Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 89


__ADS_3

"apa lu udah punya keputusan tentang perjodohan ini?" tanya Iskandar yang membuat Rin terpaku.


"eeh? kok tiba-tiba nanya itu?" tanya Rin sambil menyelipkan rambut di belakang telinganya.


"lelaki juga butuh kepastian kali..,"


"eeh?" Rin benar-benar kaget dengan jawaban yang keluar dari mulut Iskandar.


"uhm.., ke,keputusan yang lu maksud itu kayak gimana?" tanya Rin


"misal, mau dilanjutin atau enggak, kalo mau dilanjutin mau dipercepat atau diperlambat." kata Iskandar lalu meminum airnya.


"dipercepat? gue belum pernah kepikiran itu? apa bisa? kalau bisa sebaiknya kapan?" Tiba-tiba wajah Rin menjadi merah lagi karena memikirkan pernikahan bersama Iskandar.


"bisa gila gue kalo kayak gini terus..," batinnya.


"Rin?" Tanya Iskandar menagih jawaban dari pertanyaannya.


"uhm.., gue belum benar-benar memutuskan, tapi apa yang tadi lu bilang itu bisa terjadi?" tanya Rin.


"ya bisa aja. Kalo dari pihak gue, Papi itu punya kuasa yang lebih besar dalam mengambil keputusan. Dan gue rasa Papi bisa mengerti apapun keputusan kita, toh, kita yang jalanin..," kata Iskandar menjelaskan.


"kita yang jalanin? ugh.., kenapa semua kata yang keluar dari mulutnya terdengar romantis?" batin Rin.


"gue akan ingat itu dan membuat keputusan sebaik-baiknya..," kata Rin sambil tersenyum.


Iskandar ikut tersenyum,


"semoga kabar baik yang bakalan gue denger nanti..," katanya dalam hati berharap.


*


Rin mencari materi Kimia yang didapatnya dari makalah-makalah terpublikasi.


"haduuh.., Roger dendam apa,ya sama gue ? kenapa bagian gue susah amat dicari?" gerutunya.


Tok


Tok


Tok


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Rin.., lu mau cemilan malam gak?" tanya Iskandar.


"eeh? Iskandar?" katanya berbicara sendiri. Ia langsung punya ide,


"iya, mau !!" kata Rin agak berteriak dan segera membuka pintu.

__ADS_1


"mau.." kata Rin dengan penampakan rambut yang acak-acakan,


"uhm.., Rin.., tugasnya susah amat,ya? rambut lu sampe berdiri kayak disetrum gitu..,"kata Iskandar.


"eh? serius?" tanya Rin lalu menyisir rambutnya yang acak-acakan dengan jari-jarinya.


"oh,iya.., nih cemilannya buah apel, kebetulan tadi gue laper jadi motong buah apel dan kayaknya lu juga butuh ini buat mikir lagi..," kata Iskandar.


"buah? Gak makanan manis gitu?" batin Rin agak kecewa.


"buah itu mengandung gula yang tidak berlebihan, gak kayak makanan ringan, jadi gak bikin gemuk kalo buat cemilan malam." kata Iskandar lagi.


"bahasanya sudah seperti ahli gizi saja..," batin Rin sambil menatap Iskandar sinis.


"woy.., ambil, nih.., kenapa lu malah natap gue sinis gitu?" tanya Iskandar lagi.


"eh, iya..," kata Rin yang tersadar dan mengambil piring berisikan apel potong di situ.


"kalo gitu gue balik dulu,ya..," kata Iskandar berbalik,


"eh, tunggu...," kata Rin.


Iskandar yang tadinya mau pergi berbalik lagi,


"apa?"


"uhm.., sebenarnya, sih enggak..,"


"LPJ lu udah?"


"udah, paling besok mau ditinjau lagi bareng-bareng." kata Iskandar.


"terus mau ngapain?"


"mau__, uhm.., lu butuh bantuan gue?" tanya Iskandar yang langsung peka.


"hehe.., i,iya.., tapi kalo boleh, sih..,"


"boleh, kok. Tunggu sebentar, gue ambil laptop." kata Iskandar lalu pergi ke kamarnya.


