Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 81.


__ADS_3

Sore harinya di rumah sakit, Cindy baru saja dari kantin untuk membeli cemilan, dia sedang berjalan akan kembali ke kamar tempat Fariz dirawat, tapi langkahnya terhenti di depan pintu yang sedikit terbuka, saat mendengar pembicaraan antara Fariz dan Aaric.


"Kamu tenang saja, bukankah tadi dokter mengatakan, jika kamu akan bisa sembuh dan normal lagi dengan melakukan terapi."


"Tapi kemungkinan untuk sembuh sangat kecil."


"Meskipun kecil, tapi tetap ada kemungkinan, kamu harus percaya, pada sekecil apa pun kemungkinan itu."


Cindy menguping dengan penasaran obrolan antara dua sudara itu, dia ingin masuk dan bertanya ada apa, apa yang mereka bahas itu, tapi dia yakin jika dia masuk, maka mereka tidak akan memberitahunya dan Fariz akan kembali diam.


"Aku yakin kamu bisa normal lagi, jika kakimu sembuh kamu bisa melakukan terapi seperti yang dokter sarankan."


"Tapi harus berapa lama aku menunggu, setahun, dua tahun atau bahkan lebih dari itu, sebentar lagi aku akan menikah, apa yang harus aku katakan pada istriku tentang keadaanku yang cacat ini."


Cindy dapat melihat raut putus asa dari wajah Fariz, hal itu semakin membuatnya dilanda rasa penasaran yang teramat hebat, tentang apa pembahasan kedua pria itu.


"Aku yakin Cindy akan mengerti dan menerima kamu apa adanya, bukankah dia terlihat sangat mencintaimu."


"Tidak akan ada wanita yang mau bertahan dengan pria cacat luar dalam seperiku, aku cacat Ric, aku bukan pria normal lagi, aku tidak akan bisa memberikan kebutuhan bantin untuk istriku nanti, aku pria impont*n!" racau Fariz dengan wajah frustasi.


"Kamu tenang Riz, aku yakin kamu bisa sembuh dan normal lagi, kita akan cari pengobatan apa pun untuk membuatmu kembali normal." Aaric terus memberikan dukungan pada Fariz, dia memeluk Fariz dan menepuk-nepuk punggungnya.


Sementara itu, Cindy saat ini tengah memataung di tempatnya, dia tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya itu, pria yang tinggal menghitung hari lagi akan menjadi suaminya itu, kini sudah menjadi pria yang tidak normal.


Wanita itu benar-benar syok dengan apa yang baru saja didengarnya, kata-kata itu, kini seperti kaset rusak yang terus berputar di otaknya.


"Tidak mungkin, aku pasti salah dengar," ucap Cindy tanpa sadar, telah membuat Fariz dan Aaric menyadari keberadaannya.


"Cindy," panggil Aaric yang sudah menatap ke arahnya, membuat Cindy tersentak kaget.


Cindy tersenyum kaku, dia berusaha bersikap biasa saja dan mulai berjalan memasuki ruangan itu, terlihat Fariz yang segera merubah raut wajahnya menjadi datar.


"Kamu sudah lama di sana?" tanya Aaric basa-basi.


"Tidak aku baru saja kembali, ada apa gitu?" tanya Cindy berpura-pura, seolah tidak mendengar apa pun.


"Oh aku kira sudah dari tadi, tidak apa-apa hanya bertanya saja," sahut Aaric manggut-manggut.

__ADS_1


"Om sama Tante udah pulang ya," ucap Cindy mencoba bersikap biasa saja.


"Iya, mereka pulang karena sudah sore, Mama harus banyak istirahat agar kesehatannya tidak drop lagi," sahut Aaric.


"Hemmm iya, ini cemilan untukmu makanlah, biar gak terlalu bosan nungguin Fariznya," ucap Cindy menyimpan cemilan yang dibelinya itu di meja.


"Iya nanti aku makan, terima kasih," ucap Aaric.


"Iya sama-sama." Cindy mengangguk.


"Bentar lagi makanan kamu datang ya, setelah bantu kamu makan aku pulang ya, tadinya aku mau nungguin kamu di sini, tapi aku baru ingat kalau besok harus masuk pagi," ucap Cindy pada Fariz.


"Kalau kamu mau pulang, pulang saja, di sini ada aku yang jagain dia," ucap Aaric mewakili Fariz untuk berbicara.


"Tidak apa-apa gitu kalau aku pulang sekarang Riz?" tanya Cindy beralih menatap Fariz.


Fariz menganggukkan kepala sebagai jawaban, Cindy pun mengangguk paham.


