
Hari-hari yang dilalui oleh Ami, kini semakin rumit, karena Zoya selalu menganggap dia selalu mencari perhatian dari Daffin.
Di depan Daffin, Zoya selalu bersikap jika dia baik-baik saja, tapi di belakang semua orang. Wanita itu selalu mencari celah untuk bisa menyudutkan Ami yang sama sekali, tidak tahu apa-apa.
Contohnya saat ini, Zoya sedang marah-marah pada Ami, hanya karena Daffin menyapanya saat mereka sarapan. Padahal Ami sudah berusaha menjawab seperlunya, tapi ternyata semua itu masih salah di hadapan Zoya.
"Berapa kali aku bilang, aku tidak punya niat sedikit pun untuk mendekati Kak Daffin, apalagi berencana merebutnya dari Kakak. Seperti yang Kakak tuduhkan itu," bela Ami yang kini sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Jangan bohong kamu, aku tau dalam hati kamu pasti saat ini kamu masih gak rela 'kan? Kalau Daffin saat ini adalah Kakak iparmu. Atau jangan-jangan kamu, selalu mendoakan agar aku dan suami aku tidak baik-baik saja," tuduh Zoya dengan tatapan benci dilayangkan pada adiknya itu.
"Aku tidak seperti itu, Kak. Justru selalu mendoakan yang terbaik untuk Kakak dan Kak Daffin," ucap Ami apa adanya, dia menghela napas berat menghadapi sikap kakaknya itu.
Dia bingung, entah bagaimana dia harus meyakinkan kakaknya itu, untuk berhenti mencurigai dirinya dan berprasangka buruk terus.
Dua hari yang lalu, dia memang bicara secara empat mata dengan Daffin, kakak iparnya bicara dengannya untuk minta maaf, atas apa yang terjadi padanya. Daffin meminta maaf karena tidak setia dan malah menjalin hubungan dengan Zoya, ditambah dia tidak berani berterus terang sebelumnya karena merasa bersalah.
Kakaknya yang tahu, jika dia bicara secara pribadi dengan Daffin, tentu saja semakin marah, bahkan hampir melakukan kekerasan lagi padanya, jika Tini tidak datang dan menahannya.
Dia dapat memaklumi, kenapa sikap kakaknya itu semakin menjadi. Dia yakin jika itu adalah karena hormon kehamilan, hingga emosi kakaknya itu makin hari makin tidak terkendali.
Saat ini yang bisa dia lakukan hanya mengalah dan menghindar agar tidak terjadi perdebatan yang berujung panjang, karena dia tidak ingin membahayakan kakak dan calon anak dalam kandungannya.
"Kamu bisa bersikap baik di depan orang lain dan menarik simpati orang lain, tapi kamu tidak akan bisa berhasil di hadapanku. Semakin kamu bersikap baik, semakin aku muak melihatnya!" tekan Zoya.
"Apa, Kakak gak capek, berpikiran negatif terus, Kakak tau gak itu kurang baik untuk kesehatan Kakak dan calon anak Kakak," ucap Ami berusaha tetap tenang.
"Kamu do'ain aku sama anakku kenapa-kenapa, heh akhirnya kamu tunjukkin juga sikap aslimu itu, kamu memang mengharapkan aku dan anakku kenapa-kenapa 'kan? Agar kamu bisa leluasa menggoda pria yang kini sudah jadi Kakak iparmu sendiri."
__ADS_1
Ami hanya menghela napas pasrah mendengar tuduhan kakanya lagi itu, sepertinya akan sulit bagi Zoya untuk berhenti berpikir negatif tentang dirinya.
"Ya udah, terserah Kakak saja, mau berpikiran seperti apa pun juga tentang aku. Yang jelas aku sama sekali tidak pernah memiliki niat sedikit pun untuk melakukan semua yang Kakak tuduhkan itu," ucap Ami yang akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan Zoya yang masih kesal padanya.
"Kalau aku biarkan mereka sering berinteraksi, aku takut Daffin akan mulai tergoda lagi olehnya, aku tidak akan rela, jika dia kembali bersama Daffin. Dia adalah suamiku, dia milikku sekarang," gumam Zoya yang di kepalanya telah dipenuhi oleh pikiran-pikiran buruk terhadap adiknya.
Zoya sebenarnya adalah senior Daffin saat kuliah dulu, dia sudah menyukai Daffin ketika mereka berada di Universitas yang sama, meskipun berbeda tingkat dan jurusan.
