Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 25


__ADS_3

Di dalam metromini kini Rin duduk di sebelah Iskandar. Rin berkali-kali memandangnya diam-diam.


"mungkin karena gue kurang berkesan bagi elu."


Kata-kata Iskandar tiba-tiba terngiang begitu saja di telinga Rin.


"kenapa Mandang gue Mulu?" tanya Iskandar memecahkan lamunan Rin.


"eng.., enggak..., gak kenapa-kenapa." kata Rin reflek menunduk.


"lu...," Iskandar dan Rin berbicara bersamaan.


"lu duluan!" kata Rin.


"lu duluan aja." kata Iskandar sambil menutup setengah wajahnya dengan tangannya karena malu.


"o,oke.., gue cuman penasaran, luka lu.., apa baik-baik aja? kalo karena gue...,"


"gak baik-baik aja." potong Iskandar.


"so,sorry, sumpah gue gak bermaksud. Kalo gue tau bakalan terjadi kayak gini.., gue gak bakalan menolak perjodohan ini, pasti...,"


"Pft....," Iskandar menahan tawanya.


"A,apanya yang lucu..,"


"aaw..," rintih Iskandar karena lebam di wajahnya terasa sakit saat ia tertawa.


"ma,mana yang sakit?" tanya Rin reflek.


"enggak.., enggak...," kata Iskandar berusaha membuat Rin tidak khawatir.


"eh, kenapa juga gue sok care gitu ke dia, ewh..," Rin langsung memutar tubuhnya menghadap jendela. Iskandar heran dengan perubahan sikap Rin yang tiba-tiba.


"makasih,ya." kata Iskandar.


"buat apa? lu,kan yang.., yang gendong gue, harusnya gue yang bilang makasih sama elu...," kata Rin malu-malu dan masih memandang jendela.


"iya.., makanya, gue juga mau bilang makasih karena lu barusan care sama gue." kata Iskandar.


"ugh.., diem lu!" kata Rin kesal. Iskandar sempat kaget dengan kata-kata yang keluar dari mulut Rin, tapi ia tetap menurutinya.


"oh,iya..," kata Rin tiba-tiba, lalu memutar tubuhnya menghadap Iskandar lagi,


"Ta,tadi lu mau ngomong apa?" tanya Rin.


"hm?"


"iih.., iya,iya, lu boleh ngomong." kata Rin.


"oke.., uhmm.., gak jadi, deh."


"loh?? kok?"


"gue udah dapet jawabannya."


"iih.., apa? nanya aja belum!!" kata Rin agak memaksa.


"lu beneran mau tau?"


"iya."

__ADS_1


"oke, uhm.., gue cuman mau nanya, lu beneran nanya tentang luka gue ke Idho, tapi kayaknya emang beneran nanya, makanya, thanks udah care sama gue."


"iih, mustinya lu diem aja!" kata Rin lalu melipat tangannya dan melihat ke arah jendela lagi.


Iskandar hanya mengelus dada berusaha sabar,


"kok jadi mirip kayak mami pas ngambek,ya?" batin Iskandar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


*


Iskandar berjalan sambil mengikuti Rin. Kaki Rin sudah baikan karena tadi sempat istirahat sebentar. Mereka akhirnya berhenti di depan rumah Rin,


"gue udah sampe." kata Rin.


"masuk lah." kata Iskandar.


"uhmm.., lu.., lu mau istirahat sebentar gak?" tanya Rin.


"hah? apa?"


"duuh.., jangan ge-er,ya ! bukan berarti gue care sama lu. cuman, gue merasa punya utang sama lu karena tadi udah gendong gue."


"uhmm..," Iskandar malah tersenyum


"cepetan! lu mau gak??"


"aw.., " rintih Iskandar, Rin segera menghampirinya dan memeriksa wajah Iskandar,


"kenapa? mana yang sakit? ayo, masuk, nanti gue obatin. Duuh, harusnya lu jangan senyum-senyum dulu...,"


"lu udah kayak istri gue aja...," kata Iskandar iseng.


"jangan menggiring opini gue!!" kata Rin kesal.


"ahaha.., aaaw...,ssh...," rintih Iskandar.


"bodo ! lu nyebelin banget tau, gak !!" kata Rin ngambek. Ia lalu membuka pagar rumahnya, namun terhenti,


"ayo masuk, gue obatin luka lu, lu istirahat sebentar, baru pulang." ajak Rin.


