Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Jalan-jalan Lagi.


__ADS_3

Karena mereka merasa bosan di apartemen tidak ada kegiatan dan hanya menonton saja, akhirnya Fariz mengajak Ami untuk pergi jalan-jalan.


"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Ami saat mobil sudah mulai melaju, meninggalkan pelataran apartemen itu.


"Aku juga belum tau, aku hanya merasa bosan, diam terus di apartemen," jawab Fariz yang fokus dengan setirnya.


Ami mengangguk tidak menyahutinya lagi, dia hanya diam menikmati perjalanan itu dengan tenang.


"Bagaimana hubungan Mas dengan wanita yang mama, Mas kenalkan itu?" tanya Ami kembali membuka percakapan setelah beberapa saat hening.


"Ya begitulah, dia sering ngirimin aku pesan, tapi jarang aku balas," jawab Fariz apa adanya.


"Bolehkah aku tanya sesuatu, Mas?" tanya Ami lagi.


"Apa?"


"Bagaimana sih kriteria wanita yang Mas sukai?" tanya Ami.


"Entahlah, aku tidak tau bagaimana kriteria wanita yang aku sukai," jawab Fariz mengangkat bahunya acuh.


"Loh, kok gitu. Mas gak punya gambaran dalam kepala Mas gitu, tentang kriteria wanita yang Mas sukai harus seperti apa gitu?" Ami mengerutkan keningnya, dia tidak puas akan jawaban dari Fariz itu.


"Aku tidak memiliki kriteria apa pun untuk wanita, tapi asalkan hatiku menyukainya, maka seperti apa pun wanita itu, aku tidak akan peduli," jawaban Fariz itu, benar-benar sesuai dengan apa yang hatinya ucapkan.


"Meskipun wanita itu jelek?" Ami memiringkan badannya hingga memghadap ke arah Fariz.


"Ya," sahut Fariz tanpa mengalihkan perhatiannya dari setir.


"Meskipun dia cacat?"


"Ya."


"Kalau dia tidak bisa berjalan?"


"Aku akan menjadi kaki untuk membantunya berjalan, membawanya ke mana pun yang dia inginkan."


"Kalau tangannya yang cacat?"


"Aku bisa menggantikannya, melakukan apa pun yang tidak bisa dia lakukan dengan tangannya."


"Kalau dia buta?"

__ADS_1


"Aku akan menjadi mata untuknya, menceritakan setiap keindahan dan apa yang terjadi di hadapannya, 'cekiiiit'." Fariz secara reflek menginjak rem di mobilnya itu, saat sadar dengan apa yang tengah mereka bicarakan itu.


Pria itu menengok ke arah samping, di mana Ami tengah menghadap padanya dengan wajah polos, seolah apa yang dikatakannya itu bukan hal yang serius.


"Kenapa berhenti mendadak, Mas? Untung saja pakai sabuk pengaman kalau tidak pasti udah kejedot, apa kita sudah sampai, Mas?" tanya Ami berbicara dengan santai.


Dia menebak, jika pria di sampingnya itu pasti telah memasang wajah kaku. Dengan perasaan yang tidak karuan, setelah sadar dengan apa yang mereka bicarakan barusan.


"Tidak apa-apa, ayo turun," ajak Fariz yang sudah mulai menormalkan ritme di jantungnya.


"Kita udah sampai ya?" tanya Ami lagi.


"Iya, cepatlah turun!" perintah Fariz yang sudah lebih dulu turun dari mobil.


Beruntung kini mobilnya sudah sampai di sebuah Mall, jadi dia tidak perlu mencari alasan kenapa dia berhenti secara tiba-tiba.


Beruntung juga Ami tidak menyadari apa yang mereka bicarakan barusan dan teralihkan ke hal lainnya, jadi tidak bertanya-tanya lagi.


Sebenarnya apa yang jadi jawaban Fariz adalah hal yang ada dalam hatinya, apalagi pertanyaan Ami yang terakhir, saat menjawabnya yang terbayang dalam benak Fariz adalah orang yang bertanya itu sendiri.


Sementara itu, di dalam mobilnya, Ami yang masih berada di sana tersenyum dalam diamnya, dia tentu saja mendengar dengan jelas jawaban dari Fariz itu.


