Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Denis Syok.


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan Denis, setelah satu bulan lebih, dia pergi bekerja di luar kota.


Dia pulang dengan diantarkan oleh sekertarisnya yang juga ikut ke luar kota berasamanya, untuk menyelesaikan masalah di salah satu pabrik, cabang perusahaan tempatnya bekerja.


"Apa Anda akan membeli oleh-oleh lain lagi, Pak?" tanya sekertarisnya itu yang sedang fokus pada lajunya mobil.


"Tidak, ini sudah cukup untuk ke-dua putriku," sahut Denis tersenyum pada asistennya itu.


Dia senang akhirnya, dia bisa menyelesaikan masalah di tempat kerjanya dengan lebih cepat dari perkiraan.


Pria paruh baya itu, juga bersyukur karena atasannya, menepati janji untuk memberikan bonus lebih banyak dari yang dijanjikan.


Kini tabungannya sudah cukup untuk membawa anak bungsunya menjalani perawatan mata lebih lanjut, agar dapat melihat dengan normal lagi.


"Sepertinya anda sangat senang, Pak," ucap Sekertarisnya yang dari tadi dapat melihat raut bahagia dari wajah atasannya itu.


"Iya, aku senang karena kita bisa menyelesaikan masalah itu dengan cepat. Ditambah dapat bonus juga, kamu juga senang karena hal itu, bukan?" ucap Denis yang masih tersenyum pada sekertarisnya itu.


Pria yang menjadi sekertaris Denis itu pun, ikut tersenyum senang. Memang benar apa yang atasannya katakan dia juga senang dengan hal itu.


"Iya, Pak. Awalnya saya khawatir tidak keburu kembali saat istri saya melahirkan."


"Semua berkat kerja kerasmu juga, akhirnya kita bisa menyelesaikan masalah itu dengan cepat."


"Berkat Bapak juga," sahut sekertarisnya.


Denis hanya menimpalinya dengan tersenyum dan menatap ke arah jalan di depannya, dia menikmati perjalanan di depannya itu sambil membayangkan raut senang anaknya.


Dia sengaja tidak memberikan kabar jika saat ini dia sudah pulang pada orang rumah.


Tak lama kemudian, mobil yang ditumpanginya sudah sampai di depan gerbang rumahnya, dia menunggu penjaga rumahnya itu untuk membukakan gerbang.


"Tuan, Anda sudah pulang," ucap penjaga rumah itu setengah kaget, melihat majikannya sudah pulang, sementara mereka belum menemukan Ami.


"Iya, Can. Kamu tolong turunin barang-barangku di dalam mobil ya," perintahnya pada Candra— Sopir sekaligus penjaga rumahnya itu.


"Baik, Tuan."


"Kamu pulanglah, bawa dulu saja mobilnya," ucap Denis pada sekertarisnya.


"Iya, Pak."


Pria paruh baya itu mulai melangkahkan kembali kaki dengan ringan memasuki rumahnya, seperti biasa.


Saat pulang dari mana pun, dia akan ke kamar anak bungsunya terlebih dahulu karena kamar Ami terletak di lantai bawah dan baru akan ke kamar Zoya untuk memeriksa keadaan anak-anaknya itu.

__ADS_1


"Mi." Denis mengetuk pintu kamar berwarna coklat itu. Namun, tidak mendapat sahutan dari si empunya kamar itu.


Dibukanya secara perlahan pintu kamar itu, tapi keningnya mengerut saat kamar itu terlihat sepi dan rapi, tidak ada tanda-tanda kehidupan.


"Ke mana Ami? Biasanya jam segini dia sedang berada di kamar," gumamnya dan kembali menutup pintu kamar.


"Tuan, anda sudah pulang?" tanya Tini yang sudah berdiri tidak jauh di belakangnya.


"Iya, Bi. Di mana Ami, kenapa tidak ada di kamarnya?" tanya Denis yang sudah membalikkan badannya menatap Tini.


Wanita yang ditanyanya itu tidak, langsung menjawabnya melainkan hanya menatapnya dengan seksama.


"A–anu, Tuan!" lirih Tini tidak berani mengatakan yang sebenarnya.


Dia khawatir majikannya itu akan kenapa-napa, ditambah raut lelah terlihat jelas di wajah majikannya itu.


"Oh iya, Ami pasti lagi di belakang ya, lagi ngobrol sama tanaman-tanamannya itu, biarkan saja dulu dia, aku mau bersih-bersih dulu, baru menemui anak-anakku," potong Denis.


