Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Jatuh di Kamar Mandi.


__ADS_3

Ami saat ini sedang mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower.


Saat menyimpan sampo, ke tempatnya semula, dia tidak sengaja menyenggol wadah sabun mandi, hingga sabun itu jatuh dan tutupnya terbuka.


Sabun itu tumpah hingga membuat lantai penuh dengan air dan busa sabun, hal itu membuat lantai jadi licin.


Ami menyelesaikan mandinya dan mengambil jubah mandi, tidak lupa juga, dia mengambil handuk dan melingkarkan handuk itu di kepalanya.


Dia mengira, jika tutup sabun yang dijatuhkannya tidak terbuka, hingga dengan santainya dia berjalan bermaksud mencari wadah sabun.


Namun, nahas karena lantai yang licin, dia pun terjatuh dan b*k*ngnya menyentuh lantai dengan kasar, hingga menimbulkan suara yang dihasilkan dari cipratan air yang masih meggenang.


"Awwww," ringisnya dengan suara tertahan, rasa linu pun tidak terelakkan lagi b*k*ngnya itu.


Fariz yang secara kebetulan sedang berada di depan kamarnya, bermaksud akan memanggilnya untuk sarapan pun, mendengar suara ribut yang disusul dengan suara si penghuni kamar itu.


"Suara apa itu?" gumam Fariz dengan heran.


Karena merasa khawatir, takut terjadi sesuatu pada Ami, dia pun segera membuka kamar itu dan memasuki kamar.


Fariz melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar mandi karena dia yakin, jika suara Ami berasal dari kamar mandi.


"Mi, kamu kenapa?" tanya Fariz sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Aku jatuh, Mas," sahut Ami dari dalam kamar mandi.


"Bagaimana kamu bisa jatuh? Apa kamu bisa berdiri atau jalan keluar dari sana?" tanya Fariz sambil berdecak.


Bisakah wanita itu tidak ceroboh, baru saja kemarin kakinya terluka lagi dan sekarang jatuh di kamar mandi.


"Pergelangan kakiku sakit, kayaknya terkilir deh."


"Ya udah biar aku masuk—"


"Tunggu, untuk apa Mas masuk?" tanya Ami yang menjadi panik.


"Ya bantu kamu keluarlah, emang kamu mau mati kedinginan di sana hah!" decak Fariz.


"Tapi jubah mandiku basah, bisa tolong panggilkan Bi Ijah saja gak, Mas? Buat ngambilin jubah mandinya dan bantuin Ami keluar dari sini."


Fariz tidak bicara lagi, dia berjalan menuju ke lemari dan mencari jubah mandi untuk Ami, setelah mendapatkannya pria itu membawanya ke depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


Dia membuka pintu kamar mandi sedikit dan memasukkan tangannya yang memegang jubah itu ke dalam.


"Ini, di pintu. Bisa jalan sedikit ke sini gak?" tanya Fariz.


"Bentar, sshhh." Ami meringis saat mencoba berdiri dan ternyata kakinya terasa ngilu.


Dia memaksa kakinya yang sakit itu untuk berjalan ke arah pintu, dia meraba pintu dan tangannya dapat menggenggam tangan besar Fariz.


Untuk beberapa saat seperti ada aliran listrik yang mengalir ke dalam tubuhnya, saat tangan mungilnya dapat menyentuh tangan kokoh itu.


Meskipun ini bukan pertama kali dia menyentuh tangan pria itu tanpa sengaja, tapi saat ini seolah ada yang berbeda.


"Ma-makasih, Mas." Ami segera mengambil jubah mandi itu, sumpah demi apa pun dia merasakan jantungnya berdebar saat ini.


"Cepatlah, setelah selesai memakainya panggil aku lagi," ucap Fariz yang terdengar biasa saja, setelah itu menutup kembali pintunya.


Tidak Ami, kamu harus sadar diri, jangan gampang terbawa perasaan, batinnya menenangkan hatinya yang masih berdebar.


Ami seolah sudah berjaga-jaga, membentengi hatinya dengan kokoh, agar tidak mudah terbawa suasana lagi, di tidak ingin kecewa untuk kesekian kalinya karena sebuah rasa yang dinamakan cinta.


