
Keesokan harinya, terjadi keheningan antara Fariz dan Ami, semalam Fariz tidak turun untuk makan malam dan hanya Ami sendiri yang makan malam.
Saat ini Mereka sedang sarapan di meja makan, tapi tidak ada yang memulai percakapan, mereka sarapan dengan hening dan Ami tidak nyaman dengan hal itu.
"Mas, jika Mas tidak senang dengan apa yang Ami ucapkan kemarin, Ami minta maaf untuk apa yang terjadi kemarin," Ami mulai membuka suaranya.
"Setelah menimbang lagi, aku sudah memutuskan untuk pulang, aku memang sudah merindukan Papaku, Papaku juga pasti sedih karena aku sudah terlalu lama pergi," sambung Ami lagi.
Fariz tidak menyahutinya, dia hanya fokus pada sarapannya, tapi sesekali matanya melirik pada Ami yang hanya mengaduk-ngaduk makanannya.
"Mas, kenapa diam? Bisakah Mas katakan sesuatu, jagan diamkan aku seperti ini," ucap Ami karena tidak mendapatkan jawaban dari perkataannya itu.
"Tidak, aku hanya sedang fokus pada sarapanku saja," sahut Fariz berusaha berbicara dengan sesantai mungkin.
"Oh gitu," ucap Ami menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kapan kamu siap untuk pulang?" tanya Fariz mengalihkan pembicaraan, dia sudah selesai dengan sarapannya.
"Nanti sore, tapi aku mau Mas Fariz yang anterin aku," sahut Ami.
"Baiklah, kamu beresin semua barang-barangmu dan aku ingin kamu sudah siap saat aku pulang bekerja," terang Fariz.
"Baiklah, Mas," sahut Ami dengan kepala mengangguk.
"Aku akan berangkat bekerja dulu," ucap Fariz bangkit dari tempat duduknya.
"Iya Mas, hati-hati ya." Ami memasang senyuman seperti biasanya.
Fariz mulai melangkah meninggalkan Ami yang tetap di posisinya, setelah mendengar Fariz menjauh dan disusul oleh suara pintu tertutup.
Perlahan senyuman di wajah Ami itu, mulai luntur, binar yang tadi terlihat, perlahan mulai redup, digantikan dengan wajah sendu.
"Aku pasti akan merindukanmu nanti," gumamnya dengan diiringi helaan napas berat.
__ADS_1
Setelah semalaman berpikir dan menimbang akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana, tempat yang menjadi tempatnya berlindung untuk beberapa saat.
Tempat yang membuat dirinya, kembali merasakan rasa tenang, aman dan hangat, setelah apa yang terjadi padanya sebelumnya, seandainya dia bisa memilih, dia ingin tinggal di tempat itu lebih lama lagi.
Menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan pria yang perlahan singgah di hatinya dan memilih untuk menetap, pria yang bahkan hanya bisa dia dengar suaranya tanpa bisa dia lihat rupanya itu.
Setelah beberapa saat merenung, wanita itu mulai beranjak dari kursinya, dia pun membereskan meja makan terlebih dahulu dan memutuskan untuk mencuci perlatan.
"Non, biar Bibi bantu ya," ucap Ijah yang sudah datang, setelah selesai dengan tugasnya membersihkan rumah.
"Boleh Bi, kalau Bibi gak capek," sahut Ami.
"Tidak, Non." Ijah membantu Ami membilas perlatan itu, sedangkan Ami menyabuni perlatan itu.
Selama melakukan kegiatan itu, tidak ada yang membuka percakapan, baik Ami atau Ijah mereka fokus pada tugas masing-masing, hingga mereka selesai.
"Bi pekerjaan yang lainnya udah beres?" tanya Ami sambil mengelap tangannya.
"Sudah, Non." Ijah mengangguk dan mengelap tangannya juga.
Mereka pun berjalan, menuju ke sofa di ruang tengah dan duduk di sana, beberapa saat tidak ada membuka suaranya. Hingga beberapa saat kemudian, Ami membuka suaranya terlebih dahulu.