"Cepatlah turun!" Fariz membuka pintu mobil secara tiba-tiba, hingga membuat Ami tersentak kaget.


"Mas, bikin kaget saja," ucap Ami mengusap dadanya.


"Lagian ngapain kamu melamun, mau turun atau mau diam di mobil, biar aku sendiri saja yang pergi," ancam Fariz.


"Iya, Mas. Ami ikut pergi," sahut Ami dengan cepat melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobil.


Mereka berjalan bersama memasuki Mall yang lumayan padat oleh pengunjung, Fariz memegang tangan Ami, karena khawatir wanita itu akan menghilang di antara ratusan orang yang ada di sana dan dia harus mencarinya dengan susah payah jika hal itu sampai terjadi.


"Jangan jauh-jauh dariku, nanti kamu nyasar lagi," ucap Fariz pada Ami.


"Iya, Mas," sahut Ami dengan mengangguk.


"Kita beli baju untuk kamu dulu," ucap Fariz menarik Ami, memasuki sebuah toko khusus pakaian wanita.


Fariz memindai seluruh toko itu, mencoba mencari baju yang kira-kira cocok untuk Ami, dia terus berjalan dengan perlahan, tanpa melepaskan Ami dari genggamannya.


Dia melihat ada sebuah dress yang menyita perhatian, dia kemudian berhenti tepat di samping tempat gantungan dress itu dan mengambilnya.

__ADS_1


"Ini kayaknya cocok," gumamnya menempelkan di badan Ami. "Apa kamu mau mencobanya di ruang ganti?" sambungnya lagi.


"Apa menurut, Mas ini terlihat cocok untukku?" tanya Ami.


"Iya ini terlihat cocok dan sepertinya pas di tubuhmu," sahut Fariz.


"Kalau gitu tidak perlu dicoba lagi, Mas, aku kurang nyaman kalau harus nyobain bajunya di sini," jawab Ami.


"Baiklah kalau gitu, ayo kita coba cari yang lain lagi," ajak Fariz kembali menarik tangan Ami agar mengikutinya.


Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya, hingga tak terasa sudah lumayan banyak baju yang Fariz bawa untuk Ami.


Dia segera membawa baju-baju itu ke kasir dan segera membayarnya, Ami kaget saat mendengar nominal yang disebutkan oleh kasir, dia menarik ujung kaos yang Fariz pakai.


"Apa ini gak terlalu kemahalan, Mas. Sebaiknya sebagian bajunya kembalikan saja, Mas," ucap yang tidak enak jika Fariz harus menghabiskan banyak uang, hanya untuk membeli baju-bajunya itu.


"Sudah diamlah, aku mampu kok membayar semuanya," sahut Fariz tidak menghiraukan ucapan Ami itu.


"Tapi, Mas—"


"Ayo, aku beli sesuatu dulu, setelah itu kita makan siang," ajak Fariz yang memotong ucapan Ami. Dia sudah selesai membayar baju-baju untuk Ami itu.


Ami tidak melanjutkan lagi niatnya untuk berbicara dan hanya menghela napas pasrah, sambil mengikuti ke mana Fariz akan membawanya.


Fariz kembali memasuki sebuah toko, kini mereka memasuki toko khusus baju untuk pria, dia ingin membeli beberapa kemeja karena sudah lama tidak membeli kemeja formal.


"Kamu capek?" tanya Fariz pada Ami yang terlihat menggerak-gerakkan kakinya.


"Kakiku pegal," jawab Ami dengan jujur.


"Kalau begitu ayo duduk dulu." Fariz membawa Ami ke sebuah sofa yang tersedia di sana.


"Duduklah, di sini aku mau mencari lagi kemeja yang pas untukku," ucap Fariz myang telah menuntun Ami untuk duduk.


"Tapi, Mas tidak akan meninggalkan aku di sini, kan?" tanya Ami dengan takut.


"Tidak akan, aku hanya sebentar," sahut Fariz.


"Baiklah, Ami akan nungguin di sini." Ami menganggukkan kepalanya patuh.


Fariz pun mulai meninggalkan Ami di sana sendiri dan melanjutkan memilih kemeja untuknya lagi, sambil sesekali melihat Ami yang masih duduk di tempatnya dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2