
Aku berada di kamar Dita sejak kejadian tadi, bahkan waktu Maghrib sudah lewat. Aku memeluk Pineapple untuk menenangkan diriku, sepertinya aku jadi suka pada kucing berbulu kuning keemasan ini,
"Dita.., Kira-kira Iskandar udah keluar belum,ya?" tanyaku.
"yah udahlah, kak Rin. Mas Iska itu kalo sholat,kan di Masjid."
"duuh.., bentar lagi makan malem,ya? Gue harus menghadapi dia kayak gimana??" tanyaku bingung.
"yah hadapin aja...,"
"bantuin, ya kalo dia marah-marah.., belain...," kataku yang panik, entah kenapa kalau sama Dita aku cukup nyaman.
"pft.., iya-iya..., tenang aja,kak...,"
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba pintu kamar Dita diketuk,
"Dita..., udah pada sholat belum?" tanya Iskandar dengan suara yang cukup lantang.
"udah !!" kata Dita.
"ya udah, kalo gitu turun ke bawah. Makan malem...," kata Iskandar lagi.
"iya !!"
"oh,iya.., bilangin Rin, bubble drink tea nya udah sampe...," kata Iskandar lagi.
"iya, Mas Iska, kita beres-beres dulu,ya...," kata Dita.
Aku benar-benar tidak bisa bernafas ketika mendengar suara Iskandar, bahkan dia enggan bicara padaku.
"udah,kak Rin.., udah boleh napas..," kata Dita yang menyadari aku menahan napas dari tadi.
"fiuh....," kataku menghembuskan napasku.
"pft.., kak Rin lucu, deh..., pantesan Mas Iska tuh suka sama kak Rin...,"
"hah? suka?" tanyaku, sesaat jantungku berhenti berdetak saking kagetnya dan sekarang seolah ada listrik yang menyengat tubuhku.
"dugaan doang, sih...," katanya membuatku lemas.
"hahaha.., soalnya aneh tadi,tuh.., Mas Iska itu selalu bisa menghindari berbagai serangan dalam bentuk apapun..,"
"se, serangan?"
"iya, tapi tadi, tuh kayak Mas Iska gak menghindari kak Rin, malah sebaliknya, dia gak ngebiarin kak Rin jatuh ke lantai." Dita tersenyum,
"kalo itu kak Idho, pasti Mas Iska langsung menghindar dan akhirnya kak Idho jatuh ke lantai, hahaha...," kata Dita tertawa lagi.
"apa Iska berusaha melindungi gue? Duuh.., boleh,gak sih berharap kayak gitu? Tapi kalo gue berharap dan kenyataannya gak sesuai harapan, gue yang bakal sakit hati..., ugh..," batinku.
"kak Rin ! Ayo makan malem, Pineapple tinggalin aja di kamar aku dulu, nanti kita pulangin abis makan malem." kata Dita.
"eh, iya-iya..," kataku lalu mengikutinya.
__ADS_1
*
Iskandar sudah duduk di mejanya sambil mengunyah makanan,
"kalian lama banget turunnya...," komentarnya.
"yah, Mas Iska kayak gak tau cewek aja, sih...," kata Dita.
"oh,iya, bubble drink tea kalian ada di kulkas. Gue harap, sih kalian gak minum itu sekarang karena gue barusan buat jus timun__"
"minum sekarang aja, deh Mas Iska...," kata Dita buru-buru.
Iskandar berhenti dari aktivitas makannya dan mulai menatap Dita,
"jadi elu yang mau beli bubble drink tea lewat aplikasi Rin buat menghindari jus sayuran dan buah-buahan yang dengan sepenuh hati gue buat?" tanya Iskandar. Ya ampun, setelah sekian lama, sisi dirinya yang seperti ini muncul lagi.
"ehm.., itu.., itu...,"
"Dita, jangan bersembunyi di belakang Rin atas kesalahan lu."
"eeh..., apa dia membela gue?" batinku.
"enggak, Mas Iska..,"
"enggak apa?" tegas Iska.
"uhm.., ugh.., iya, deh.., Dita emang menghindari minum jus buatan mas Iska, soalnya Dita gak suka...," kata Dita.
Iskandar menghela napas,
"Rin, lain kali jangan selalu mengikuti keinginannya, dia ini suka bersikap seenaknya..," kata Iskandar. Sepertinya dia memang tidak marah padaku.
