Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 53


__ADS_3

Tubuh Rin merinding, kenapa tiba-tiba di kepalanya muncul analisis yang mengerikan. Ia sangat tahu alasan kenapa di sekolah ini memiliki organisasi Komdis. Organisasi ini tidak terbentuk begitu saja seperti OSIS. Tujuh tahun yang lalu terdapat banyak kasus pembullyan di sekolah swasta nan megah ini, oleh karena itu dibentuklah organisasi ini. Meskipun mereka juga menertibkan peraturan lain. Tetapi konsen utama mereka adalah pembullyan.


"jangan-jangan mereka sengaja membuat Keisha sibuk dan tidak bisa melakukan apa-apa??" batin Rin.


Jari-jari Rin tidak bisa berhenti bergerak seolah sedang memainkan piano di atas mejanya.


"gak..., gue harus pulang dengan aman ke rumah dan mendiskusikan ini...," batin Rin.


"Rin.., lu udah kelar belum soal dari Bu Ani? Gue liat dong...," kata Roger tiba-tiba memecah lamunannya.


Rin menoleh,


"oh,iya !" kata Rin. Ia ternyata teralu lama melamun karena ketakutan.


Roger melirik ke arah buku Rin yang bahkan belum terbuka dan sebundel kertas soal yang tadi dibagikan tergeletak begitu saja,


"waduh.., jangan-jangan lu gak engeh dikasih tugas sama Bu Ani,ya?" kata Roger.


"eh,i,iya...,"


"duuh.., ya udah, deh, gue lihat punya Ori aja." kata Roger lalu berbalik.


Rin langsung buru-buru membuka Bundelan kertas itu,


"duuh..., Rin jangan sampe malah elu yang mengalami kemunduran. Fokus !! Fokus!!" batin Rin.


*


Rin dan Keisha menginap di rumah Yura. Mereka berkumpul bertiga.


"padahal baru mulai, tapi Iskandar udah ngasih peringatan. Pasti yang bikin Mr. Andrew maksa gue ikut Speech juga rekomendasi Iskandar, deh...," kata Keisha setelah mendengar penjelasan Rin.


"emangnya bisa Iskandar rekomendasiin siswa buat ikut lomba? Dia,kan cuman ketua komdis?" tanya Yura.


"Bisa aja, karena pada dasarnya Komdis itu ada di bawah OSIS. Sedangkan di OSIS ada bagian yang merekomendasikan siswa-siswa berprestasi melalui akademik dan non-akademik. Bisa dibilang rekomendasi mereka itu adalah seleksi awal." kata Rin menjelaskan.


"sebesar itu ya keterlibatan anak-anak organisasi di sini." kata Yura takjub.


"Oh,iya, Plan B yang lu maksud tadi itu apa, Yura?" tanya Rin.


Yura dan Keisha tersenyum bersamaan.


*


Emalia dipanggil Pak Solihin. Masalahnya kejadian ini sudah dua kali terjadi, yaitu Emalia tidak mengumpulkan tugasnya.


Emalia duduk lemas di bangkunya,

__ADS_1


"gue heran, sebenarnya buku gue itu bisa jalan, ya? kok bisa-bisanya pindah tempat. Jelas-jelas udah gue taro di dalam tas, eh pas besoknya mau ngumpulin gak ada, dan tau-tau nya ketinggalan di rumah gue." kata Emalia.


"lu aja kali yang teledor." kata Liska yang sedang asyik chattingan dengan Roger.


"Duuh..., kayak bukan gue banget, deh. Kan gue jadi dimarahin sama Pak Solihin, Bu Ratna, Pak Dwi, Bu Anggi.., duuh, semua guru ngomelin gue. Gue sebenernya kenapa, sih?" keluh Emalia pusing sendiri.


"bisa-bisa penilaian sikap gue C kalo gini.., mana lagi udah kelas dua belas, bisa-bisa gue gak dapet universitas negri niih...," kata Emalia bingung.


"lu butuh refreshing kali...," kata Liska lagi.


"iya kali,ya..., Duuh My Prince Juan lagi pelatihan, sih.., jadi gue gak punya vitamin secara gak langsung deh buat mengisi energi gue...," kata Emalia.


"sama.., kangen,nih gue sama Babang Rohman...," kata Liska malah curhat.


"kangen apaan, lu? dari tadi,kan chattingan kan lu sama Babang tersayang lu, idiih..," kata Emalia yang sebenarnya sadar kalau Liska tidak mendengarkan curhatannya dengan benar.


