
"Ayo ikut aku," ucap Fariz secara tiba-tiba mendatangi Ami yang sedang duduk di sofa, di depan televisi.
"Ke mana, Mas?" tanya Ami menengokan kepalanya ke samping.
"Kamu pasti bosan setiap hari di dalam ruangan terus, kamu harus menghirup udara luar sekali-kali," ucap Fariz.
"Tapi, Ami gak bosan kok, Mas."
"Sudah, ayo." Fariz menarik tangan Ami yang masih bergeming di tempatnya.
Akhirnya Ami pun berdiri dan mengikuti ke mana Fariz akan membawanya. Mereka keluar dari unit apartemen Fariz dan langsung memasuki lift untuk sampai ke lantai dasar.
Ami tiba-tiba saja merasa tidak tenang, terbeseit rasa takut dalam hatinya, dia teringat pada kejadian beberapa waktu lalu, di saat kakaknya meninggalkan dia di jalanan.
"Mas, sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Ami dengan meremas ujung bajunya hingga terlihat kusut.
Fariz menengok ke sampingnya, melihat Ami dengan heran, dia dapat melihat jika saat Ami sedang takut akan sesuatu.
"Kenapa kamu seperti orang yang sedang ketakutan, tenang saja aku tidak akan membuangmu di tengah jalan nanti," ucap Fariz santai.
Ami mengangkat kepalanya dan mengerutkan kening, bagaimana pria itu bisa tahu apa yang sedang dirasakannya, apa begitu kentara jika dia sedang takut saat ini.
"Siapa pun yang melihatmu akan berpikir hal yang sama denganku, karena saat ini kamu memasang ekspresi seperti, orang yang sedang diculik," ucap Fariz lagi.
"Ami hanya sedikit gugup, Mas. Ini pertama kalinya, aku akan ke luar lagi, setelah beberapa waktu lalu," ucap Ami berusaha tersenyum.
"Maka dari itu, aku membawamu ke luar, aku gak mau kamu merasa stress karena di dalam ruangan terus, nanti kalau kanu stress apa yang harus kukatakan pada keluargamu, saat kamu pulang."
Mendengar ucapan Fariz itu, entah kenapa perasaan Ami sedikit tidak suka, tapi dia sadar cepat atau lambat dia harus pulang, karena papanya pasti sangat mengkhawatirkannya.
"Ayo." Fariz kembali menggenggam tangannya dan keluar dari lift yang sudah sampai di lantai dasar gedung apartemennya itu.
"Kita jalan kaki saja, tidak akan pakai mobil, kita hanya akan berjalan-jalan di sekitar sini," ucap Fariz pada Ami yang masih terdiam.
"Iya, Mas," sahut Ami dengan kepala mengangguk.
"Mas, boleh Ami bertanya?"
"Apa?"
"Apa, Mas Fariz punya pacar sekarang?" tanya Ami dengan pelan.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya Fariz dengan pandangan lurus ke jalan di depannya.
"Aku hanya penasaran saja," sahut Ami tersenyum samar.
__ADS_1
"Aku tidak pernah dekat dengan perempuan dan saat ini tidak memiliki pacar," jawab Fariz.
"Kenapa, Mas tidak pernah dekat dengan perempuan?"
"Apa aku harus menceritakan masalah pribadiku itu padamu?" Pertanyaan Fariz itu, seolah menegaskan, jika di antara mereka tidak ada hubungan yang dekat, hingga dia harus menceritakan masalah pribadinya.
"Maaf karena aku sudah lancang," ucap Ami menyesal, tidak seharusnya dia terlalu dalam memasuki kehidupan pria di sampingnya itu.
"Kalau kamu sendiri? Apa saat ini kamu tidak punya pacar?" Fariz menanyakan hal yang sama pada Ami.
"Aku juga tidak punya," sahut Ami menggeleng.
Fariz mengangguk, setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka, mereka terus melangkah dengan jari tangan yang entah sejak kapan menjadi saling bertautan. Saling memberikan kehangatan, di udara malam yang semakin lama semakin terasa dingin.
Di depan sana, Fariz melihat ada sebuah kafe yang cukup ramai oleh pengunjung. Akhirnya dia pun memutuskan untuk mampir ke kafe itu, untuk sekedar ngopi.
"Ayo kita istirahat," ucap Fariz menuntun Ami, mendekati kafe itu.
Dia menuntun Ami ke sebuah kursi di luar kafe itu yang kosong, sedangkan Ami hanya menurut dan duduk di kursi yang Fariz siapkan untuknya, suasana di sana terasa ramai di pendengarannya.