"Bi, Ami akan pulang," ucap Ami yang langsung membuat Ijah kaget.
Wanita yang hampir setengah abad itu, menoleh pada Ami yang duduk di sampingnya dengan tatapan tak percaya.
"Kenapa tiba-tiba, Non? Bukankah Non bilang kalau Non mencintai Den Fariz, tapi kenapa sekarang Non malah memlih pergi, meninggalkan Den Fariz begitu saja," ucap Ijah panjang lebar dan hanya dijawab kekehan oleh wanita di sampingnya itu.
"Ami gak ninggalin Mas Fariz kok, Bi. Ami hanya pergi untuk sementara, aku akan pasti akan kembali lagi menemuinya saat aku merasa, jika aku sudah pantas untuknya dan berusaha mendapatkan hati mamanya," ucap Ami dengan penuh keyakinan disetiap katanya.
"Benarkah seperti itu, Non?" tanya Ijah dengan bibir yang mulai melengkung ke atas, membentuk sebuah senyuman.
"Iya, Bi. Tolong jaga Mas Fariz ya, aku janji akan kembali secepatnya," ucap Ami.
__ADS_1
"Siap! Non tenang aja Bibi akan menjaga Den Fariz dan tidak akan membiarkan Den Fariz terlalu dekat dengan wanita itu, saat dia berkunjung ke sini," sahut Ijah dengan antusias, sedangkan Ami hanya tertawa mendengar hal terakhir yang diucapkan oleh Ijah itu.
"Padahal maksud Ami, Bibi jaga Mas Fariz itu tentang makannya jangan sampai dia telat makan, bukan masalah itu," ucap Ami disertai kekehan.
"Pasti kalau itu mah, Non, tapi Bibi juga akan menjaga Den Fariz, agar tidak terlalu dekat dengan wanita itu," sahut Ijah lagi.
"Baiklah terserah Bibi aja,"
Ami senang dengan adanya Ijah di sana setidaknya ada yang memperhatikan Fariz nantinya, belum juga dia pergi, tapi dia sudah merasa jika dia pasti akan sangat merindukan pria itu.
"Oh iya Bi, bisa tolong bantuin pilihkan baju, buat nanti aku pakai saat berangkat," sambung Ami lagi
"Baik, Non, mau pakai baju yang mana?"
"Baju yang dipilihkan Mas Fariz, saat kita jalan-jalan ke Mall beberapa waktu lalu," sahut Ami.
"Baiklah, nanti Bibi siapkan bajunya, emang Non kapan perginya?" tanya Ijah.
"Namti sore, saat Mas Fariz pulang dari tempat kerjanya," jawab Ami.
"Oh gitu, Non benar-benar akan kembali lagi, kan? Gak akan lupain Bibi sama Den Fariz gitu aja," ucap Ijah yang tiba-tiba saja merasa sedih akan di tinggalkan Ami.
"Iya, Bi. Aku akan kembali lagi, bagaimana bisa aku lupain Bibi apalagi Mas Fariz, kalian uadah baik banget sama Ami, selama Ami tinggal di sini."
"Makasih ya, Bibi sudah baik sama Ami selama di sini, sudah temani aku hingga aku tidak pernah merasa kesepian lagi," ucap Ami menghadap pada ijah dan mengambil tangan Ijah yang ada di sofa.
"Sama-sama, Non. Nanti pasti Bibi akan kesepian lagi saat Non, tidak ada di sini. Apalagi Den Fariz, pasti dia akan sangat kehilangan," ucap Ijah.
"Ami akan usahakan untuk kembali menemui Mas Fariz secepatnya," janji Ami.
"Iya, Bibi tunggu hal itu Non."
Mereka akhirnya mengobrol banyak hal, sebagai perpisahan sementara di antara mereka.
__ADS_1
Ya ... Ami sudah bertekad, jika suatu saat nanti dia akan kembali ke tempat itu, menemui Fariz dan mendapatkan hati Alisha yang menjadi kelemahan pria yang disukainya itu.