucap Ami tanpa pikir panjang.


"Maksudnya, kamu mau aku selingkuh," ucap Fariz tidak percaya dengan ucapan wanita di depannya itu.


"Apa kamu mencintai tunanganmu itu?" tanya Ami dengan serius, langsung dijawab gelengan oleh Fariz.


"Kamu memang berniat untuk melanjutkan hubunganmu dengan wanita itu, hingga ke tahap pernikahan?" tanya Ami lagi yang dijawab gelengan kepala lagi oleh Fariz.


"Jadi kenapa gak kita coba jalani aja semuanya seperti air yang mengalir," sambung Ami lagi dengan santai.


"Apa kamu tidak keberatan menjalin hubungan dengan pria yang sudah bertunangan?" tanya Fariz meyakinkan Ami.


"Tidak sama sekali, asal kamu juga mencintaiku itu sudah cukup untukku," sahut Ami.

__ADS_1


Mendengar jawaban penuh keyakinan dari Ami, membuat Fariz tersenyum senang, bolehkah saat ini dia hanya memikirkan perasaannya sendiri, masalah keluarganya dan Cindy, biar dia pikirkan nanti yang terpenting sekarang, dia tidak kehilangan Ami lagi.


"Aku janji, setelah aku memliki keberanian untuk mengungkapkan semuanya pada mamaku, aku akan segera mengatakan segalanya," ucap Fariz dengan yakin.


Ami menganggukkan kepalanya dan tersenyum, dia senang karena akhirnya Fariz mau menerima dirinya.


"Jadi terhitung dari sekarang, kita memulai hubungan kita?" tanya Ami meyakinkan.


"Iya, itu pun, jika kamu mau menjalin hubungan tanpa diketahui orang-tua kita," ucap Fariz.


Senyuman di wajah Ami kian lebar, meskipun dia tahu, munkin dia akan diaggap orang ketiga, tapi asal dia bisa bersama dengan pria yang telah memenuhi hatinya, wanita itu sama sekali tidak keberatan untuk itu.


"Baiklah, mulai sekarang kita resmi pacaran," ucap Ami dengan antusias.


Fariz mengangguk malu mendengar ucapan Ami itu, pacaran. Oh ayolah, saat ini umur Fariz sudah terbilang cukup matang untuk kata itu.


"Mulai sekarang kamu jangan menganggap dirimu sendiri lagi, setiap ada masalah apa pun, kamu harus berbagi padaku, janji," ucap Ami dengan serius.


Dia tidak ingin kedepannya, ada yang pria itu sembunyikan darinya, dia ingin menjalin hubungan yang saling terbuka satu sama lainnya.


"Baiklah, terima kasih karena kamu masih menunggu dan mencariku, aku kira selamanya aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi, apalagi sampai menjalin hubungan denganmu," ucap Fariz dengan tersenyum, senyum yang sangat jarang dia tunjukkan.


"Sama-sama, entah kenapa aku selalu yakin, jika aku bisa bertemu lagi denganmu dan ternyata semua benar-benar terjadi, tidak hanya bertemu, bahkan sekarang kita telah resmi memiliki hubungan," ucap Ami yang juga ikut tersenyum.


"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Fariz pada Ami.


Ami menganggukkan kepalanya dan tidak lama kemudian, Fariz semakin menyingkirkan jarak di antara mereka, hingga mereka saling berpelukan.


"Kamu dengar itu, detak jantungku selalu meningkat saat berada di dekatmu," ucap Fariz pada Ami yang tengah menyandarkan kepalanya, di dada Fariz.


"Ya, aku dapat mendengarnya, aku juga merasakan hal yang sama, bahkan saat pertama kali aku melihatmu, di acara pertunangan itu," sahut Ami memejamkan mata dan melingkarkan tangannya di pinggang Fariz.


Dia menikmati irama yang dihasilkan oleh detak jantung Fariz, begitu pun dengan Fariz yang kini sudah memejamkan matanya, mereka berharap ini bukan hanya sekedar mimpi, penghias tidurnya saja.


Meskipun rasanya memang seperti mimpi, mereka bisa bersama, bahkan saling berpelukan, memberikan kehangatan satu sama lain, saling menuntaskan rindu yang membuncah dalam hati mereka.

__ADS_1


...----------------...


Kalian senang gak sih, mereka sudah bersatu, meskipun belum sepenuhnya?


__ADS_2