
Aku memperhatikan wajah Mas Awan dengan seksama. Sebenarnya rahasia apa yang ingin dia ungkapkan?
"Rin...," dia memanggil namaku.
"eh, iya..," kataku.
"hahaha..., muka gue mengalihkan dunia lu,ya?" katanya sambil tertawa puas. Dasar, kepedean, yang benar aku sedang mencurigainya.
"oke, terserah lu mau tau atau enggak, tapi gue mau kasih tau elu rahasianya...," katanya.
"sebenarnya, harusnya lu itu dijodohin sama gue...," katanya.
"Ooh..., APAA???!! Mas Awan !!" Entah apa yang membuat keseimbanganku hilang dan tiba-tiba aku sudah berada di pelukan mas Awan,
"tenang adik ipar..., ada abang lu di sini...," kata Mas Awan sambil menatap mataku. Tunggu, apa posisi ini benar?
"uhm.., maaf,Mas..," kataku langsung melepaskan diri dari pelukannya.
"hahaha.., lu saking kagetnya sampe mau jatuh gitu,ya??" lagi-lagi dia tertawa puas. Sebenarnya apa tujuan dia sebenarnya ? Aku sangat ingat kalau hubungan Mas Awan dan Iskandar tidak teralu baik. Entah kenapa aku berharap Iskandar datang sekarang dan menyelamatkanku dari laki-laki di sampingku ini.
"tapi itu fakta, dan gue yang nolak. Gue gak suka hidup gue diatur. Cuman gue yang berhak ngatur hidup gue sendiri...," katanya tiba-tiba. Entah kenapa aku merasa bersyukur dia menolak perjodohan itu. Jika benar aku dan dia yang dijodohkan sepertinya kehidupanku akan semakin buruk.
Ia lalu melirikku dengan sinis,
"hey.., lu itu gak ada reaksinya sama sekali,sih?" katanya. Bukannya tadi aku udah kaget hampir mau jatuh, itu reaksiku !! Sekilas aku merasa dua bersaudara ini mirip.
"Heh..., apa lu kalo berinteraksi sama orang selalu diem begini,ya? Gue bicara sama manusia, kan??" kalimatnya itu menyebalkan. Sabar, Rin.
"ck.., sial !" umpatnya.
"lu mau sok setia,ya rupanya sama Iskandar??"
Aku mengernyitkan dahi, darimana dia mengambil kesimpulan begitu?
"ck ! gue benci kalo begini !!!" katanya lagi.
"benci kenapa?" aku kelepasan. Padahal aku berniat diam saja sampai pulang.
"akhirnya lu ngomong juga...," katanya. Sebenarnya apa, sih maksud mas Awan.
"gue tau, sebenarnya lu juga gak suka,ka. sama Iskandar? heh.., orang tua itu emang seenaknya. Tapi tenang, gue akan bantu elu keluar dari keegoisan mereka."
__ADS_1
"gak perlu." tiba-tiba mulutku berucap begitu.
"hah? gak perlu?"
"uhm.., ya, gak perlu, itu urusan aku sama Iskandar...," kataku.
Mendengar jawabanku dia malah menatap mataku dalam-dalam, seolah sedang mencari sesuatu,
"sial...," katanya lagi.
"Apa ? Apanya yang sial?" batinku.
"ternyata perkiraan gue salah...," Ia tiba-tiba tertawa,
"gue benar-benar kalah dari seorang Iskandar. Menyebalkan." katanya yang sama sekali tidak menjelaskan apapun. Aku semakin bingung, tapi malas bertanya, tidak, lebih tepatnya aku tidak suka berinteraksi dengan saudara Iskandar yang ini. Mendingan dengerin Dita cerita yang cerewet, deh. Baru kali ini aku tidak memiliki hasrat kekepoan sedikitpun.
"lu mau balik, gak?" katanya yang rupanya sudah jauh dari tempat aku berdiri. Aku lupa kalau tadi kita ngobrol sambil berjalan.
"i,iya..," kataku mengejarnya.