Setelah berkata demikian, dia kemudian melangkahkan menuju ke kamarnya, badannya memang lelah karena kurang istirahat.


Setelah selesai menyegarkan dirinya, nanti dia baru akan menemui anak-anaknya sambil memberikan oleh-oleh untuk mereka berdua.


Saat waktu hampir tiba untuk makan malam, Denis sudah keluar dari kamarnya dia segera menuruni tangga.


Dilihatnya, anak pertamanya sedang duduk di sofa ruang keluarga, sambil fokus pada layar datar di depannya dengan sebuah toples yang berisi cemilan di pangkuannya.


"Gimana kabar kamu, Nak?" tanya Denis saat sudah berada di samping sofa tempat Zoya.


Zoya yang mendengar suara papanya, segera mengalihkan perhatiannya dari televisi ke arah papanya.


"Papa, kapan Papa sampai? Kok Zoya gak tau," ucap Zoya menyimpan toples cemilan yang di pegangnya ke meja dan berdiri.


Dia menyalami Denis, kemudian berhadapan dengan papanya, dengan sebuah senyum lebar yang terbit dari bibirnya.


"Papa sampai tadi sore dan langsung ke kamar bersih-bersih, makanya belum nemuin kalian," sahut Denis tersenyum.


Dia senang melihat anak pertamanya terlihat bahagia, dia beranggapan jika sumber kebahagiaan Zoya itu adalah pernikahannya.


"Oh pantesan Zoya gak tau, tadi sore kayaknya Zoya lagi tidur." Zoya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Pantesan tadi gak ada, ini oleh-oleh untukmu." Denis memberikan sebuah paperback yang tadi dibawanya dari kamar pada Zoya.


"Makasih, Pa." Zoya menerimanya dengan senang hati.


"Perut kamu sudah terlihat, gimana bayinya sehat?" tanya Denis tersenyum pada Zoya dan mengusap ujung kepalanya.

__ADS_1


"Cucu Papa baik, Pa."


"Syukurlah ... oh iya, di mana adik kamu, dari tadi belum keluar kamar, ini sudah waktunya makan malam. Biar Papa panggil ke kamarnya," ucap Denis sambil berjalan ke arah kamar Ami.


"Pa—"


Zoya tidak bisa meneruskan ucapannya, karena papanya sudah berjalan lebih dulu ke arah kamar adiknya.


"Mi, ayo kita makan malam," panggil Denis sambil mengetuk pintu kamar itu.


Karena penasaran tidak mendengar sahutan dari kamar itu, dia pun kembali membuka kamar itu dengan lebar.


Kamar itu masih sepi juga rapi sama seperti saat sore tadi dia melihatnya, secara perlahan dia memasuki kamar itu dan mengetuk pintu kamar mandi berpikir jika Ami ada di sana.


"Mi, kamu di dalam?"


Masih belum mendapatkan sahutan, dia pun memutar gagang pintu kamar mandi dan langsung terbuka.


Ternyata di sana pun kosong, di mana anak bungsunya, itu aneh. Biasanya dia selalu mendatanginya saat tahu jika dia pulang.


Perasaan tidak tenang tiba-tiba saja datang menghampiri hatinya, segera dia langkahkan kakinya dengan cepat keluar dari kamar itu.


"Zoya di mana Ami?" tanya Denis menatap lurus pada Zoya yang masih berdiri di dekat sofa.


"A-ami."


"Cepat jawab!" tekan Denis.


"Ami gak ada," jawab Zoya menatap Denis.


"Gak ada ke mana?" tanya Denis dengan nada sedikit membentak.


"Gak tau, dia tiba-tiba saja hilang. Kami semua sudah mencarinya, tapi dia tidak ketemu," terang Zoya berusaha tetap tenang agar papanya tidak curiga.


"Apa!" Detik itu juga tubuh Denis langsung tumbang, dia tidak sadarkan diri.


Dia tidak mampu menerima berita itu, tubuhnya terlalu lemah untuk berita hilangnya anak bungsunya.


"Papa!" teriak Zoya yang langsung mendekati Denis dan memangku kepalanya berusaha membangunkan papanya itu.


"Pa, bangun. Jangan buat Zoya takut!"


"Bi!" teriak Zoya lagi memanggil Tini yang sedang di dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Ya ampun, Non. Tuan kenapa?" tanya Tini saat menghampirinya.

__ADS_1


"Jangan banyak tanya, cepat suruh sopir ke sini, bawa Papa ke rumah sakit, cepat!" teriak Zoya dengan panik.


"I-iya, Non." Tini segera lari keluar dari rumah dan memanggil Candra.


__ADS_2