Namun, karena dia melakukan kesalahan saat dia baru di tengah-tengah semester kuliahnya, dia dikirim oleh Denis untuk pindah kuliah ke luar kota, hal itu membuat dia yang awalnya selalu menganggap sang papa tidak pernah adil semakin kesal dan menganggap papanya lebih menyayangi Ami.
Semakin lama, kebencian dan kecemburuan dalam dirinya terhadap Ami yang selalu mendapatkan perlakuan khusus dari orang-orang di sekitarnya, kian menjadi.
Dia membenci wanita itu karena selalu menganggap adiknya itu adalah penyebab dari kematian mamanya.
Mamanya, memang meninggal saat melahirkan Ami, karena terjadi pendarahan hebat, saat usia kandungan baru menginjak delapan bulan dan terpaksa harus melahirkan secara prematur.
Namun, sayang saat itu mamanya tidak dapat bertahan dan meninggal sehari setelah melahirkan, Zoya yang kala itu baru berusia lima tahun, pada awalnya tidak mengerti apa pun.
Dari kecil dia selalu melihat papanya selalu lebih dulu menggendong Ami dan setiap pulang bekerja, orang yang pertama kali dicarinya adalah Ami.
Papanya juga selalu ngebelain, Ami jika mereka bertengkar karena suatu hal. Lambat laun hal itu semakin menumbuhkan rasa cemburu yang semakin lama berubah jadi kebencian di hatinya.
Dulu juga dia beberapa kali, berniat mencelakai adiknya itu, agar papa dan orang-orang di sekitarnya kembali terfokus padanya seorang.
Puncak kebencian dirinya pada Ami adalah ketika dia baru saja kembali dari luar kota karena telah menyelesaikan pendidikannya. Namun, saat kembali dia mengetahui, jika Ami sudah bertunangan dengan pria yang dia sukai sejak lama.
Akhirnya dia melakukan berbagai macam cara untuk membuat, Daffin berpaling padanya dan ternyata itu berhasil, kini dia telah mendapatkan pria yang disukainya.
__ADS_1
"Aku harus menjauhkan Ami dari sini," gumam Zoya, sambil menggigiti kuku, berpikir cara agar adiknya menjauh dari kehidupan dia dan suaminya, bahkan dari semua orang yang ada di sekitarnya.
...*****...
"Kenapa, Non. Tidak aduin aja sikap Non Zoya itu ke Tuan."
"Kalau Ami, cerita ke Papa yang ada akan semakin runyam. Hubungan Papa dan Kakak pasti akan semakin renggang," sahut Ami sambil fokus menyiram tanamannya.
"Tapi, Bibi takut nanti Non Zoya malah melakukan hal jahat lagi pada, Non Ami," ucap Tini.
"Semoga saja Kakak tidak melakukan hal itu lagi, aku yakin saat ini Kakak lebih emosional karena hormon kehamilannya saja."
"Semoga saja begitu," sahut Tini tidak yakin.
Dia tahu sekeras dan senekad apa anak pertama tuannya itu, bukan cuma sekali atau dua kali. Nona pertamanya itu berusaha mencelakai Ami, apalagi saat ini Denis sedang tidak ada.
Tini hanya bisa mengamati Zoya dari jauh, karena dia takut kejadian-kejadian yang dulu terulang lagi pada Ami.
"Oh iya, Bi. Nanti kedepannya kalau ada apa-apa sebaiknya jangan langsung hubungi Papa ya, karena akhir-akhir ini Papa sangat sibuk dan kesehatannya, pasti tidak terlalu baik," ucap Ami yang sudah berhenti menyiram tanamannya dan duduk di kursi gantung.
"Kalau ada masalah mendesak atau sangat penting gimana, Non?" tanya Tini mendudukkan dirinya disebuh kursi yang tidak jauh dari tempat duduk Ami.
"Bisa kasih taunya dengan cara yang hati-hati, agar tidak membuat Papa kaget," jawab Ami.
Tini menganggukkan kepalanya, tak lama kemudian terdengar suara Zoya memanggilnya dari dalam rumah.
"Non, Bibi samperin dulu Non Zoya ya," pamit Tini.
__ADS_1
"Iya, Bi pergilah, jangan sampai Kakak marah-marah lagi, karena Bibi telat mendatanginya," ucap Ami.
Tini pun mulai melangkah, pergi dari halaman belakang, untuk menemui anak pertama majikannya, meskipun Zoya dan Ami adik-kakak, tapi sikap mereka benar-benar bertolak belakang.