*
"Sebenarnya gue penasaran banget sama hubungan Iska dan mas Awan, tapi mas Awan itu nyebelinnya sampe bikin eneg....," kataku berbicara sendiri sambil memandang layar ponselku,
"kayaknya dia membenci Iska..., tapi kenapa,ya? hmm.., bukan cuman beberapa anak di sekolah, bahkan saudaranya sendiri gak suka sama dia...," entah kenapa tiba-tiba di layar ponselku sudah tertera postingan Iskandarrutama.
"eh? " aku langsung terduduk,
"ini.., ya ampun.., sejak kapan gue ngefollow dia???" lalu aku membuka halaman akunku, rupanya aku sedang membuka akun fake. Waktu itu memang aku sempat stalker dia melalui media sosial ini dengan akun fake.
"ya ampun..., sesaat aku jantungan...," kataku sambil memegang dada sebelah kiriku. Aku bisa merasakan detakan jantung yang sangat keras,
"apa sekarang Iska baik-baik aja,ya?" gumamku.
Ting !
tiba-tiba ada notifikasi, aku langsung melihat layar ponselku. Mataku melotot,
"Iskandarrutama menyebut anda di sebuah komentar"
@ms.0021 gue baik-baik aja,kok.
__ADS_1
Membaca itu aku langsung melempar ponselku,
"TIDAAAK !!!!" Kataku heboh, aku langsung melompat dan membanting tubuhku ke kasur lalu menyembunyikan wajahku di balik bantal. Apa itu artinya dia tau kalau pemilik akun itu adalah Arini Kalista ???
Ting !
Ting !
Tiba-tiba ada notifikasi masuk lagi. Aku mengintip dari balik bantalku. Tanganku ini merambat pelan-pelan di atas kasur untuk mengambil ponselku,
Iskandar
makasih, ya udah nanyain kabar gue...,
gue lagi otw pulang, jadi bisa bales komentar elu...,
Lagi-lagi mataku melotot, Aku langsung melempar ponselku sembarang, dan melompat sekali lagi,
"Aargh !!! Duuh.., beneran dia tau !!! Iya, dia pasti tahu !!!" kataku malu. Aku menyembunyikan wajahku di balik bantal. Bodo amet !! aku mau puasa megang ponsel dulu. Jauh-jauh sana ponselku yang mengandung aib !!!
*
Hari Senin. ini adalah hari pertama masuk sekolah, hari pertama aku menjadi kelas dua belas. Tiba-tiba aku teringat misi rahasiaku dengan Keisha dan Yura. Kami sudah merencanakan ini matang-matang. Aku benar-benar harus menyiapkan diri.
"Pagi, Rin...," suara berat ini.., Bukankah suara Iskandar ??? Aku menoleh pelan-pelan dan lagi-lagi aku melotot karena melihat wujud seorang Iskandar yang sudah berdiri di sampingku, aku mendongak karena dia sangat tinggi dan kepalanya botak !! Dimana rambut keriting jatuh miliknya yang indah itu?? Tunggu, barusan aku memujinya?
"Rin??" ia malah memanggil namaku. Sialnya aku malah teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Kalau begini namanya sudah tertangkap basah.
"ah, pasti lu kaget lihat rambut gue,ya?" dia bahkan bisa menebaknya dan sekarang malah tersenyum,
"Hari ini ada razia rambut buat anak cowok. Harusnya mereka udah tau, ini buat contoh aja." Ia malah menjelaskan.
"lu itu lebih ganteng kalo ada rambut keritingnya. Gue bener-bener gak kenal elu__, eh?" Kenapa aku malah berkomentar?
"jadi lu gak suka,ya? Hemmm..., lain kali gak akan gue cukur habis, deh." katanya. Sepertinya suasana hatinya baik sekali karena tersenyum terus. Tiba-tiba dia menggandeng tanganku,
"ayo ke kelas bareng." ajaknya. Anehnya aku hanya diam saja dan malah mengikutinya.
"tapi lu harus inget, Rin.., Iskandar adalah orang yang bisa menggagalkan rencana kita. Jangan terpengaruh dengan keromantisan dia...,"
Tiba-tiba terngiang kata-kata Keisha di telingaku. Aku lalu memandang gandengan tangan Iskandar, Apa ini juga bisa dibilang bentuk keromantisannya? Entahlah.
__ADS_1