Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 56


__ADS_3

*flashback on*


Tok


Tok


Tok


Iskandar mengetuk pintu ruangan Pak Lukas. Tiba-tiba ia dipanggil oleh pak Lukas saat istirahat tadi.


"masuk." kata Pak Lukas.


"Permisi, Pak." kata Iskandar.


"silahkan duduk." kata pak Lukas. Iskandar langsung duduk di hadapan pak Lukas.


"kamu tau kenapa saya panggil ke sini?" tanya pak Lukas.


"pasti misi rahasia lagi." tebak Iskandar.


"nah, tuh kamu tau."


"siapa,pak kali ini?" tanya Iskandar.


"Emalia kelas dua belas IIS B. Kamu tau dia siapa?" tanya Pak Lukas.


Iskandar terdiam, ia mengingat-ingat siapa orang yang bernama Emalia.


"kamu tau, gak? masa udah tiga tahun sekolah di sekolah yang sama gak inget? perlu saya kasih fotonya?" tanya Pak Lukas.


"tidak.., tidak perlu,pak. Saya tau, kok dia yang mana." kata Iskandar.


"nah, Emalia ini sekarang sedang mengalami kemunduruan. Beberapa kali ia tidak mengerjakan tugas bahkan membuat teman-temannya kena imbas. Mungkin dia sedang ada masalah. Coba kamu dekati dia, dan cari tau masalah apa yang sedang dia hadapi. Lalu bantu dia untuk tetap fokus setidaknya sampai lulus." kata pak Lukas.


"baik,pak." kata Iskandar.


"tapi, jangan sampai malah kamu yang tidak fokus." kata pak Lukas lagi.


"saya akan ingat itu, Pak." kata Iskandar.


"baiklah. kamu boleh kembali."


"saya permisi,Pak." kata Iskandar lalu keluar dari ruangan pak Lukas.


*


Iskandar memasang mata, harusnya Emalia ada di kantin di saat jam makan siang. Ia langsung tersenyum saat menemukannya sedang makan sendirian,


"hai Emalia..," sapa Iskandar membuat Emalia mendongak.


"eh? ketua komdis?"


"panggil aja Iska." kata Iskandar.


"iya, Iska. uhm.., ngapain lu duduk di sini?" tanya Emalia.


"emangnya kenapa? aneh kalo gue duduk di sini?" tanya Iskandar lagi.


"hah? uhm.., enggak.., cuman..., bukannya lu pacaran sama Rin, temennya Liska?"


Alis Iskandar naik sebelah,


"pacaran? hubungan gue sama Rin bukan kayak gitu."


"ooh.., gitu, ya? bagus, deh..., soalnya gue takut nanti ada salah paham, hihi...,"


Iskandar tersenyum,


"ngomong-ngomong, kenapa lu sendirian?" Tanya Iskandar.


Emalia malah cengengesan,


"yah.., Juan gak ada.., Liska tadi dipanggil Bu Anggi, jadilah gue sendirian..., eh tapi, kok tiba-tiba lu perhatian gitu sama gue? ada apa, nih? kalo ternyata lu suka sama gue, sorry, gue udah suka sama Juan."


"jangan berpikir teralu jauh..., gue di sini karena khawatir lu sendirian karena emang dijauhin...," kata Iska lagi.

__ADS_1


"ya ampun.., ketua komdis yang satu ini ternyata perhatian banget, ya, hahaha...,"


Iskandar tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,


"tapi gue denger, akhir-akhir ini lu ada masalah...,"


"masalah? hemm...," Emalia lalu mendekatkan wajahnya pada Iskandar,


"lu tau kalo gue ditolak?" bisiknya.


"ditolak? sama siapa?"


Emalia menjauhkan kepalanya lagi,


"sama Juan lah.., eh? Duuh.., kenapa gue malah cerita sama elu??"


"perasaan lu yang dibales atau enggak, itu emang wajar, tapi sebaiknya jangan sampe mempengaruhi belajar lu."


"iya.., Juan juga bilang gitu..,"


"ngomong-ngomong jadi gak dimakan tuh baksonya...," kata Iskandar.


"yah.., elu ih ngajak ngobrol," kata Emalia.


"ya udah.., gue juga jadi lupa mau makan, haha...," kata Iskandar lalu memakan Siomay yang tadi ia beli.


Tanpa mereka sadari ada orang yang memperhatikan mereka,


"kenapa Iska bahagia banget ngobrol sama dia? Gak cukup apa Juan yang diincar?" Kata seorang gadis berkacamata.


"Rin !" nama gadis berkacamata itu dipanggil, membuat dirinya terhenyak.