Iskandar diam saja, sebenarnya ia ingin tersenyum, tapi itu akan membuatnya merasakan sakit lagi,


"ck, ayo!!" kata Rin lalu terpaksa menggandeng tanga Iskandar dan mengajaknya masuk.


*


Rin masuk sambil menggandeng tangan Iskandar,


"Assalamualaikum, Bunda...," kata Rin saat masuk rumah, di sana Amanda sudah menunggu sambil berkacak pinggang hendak marah, namun tidak jadi karena melihat kedatangan Iskandar yang babak belur,


"ya ampun..., calon mantu Bunda kenapa? kok bisa babak belur gini??" tanya Amanda sambil menghampiri Iskandar.


"uhmm.., Iskandar..,"


"ya ampun, Rin, apa ini karena nyelamatin kamu dari para preman? makanya kamu pulangnya lama??" tanya Amanda.


"ap__," Rin tak sanggup berkata-kata.


"enggak, Bunda, enggak...," kata Iskandar berusaha menenangkan Amanda.


"terus kenapa? kenapa Rin pulangnya telat dan kenapa Iskandar bisa pulang bareng Rin?" tanya Amanda.

__ADS_1


"uhmm.., gini, Bunda dengerin Iskandar dulu. Tenang, Bunda...," kata Iskandar.


Amanda mengambil napas lalu menghembuskannya, "oke. Bunda tenang. sekarang jelasin dan jawab semua pertanyaan Bunda."


" Oke, bunda, pertama Iskandar babak belur karena Iskandar duel sama Papi....,"


"terus, terus kenapa kalian bisa pulang malem kenapa??"


Iskandar menarik napas, berusaha bersabar, "uhmm.., tadi Iskandar ada perlu sebentar, terus Rin ternyata nungguin Iskandar, jadi kita pulang bareng, deh Bunda."


"begitu? Begitu, Rin?" tanya Amanda.


"yah.., kurang lebih begitu." kata Rin. lalu mata Amanda teralihkan oleh tangan Rin dan Iskandar yang bergandengan,


"ehm.., kayaknya kalian emang udah deket,ya. Pake gandengan gitu." kata Amanda sambil senyum-senyum.


"gandengan?" tanya Rin lalu langsung melihat tangannya yang masih menggandeng tangan Iskandar,


"ugh..," ia langsung melepaskannya.


"hemm..., bagus, deh, Bunda sempet khawatir pas kalian memutuskan untuk tunangan. Bunda takut kalian akan membatalakan perjodohan ini, tapi liat progress kalian gini, Bunda jadi gak khawatir, deh..," kata Amanda.


Rin dan Iskandar saling melirik,


"apaan, sih Bunda??" kata Rin kesal, "ayo Iska, lu harus cepet pulang,kan??" tanya Rin lalu pergi.


"uhm.., permisi Bunda." kata Iskandar lalu pergi mengikuti Rin.


"dasar anak-anak remaja ini, unchh..," kata Amanda gemas.


*


Iskandar duduk dengan tenang sambil memejamkan matanya, sedangkan Rin mengompres luka-luka di wajah Iskandar,


"umm.., ehm.., Iskandar...," kata Rin.


"iya ?" tanya Iskandar.


"apa..., apa ada luka lain selain di wajah elu?"


"ada. di punggung, perut, dan dada...," kata Iskandar masih memejamkan matanya.


"ya ampun, dengan luka sebanyak itu, dia masih sanggup dan mau gendong gue..," batin Rin.


"kalo lu punya luka sebanyak itu, kenapa masih mau nolongin gue.., hiks...,"


Iskandar lalu membuka matanya. Ia kini melihat gadis di hadapannya tengah menangis, kacamata Rin bahkan berembun. Ia lalu mengambil kacamata Rin dan meletakkannya di samping kotak obat. Ia lalu mengusap air mata Rin,


"kok lu nangis?" tanya Iskandar. Rin tak menjawab apa-apa lalu langsung menangkis tangan Iskandar yang mengusap air matanya.


"gak usah sok peduli lu sama gue!! Hiks!" katanya lalu mengambil dan mengelap kacamatanya lalu pergi.


*


Rin berlari ke kamarnya, ia segera melompat ke atas kasurnya dan menangis,


"hwaa....," tangisannya meledak begitu saja.


beberapa saat kemudian, setelah tangisannya mereda, Rin segera mencuci mukanya dan bercermin,


"gue.., gue kenapa nangis,ya?" katanya malah bingung.

__ADS_1


__ADS_2