
♥️♥️Kalian suka cerita ini? jangan lupa like, comment dan vote ya. Dukungan kalian sangat berharga bagi Author ♥️♥️
.
.
.
Minggu UTS (Ujian Tengah Semester) cukup melelahkan karena banyak materi kelas dua belas yang dikebut dan masuk di materi ujian tengah semester. Setelah ujian tengah semester akan ada konsultasi untuk anak-anak kelas dua belas untuk menentukan pilihan studinya setelah lulus SMA.
Keisha mengajak Rin pergi ke cafe dekat sekolah untuk refreshing, tapi tadi dia dipanggil oleh Mr. Andrew untuk mengikuti lomba speech lagi untuk yang terakhir kalinya. Akhirnya Rin menawarkan diri untuk pergi duluan karena cafe itu sangat ramai dan harus cepat-cepat mendapatkan tempat.
Rin berjalan sendirian di trotoar. Cafe hanya berjarak 300 meter. Tidak teralu jauh.
Tap
Tap
Tap
Rin merasa dari tadi seperti ada orang yang mengikutinya. Ia lalu menengok ke belakang dengan cepat. Sayangnya tidak ada seorangpun yang mencurigakan.
"Rin.., pasti perasaan lu aja." kata Rin lalu berjalan lagi.
Tap
Tap
lagi-lagi langkah itu, jelas irama langkahnya sama seperti miliknya, Rin lalu menoleh lagi ke belakang, tapi nihil, tidak ada siapa-siapa di belakangnya.
"awas,ya, siapapun yang ngerjain gue, gak akan gue ampuni !!!" kata Rin karena sudah gerah.
Tiba-tiba ada orang yang memegang pundaknya. Rin sampai terhenyak kaget, seolah ada listrik yang menyetrum seluruh tubuhnya. Ia memejamkan matanya,
"******!" batinnya.
"Rin..," Suara berat yang sangat Rin kenal, ia langsung berbalik.
"Iskandar !!!!" katanya lalu langsung berbalik dan menangis.
"hwaaa !!!" rengek Rin yang tadi sempat takut, tapi langsung lega.
"Ri,Rin..., kok lu...," Rin langsung memeluk Iskandar saking leganya.
"gue kira orang jahat..., hwaa...," kata Rin di sela tangisnya.
"ya ampun.., udah-udah.., sorry,ya.., gue yang dari tadi ngikutin elu..," kata Iskandar.
Rin melepas pelukannya, lalu memukul dada bidang Iskandar,
"dasar nyebelin !! gue takut tau !!!" katanya.
__ADS_1
"iya,iya.., sorry-sorry...," kata Iskandar.
"huhu...,"
"udah jangan nangis lagi.., dasar cengeng...," ledek Iskandar.
Bug !
Rin memukul dada Iskandar lagi,
"udah ngerjain, ngatain lagi..., hwaa...," rengek Rin.
*
Akhirnya Iskandar menggendong Rin di atas punggungnya sebagai permintaan maafnya. Rin yang iseng mengacak-acak rambut Iskandar yang keriting,
"Iskandar..,"
"hm?"
"kok rambut lu lebat banget, sih? kayaknya kemarin botak habis..,"
"pft.., kan udah tiga bulan lalu. masa botak Mulu...,"
"yah.., cepet aja gitu tumbuhnya." kata Rin sambil melingkarkan rambut keriting Iskandar di telunjuknya.
"ternyata lucu juga,ya rambut elu..ugh.., gemess...," kata Rin gemes sendiri.
"siapa yang lucu? gue?"
"iya, makanya gue suka sama elu__, eh?" Di saat yang bersamaan ada sebuah motor yang melaju sangat kencang sambil mengklakson siapa saja yang menghalangi. Mata Iskandar langsung melotot karena sadar apa yang barusan ia katakan, ia reflek langsung mengusap mulutnya.
"Iskandar.., tadi lu ngomong apa? gara-gara motor tadi, gue jadi gak denger...," kata Rin lalu mendekatkan telinganya ke wajah Iskandar.