Kenangan saat bersama Daffin, membuat dia menilai, sebaik apa pun pria. Pasti ujung-ujungnya dia akan terbuai dengan cinta lain, cinta dari wanita yang menurutnya lebih sempurna.


"Apa kamu pingsan di dalam?"


Suara Fariz membuat kesadarannya kembali, terlalu asyik melamun, hingga tanpa sadar dia sudah membuat pria yang sedang menunggunya itu terlalu lama.


Dia pun segera mengganti jubah mandinya yang basah dan setelah itu membuka pintu.


"Maaf lama, Mas."


Fariz tidak menyahut, dia langsung menggendong Ami dan membawanya ke ranjang. Diturunkannya tubuh ramping itu ke ranjang dengan hati-hati.


"Aku akan meminta Bi Ijah untuk menyiapkan bajumu, setelah kamu selesai, aku akan ke sini lagi," ucap Fariz.


"Makasih, Mas," sahut Ami sambil tersenyum.


Fariz keluar dari kamar itu dan menuju ke dapur, meminta Ijah yang baru selesai membuatkan sarapan untuk membantu Ami.


"Kenapa bisa jatuh sih, Non?" tanya Ijah saat mengambil baju di lemari.


"Aku gak sengaja numpahin sabun mandi, Bi. Jadi lantainya licin," terang Ami sambil terkekeh karena sadar dengan kekonyolan dirinya yang terus saja membuat masalah.

__ADS_1


"Ada-ada saja sih, Non. Ya udah ini bajunya mau Bibi bantu pakaikan?" tawar Ijah menyimpan baju ke pangkuan Ami.


"Tidak perlu, Bi. Aku bisa sendiri," sahut Ami tersnyum.


"Ya sudah kalau bisa, Bibi keluar dulu ya."


"Iya, makasih ya, Bi."


"Iya sama-sama, Non."


Ijah keluar dari kamar Ami dan kembali ke dapur, saat sampai di dapur. Dia melihat Fariz sedang menyantap sarapannya.


"Apa dia sudah selesai?" tanya Fariz, membuat Ijah menghentikan langkanya sejenak hingga dia berdiri di dekat meja makan.


"Belum, Tuan." jawab Ijah.


"Siapkan makanan untuknya sarapan dan antarkan ke kamarnya, jangan biarkan dia turun dari ranjang untuk beberapa hari ini," perintah Fariz.


"Baik, Tuan. Saya akan segera menyiapkan makanannya, permisi, Tuan," ucap Ijah yang langsung undur diri, dari hadapan Fariz dan melakukan sesuai yang Fariz perintahkan.


Sementara itu, Fariz yang sudah selesai dengan sarapannya tidak langsung pergi, melainkan pergi lagi ke kamar Ami.


"Apa kamu sudah berpakaian?" tanya Fariz sambil mengetuk pintu.


"Sudah, Mas." Terdengar sahutan dari dari dalam.


Fariz pun membuka pintu dan melihat, ternyata wanita itu memang sudah memakai pakaiannya dan saat ini dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Biar aku memeriksa kakimu," ucap Fariz yang bersiap untuk menyentuh kaki Ami.


"Tidak perlu, Mas. Ini sebentar lagi pasti akan kembali baik," tolak Ami secara halus, dia merasa canggung untuk berkontak pisik dengan pria di depannya itu lagi.


"Bagaimana kalau ternyata makin parah karena tidak segera ditangani, kamu memangnya mau apa cacat seumur hidup," ketus Fariz karena merasa kesal dengan penolakan dari Ami.


"Bukankah, aku memang sudah cacat!" lirih Ami dengan kepala menduduk.


Fariz yang sadar telah salah bicara, langsung merutuki dirinya. Wanita di depannya itu lebih sensitif, seharusnya dia tidak asal bicara.


"Maaf aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin memeriksa kakimu saja, karena kalau dibiarkan takutnya malah tambah parah," terang Fariz dengan nada yang terdengar sangat lembut di pendengaran Ami.


Entah itu nyata atau hanya angan Ami saja, mendengar suara lembut dari pria di depannya itu, seolah ada rasa hangat yang menjalar dari setiap sendinya hingga sampai ke hatinya.

__ADS_1


__ADS_2