Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 100


__ADS_3

Rin POV


Mendengar suaranya, melihat kalau dia kini duduk di sampingku benar-benar langsung membuat suasana hatiku membaik. Wajahnya yang takjub melihat ombak-ombak yang sedang mengelar pertunjukan tari terlihat sangat tampan.


"aku kangen sama kamu, Rin...," ungkap Iskandar.


"eh? apa?"


Ia kini menoleh ke arahku dan langsung menatap mataku,


"aku kangen sama kamu.., sejak tadi pagi aku gak lihat kamu..," katanya. Padahal kita berdua berangkat bersama menuju Bus tempat menjemput kami.


"uhm.., aku juga..," kataku mengungkapkan isi hatiku yang sangat ingin bertemu dengannya.


"juga?" Iskandar tersenyum.


"kamu, sih teralu asyik main sama anak-anak. Kalo udah main, kamu tuh suka lupa kalo udah punya tunangan !!" kenapa aku malah marah-marah?


"ah.., maaf,ya Rin.., kamu kesepian,ya?" tanya Iskandar.


"gak usah ditanya !!" kataku malah makin jutek.


"kalau begitu mulai dari sekarang aku bakalan di samping kamu." kata Iskandar.


Aku memandang wajah Iskandar, Hatiku dari tadi sudah sangat ingin mengungkapkan perasaanku ini padanya, tapi kenapa lidahku kelu?


"oh,iya.., Apa kamu udah memutuskan, mau melanjutkan pertunangan ini atau enggak? uhm.., maaf,ya kalo kamu merasa tertekan.., tapi aku bener-bener penasaran dengan perasaanmu padaku...,"


Iskandar lalu memandangku sambil tersenyum,


"tapi jika kamu mau menghentikannya juga tidak apa-apa. Aku akan menerima semua keputusan kamu."


"Aku__,"


"Stop !" Iskandar malah menutup mulutku yang sudah sangat siap untuk mengungkapkan perasaanku ini.


"sebelumnya aku akan memberitahu kamu, apakah kamu harus memutuskan iya atau tidak..," katanya.


"Apa? Apa yang harus kamu kasih tau??!!" tanyaku.


"uhm.., pertama aku ini tidak punya apa-apa.., Meskipun aku ini anak jendral, tapi kekayaan dan harta yang aku gunakan bukan milikku, tapi fasilitas dari orang tuaku. Aku memang pelatih anak-anak di Dojo Papi, tapi hanya itu yang bisa aku kerjakan sekarabg. Sedangkan untuk ke depannya karena aku memang sudah diterima di kedokteran hewan, maka aku akan berusaha di sana. Jadi, pikirkanlah baik-baik, apa kamu tetap mau bersamaku atau tidak..," kata Iskandar panjang lebar. Aku melihat dirinya yang tidak percaya diri. Bukan seperti dirinya.


Aku memicingkan mataku,


"ugh.., kamu mau sombong ya karena sudah diterima universitas dengan jurusan yang kamu inginkan.., menyebalkan..," kataku sambil melipat tanganku.


"eeh?? Bu,bukan begitu..., Tapi.., maksudnya, hidup denganku mungkin akan sedikit berat, makanya...,"


"kalo bukan sama kamu, sama siapa lagi aku bisa hidup??" kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.


"apa? Ma, maksudnya?"


Aku sempat merasa salah bicara, tapi masa dia gak ngerti juga, sih??


"Rin?"


"aku gak suka sama kamu !!" Aku kaget, kenapa aku malah bicara begitu??


"ah..., ternyata dugaanku selama ini salah,ya..," kata Iskandar.


"salah?"


"aku kira kamu juga menyukaiku, tapi ternyata tidak,ya..," katanya kecewa, tapi berusaha tabah.


"enggak !! enggak !! Bukan itu !! Aku gak suka sama kamu yang kayak gini. Iskandar yang aku kenal itu selalu punya strategi untuk menyelesaikan masalah, selalu percaya diri, bukan Iskandar yang teralu merendah begini...," kataku buru-buru.


Iskandar hanya memandangku heran,


"meskipun.., meskipun hidup sama kamu nantinya akan berat, aku mau,kok jalanin itu sama kamu, tapi harus ada syaratnya!"


"apa?"


"pastikan kalau kita akan berhasil !!" kataku.


Iskandar lalu tersenyum,


"jadi, Apa perasaan kamu padaku__,"


CUP !


