Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Bab 79


__ADS_3

Keesokan harinya, saat pagi menjelang, Fariz secara perlahan mulai membuka matanya, dia merasa tangannya terasa kebas dan saat melihat ke arah tangannya itu.


Seulas senyum langsung hadir di bibirnya yang masih terlihat pucat, melihat siapa yang menindih tangannya itu dengan kepalanya.


Ditatapnya dengan lembut, wajah tenang Ami yang masih berada di alam mimpi itu, secara perlahan, tangannya yang terpasang oleh jarum infusan, terangkat mengusap ujung kepala wanita kesayangannya dengan lembut.


Ami yang merasa dapat usapan lembut dari alam mimpinya itu, secara perlahan mulai membuka mata, saat merasa jika usapan itu tampak nyata.


"Mas, syukurlah Mas sudah bangun," ucap Ami yang segera menegakkan tubuhnya.


Dia menatap Fariz dengan wajah yang berbinar, dia senang melihat pria yang semalaman dia khawatirkan telah membuka matanya, tidak hanya itu, pria itu juga kini tengah memasang senyum tipis dari bibirnya yang masih terlihat pucat itu.


"Kamu dari kapan di sini?" tanya Fariz dengan suara yang masih lemah.


"Aku dari semalam, dari kemarin aku tidak tenang, akhirnya semalam aku mencoba menelepon nomor Mas, tapi yang mengangkat teleponnya malah saudara Mas, dia juga memberitahukan alamat rumah sakit ini," cerita Ami dengan panjang lebar.


"Kamu ke sini malam-malam?"


"Iya." Ami menganggukkan kepalanya.


"Kenap tidak menunggu sampai pagi aja kenapa malam-malam ke sini, kamu juga tidur dengan posisi seperti itu, pasti tidak nyaman," ucap Fariz tersirat sebuah kekhawatiran dari sorot matanya itu.


"Aku baik-baik saja, Mas. Aku tidak bisa nunggu sampai pagi," ucap Ami dengan sebuah senyuman di wajahnya.


"Sekarang sebaiknya kamu pulanglah, ini sudah pagi papa kamu pasti nyariin karena kamu tidak ada di rumah pagi-pagi seperti ini," ucap Fariz,


"Ami akan pulang kok, tapi Ami pulangnya kalau Mas Fariz udah sarapan ya, oh ya ampun aku lupa, aku panggil dokter dulu ya, untuk periksa keadaan Mas."


"Tidak perlu, aku sudah memanggilnya," ucap Aaric yang tiba-tiba saja memasuki ruangan itu.


Dia memang sudah tahu jika Fariz sudah sadar, dia bermaksud akan memeriksa keadaan Fariz tadi, tapi saat melihat dia sudah sadar, Aaric pun meminta suster untuk memanggilkan dokter agar memeriksa keadaan Fariz.


"Tuan, maaf tadi saya lupa," ucap Ami menundukkan kepalanya lagi.


Aaric tidak menyahutinya, dia berjalan ke dekat ranjang Fariz, dia memperhatikan Ami sambil berpikir.


"Semalam aku tidak memperhatikanmu, aku sepertinya pernah bertemu kamu sebelumnya," ucap Aaric menatap Ami dengan seksama.

__ADS_1


"Saya temannya Rayyan, kita pernah bertemu saat pertunangan Mas Fariz," sahut Ami tersenyum tipis pada Aaric.


"Oh." Aaric mengangguk paham, karena ingat saat acara pertunangan Fariz itu.


Saat mereka tengah dalam keheningan, terdengar suara pintu didorong, suster tersenyum ramah pada mereka dan menyapa mereka, disusul oleh seorang dokter yang melakukan hal yang sama dengan apa yang suster itu lakukan.


Dokter dan suster itu pun langsung melakukan tugas mereka itu, Ami dan Aaric masih berdiri tidak jauh dari ranjang pasien memperhatikan setiap gerak-gerik dokter dan suster itu.


Ami yang merasa ingin ke toilet pun, mulai melangkah pergi menuju ke toilet yang ada di ruangan itu, tak lama kemudian suster dokter itu pun selesai dengan tugasnya, dia menjelaskan beberapa hal pada Aaric dan Fariz tentang kondisinya saat ini.


...*****...


"Kamu sarapanlah dulu," ucap Aaric saat Ami baru saja keluar dari toilet. Saat ini posisi Fariz sudah setengah duduk.


"Biar saya yang membantu Mas Fariz sarapan Tuan," tawar Ami pada Aaric yang tengah memegang mangkuk yeng berisi bubur khas rumah sakit.


"Baiklah, aku juga mau nyari sarapan di kantin," ucap Aaric menyimpan mangkuk itu ke nakas.


