Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 98


__ADS_3

"Sepertinya terjadi kesalahpahaman di antara kamu dan Fariz, Fariz sebenarnya tidak jadi menikah dengan Cindy dan saya akan pastikan, hanya kamu yang akan menjadi istri satu-satunya untuk Fariz."


Mendengar ucapan Alish itu, membuat Ami kembali menatap satu per satu orang yang ada di sana, dia merasa tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Sementara itu, Fariz menganggukkan kepala saat tatapan mereka bertemu dan saling terkunci satu sama lainnya, pria itu menunggu dengan harap-harap cemas, akan jawaban yang akan Ami keluarkan.


"Jadi bagaimana, apakah kamu setuju untuk menikah dengan Fariz, Nak Ami?" Nevan kembali bertanya dengan tatapan serius pada Ami.


Ami menatap Denis terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban, Denis yang ditatap anaknya dengan tatapan seolah bertanya tentang pendapatnya pun mengangguk.


"Asal kamu bahagia dan tidak di jalan yang salah, Papa memberikan seluruh keputusan untuk masa depanmu padamu," sahut Denis tersenyum pada Ami.


Ami kembali mengalihkan pandangan ke arah, keluarga Nevan, dia kemudian mengangguk dengan yakin, membuat Fariz dan keluarganya menghembuskan napas lega mendapatkan jawaban itu dari Ami.


Orang yang paling senang di sana tentu saja Fariz, dia tersenyum pada Ami, senyum yang semakin lebar dengan tatapan lurus pada Ami yang sudah menunduk malu.


"Ekhemm! Kita berasa ngontrak ya, di sini," sindir Aaric mengganggu suasana kasmaran antara Fariz dan Ami.


Mendengar sindiran dari Aaric itu, Fariz mengalihkan perhatian padanya, setelah itu dia kembali melihat ke arah Ami.


"Baiklah karena Ami sudah setuju, menurut Pak Denis, ini baiknya seperti apa. Apa mau mengadakan pertunangan secara resmi dengan dihadiri banyak orang atau kita langsung adakan pernikahannya saja?" tanya Nevan menatap Denis dengan serius.


"Bagaimana menurutmu, Mi?" tanya Denis menengok ke arah anaknya itu.


"Ami ikut gimana baik saja, Pa," sahaut Ami.


"Kalau kita langsung pernikahan saja gimana?" tanya Denis lagi.


Ami hanya mengangguk sebagai jawaban, Denis pun ikut mengangguk paham, begitu pun dengan Nevan dan seluruh keluarganya.


Akhirnya, setelah itu mereka menentukan tanggal pernikahan antara Fariz dan Ami. Dan dengan kesepakatan bersama, pernikahan akan diadakan sekitar dua mingguan lagi.


Itu merupakan usul Fariz, meskipun awalnya Alish dan Nevan kurang setuju karena waktunya terlalu mepet, tapi ternyata Fariz sudah mempersiapkan semuanya, jadi tidak akan terlalu banyak persiapan lagi.

__ADS_1


"Baiklah, jika memang Fariz sudah mengatur semuanya, berarti kita tinggal menunggu hingga hari H-nya saja sambil mengurus apa yang kira-kira masih kurang," ucap Nevan menjadi penutup dari pembahasan tentang waktu pernikahan itu.


"Baiklah, kalau begitu, sebaiknya kita makan malam dulu karena sudah malam, ayo Tuan Nevan dan yang lainnya, kita ke meja makan," ajak Denis, pada para tamunya.


"Baiklah, terima kasih sebelumnya Pak," sahut Nevan yang sudah mulai bangun dari sofa.


"Ayo kita makan malam terlebih dahulu," ajak Nevan pada keluarganya.


Semua orang mengangguk dan ikut berdiri, Alish, Aaric, Nevan, dan Kia, mulai melangkah mengikuti Denis yang memimpin jalan, untuk sampai ke meja makan, sedangkan Ami dan Fariz masih diam di posisinya.


"Mas kenapa Mas melakukan ini secara tiba-tiba?" Ami menatap Fariz dengan serius.


"Aku tidak bisa menundanya lagi, Mi. Aku takut kalau aku menunda hal ini, aku malah akan benar-benar kehilangan kamu," ucap Fariz apa adanya.


"Tapi, seharusnya tidak mendadak seperti ini Mas, kamu buat aku kaget tadi, saat tiba-tiba orang-tuamu bilang, mereka ke sini untuk melamar aku," ucap Ami masih menatapnya.


"Aku sengaja tidak mengatakan padamu sebelumnya, aku mau memberikan kejutan untukmu," sahut Fariz sambil tersenyum sedikit lebar.


"Kamu kenapa akhir-akhir ini jadi suka menggerutu dan memasang wajah kesal seperti itu," ucap Fariz sambil terkekeh, melihat Ami yang menggeretu.


