Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 79


__ADS_3

♥️♥️Kalian suka cerita ini? jangan lupa like, comment dan vote ya. Dukungan kalian sangat berharga bagi Author ♥️♥️


.


.


.


"ya ampun, Rin lu Jealous?" tanya Iskandar.


"kalo gue bilang iya, dia pasti kegeeran..," batinku.


"Huh ! kenapa juga gue harus jealous.., lu,kan tau sendiri, lu itu tunangan gue, gak boleh deket-deket sama cewek lain, nanti kalo dilaporin ke Mami atau Bunda gimana?" kataku mencari-cari alasan.


Iskandar tersenyum lagi,


"emang siapa yang mau ngelaporin?" kata Iskandar sambil memperhatikan hasil karyaku di tangannya alias perbannya.


"uhm.., Idho ! Dia,kan kenal sama Mami dan Bunda..," kataku lagi.


Iskandar malah tertawa,


"iya,iya.., bahaya kalo si mulut ember itu comel..," kata Iskandar lagi.


"jadi, Iskandar.., lu beneran suka, ya sama Yura ?" tanyaku, meskipun aku sudah tau jawabannya, tapi aku ingin benar-benar mendengarnya dari mulutnya.


"enggak,tuh." katanya enteng.


"hah??" Aku malah kaget dengan jawabannya.


"Aah.., kayaknya kisah lama terulang kembali...," kata Iskandar malah membuatku semakin penasaran.


"Ki,kisah lama?" tanyaku heran.


"uhm.., waktu SMP gue pernah bersikap ramah sama seorang cewek...,"


"Dinda?" tebakku.


"wah.., langsung tau?"


"sampe sekarang juga akrab banget." kataku lagi menyindirnya.


Iskandar tersenyum,


"gak seakrab dulu.., Lagian dia udah punya cowok." kata Iskandar lagi.


"berarti lebih akrab lagi?"


"mau dilanjutin,gak?"


"uhm.., mau, deh." kataku. Jarang-jarang Iskandar cerita masa lalunya.


"Gue akrab sama Dinda karena sama-sama ikut paskibra, nyambung aja gitu gara-gara suka kucing, bahkan Gue sempet kawinin Isabel sama kucingnya Dinda..," kata Iskandar.


"terus?"


"terus pas kelas delapan, dia nembak gue."


"Apa? terus elu terima?" tanyaku mulai panik. Jangan-jangan Dinda itu mantannya.


Iskandar menggeleng,


"ya enggaklah." katanya.


"fiuh..," kataku lega.


"terus apa hubungannya sama lu dan Yura?" tanyaku


"hemm.., begini, sebenarnya gue cuman bersikap dan bertindak yang seharusnya aja, kemarin Dion maksa Yura buat ikut dia, dan gue cuman mau nyelamatin dia aja, gak ada perasaan apapun di sana, jadi lu gak perlu marah-marah kalo kejadian kayak kemaren terjadi."


"gue itu ingetin. Ingetin !!!" kataku.


"iya-iya...," kata Iskandar malah membelai kepalaku sambil tersenyum.


BLUSH !


Kenapa di saat seperti ini dia malah terlihat tampan?


"oh,iya.., kalo ke sini untuk sementara jangan main sama Isabel dulu. Dia lagi ngambek soalnya." kata Iskandar memperingatkan.

__ADS_1


"lu, sih, pake misahin induk sama anaknya." kataku


"yah.., sebenarnya Marble itu anak dari hasil kawin Isabel dan Mario, kucingnya Dinda, warna bulunya mirip banget sama Mario, makanya Dinda mau ngadopsi untuk menghilangkan rasa sedihnya." kata Iskandar lagi.


"iya-iya...,"


"jadinya lu masih marah?" tanya Iskandar lagi.


"emangnya gue berhak marah sama elu?" kataku.


"berhaklah. Asalkan jangan berlebihan. Nanti masuk penjara."


"iih.., tuh,kan langsung diancem masuk penjara..,"


"yah, kalo marah sampe ngamuk-ngamuk terus ngancurin barang, mah iya masuk penjara." kata Iskandar meledekku.


"ih, ngapain juga marah sambil ngamuk-ngamuk..," kataku cemberut.


GREB !


Tiba-tiba Iskandar memelukku,


"sekarang jawab pertanyaan gue, lu masih marah sama gue?" tanya Iskandar.


Kalau dia memelukku begini, bagaimana bisa aku marah dengannya. Aku akhirnya membalas pelukannya dan menggeleng,


"enggak. udah enggak,kok..," kataku.


*


Author POV


Friska dan Amanda mencari Rin dan Iskandar yang tiba-tiba menghilang, seharusnya mereka ada di rumah Isabel, tapi malah tidak ada siapa-siapa di sana.