"Kamu mau pesen minuman apa?" tanya Fariz pada Ami.
"Apa ini kafe?" tanya Ami.
"Mau macha latte aja," ucap Ami.
"Tunggu di sini, jangan beranjak dari tempat dudukmu," perintah Fariz.
"Iya," sahut Ami mengangguk.
Fariz mulai melangkah, menuju ke bartender, untuk memesan minumannya, ternyata di sana lumayan ngantri banyak pengunjung yang juga tengah menunggu giliran.
Malam itu adalah malam minggu, jadi banyak para anak muda yang sedang berkumpul bersama teman-temannya, ada juga yang datang dengan pacarnya.
Ami menunggu dengan tenang, hingga terdengar suara pergerakan di depannya, terdengar suara kursi di depannya ditarik.
"Mas," panggil Ami karena takut orang lain yang duduk di sana.
Fariz menjawabnya dengan sebuah deheman, dia membuka ponselnya yang berbunyi dan saat dilihat itu ada pesan dari Alisha yang memintanya, untuk bertemu dengan wanita yang akan dia kenalkam padanya.
Setelah memberikan balasan pada mamanya itu, dia kemudian memasukkan kembali ponselnya pada saku celana jeansnya.
"Apa kamu tidak ingin pulang, keluargamu pasti mengkhawatirkanmu saat ini," ucap Fariz memulai percakapan antara mereka.
"Apa, Mas Fariz ingin aku segera pergi dari tempat tinggal, Mas?" tanya Ami dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
Melihat ekspresi sedih itu, Fariz sangat tidak suka, dia akhirnya menghela napas panjang.
"Bukan seperti itu, aku tau kamu juga pasti merindukan keluargamu, mama, papamu, atau kakak—"
"Mamaku, sudah tidak ada," potong Ami pada ucapan Fariz.
Fariz semakin menatap dalam wajah Ami, jadi itu kenapa yang dia dengar hanya kata papa dari mulut Ami saat dia sedang sendiri, karena dia sudah tidak memiliki ibu.
"Maaf, aku tidak tau," ucap Fariz menyesal, dia tahu jika dia telah mengingatkan Ami pada mendiang ibunya.
"Tidak apa-apa, mamaku meninggal sehari setelah melahirkan aku," ucap Ami tersenyum samar.
"Aku bukan sengaja pergi dari rumah, tapi kakaku tidak menyukai keberadaanku di rumah, jadi malam itu dia sengaja meninggalkan aku di tengah jalan."
Setelah mengatakan hal itu Ami kembali bungkam, dia tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena hatinya terasa sesak saat mengingat kejadian malam itu. Fariz belum sempat membuka suaranya karena minuman yang dia pesan sudah datang.
"Aku akan pulang, saat amarah kakakku sudah mulai mereda," sambung Ami lagi.
Fariz hanya berdehem dan mengangguk, entah kenapa dia tidak mampu mengeluarkan suaranya saat Ami bercerita seperti itu.
Dia seperti ikut merasakan kesedihan yang Ami rasakan, mungkin karena dia mendengar, jika Ami sudah tidak memiliki ibu.
Hingga dia merasa iba, karena ibu kandungnya pun sudah pergi, tapi nasibnya lebih beruntung karena ada keluarga angkatnya di sisinya.
Mereka sama-sama diam, hanya terdengar suara mereka menyeruput minuman mereka masing-masing di sana.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah menghabiskan minuman mereka, Fariz pergi untuk membayar minuman mereka terlebih dahulu.
"Ayo kita pulang, ini sudah terlalu malam," ucap Fariz yang sudah kembali lagi ke meja itu.
"Iya," sahut Ami yang langsung bangun dari kursinya.
Seperti sebelumnya, Fariz menggandeng tangan Ami lagi, orang yang melihat mungkin akan beranggapan, jika mereka adalah pasangan karena selama perjalanan mereka tidak melepaskan satu sama lainnya.
"Apa kamu kedinginan?" tanya Fariz berusaha mencairkan suasana yang masih terasa canggung.
"Hanya sedikit," sahut Ami berusaha tersenyum kembali.
"Sabarlah, sebentar lagi kita sampai."
"Iya." Ami menganggukkan kepalanya.
Tak memakan waktu yang terlalu lama, mereka kini telah sampai di apartemen, Ami segera pamit pada Fariz untuk beristirahat dan Fariz pun mengiyakannya.
Setelah memastikan Ami memasuki kamarnya, dia pun menaiki tangga, menuju ke kamarnya dan langsung istirahat.
__ADS_1