"ayo.., lihat gue lagi...,"


Rin menoleh,


"iya ratu Keisha...," kata Rin lalu mengikuti Keisha pergi.


*flashback off*


*


"ngapain lu di sini? Kelas lu gak ada bimbel apa?" tanya Rin jutek lalu berjalan meninggalkan Iskandar.


Iskandar langsung mengejarnya,


"gak tuh. Kelas gue gak ada bimbel. pulang seperti biasa." kata Iskandar.


"oh,iya.., gue lupa. Kelas lu,kan anak-anaknya di atas rata-rata semua..," kata Rin.


"gue mau nganterin elu hari ini..," kata Iskandar lagi.


"gak perlu."


"yakin gak perlu?"


"kenapa hari ini Iskandar melunak,ya?" batin Rin.


Tiba-tiba Iskandar menggandengnya,


"lu gak perlu. Tapi gue perlu." kata Iskandar lalu membawa Rin bersamanya.


*


Rin menatap keluar jendela mobil,


"sekarang, perlu lu apa?" tanya Rin.


"perlu temen. Gue sendirian soalnya naik mobil ini...," kata Iskandar lagi.


Rin langsung berbalik,


"Ish !! biasanya juga gak bawa mobil ! lu cuman cari-cari alasan,ya__,"


"kenapa juga Iskandar cari-cari alasan?" batin Rin lagi.

__ADS_1


Iskandar tersenyum,


"ketawan, ya?" katanya enteng.


Rin mengernyitkan dahi,


"ketawan? apanya yang ketawan?"


"Bunda minta gue ngawasin lu, apa lu bener-bener belajar apa enggak." kata Iskandar.


"ih.., dasar Bunda.., curigaan aja sama anaknya sendiri." kata Rin sambil melipat tangan.


Iskandar hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,


"kata Bunda lu akhir Minggu ini sering main ke rumah Liska.., lu beneran belajar di sana?" tanya Iskandar.


"ya iyalah !"


"belajar apaan? Liska,kan anak IIS dan lu anak MIA...,"


"yah.., belajar matematika.., Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang...,"


"ooh.., sama siapa aja?"


"Liska selalu belajar bareng Emalia, dan gue sama Yura selalu nimbrung. Lagian Roger juga selalu ada di rumah Liska pas hari Minggu. "


"Emalia..., Mungkinkah di situ mereka mulai permainannya?" batin Iskandar.


"ooh..., gue boleh ikutan, gak Minggu ini?" tanya Iskandar lagi.


"ikutan?? Iskandar ikutan? gak ! gak boleh ! duuh.., alasannya apa,ya...," batin Rin.


"Rin?" tanya Iskandar karena tidak direspon.


"i,iya?" tanya Rin malah kebingungan.


"gue boleh ikut,gak? siapa tau gue juga bisa berbagi ilmu?"


"uhm.., Minggu ini? Minggu ini..., uhmm.., oh,iya ! kita mau ngerayain ulang tahun Yura...," kata Rin.


"ulang tahun Yura?"


"i,iya.., bukannya lu waktu itu udah beli hadiah buat Yura?"


"oh,iya..," kata Iskandar.


"yes ! berhasil."


"tapi udah gue titipin ke Ori. Jadi gue gak perlu dateng. Lagian pasti bagi Yura, kehadiran Ori yang lebih penting."


"uhm.., tapi gue sama Keisha mau Dateng..., kita udah milih hadiah kemarin.., jadi mungkin Minggu depan."


"ooh.., gitu,ya..,"


"iya.., gitu."


"yah.., apa boleh buat. Padahal gue mau banget gabung."


"tenang, Iskandar, minggu depan,kan masih bisa__," Rin langsung menutup mulutnya,


"duh., Rin bodoh banget,sih? masa malah diizinin Minggu depannya ??" batin Rin.


"ya udah.., Minggu depan,ya.., nanti kita berangkat bareng,ya?"


"ih.., kenapa juga harus berangkat bareng gue?"


"gue gak berangkat bareng elu, pasti nanti ujung-ujungnya Mami nyuruh gue jemput elu. jadi lu siap-siap aja gue jemput."


"ugh.., dasar...,"


"Rin.., waktu lu masih banyak, kok, kalo emang mau menggagalkan perjodohan ini." kata Iskandar mengingatkan.


Rin melirik ke arah Iskandar yang fokus pada jalanan,


"kenapa gue sebel, sih denger ini dari dia ? Manalagi ngomongnya enteng banget, lagi..," batin Rin.

__ADS_1


__ADS_2