Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 96


__ADS_3

"Kamu mau ke mana, Mi?" tanya Rini yang melihat Ami keluar dari kamarnya.


Dia baru saja pulang dari warung, hari ini mereka libur bekerja, karena keluarga Fariz ada acara, jadi restoran tutup dan semua pegawai diliburkan.


"Aku mau pulang, mumpung besok libur," sahut Ami.


"Berarti kamu akan nginep di sana gitu?"


"Iya, Papa minta aku nginep di rumah," ucap Ami dengan kepala mengangguk dan mengunci pintu kamarnya.


"Oh ya udah, hati-hati ya."


"Iya, aku pergi dulu ya, sopir aku bentar lagi sampai," pamit Ami.


"Iya," sahut Rini mengangguk.


Setelah itu Ami pergi dari sana, dia menuju ke depan gerbang dan tak lama setelah dia sampai di sana, mobil yang biasa mengantar jemputnya saat dia pulang datang.


Tanpa menunggu lama lagi, Ami pun langsung memasuki mobilnya, dia duduk di kursi belakang mobilnya, menikmati perjalanan yang akan menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih itu.


"Non ngantuk ya?" tanya Candra yang dapat melihat dari kaca spion, jika Ami beberapa kali menguap.


"Iya Pak, semalam setelah pulang kerja, aku tidak langsung tidur, jadi sekarang ngantuk."


"Kalau gitu, Non tidur saja."


"Iya," sahut Ami yang sudah mulai memposisikan dirinya dengan nyaman dan mata terpejam.


Ami langsung larut dalam mimpinya, sedangkan Candra fokus dengan setirnya, hingga hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil itu.


Setelah menempuh perjalanan, hingga satu jam lebih, mobil yang dikendarai Candra pun telah sampai di depan gerbang rumah Denis.


Candra turun dari mobil, dia membuka gerbang dengan lebar agar bisa memasukkan mobil, Ami yang dapat merasakan mobil berhenti dan suara pintu mobil yang terbuka pun, mulai membuka matanya.


"Sudah sampai ternyata," gumamnya sambil menguap dan menegakkan tubuhnya.


Tak lama kemudian Candra memasuki mobil lagi dan kembali menjalankan mobilnya ke memasuki halaman rumah Denis.


Ami segera turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih padanya, setelah itu melangkah, memasuki rumahnya yang tampak sepi.

__ADS_1


"Pa, Bi!" panggil Ami melihat ke sekeliling karena tidak melihat siapa pun di sana.


Dia menyimpan tas selempangnya di meja yang ada di ruang keluarga dan menuju ke lantai atas mencari papanya, dia mengetuk pintu kamar Denis dan tak lama kemudian ada sahutan dari dalam kamar itu, disusul oleh suara kunci pintu yang diputar dan pintu pun terbuka.


"Kamu sudah sampai Mi," ucap Denis tersenyum pada Ami.


"Iya Pa, gimana kabar Papa?" tanya Ami dengan mencium tangan papanya.


"Seperti yang kamu lihat, papa sangat sehat," ucap Denis tersenyum pada anak bungsunya itu.


"Papa terlihat bahagia, ada hal yang membahagiakan apa nih?" tanya Ami yang dapat melihat binar kebahagiaan dari wajah dengan sedikit kerutan itu.


"Papa bahagia, karena akhirnya kamu pulang juga, papa sudah merindukanmu," sahut Denis sambil mengusap ujung kepala Ami.


"Beneran hanya itu?" tanya Ami menatap papanya tak percaya.


"Iya, memangnya apa lagi." Denis mulai melangkah meninggalkan kamarnya, Ami pun mengikutinya dari belakang.


"Ami kira Papa terlihat bahagia, karena Papa akan nikah lagi," kekeh Ami, menggoda papanya itu.