"uhmm.., baik-baik..," kataku berusaha menengahi pertengkaran dua bersaudara ini. Lalu mataku ini langsung menatap Iskandar dan mata kami langsung bertemu,
"ada yang mau lu omongin sama gue?" tanya Iskandar yang langsung menyadarinya.
"uhm.., i,iya..,"
"apa?"
"soal kejadian tadi...,"
"gak usah dipikirin...," kata Iskandar buru-buru, tapi matanya tidak menatapku, sepertinya dia menghindariku.
"oke..," kataku lalu kembali fokus pada makanan yang sudah aku ambil.
"ih.., Mas Iska jangan galak-galak, dong sama kakak ipar ku !!" kata Dita sambil memeluk lenganku.
"siapa yang galak? Mas Iska cuman gak mau bikin Rin jadi canggung, apalagi besok di rumah cuman ada Mas Iska dan Rin...," kata Iskandar lalu menyuap makanannya.
"dia yang manggil dirinya sendiri pake nama kok jadi kelihatan imut? Unch...," batinku sambil senyum-senyum.
"lu senyum-senyum kenapa Rin?" Lagi-lagi dia memergoki ekpresiku.
"kesenengan, Mas..., soalnya besok bakal ngejalanin tutorial jadi pasutri baru sama Mas Iska...," kata Dita.
"Dita...," kataku yang malu.
"oh.., gitu..," Iskandar hanya merespon seperti itu saja dan dia langsung menundukkan kepalanya, dijamin pasti sedang menertawaiku.
__ADS_1
"e,emangnya Mas Awan gak pulang apa? Dia gak tinggal di sini?" kataku mencari-cari alasan supaya tidak berduaan dengan Iskandar.
"enggak, Kak Rin, Mas Awan itu tinggal di apartemennya. Ke sini kalo emang mau ke sini atau kalo Mami minta Mas Awan pulang." kata Dita menjelaskan.
"oh.., begitu...,"
"cie.., cie.., cie...," ledek Dita.
"Dita.., berhenti !" kata Iskandar tiba-tiba. Aku bersyukur dia mengatakan itu.
"ih, Mas Iska mah gak seru..,"
"sekarang waktunya makan malam, selesaikan makan malamnya dulu." Tegas Iskandar.
"oke.., Dita akan dengerin Mas Iska karena Dita sayang sama Mas Iska...," kata Dita sambil cemberut dan mengambil makanan ke rasa piringnya.
Iskandar menghela napasnya dan menatap ke arahku,
"lu juga, makan. Katanya tugas lu bejibun..," katanya mengulangi kata-kataku tadi. Duh.., kenapa jadi keinget kejadian tadi lagi?
"Rin...," suaranya memecahkan lamunanku.
"eh, iya,iya...," kataku lalu kembali memakan makan malamku.
*
Keesokan paginya,
Aku berusaha membuka mataku yang masih mengantuk. Semalam aku tidur jam 01.00 malam untuk menyelesaikan semua tugasku dan Iskandar sudah membangunkanku pukul 04.15 sebelum dia berangkat ke masjid. Bahkan dia sudah mandi ketika menggedor pintu kamar Dita. Anak itu tidur dan bangun jam berapa?
Sekarang aku harus berangkat pukul 05.20 karena Iskandar harus merazia anak-anak yang terlambat hari ini. Ini cukup berat bagiku sekarang karena masa hukumanku yang harus mengikuti kelas pendidikan moral baru saja selesai.
"Rin ayo naik..," kata Iskandar yang sudah siap dengan motor sportnya.
"hah? I,iya..,"
"lu ngantuk?" tanyanya. Untungnya dia cukup peka.
"i,iya..," lirihku.
"kalo gitu tunggu sebentar..," katanya lalu pergi sambil membawa motornya.
"eeh?? gue ditinggal??" kataku.
Beberapa saat kemudian Iskandar muncul dengan dirinya yang menggendong ransel di dadanya. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, semakin lama Iskandar semakin dekat dan ia berjongkok di hadapanku,
"Ayo naik. Gue gendong elu...," katanya.
"Iskandar.., kenapa gak pake mobil aja??" tanyaku yang merasa bersalah.
"mobil diservis, baru dianter besok.., kita naik kendaraan umum. Gue bisa jalan sampe terminal supaya lu bisa tidur sebentar." katanya.
"Iskandar...," kataku terharu. Mataku yang tadinya berat, sekarang malah berkaca-kaca, bahkan kacamataku berembun.
"udah ayo...," katanya.
Aku menggelengkan kepalaku lalu berjongkok dan mengambil tangannya,
"kita jalan bareng aja...," kataku.
__ADS_1