
Ami tengah merias dirinya di depan cermin, setelah beberapa kali, dia mnecoba pakaian dan merasa tidak ada yang pas di tubuhnya, akhirnya dia pun menemukan baju yang menurutnya cocok.
"Mi," panggil Denis dari luar kamarnya.
"Iya Pa, masuk aja," sahut Ami tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang berdandan.
"Ya ampun, Mi. Kenapa kamar kamu berantakan seperti ini!" ucap Denis dengan kaget, saat melihat kamar yang biasanya rapi, kini berantakan.
Baju-baju Ami menumpuk di kasur, hingga memenuhi ranjangnya itu, tumpukan baju-baju itu lumayan tinggi, hingga menyerupai gunung.
"Kamu keluarkan semua baju-baju kamu ini dari lemari?" Denis menggeleng tak percaya, saat melihat lemari besar, tempat baju Ami sudah terbuka dan telah kosong.
"Ami nyari baju yang cocok tadi, Pa. Jadi tanpa sadar semua baju sudah Ami keluarkan," sahutnya dengan tersenyum lebar, hingga menampilkan sederet gigi rapinya.
"Kamu ini, ini sudah sore. Kasian kan Bibi kalau harus beresin semua ini sekarang, ini waktunya istirahat," ucap Denis.
"Besok Ami yang beresin lagi bajunya, Pa," sahut Ami yang sudah selesai dengan dandanannya dan berbalik menatap Denis.
"Kamu mau, ke mana?" tanya Denis menatap Ami yang dandan tidak seperti biasanya.
"Ami mau ketemuan sama teman, Pa," sahut Ami yang sudah mulai memasukkan ponsel ke tasnya.
"Siapa, Rayyan?" Kening Denis mengerut tajam.
"Bukan, teman Ami yang lain."
"Perasaan akhir-akhir ini kamu sering pergi dengan alasan ketemu sama teman, tapi kenapa teman kamu tidak kamu kenalkan pada Papa, itu teman kamu atau pacar kamu?" Denis menatap Ami dengan tatapan penuh selidik.
Ami berusaha mempertahankan raut wajahnya, dia tidak ingin papanya mengetahui tentang hubungan dirinya dan Fariz, dia belum siap.
Mengingat saat ini Fariz yang masih berstatus tunangan perempuan lain, dia yakin jika papanya mengetahui hal itu, papanya itu pasti akan meminta dia untuk menjauhi Fariz.
"Teman, Pa. Ami emang tidak mengenalkannya ke Papa, karena belum saatnya, ya udah Ami berangkat ya, Pa. Ini sudah hampir telat." Ami segera mengalihkan pembicaraan antara dirinya dan papanya.
"Baiklah hati-hati, jangan terlalu malam pulangnya," sahut Denis tidak memperpanjang pembahasan sebelumnya.
"Iya Pa, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Denis.
Ami langsung melangkah, keluar dari kamarnya. Meninggalkan Denis yang masih, berada di kamarnya itu.
__ADS_1
...******...
Ami keluar dari gerbang rumahnya dan langsung masuk ke dalam mobil Fariz yang ternyata sudah menunggunya, pria itu masih memakai setelan kerjanya, dengan kemeja yang sudah dilipat hingga siku dan celahan bahan.
"Mas tidak pulang dulu?" tanya Ami saat mobil sudah mulai berjalan.
"Tidak, barusan kerjaan lumayan banyak, kadi gak sempat pulang dulu," sahut Fariz yang hanya menatapnya sekilas, setelah itu fokus lagi pada jalan di depannya.
"Kalau kerjaan Mas banyak, kenapa kita harus janjian makan malam di luar, Mas pasti capek," ucap Ami.
"Aku kangen."
Jawaban singkat nan padat dari pria di sampingnya itu, membuat Ami tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap pria itu dan tersenyum dengan pipi yang sudah merona.
"Kita bisa ketemu besok atau kapan-kapan lagi, biar Mas bisa istirahat dengan cukup," ucap Ami.
"Aku bisa istirahat, setelah ini," sahut Fariz santai.
Dia tidak merasa lelah sedikit pun, apalagi dia sudah ada janji dengan Ami dari tadi siang, jadi setelah pulang kerja, dia langsung ke tempat Ami karena takut telat.
Ami hanya mengangguk sebagai sahutan, setelah itu tidak ada lagi yang membuka suara di antara mereka, hingga akhirnya mereka telah sampai di sebuah restoran, Fariz memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Fariz segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Ami, dia juga mengulurkan tangannya untuk menyambut Ami.