Aku langsung mencium pipinya, Ia sampai mematung karena kaget, bahkan wajahnya langsung berubah jadi merah,


"Rin??" katanya. Ternyata lelaki ini sungguh sangat polos.


"Aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu.., Aku gak mau kehilangan kamu..," Akhirnya aku mengungkapkannya.


Iskandar masih memandangiku. Aku tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan,


"maka dari itu.., Aku tidak akan membatalkan pertunangan ini. Lebih baik kita lanjutkan saja.., karena.., karena.., Cuman kamu yang mampu aku toleransi !" Ya, keanehannya, sikap disiplinnya, cara dia marah, kepolosannya, pemikirannya, semua yang ada pada Iskandar aku menyukainya. Sekalipun itu adalah kekurangannya, maka itu saja yang mampu aku toleransi.


Iskandar tertawa, namun matanya berkaca-kaca,

__ADS_1


"ke,kenapa kamu tertawa?" tanyaku.


"kamu ternyata romantis banget,ya...," katanya.


"eeh?"


"hatiku benar-benar tersentuh dengan kalimatmu. Aku seolah jatuh cinta lagi sama kamu...," katanya.


"apaan, sih? Kamu bikin aku malu, tau !!" Kenapa dia malah mengungkapkan perasaanya, detak jantungku jadi tidak beraturan sekarang.


"aku tanya sekali lagi, kamu yakin mau menerima aku sebagai pasangan kamu? meskipun sekarang aku tidak punya apa-apa, tapi bukan berarti di masa depan aku masih sama. Aku adalah roda yang selalu bergerak dan tidak suka berhenti, maka dari itu, kamu harus siap." kata Iskandar.


"kamu lagi melamarku atau bagaimana?"


"bisa dibilang begitu."


"iya, aku mau. Sangat mau. Kamu yang mengajariku kalau hidup bersama itu harus saling menerima, hanya kamu yang bisa aku terima, tapi aku gak tau kalo kamu, mau Nerima aku apa enggak..," kataku.


Iskandar langsung memelukku,


"mau lah.., satu-satunya perempuan yang boleh ada di sisi Iskandar Radjamuda Utama hanyalah Arini Kalista...," katanya lalu menatap mataku lagi. Tangan kiriya masih memeluk pinggangku, dan tangan kanannya perlahan-lahan menyentuh Pipiku. Entah kenapa ditatap seperti itu membuat detak jantungku berdegup kencang.


Deg


Deg


Deg


Apakah ini bunyi detak jantungku, atau detak jantungnya? Entahlah. Kini mataku tidak bisa kabur dari tatapannya, Perlahan-lahan ia mendapatkan wajahnya, Aku memejamkan mataku seolah mengizinkannya untuk melakukan apa yang memang ingin ia lakukan. Aku bahkan bisa merasakan deru napasnya,


"ISKANDAR !!!!!" Tiba-tiba malah ada yang memanggil namanya, membuat ia menghentikan apa yang tadi akan ia lakukan.


Iskandar melepas pelukannya dan menoleh,


"ya ampun.., kenapa Keisha malah muncul di saat seperti ini??" katanya kesal. Aku juga kesal, tapi jadi tertawa karena melihatnya kesal.


Keisha yang tadi berteriak memanggilnya langsung berlari mendatangi kami


Iskandar berdiri,


"ada apa?" tanya Iskandar agak kesal.


"Yura.., tolong Yura.., dia pingsan tadi pas kita lagi main.., tolong angkat dia dan bawa ke kamarnya. Dari tadi aku udah nyari-nyari anak cowo atau guru, dan cuman kamu yang aku temuin...," kata Keisha panik. Yura memang sakit tadi, sepertinya dia belum sembuh.


"ah, tapi..," Iskandar melirikku.


"bawa dia ke ruang kesehatan di cottage, Iskandar.., Yura emang dari tadi pagi udah sakit...," kataku.


"hmph.., aku..,"


"gak apa-apa..., aku percaya sama kamu,kok.., Lagipula Yura itu teman kita." kataku.


"baiklah..," katanya lalu berlari mengikuti Keisha. Aku hanya mengikutinya dari belakang.


*


Author POV


Iskandar menggendong Yura dan membawanya ke ruang kesehatan yang tersedia di pusat cottage,


Yura membuka matanya setelah diberikan aroma terapi,


"Yura? kamu baik-baik aja,kan?" tanya Keisha.


"Keisha..," kata Yura.


"Yura ada di mana?"


"lu ada di ruang kesehatan." kata Iskandar.