"Baiklah. kalau gitu. Aku pulang duluan ya," pamit Cindy pada Aaric dan Fariz.


Dia rasanya tidak ingin mempercayai apa yang Fariz katakan barusan, tapi jika semua itu benar-benar keadaan yang sebenarnya bagaimana, Cindy bergidik ngeri, saat kata impont*n menari-menari dipikirannya.


"Bagaimana kalau dia selamanya seperti itu? Aku tidak bisa membayangkan nasibku kedepannya jika seperti itu," gumam Cindy masih sibuk dengan lamunannya.


"Cindy!" Suara seseorang yang memanggilnya, membuat lamunannya buyar.


Dia menengok ke asal suara dan melihat Alish dan Nevan yang sedang berjalan, kembali ke arah lobby rumah sakit.


"Tante, Om, bukannya kalian mau pulang ya?" tanya Cindy dengan heran.


"Iya, kita mau pulang, tapi ponsel Tante kayaknya ketinggalan di dalam deh, barusan pas dicariin di tas tidak ada," terang Alish.


"Kamu tunggu saja di sini, biar aku saja yang mengambil ke ruang rawat Fariz," usul Nevan.


"Baiklah, Mama juga capek kalau harus bolak-balik ke sana," sahut Alish setuju dengan usul Nevan itu.


Nevan pun pergi, memasuki rumah sakit itu, sementara Alish meminta Cindy untuk duduk sambil nunggu Fariz di kursi yang ada di depan pintu lobby.

__ADS_1


"Kamu mau pulang?" tanya Alish menatap Cindy.


"Iya Tan, tadinya aku mau menemani Fariz di sini, tapi aku baru ingat kalau aku haru masuk pagi-pagi, karena ada pasien dari luar kota yang mau konsultasi," ucap Cindy.


"Oh iya, tidak apa-apa di sini ada Aaric, kok yang temani Fariz, oh iya tadi juga kata dokter kalau tidak ada apa-apa lagi dengan kondisi tubuh Fariz, dia besok sudah boleh pulang, biar istirahat di rumah saja, paling sesekali ke rumah sakit untuk kontrol saja," terang Alish panjang lebar, Cindy hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala saja.


Meskipun ragu, tapi Cindy ingin mengetahui dengan jelas apa yang baru saja didengarnya, untuk meyakinkan dirinya.


"Oh iya, Tan. Kalau boleh tau, kondisi Fariz yang sebenarnya seperti apa ya?" tanya Cindy menatap Alish dengan serius.


"Apa Fariz tadi tidak mengatakannya padamu?" tanya Alish dengan kening mengerut.


"Tidak Tan, cuma tadi aku sempat mendengar pembicaraan Fariz dengan Aaric," sahut Cindy dengan nada ragu.


"Mungkin Fariz tidak mengatakannya padamu, karena dia tidak percaya diri, kamu tenang saja ya, kata dokter semuanya baik-baik saja, Fariz hanya perlu melakukan beberapa kali terapi dia pasti akan sembuh lagi," ucap Alish.


"Iya, Tan, mudah-mudahan saja Fariz segera sembuh," sahut Cindy berusaha memasang senyumnya.


Bagaimana jika tidak sembuh, terus bagaimana dengan nasibku ini. Batin Cindy dengan hati yang kesal.


"Oh iya Tan, itu Om sudah datang, kalau gitu Cindy pulang duluan ya," pamit Cindy mulai bangun dari tempat duduknya, saat melihat Nevan sudah mendekat ke arah mereka.


"Iya, kamu hati-hati ya, jaga kesehatan jangan sampai pas waktunya pernikahan kalian nanti, malah giliran kamu yang sakit," ucap Alish penuh perhatian.


"Iya Tan, aku pergi ya," ucap Cindy lagi dengan senyum yang terpaksa, tapi Alish tidak menyadari hal itu.


Cindy segera pergi dari sana, entah kenapa setelah mendengar tenang kondisi Fariz, dia menjadi tidak betah lama-lama berada di dekat Alish.


"Kenapa dia cepat-cepat pergi?" tanya Nevan dengan heran melihat Cindy yang pergi begitu saja.


"Mungkin dia ada urusan lain, udah yuk kita pulang sekarang, mana ponselnya ada, kan?" tanya Alish.


"Ada, di sofa tempat kamu duduk sebelumnya," sahut Nevan.


"Tuh, kan benar jatuh di sana."


Alish dan Nevan pun pergi, ke parkiran menuju ke mobilnya, mereka langsung pulang ke rumahnya dengan mobil yang disopiri oleh sopir mereka.

__ADS_1


__ADS_2