"Yes !" kata Rin begitu Iskandar pergi.


"eh? ya ampun...," kata Rin langsung menepuk-nepuk kedua pipinya,


"Rin.., kendalikan dirimu. Jangan teralu mencolok. tarik napas.., buang.., tarik napas..., buang...," kata Rin berusaha mengendalikan dirinya.


*


Iskandar senyum-senyum sendiri sambil mencari materi yang diminta oleh Rin. Kini ia duduk di karpet yang berada di samping tempat tidur. Sesekali matanya mencuri-curi pandang seorang Rin yang sedang serius mengerjakan tugasnya di meja belajar.

__ADS_1


"imut banget, sih dia kalo lagi serius...," katanya dalam hati geli sendiri.


Iskandar lalu melirik ke arah piring apel yang ia berikan tadi. Apel itu benar-benar sudah habis. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.


"kayaknya susah banget..," batin Iskandar lalu kembali fokus pada laptopnya.


"nah ! ketemu !!!" kata Iskandar lalu membuat narasi dengan sumber yang ia cari agar memudahkan seorang Rin.


"Rin, nih gue kirim__," kata-kata Iskandar terhenti ketika menoleh ke arah Rin yang sudah terlelap dengan menyenderkan kepalanya di atas buku. Lagi-lagi Iskandar menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela napas. Iskandar lalu mendatangi Rin di meja belajarnya,


"Rin..," kata Iskandar berusahalah membangunkannya sambil menggoyang-goyangkan bahunya.


"Rin ngantuk, Bun..," kata Rin ngelantur.


"Rin.., leher lu nanti sakit...," kata Iskandar masih berusaha.


"iya,iya Bun..," kata Rin tapi tidak membuka matanya sama sekali.


Iskandar menghembuskan napasnya kasar, Ia lalu menyalakan laptop Rin yang mati. Ternyata dia sudah menyelesaikan bagiannya, namun ada chat yang masuk di sana,


"Yura tunggu sampe jam sepuluh,ya...," Kata Iskandar membacanya. Iskandar melihat ke jam yang ada di sudut bawah laptop,


"ya ampun, lima menit lagi??" kata Iskandar.


"bisa-bisanya dia tidur??" kata Iskandar lagi, ia lalu melepas kacamata Rin dan mengangkatnya lalu memindahkannya ke atas tempat tidurnya. Setelah itu dengan cepat ia memindahkan materi yang ia dapatkan ke file yang sudah dibuat oleh Rin dan mengirimkannya ke Yura lewat akun Rin tadi.


"terkirim !" kata Iskandar, ia langsung melirik ke arah jam lalu tersenyum,


"dua puluh dua kurang dua menit." kata Iskandar yang bangga pada dirinya sendiri.


"sekarang gue harus balik ke kamar..," kata Iskandar.


"Iskandar..., lu dimana?? Gue takut...," Tiba-tiba Rin malah mengigau membuat Iskandar tidak jadi pergi. Iskandar mendekatinya lalu melihat, apakah Rin menutup matanya atau membuka matanya.


"ah.., dia masih tidur...," kata Iskandar yang melihat Rin masih memejamkan matanya.


"Iskandar..," Lagi-lagi ia memanggil nama Iskandar.


"Iskandar.., lu ada dimana?" kata Rin lagi. Ia menggerakkan tangannya, mencari keberadaan Iskandar. Iskandar langsung memegang tangannya, seketika Rin langsung menjadi tenang,


"Gu,gue di sini...," kata Iskandar. Rin tidak menjawab apa-apa, ia lalu kembali terlelap.


Iskandar yang tadi berdiri di samping tempat tidur akhirnya duduk di lantai. Ia lalu memandang wajah polos Rin yang sedang tertidur,


"apa kejadian hari ini bikin lu takut, Rin?" tanya Iskandar. Ia lalu membelai rambut Rin,


"tapi gue seneng, gue adalah orang yang lu cari di saat lu ketakutan...," katanya lagi sambil memegang erat tangan Rin yang juga memegang tangannya.


"gue sayang sama lu, Rin..," kata Iskandar lalu mencium kening Rin. Lama-kelamaan Iskandar juga tidak bisa menahan kantuknya dan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2