"aduh.., maaf,ya.., Yura merepotkan,ya..,"


"enggak, ini salah Keisha yang maksa Yura buat main.., harusnya Yura istirahat aja di cottage..," kata Keisha merasa bersalah.


CKLEK!


Tiba-tiba pintu terbuka,


"Yura ada dimana ??" Tiba-tiba Ori muncul dengan penuh kekhawatiran.


"dia di sini..," kata Iskandar.


"Ori ..," kata Yura yang kaget karena Ori yang mengkhawatirkannya.


"lebih baik kita keluar aja dulu..," kata Rin.


"bicaralah dari hati ke hati...," kata Iskandar menepuk-nepuk pundak Ori lalu keluar dan diikuti oleh Rin dan Keisha.


Ori langsung menghampiri Yura dan memegang tangannya,


"Yura..., Yura ngapain aja?? kenapa bisa pingsan? Bikin Ori khawatir, tau gak !"

__ADS_1


"sebenarnya Yura cuman agak ngantuk tadi.., mungkin efek obat, waktu abis makan siang Yura minum lagi karena masih belum hilang pusingnya..," kata Yura.


"ya ampun.., jadi Yura ngantuk.., dasar !" kata Ori agak kesal.


"hihi.., maaf, deh udah bikin Ori khawatir...," kata Yura.


"kalau gitu, harusnya Yura istirahat aja.., mau Ori anterin ke cottage?" tanya Ori.


Yura malah tersenyum dan tidak menjawab apa-apa,


"kenapa? apa ada yang aneh?"


"Ori.., Ori masih suka,kan sama Yura?" tanya Yura.


"hah?"


"kalau iya, Yura mohon bilang iya.., tapi kalau enggak_,"


"iya.., Ori suka sama Yura, tapi kali ini Ori benar-benar suka sama Yura bukan karena terpaksa atau apapun." kata Ori percaya diri.


Senyum Yura langsung mengembang dan langsung memeluk Ori,


"terimakasih Ori, terimakasih karena sudah membalas perasaan Yura !!" kata Yura. Ia lalu melepas pelukannya dan memandang wajah Ori yang memerah,


"uhm.., jadi.., apa kita bisa balikan?" tanya Yura.


"Yura, kali ini izinkan Ori yang menyatakan perasaan duluan..," pinta Ori malu-malu.


Yura tersenyum malu-malu,


"baiklah..,"


"kalau begitu.., Yura, Ori suka sama Yura.., Yura mau, gak jadi pacar Ori..., lagi?" tanya Ori.


Yura langsung memeluk Ori,


"mau !!! mau banget !!!" kata Yura. Ori lalu membalas pelukan Yura.


*


Iskandar dan Rin jalan berduaan di pinggir pantai,


"kira-kira.., mereka sudah menyatakan perasaannya belum,ya?" tanya Rin.


"mungkin udah..," kata Iskandar sambil menggandeng tangan Rin.


"berarti sudah selesai,ya..," kata Rin lagi.


"entahlah. Masalah lama selesai, itu berarti masalah baru akan datang." kata Iskandar lagi.


"uhm.., jadi.., gimana hubungan kita? apa setelah ini kita bakal nikah?" tanya Rin.


"eh? itu__,"


"Iskandar !!! Rin !!" Tiba-tiba Idho datang sambil membawa kamera,


Cekrek


cekrek


Idho memotret Iskandar dan Rin yang sedang bergandengan tangan.


"woah.., dua sejoli ini dasar.., " kata Idho.


"dicariin, nih buat dokumentasi BUTA..," katanya.


"ya ampun.., lu, ya motret-motret seenaknya aja??" kata Iskandar kesal.


"ahaha.., lihat aja, nanti kalo kalian nikah, pasti minta foto dari gue..," kata Idho melihat hasil jepretannya,


"wuih.., bagus juga..,"


"mana lihat?" tanya Iskandar.


"eits.., nanti aja, tunggu BUTA nya terbit..,"


"heh, ini namanya melanggar privasi orang !!" kata Iskandar.


"Wee.., sini kalo mau lihat kejar gue..," ledek Idho lalu berlari.


"awas lu,ya !!" kata Iskandar malah mengejarnya.


Rin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya,


"huh.., dasar !!" kata Rin lalu ikut mengejar Idho.


"Idho !! cepet ke sini gak lu !!!" kata Iskandar dan Rin kompak.


-End-


Nantikan cerita extranya ya

__ADS_1


__ADS_2