
Alish saat ini tengah berdiri di depan pintu apartemen Fariz, dia meyakinkan diri terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengetuk pintu apartemen itu, tak lama kemudian pintu pun terbuka.
"Bu Alish, silakan masuk," ucap Ijah tersenyum, dia kemudian membuka pintu dengan lebar, agar mempermudah Alish untuk masuk.
"Terima kasih, Bi." Alish tersnyum pada ijah dan mulai melangkah memasuki apartemen.
Dia berjalan ke arah sofa diikuti oleh Ijah di belakangnya, dia melihat ke sekeliling apartemen itu, mencari keberadaan Fariz.
"Fariz di mana Bi?"
"Den Fariz baru selesai makan dan minum obat, sepertinya sekarang sedang tidur, mau coba Bibi panggilkan Den Fariz-nya?"
Alish menggeleng, menolak saran dari Ijah itu, dia tidak ingin mengganggu istirahat Fariz, dia kemudian mulai mendudukkan dirinya di sofa.
"Bibi buatkan minum dulu ya," ucap Ijah.
"Iya Bi, air putih aja ya, saya haus."
"Baik Bu, saya ambilkan dulu," sahut Ijah dan langsung berlalu menuju ke dapur untuk mengambil minum untuk Alish.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ijah mengambilkan minuman untuknya, dia sudah kembali lagi dengan segelas air putih di tangannya.
"Maaf ya Bu, saya tidak tau kalau Bu Alish akan ke sini, jadi tidak sempat membuat makanan," ucap Ijah sambil menyimpan segelas air itu di meja.
"Iya tidak apa-apa, saya ke sini karena ingin melihat keadaan Fariz saja, lagian sebelum ke sini saya sudah makan, jadi masih kenyang," sahut Alish sambil mengambil segelas air itu dan mulai meminumnya.
"Apa yang ada anda butuhkan lagi?" tanya Ijah pada Alish.
__ADS_1
"Bibi duduk dulu saja, ada yang ingin saya tanyakan pada Bibi." Alish menyimpan kembali gelasnya dan menatap Ijah.
Mendengar ucapan Alish itu, Ijah hanya tersenyum sambil mengangguk dan mulai mendudukkan dirinya di sofa yang tidak jauh dari tempat duduk Alish.
"Ada apa ya Bu?" tanya Ijah penasaran.
"Ada yang mau saya tanyakan pada Bibi." Alish menatap Ijah dengan intens.
Ijah semakin penasaran dengan bapa yang akan Alish tanyakan itu, "Bertanya tentang apa Bu?"
"Apa Fariz pernah membawa wanita ke sini? Selain Cindy?" tanya Alish menatap Ijah dengan serius.
Ijah tidak menjawabnya, dia hanya diam menatap Alish dengan meragu, dia tahu jika beberapa waktu ini Fariz menjalin hubungan dengan Ami.
"Tidak apa-apa Bi, cerita saja, saya sudah tau jika Fariz berhubungan dengan wanita lain di belakang kami, saya hanya ingin tau saja, sejauh mana hubungan Fariz dan wanita itu," ucap Alish yang dapat melihat, jika Ijah ragu untuk bercerita.
"Bibi kenal juga sama dia?" tanya Alish dengan kening meningkat.
"Iya Bu, sebenarnya Non Ami sempat tinggal di sini hampir tiga bulan," terang Ijah.
"Apa! Mereka tinggal bersama selama itu, di sini!" Alish tak percaya dengan apa yang didengarnya itu.
Pikiran buruk muncul di benaknya, dia berpikiran yang kurang baik tentang Ami dan Fariz yang sempat tinggal bersama selama itu, di apartemen itu.
Namun, dia segera mengenyahkan pikiran jeleknya itu, dia percaya pada anaknya yang tidak mungkin melakukan hal tidak baik seperti itu.
"Maaf Bu, biar saya jelaskan semuanya, itu tidak seperti yang anda bayangkan," ucap Ijah yang paham, jika Alish pasti akan berpikiran yang tidak-tidak tentang hal itu.
__ADS_1
"Kalau gitu jelaskan semunya," ucap Alish yang sudah sangat penasaran.
"Sebenarnya Den Fariz membawa Non Ami sekitar dua tahun yang lalu, saat itu Den Fariz menemukan Non Ami dalam keadaan yang tidak baik, dia mengalami kecelakaan saat itu ...." Ijah menceritakan semua yang terjadi pada saat itu pada Alish.
"Karena kasian dengan kondisi Non Ami yang buta dan Non Ami mengatakan jika dia berada di tempat seperti itu, karena kakanya tidak menyukainya, ditambah ayah Non Ami tidak ada di tempat, akhirnya Den Fariz pun mengijinkannya untuk tinggal di sini," sambung Ijah lagi.
Alish hanya bengong, dia tidak menyangka jika Ami tinggal di sana dan dia sama sekali tidak menyadari hal itu, padahal dia sangat sering bolak-balik ke tempat Fariz itu.
"Maaf Bu kalau saya telah lancang, tapi dari yang saya lihat, Den Fariz sudah menyukai Non Ami dari dulu, begitu pun dengan Non Ami, dia menyukai Den Fariz, meskipun pada awalnya, dia sama sekali tidak tau bagaimana rupa Den Fariz."
"Jadi saat bertemu lagi, mereka langsung memulai hubungan mereka, meskipun secara tersembunyi, tapi saya yakin jika mereka itu saling mencintai dan menyayangi, jujur saya ikut sedih saat mendengar Den Fariz memutuskan untuk menikahi wanita lain, bukan Non Ami, wanita yang dia sukai dan dia cintai."
"Kenapa anak itu tidak mengatakannya sejak dulu," ucap Alish.
"Den Fariz pada awalnya tidak ingin mengecewakan Bu Alish dan Tuan Nevan, jadi dia mencoba untuk mengabaikan apa yang dirasakannya dan mengantarkan Non Ami kembali pada keluarganya."
"Itu artinya tanpa sadar saya dan keluarga saya sudah membuatnya tersiksa selama ini," lirih Alish dengan sedih.
Bagaimana bisa, dia tidak menyadari apa yang dirasakan oleh anak yang dia besarkan dengan tangannya sendiri itu, dia malah tanpa sadar membuat anaknya itu semakin tersiksa.
"Den Fariz selalu tidak ingin membuat keluarga Bu Alish kecewa, dia selalu terlihat baik-baik saja di depan keluarganya, tapi saat sudah kembali ke sini, dia seolah tidak memiliki semangat dalam hidupnya, hingga beberapa bulan yang lalu, setelah Non Ami mendatanginya dan menjalin hubungan dengannya, Bibi dapat kembali melihat ada sinar di wajahnya itu."
"Dia selalu terlihat begitu nyaman berada di dekat Non Alish, meskipun Den Fariz jarang mengatakan kata-kata yang manis jika Non Ami ke sini, tapi matanya seolah mengatakan, jika kehadiran Non Ami seperti memberikan kehidupan baru untuknya," terang Ijah.
Alish tanpa sadar sudah meneteskan air matanya, mendengar setiap penjelasan dari Ijah itu, bukankah dia selalu ingin membuat anaknya itu bahagia.
Namun, apa yang selama ini dia lakukan, dia malah menahan anaknya itu di dalam kehidupan yang membuatnya tersiksa.
__ADS_1