"Ah.., enggak.., gak apa-apa.., tuh.., kita udah sampe cafe..," kata Iskandar sambil menurunkan Rin dari punggungnya. Sebenarnya terbesit rasa kecewa di hatinya karena Rin tidak mendengarkan apa yang barusan ia bilang.
Saat mereka masuk cafe ada seseorang yang langsung mengenali mereka, tapi pura-pura tidak melihat,
"ya ampun..., dua sejoli malah makin lengket aja.., kok gue kesel,ya ngeliatnya?" kata Dion sambil menghisap rokoknya.
"lu gak suka sama mereka?" kata Emalia yang tidak mau wajahnya dikenali oleh Rin dan Iskandar.
"benci.., apalagi Iskandar. Sok bersikap pahlawan di depan Yura. Sekarang Yura benar-benar benci gue...," kata Dion marah.
Emalia langsung tersenyum. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya.
"Dion.., lu mau gak bantu gue, ngerjain si Iskandar sedikit...," kata Emalia.
Alis Dion naik sebelah, Ia lalu tersenyum,
"kayaknya seru. Lu perlu bantuan apa dari gue?" kata Dion sambil tersenyum.
__ADS_1
*
Ori berdiri di depan rumah Yura. Entah apa yang membuat kakinya jalan ke sini. Mungkin saja hatinya. Ori menarik napas dalam-dalam,
"Ori, ingat, lu itu ke sini karena Yura udah tiga hari gak masuk padahal ini Minggu ujian. Lu disini hanya berperan sebagai teman sebangku yang merindu__, ah, bukan. Teman sebangku yang mengingatkannya kalau dia harus segera masuk untuk ujian susulan." kata Ori berbicara sendiri.
Ori menarik napas lagi,
"selain itu, gue juga di sini sekalian memberikan catatan untuk ujian...," kata Ori lagi lalu tangannya memencet bel rumah Yura .
"eh? Gue udah pencet belnya? Aduuh.., Ori, harusnya lu mempersiapkan diri dulu...," katanya malah panik sendiri dan tak lama kemudian jendela kecil di pintu gerbang terbuka, muncul wajah seorang laki-laki yang sedang tersenyum padanya,
"hallo..,"
"Waa !!" kata Ori kaget.
"ahaha.., maaf, maaf.., aku mengagetkanmu,ya?" tanya laki-laki itu.
"kakaknya Yura mau ketemu sama elu!"
Tiba-tiba terngiang kalimat Rin di benak Ori,
"apa ini Yuga, kakaknya Yura?" batin Ori.
"uhm.., berkacamata, rambut belah tengah, tinggi badan kira-kira seratus enam puluh lima, kamu pasti Mao Riyandi Rahyudi atau akrabnya dipanggil Ori?" tanya laki-laki itu.
"ke,kenapa anda tahu nama saya?" tanya Ori sopan.
"ah.., jadi benar dugaanku. kalau begitu tunggu sebentar." kata laki-laki itu tidak menjawab sama sekali dan malah menutup jendela kecil itu. Ia lalu keluar dari pintu gerbang,
"hallo, Ori..," kata laki-laki itu mendekati Ori dan merangkulnya,
"uhm..,, maaf, tapi bolehkah saya tahu, anda ini siapa? kenapa ada di rumah Yura?" tanya Ori.
Laki-laki itu tersenyum sambil membawa Ori masuk,
"pasti kamu sudah menebaknya,kan kalau aku ini adalah Yuga?" kata Yuga membuka identitasnya.
"Ah.., iya, sebenarnya iya..," kata Ori.
"Aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku benar-benar sudah lama menunggumu,loh..," kata Yuga.
"ah. , iya.., saya juga pernah dengar hal itu..,"
"ayo, ayo masuk, kita ngobrol di dalem...," kata Yuga.
Ori diam-diam menelan ludahnya, entah kenapa tiba-tiba ia merasa gugup.
"memangnya aku ke sini untuk ngobrol dengannya??" batin Ori
*
__ADS_1