Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Percayalah.


__ADS_3

Matahari mulai menampakan dirinya, memberikan sinar dan kehangatannya pada bumi yang masih berselimut embun yang menyejukan.


Ribuan insan sudah mulai melakukan kegiatan mereka di pagi hari itu, begitu pun dengan pasangan yang sudah selesai berkemas barang-barangnya yang akan mereka bawa, kembali pulang ke rumah mereka.


"Mi," panggil Fariz dari luar kamar Ami diiringi dengan suara ketukan pintu kamar tempatnya menginap.


Sang empu kamar itu, bergegas membuka pintu dan menampakkan dirinya pada pria yang kini tengah berdiri dengan memasang senyuman seperti biasa.


"Ayo kita sarapan dulu, setelah itu kita langsung pulang," ucap Fariz.


"Iya ayo, Mas." Ami mengangguk dan melangkah mengiringi langkah pria itu dengan langkah pelan tapi pasti.


Mereka sarapan di restoran yang terletak di seberang hotel tempat mereka menginap, Fariz seperti biasa, dia menggeserkan kursi untuk Ami duduki.


Pelayan di restoran itu, segera mendatangi meja mereka, menanyakan menu apa yang akan mereka makan.


Ami pun melihat menu makanan terlebih dahulu, setelah itu dia menyebutkan makanan apa yang akan mereka makan untuk sarapan mereka itu, setelah mencatat apa yang Ami pesan, pelayan itu pun beranjak dari sana menuju ke belakang.


Suasana di restoran itu tidak terlalu padat, hanya ada beberapa meja yang terisi, membuat Fariz cukup leluasa berada di sana.


"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Fariz memulai percakapan.


"Aku tidur dengan nyenyak, sangat nyenyak bahkan," sahut Ami disertai kekehan.


"Baguslah kalau gitu," ucap Fariz.


"Kalau Mas gimana?" tanya Ami menatap Fariz dengan seksama.


"Aku juga tidur dengan nyenyak, apalagi ada kamu yang menemaniku dalam mimpi itu, hingga aku agak telat bangun," ucap Fariz yang terdengar seperti gombalan bagi Ami.


"Belajar dari mana, sih gombalan seperti itu?" decak Ami.


"Itu bukan gombal, itu memang kebenarannya, aku semakin tidak sabar mewujudkan mimpi itu, setiap saat ada kamu di sampingku, dapat melihat dan menyentuhmu, sebelum atau setelah bangun dari tidurku."


Lagi-lagi tatapan dan ucapan yang mampu menghadirkan ribuan kupu-kupu di hati Ami, dilayangkan lagi oleh pria itu pada Ami.

__ADS_1


Bagaimana aku bisa lepas darimu, jika semakin lama kita bersama, kamu semakin mengikat dan menahan aku di penjara cintamu itu. Batin Ami menjerit dengan tatapan lurus pada pria di depannya utu.


Simpul setiap ikatan dalam hatinya seolah semakin terikat dengan kuat, seiring dengan berlangsungnya hubungan mereka itu.


Bisakah dia menawar padah takdir, agar pria di depannya inilah yang akan terus terikat dengannya untuk selamanya.


Sungguh dia hanya ingin takdirnya bersama dengan pria yang selalu bisa memberikan kehangatan disetiap kata dan prilaku sederhananya.


"Aku pun ingin seperti itu, Mas," sahut Ami yang entah mau mengatakan apalagi.


"Aku akan secepatnya mewujudkan mimpi-mimpi kita itu," ucap Fariz menggenggam tangan Ami yang berada di meja.


Ami hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawban atas pernyataan itu, tak lama kemudian pelayan datang menyajikan pesanan mereka, mereka pun memutuskan untuk memulai sarapan mereka, agar bisa segera pulang.


...*****...


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, mereka baru saja menghabiskan setengah perjalanan, Ami melirik Fariz yang tengah fokus dengan setirnya itu.


Dia dapat melihat ada yang lain dari pancaran wajah Fariz, pria itu seperti tengah bahagia, apa yang membuatnya bahagia, pertanyaan itu muncul di benak Ami.


"Mas hari ini terlihat bahagia, apa yang membuat Mas seperti itu?" tanya Ami yang tidak dapat menahan lagi pertanyaan itu.


"Apa begitu kentara?" tanya Fariz yang malah tersenyum dengan fokus pada jalan di depannya.