"Bicara sembarangan, papa udah tua, tidak memiliki pikiran seperti itu, apalagi papa ingin menepati janji papa, jika selamanya hanya akan mamamu 'lah yang menjadi pasangan papa," sahut Denis yang sudah mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruang keluarga.


"Papa memang pria terbaik yang ada di dunia ini, Mama pasti sangat merasa beruntung, bisa dicintai oleh pria seperti Papa, seandainya Ami bisa meminta jodoh Ami, Ami ingin pria yang menjadi jodohku kelak, seperti Papa, tapi sepertinya itu tidak akan mungkin, karena Papa hanya satu-satunya dan tidak ada duanya," ucap Ami menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Papa selalu berdoa, semoga anak-anak papa, mendapatkan pria yang dapat memperlakukan kalian dengan baik dan penuh kasih sayang," ucap Denis kembali mengusap rambut ujung kepala Ami.


"Aamiin," sahut Ami mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Oh iy Pa, ke mana Bibi, kok tidak ada di rumah?" sambung Ami yang baru sadar jika Art-nya tidak muncul.


"Bibi, papa suruh untuk belanja bahan masakan, nanti akan ada tamu, jadi harus masak yang lumayan banyak," terang Denis.


"Tamu, siapa Pa?"


"Rekan kerja papa," sahut Denis lagi.


"Oh," sahut Ami mengangguk paham.


"Ami bikin minuman dulu ya, Pa," pamit Ami yang sudah mulai bangun dari duduknya.

__ADS_1


"Iya, pergilah," sahut Denis mengangguk.


Ami pun pergi ke dapur, dia membuatkan minuman untuknya dan Denis, setelah itu dia kembali ke ruang keluarga dengan nampan yang sudah terisi dua gelas minuman.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Denis setelah Ami selesai menyimpan minuman untuk mereka berdua dan sudah kembali duduk.


"Baik-baik saja Pa," sahut Ami dengan mata fokus pada ponselnya.


"Apa ada hal menarik di tempat kerjamu itu?" tanya Denis lagi.


"Tidak ada," sahut Ami lagi.


"Yakin?"


"Iya, kenapa gitu Pa?" tanya Ami menatap papanya dengan heran.


"Tidak, papa hanya penasaran saja, apa yang membuatmu betah bekerja di sana," sahut Denis.


"Di sana semua pegawainya menyenangkan, pekerjaannya juga tidak terlalu melelahkan, meskipun akhir-akhir ini, ada orang yang sedikit mengganggu pekerjaanku."


Ami mengucapkan, ucapan terakhirnya dalam batin. Dia jadi teringat Fariz yang selalu memanggilnya untuk ke ruangannya dan melakukan hal yang menurutnya tidak perlu.


"Oh baguslah kalau gitu," sahut Denis.


"Pa, Ami ke kamar dulu ya," pamit Ami sambil berdiri.


"Iya pergilah, nanti malam dandanlah dan berpakaian yang sopan," ucapan Denis membuat Ami menatapnya dengan heran.


"Nanti malam papa akan kenalkan kamu pada rekan kerja papa," sambung Denis yang melihat tatapan heran dari anaknya itu.


"Papa tidak berniat jodohin aku, pada rekan kerja Papa itu, bukan?" Ami menatap papanya dengan curiga.


"Kamu akan tau semuanya nanti, pokoknya kamu siap-siap saja," sahut Denis.


"Pa, Ami tidak mau dijodoh-jodohin," tegas Ami.


"Siapa yang mau jodohin kamu, kamu mikirnya kejauhan, sudah sana, katanya mau istirahat." Denis segera mengalihkan pembicaraan.


Ami mengangguk dan mulai pergi, meninggalkan Denis yang tengah tersenyum misterius sambil menatap Ami yang mulai memasuki kamarnya itu.

__ADS_1


"Papa harap kalian, anak-anak papa selalu bahagia dan mendapatkan pria yang tepat untuk menjaga kalian, menggantikan papa kelak," gumam Denis.


__ADS_2