"yah.., dia udah selesai istirahat nya..., pesan gue cuman centang dua..., huhu...," kata Liska sedih.


"haduh-haduh...,"


*


Yura membawa tumpukan buku tugas ke ruang guru sendirian,


"ugh.., buku tiga puluh dua anak itu ternyata seberat ini...," keluhnya. Tidak ada yang bisa membantunya karena Pak Dwi mau berbicara dengannya.


Tiba-tiba Yura menabrak Dion dari kelas XII IIS B yang juga sedang membawa tumpukan buku sendirian. Buku mereka berserakan di lantai,


"waduh.., Yura.., maaf,maaf...," kata Dion langsung membereskan buku-bukunya.


"iya,iya.., gak apa-apa.., Yura juga yang salah...," kata Yura yang juga merapikan buku-bukunya.


"uhmm.., kamu..,"


"gue Dion. Anak IIS B." katanya yang masih sibuk mengatur tumpukan buku-buku itu.


"oh.., hati-hati,ya.., jangan sampai ada buku yang kecampur." kata Yura yang juga sedang membereskan buku-bukunya.


Dion tersenyum,


"iya.., bisa habis gue sama anak-anak kalo sampe buku mereka gak dikasih ke Pak Dwi."


"oh.., mau kasih ke pak Dwi juga? sama dong...," kata Yura dengan senyum manisnya.


"ooh.., mau bareng?" tanya Dion.


"boleh." kata Yura.

__ADS_1


*


Liska dan Emalia sedang sibuk menonton tutorial make up glamour agar terlihat elegan di Utube.


"eh, ada Emalia,gak?" tanya Hesti yang baru saja datang dari ruang guru karena dipanggil Pak Garry, guru geografi mereka yang tidak bisa mengajar karena harus survei tempat kemah anak kelas sepuluh.


"gue, kenapa?" tanya Emalia yang langsung sadar namanya dipanggil.


"lu dicariin pak Dwi. katanya belum ngumpulin tugas." kata Hesti.


"hah? gue? udah, kok..," kata Emalia malah bingung. Emalia langsung mencari sosok Dion,


"Dion, gue udah ngumpulin tugas,kan,ya?" tanya Emalia begitu menemukan Dion yang asyik main game di pojokan kelas.


"buku sih udah gue kasih pak Dwi, tapi lu itu dah ngumpulin mah kesadaran lu sendiri." kata Dion yang sebenarnya malas menjawab dan tidak mau dituduh yang lain-lain.


"ish.., terus buku gue kemana, dong?" kata Emalia bingung.


"emang belum lu kumpulin kali. Coba di tas lu." kata Liska.


"iya-iya..., gue cek dulu...," kata Emalia lalu memeriksa tasnya,


"ih, di tas gue gak ada...," katanya mulai panik.


Liska lalu membantunya mencari di laci mejanya.


"ih.., nih apa?" kata Liska yang langsung menemukannya.


Emalia kaget bukan main. Ternyata buku tugasnya ada di laci mejanya.


"ih.., kok gue tulalit banget, sih..., gue kenapa, sih akhir-akhir ini??" kata Emalia merutuki dirinya.


"mungkin lu gak fokus kali. kekurangan minum. Lu sehari minum berapa gelas?" tanya Liska.


"ih, tau deh.., sehausnya aja...," kata Emalia.


"minum tuh dua liter sehari atau delapan gelas, biar fokus lu gak ilang..., kalo kata Babang tersayangku, tubuh kita itu meskipun terdiri dari sembilan puluh persen air, tapi masih tetap membutuhkan asupan air dari luar...,"


Emalia menaikkan alisnya sebelah,


"aduh-aduh..., pacaran sama bang Rohman jadi kepinteran gini lu Yee...," kata Emalia malah menoyor kening Liska.


"idiih.., iri, kan lu Babang gue pinter. meskipun agak bobrok gitu, tapi prestasinya gak main-main juga...," kata Liska malah membanggakan pacarnya itu.


"iya, deh tau...,"


"oh,iya.., yang boleh manggil dia Babang Rohman tuh gue doang,ya.., nanti dia bingung lagi bininya yang mana...," kata Liska memberi peringatan.

__ADS_1


"aduh-aduh..., cemburu, nih Yee...," kata Emalia meledek Liska.


__ADS_2