"eh, eh, Amanda..., lihat,tuh...," kata Friska menunjuk ke ruang tengah.


Amanda sampai menutup mulutnya karena kaget,


"mereka pelukan?" bisik Amanda.


"ya ampun.., imut banget, sih anak-anak kita.." kata Friska.


"kayaknya Rin mulai membuka hatinya buat Iskandar...," kata Amanda.


"loh? bukannya empat tahun lagi? Nanti mereka protes. Lagian,kan mereka yang jalanin."


"coba aja nanti kita tanya, mereka mau apa enggak." kata Friska mesem-mesem.


"eh, udah,yuk. Kita pergi aja, jangan ganggu mereka. Pura-pura aja gak lihat." kata Amanda lalu menggandeng sahabatnya itu pergi.


*


Keesokan harinya,


"Riin !!!" Tiba-tiba Keisha berteriak sambil berlari ke arah Rin yang baru saja datang.


Rin berbalik dan Keisha langsung memeluknya,


"Rin.., sorry, sorry, sorry,sorry,sorry....," kata Keisha.


"sorry kenapa?" tanya Rin,


Keisha melepas pelukannya,


"kemaren pas lu berantem sama Yura, gue gak ada buat lu atau Yura..., Soalnya.., Soalnya..., gue...,"


"canggung?" tebak Rin.


Keisha mengangguk kencang lalu langsung memeluk Rin lagi.


"maaf,ya Rin.., uugh.., temen terbaikku...," kata Keisha. Rin lalu membalas pelukannya,


"lu,kan gak salah apa-apa,Kei.., gak perlu minta maaf...,"


"maunya minta maaf !" kata Keisha keras kepala.


Tanpa mereka sadari ada yang memperhatikan mereka berdua,


"sial, berantemnya mereka cuman bertahan seminggu doang...," umpat Emalia.

__ADS_1


*


Keisha membantu Rin membawa tas tentengannya yang agak berat,


"Rin.., sebenarnya ini isinya apa, sih??" keluh Keisha.


"sini.., kalo gak mau bawain...," kata Rin mau merebut tasnya.


"enggak ! Gue mau bawain sebagai bentuk permintaan maaf gue !" kata Keisha.


"dasar !" kata Rin geleng-geleng.


Keisha mengintip isinya,


"woah..., kok ada dua kotak bekal? lu laperan karena stress,ya??"


Rin malah tersenyum mendengar pertanyaan Keisha,


"enggak.., itu buat Iskandar...," kata Rin malu. Wajahnya memerah sekarang.


"Ooooh...., buat Babang Iskandar tersayang.., ejiyeee...," ledek Keisha.


"diem-diem !!!" kata Rin yang merasa malu.


*


Saat istirahat,


Iskandar menatap kotak bekal pemberian Rin,


"Bunda yang buat ini ?" tanya Iskandar.


Rin mengangguk cepat.


"uhmm..," Iskandar lalu membukanya,


"bilang sama Bunda, gak perlu repot-repot...," kata Iskandar yang tak enak hati.


Mendengar itu Rin langsung cemberut,


"tapi gue maunya lu makan masakan gue !!!" kata Rin. Iskandar berhenti menyuap makanannya,


"lu yang masak ini? bukan Bunda?" tanya Iskandar.


Rin langsung terdiam. Ia menepuk mulutnya,


"uhm.., emang.., emangnya tadi gue bilang apa?" tanya Rin pura-pura lupa.


"lu bilang lu mau gue makan masakan lu.., hmm.., dari kemarin gue juga ngerasa ini kayak bukan masakan bunda, tapi gue percaya aja sama lu kalo ini masakan bunda..," kata Iskandar lalu menyuap makanannya lagi.


"uhm..," Rin tak sanggup berkata apa-apa.


"tapi.., kalau ini emang masakan lu, gue akan makan,kok. Sekalipun gak enak...,"


"jadi gak enak? gak enak apanya? keasinan? hambar? atau rasanya aneh???"


"pft...," Iskandar mau tertawa, tapi di dalam mulutnya sedang ada makanan.


"kok malah ketawa?" tanya Rin bingung.


Iskandar lalu menelan makanannya,


"sekarang jujur sama gue, siapa yang masak ini?" tanya Iskandar.


"uhm.., itu...,"


"jujur !" tegas Iskandar.


"iya,iya.., gue. Gue yang masak !" kata Rin malu.


"oke.., setiap lu bawa ini, gue bakal makan."


"beneran?" tanya Rin.


"iya..,"


Rin langsung tersenyum puas,


"makasih,ya Iskandar...,"

__ADS_1


"cepetan lu habisin juga !!!" kata Iskandar ngomel.


"iyai,ya.., galak dasar !" protes Rin.


__ADS_2