"Terima kasih Mas," ucap Ami dengan senang hati menyambut uluran tangan Fariz itu.
Mereka pun berjalan dengan tangan yang saling bertautan, selama perjalanan memasuki restoran, hingga mereka mencari tempat duduk, mereka berjalan dengan sama-sama hening.
Mereka baru mulai bersuara lagi, saat sudah mendudukkan dirinya di sebuah meja yang terdapat dua kursi.
"Mas mau pesan apa?" tanya Ami yang sudah melihat-lihat daftar menu makanan di restoran itu.
"Apa saja," sahut Fariz singkat, dia berbicara dengan nada yang pelan.
Kebiasaan Fariz saat mereka tengah berada di keramaian, dia akan berbicara singkat dan dengan nada yang pelan, Ami pun tidak mempermasalahkan hal itu.
Dia mengerti, jika pacarnya itu adalah orang yang spesial, dia juga tidak peduli setiap mereka bersama, banyak orang yang mengira jika Fariz adalah orang yang bisu.
"Mbak!" panggil Ami pada salah satu pelayan yang sedang berdiri, tidak jauh dari tempatnya.
"Saya mau pesan ini dua, minumannya yang ini, Mas mau disamain aja, atau mau pilih yang lain minumannya?" tanya Ami menatap Fariz.
__ADS_1
Fariz memberikan isyarat, agar disamakan saja semuanya, Ami pun mengangguk dan berbicara lagi dengan pelayan itu. hingga pelayan selesai mencatat pesanannya dan pergi dari meja mereka.
"Bagaimana kabar orang-tua Mas?" tanya Ami.
"Baik, mereka semua baik-baik saja," sahut Fariz.
"Kapan Mas, akan berkunjung lagi ke rumah orang-tua, Mas?" tanya Ami lagi.
"Belum tau, Mama belum memintaku untuk ke sana," sahut Fariz mengangkat bahunya.
"Kenapa, Mas sepertinya tidak terlalu suka, jika Tante Alish meminta Mas untuk pulang ke rumah?" tanya Ami yang dapat melihat raut kurang suka dari Fariz.
Fariz baru saja akan membuka suara, menjawab pertanyaan dari Ami itu. Namun, urung karena makanan pesanan mereka telah sampai.
"Nanti aja lanjut ceritanya, sekarang kita makan dulu," ucap Ami yang dijawab anggukan kepala oleh Fariz.
pelayan yang mengantar makanan itu, mencuri-curi pandang pada Fariz, Ami yang sadar akan hal itu mencebikkan bibir karena kesal.
"Mbak kalau kerja itu yang fokus, jika sampai melakukan kesalahan, Mbak mau di pecat apa!" ucap Ami dengan nada ketus.
"Maaf Mbak," ucap pelayan itu menundukkan kepalanya, merasa canggung.
"Permisi Mbak, Mas," pamit pelayan yang langsung langsung pergi setelah tugasnya selesai.
"Saat kerja matanya, malah ke mana-mana," gerutu Ami dengan bibir yang sedikit maju ke depan.
Melihat Ami menggerutu dengan bibir yang sedikit maju seperti itu, Fariz merasa gemas dan terkekeh.
"Apa yang lucu, sih Mas. Senang ya dilihatin sama pelayan itu!" ketus Ami yang kini menatap Fariz dengan kesal.
"Sudah jangan menggerutu, sebaiknya kita segera makan, nanti pulangnya kemalaman," ucap Fariz pada Ami.
Ami yang semula semangat saat melihat makanan, tapi mengingat pelayan yang barusan, membuat nafsu makannya menjadi menguap.
Fariz yang melihat perubahan mood, Ami pun berinisiatif untuk menghibur pacarnya itu. Dia mengambil makanan dengan sendok, lalu menyodorkannya pada Ami.
"Jangan memainkan makanan seperti itu, itu tidak baik. Di luar sana banyak orang yang sulit untuk mendapatkan makanan," ucap Fariz dengan tangan yang memegang sendok yang berisi makanan, sudah berada di depan mulut Ami.
"Habisnya, pelayan tadi bikin mood aku untuk makan hilang," rengek Ami.
"Udah jangan di pikirkan, ayo buka mulutnya," bujuk Fariz, seperti tengah membujuk seorang anak kecil yang susah untuk makan.
__ADS_1
Ami pun membuka mulutnya dan menerima suapan itu, Fariz menyuapkan makanan untuknya dan Ami secara bergantian hingga tanpa terasa makanan di meja mereka telah habis.