"Salahkan kamu yang jadi menyebalkan," sahut Ami memutar matanya malas.


"Zamira Azliana, aku mencintaimu, mulai dari sekarang maukah kamu berjalan bersamaku, menghabiskan waktu yang tersisa dalam hidupku ini," ucap Fariz yang merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.


Fariz memang belum secara resmi mengatakan apa yang ada dalam hatinya itu. Dan kini saatnya, dia mengatakan apa yang ada dalam hatinya selama ini.


"Aku adalah seorang pria yang dari kecil sudah mengunci suaraku, tapi saat melihat seorang gadis yang tidak dapat melihat, tengah menyebrang jalan, melihat gadis itu dalam bahaya, keinginan dalam diriku untuk menolongnya muncul begitu saja."


"Aku segera menarik tubuh gadis itu untuk menepi. Dan untuk pertama kalinya, setelah lebih dari dua puluh tahun aku kembali mengeluarkan suaraku lagi, meskipun untuk memarahi gadis itu."


"Tidak pernah terpikir dalam benakku, jika aku dan dia akan berjumpa lagi, tapi ternyata takdir mempertemukan kita lagi, setelah beberapa tahun kemudian dan saat dipertemukan kembali, aku ditakdirkan untuk menjadi penolong gadis itu lagi. Yang lebih tidak terbayangkan adalah, secara perlahan rasa yang asing dalam hatiku mulai tumbuh dengan seiring berjalannya waktu dan kebersamaan."


"Kini aku telah terikat sepenuhnya, oleh rasa yang bisa digambarkan cinta itu, tidak ada keinginan untuk mengurai ikatan itu, justru aku semakin mengeratkan simpul ikatan itu."

__ADS_1


"Dan gadis itu adalah kamu, kamu tau, hadirnya dirimu saat itu, mampu membuatku mulai berani untuk bersuara lagi, dulu aku tidak mengerti akan hal itu, tapi setelah kita dipertemukan lagi dan lagi, aku mulai sadar, jika kita menang ditakdirkan untuk bersama."


Ami menatapnya tak percaya, dia hampir melupakan kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian dimana dirinya yang baru beberapa bulan mengalami kecelakaan dan kehilangan penglihatan.


Kini dia ingat betul, pada seorang pria yang memarahinya, hingga membuatnya sedih, tapi ada perbedaan antara suara Fariz yang dulu sama yang sekarang, mungkin karena itu efek dari Fariz yang pertama kali kembali bersuara.


"Jadi orang itu adalah Mas?" tanyanya masih menatap Fariz tak percaya.


"Iya, aku orang yang menolongmu sekaligus memarahimu saat itu." Fariz menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak menyangka ternyata kita sudah bertemu sejak lama, aku kira malam itu adalah pertemuan pertama kita."


"Itu adalah pertemuan kedua kita," sahut Fariz. "Sekarang sebaiknya, kita segera menyusul ke meja makan, semua orang pasti sudah menunggu kita," sambung Fariz yang sudah mulai berdiri.


"Iya Mas," sahur Ami yang ikut bangun.


"Oh iya, saat ini aku belum memberimu cincin, tapi aku sudah menyiapkan itu, hanya saja aku ingin memakai itu saat pernikahan kita, sebagai tanda jika itu adalah cincin pertama dan terakhir yang kita pakai, sebagai pengikat kita untuk selamanya."


Ami menganggukkan kepala dengan menatap Fariz dalam dan tersenyum, dia kemudian merasakan tangannya digenggam oleh tangan Fariz, mereka pun berjalan dengan beriringan.


Akhirnya mereka pun ikut bergabung di meja makan, bersama dengan keluarganya yang ternyata sudah memulai makan mereka.


Terjadi suasana yang hangat dari kedua keluarga itu di meja makan. Dan setelah keluarga Nevan selesai makan malamnya, mereka segera berpamitan pada Denis karena sudah sangat larut.


"Kamu segeralah istirahat," ucap Denis pada Ami setelah mengantarkan tamunya ke depan pintu.


"Iya, Papa juga segeralah istirahat, Ami ke kamar duluan ya," pamit Ami yang hanya dijawab anggukan oleh papanya itu.


Ami memasuki kamarnya, dia segera melompat ke arah ranjang, dia membenamkan wajahnya di bantal, kemudian mengangkat kembali kepalanya.


"Ini bukan mimpi indahku saja, bukan?" gumamnya sambil mencubit pipinya dengan cukup keras, dia pun sedikit meringis saat merasakan sakit.


"Ini benar-benar bukan mimpi, Mas Fariz baru saja melamarku. Bukan hanya itu, tidak akan lama lagi aku akan menikah, benar-benar menikah, bukan cuma khayalanku saja, semoga semuanya berjalan dengan baik, Aamiin."

__ADS_1


__ADS_2