"Aku mau ke kantin dulu ya, mau membeli kopi," sambung Aaric menatap Fariz yang langsung dijawab anggukan oleh Fariz.


Aaric meninggalkan Fariz dan Ami lagi, Ami segera duduk di kursi tempatnya semula dan mengambil sarapan untuk Fariz.


Ami mengerutkan kening saat melihat ke arah Fariz yang malah melamun, entah apa yang mengganggu pikiran pria itu, hingga tidak mengindahkan apa yang dikatakannya.


"Mas," panggil Ami sambil mengusap tangan Fariz.


"Iya," sahut Fariz tersadar dari lamunannya.


"Kenapa? Apa yang Mas pikirkan?" tanya Ami dengan tatapan lembutnya.


"Dokter mengatakan, jika ada masalah dengan kakiku dan kemungkinan beberapa waktu aku tidak akan bisa berjalan," cerita Fariz.


"Hanya itu?" tanya Ami memastikan.


Fariz menganggukkan kepalanya dengan lemah, Ami tersnyum dan mengusap punggung tangan Fariz,


"Kalau hanya itu jangan terlalu dipikirkan Mas, aku yakin Mas akan bisa berjalan dengan normal lagi," ucap Ami menenangkan Fariz.

__ADS_1


"Tapi—"


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, sekarang sebaiknya Mas sarapan dulu dan minum obat, biar Mas cepat sembuh," potong Ami yang langsung mengarahkan sendok yang sudah terisi itu di depan mulut Fariz.


Akhirnya Fariz pun mulai membuka mulutnya, memakan makanan yang Ami suapkan, wanita itu menyuapi Fariz dengan telaten, hingga akhirnya buburnya telah habis setengah mangkuk.


"Aku udah kenyang," ucap Fariz menahan tangan Ani yang akan menyuapinya kembali.


"Baiklah." Ami menyimpan mangkuk itu dan mengambil air mineral dan memberikannya pada Fariz.


"Kamu pulanglah, papa kamu pasti khawatir," ucap Fariz.


"Mas ngusir aku, aku masih ingin di sini," ucap Ami dengan raut wajah sedih.


"Kamu harus pulang Mi, papa kamu pasti khawatir sama kamu, apalagi kamu pasti ke sini tanpa sepengetahuan papa kamu, lagian sebentar lagi orang-tuaku pasti samapai ke sini, Cindy juga pasti akan ke sini," ucap Fariz dengan nada semakin pelan di akhir kalimatnya,


Mendengar jika Cindy juga akan ke sana, Ami merasa cemburu, dia tidak rela membiarkan Fariz terlalu lama bersama dengan Cindy, tapi lagi-lagi dia mengingatkan dirinya akan posisinya itu.


Dia hanya orang ketiga, dalam hubungan antara Fariz dan Cindy, akhirnya dengan berat hati Ami pun menganggukkan kepala.


"Baiklah, aku akan pulang, tapi bolehkah nanti Ami ke sini lagi, setidaknya sampai Mas keluar dari rumah sakit, karena mungkin setelah Mas keluar dari sini kita tidak akan bisa bertemu seperti ini lagi, mungkin setelah Mas keluar dari sini, Mas akan langsung menikah," ucap Ami berusaha memasang senyumnya.


Fariz menatap mata Ami yang terlihat sudah mulai berembun, tidak ada kata yang keluar dari bibirnya itu, dia hanya menganggukkan kepala dengan tatapan masih fokus pada mata yang mulai memerah itu.


Dia tahu wanita di depannya itu, sedang berusaha menahan tangisnya agar tidak keluar, melihat wanita yang menempati singgasana di hatinya berusaha tersenyum, kala hatinya sakit membuat dadanya sesak.


Seolah dia dapat merasakan sesak yang dirasakan oleh wanita kesayangannya itu, tapi saat ini dia tidak bisa melakukan apa pun, apalagi saat Aaric sudah memasuki ruangan itu dan langsung berbicara.


"Papa sama Mama sudah di parkiran, katanya Cindy juga baru sampai di sana," ucap Aaric membuat Ami tidak mengulur waktu lebih lama lagi untuk tetap berada di sana.


"Ami pulang ya Mas, semoga Mas cepat sembuh," ucap Ami mengambil tas yang tadi disimpannya di meja.


Dia kembali menatap Fariz, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya untuk segera pergi dari ruangan itu.


"Tuan saya pulang dulu," pami Ami membungkukkan badannya saat berhadapan dengan Aaric.


Aaric hanya mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Fariz menatap punggung Ami dengan sedih, dia kemudian menghela napas panjang.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2