"Iya, Mas lagi bahagi ya, bahagia karena apa?" tanya Ami kian penasaran.


"Aku bahagia karena bisa menghabiskan beberapa waktu bersamamu?" sahut Fariz yang tidak mengatakan yang sebenarnya.


Dia tidak memberitahu Ami terlebih dahulu, jika hari ini dia akan mengatakan tentang hubungan mereka pada orang-tuanya, dia akan menjadikan ini sebuah kejutan.


Rencananya dia akan mengatakan semua itu saat orang-tuanya sudah setuju dengan hubungan mereka dan mereka setuju untuk dia mengakhiri pertunangannya dengan Cindy.


"Benaran hanya karena itu?" tanya Ami menatap Fariz dengan penuh selidik. Dia seolah meragukan apa yang Fariz katakan itu.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, jangan menatapku dengan tatapan seperti itu," ucap Fariz yang sadar jika Ami tidak mempercayai ucapannya begitu saja.

__ADS_1


"Bagiku, kebersamaan kita dua hari dua malam itu, benar-benar hal yang membahagiakan, mengingat kita hanya bisa bertemu sebentar dan sembunyi-sembunyi."


Fariz berusaha meyakinkan Ami dengan ucapannya itu, ternyata cara itu berhasil, wanita di sampingnya itu membenarkan apa yang diucapkannya itu.


"Iya kamu benar Mas, sekarang saja tidak akan lama lagi, aku akan sampai di rumahku, itu artinya kita akan jarang bertemu lagi dan jika kita bertemu pasti dengan waktu yang singkat," sahut Ami yang tiba-tiba saja menjadi sedih.


"Mas apa hubungan kita akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan?" tanya Ami menghadap ke arah Fariz.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya Fariz dengan mengerut.


"Aku hanya takut, apa yang menjadi anganku, semuanya akan lenyap dan hanya akan jadi angan semata," sahut Ami dengan wajah yang tiba-tiba saja menjadi sendu.


Fariz menghentikan mobil yang telah sampai tepat di depan gerbang rumah Denis itu, dia kemudian menghadap pada Ami, diambilnya kedua tangan Ami dan diusapnya dengan lembut.


"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan, itu hanya akan membuatmu tidak senang, kamu tenang saja, aku akan berusaha agar hubungan kita bisa berjalan sesuai dengan apa yang telah kita harapkan."


"Kamu bisa memegang setiap ucapanku ini, apa pun yang akan terjadi di depan sana, aku akan melakukan apa pun agar mimpi kita untuk bersama dapat menjadi nyata, kamu hanya perlu menungguku dengan tenang, hingga aku dapat mewujudkan mimpi itu."


"Bisakah kamu menungguku, untuk memberikan kabar baik untukmu," ucap Fariz menatap Ami dengan intens.


Mata Ami sudah mulai berembun mendengar apa yang keluar dari mulut Fariz itu, dia menganggukkan kepalanya dan langsung mengaburkan diri ke pelukan Fariz.


"Aku akan menunggumu Mas, aku tidak pernah meragukanmu, hanya saja aku selalu merasa takut, takut untuk berjauhan lagi denganmu, takut akan menjadi orang asing lagi dalam hidupmu."


Ami kembali menumpahkan unek-unek dalam hatinya, meskipun dia selalu berusaha meyakinkan dirinya jika apa yang Fariz ucapkan itu akan terjadi.


Namun, tetap saja ketakutan-ketakutan itu selalu hadir, seolah menjadi mimpi buruk yang mengganggu dirinya,


Fariz melepaskan pelukan mereka, dia menangkup kedua pipi Ami dengan kedua tangannya, dengan tatapan lembutnya dia mengusap air mata yang ada di pipi wanita tercintanya itu.


"Selamanya kita tidak akan berjauhan lagi, kecuali jika maut yang menjadi pemisah di antara kita, kamu juga tidak akan pernah menjadi orang asing dalam hidupku dan hatiku."


"Kamu akan jadi orang yang paling penting, baik dalam hidup atau dalam hatiku, selamanya akan tetap seperti itu," ucap Fariz menempelkan keningnya dan kening Ami.


"Aku mohon jangan bersedih karena hal yang belum tentu terjadi, kamu yang sedih seperti ini membuatku jadi ikut sedih."

__ADS_1


__ADS_2