Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 50


__ADS_3

Iskandar mengantarku sampai di depan kelas. Sekarang kami sudah kelas dua belas, jadi kelas kami ada di lantai satu. Iskandar masih menggandeng tanganku sambil memandang papan nama kelasku,


"ternyata kita gak mungkin sekelas,ya...," gumamnya.


"yah gak mungkinlah...," kataku menimpali lalu melepas tanganku dari gandengannya.


"ya udah, sana ke kelas lu !" kataku.


"Rin...,"


"oh iya..., gue harap gak ada yang tahu hubungan kita sebenarnya." kataku lalu masuk tanpa mau tau apa yang mau dia katakan.


*


Author POV


Yura memilih duduk di tengah-tengah kelas sendirian. Rupanya ia sampai duluan. Setelah kejadian kemarin, ia belum menghubungi Ori sama sekali. Ia bahkan enggan melihat ponselnya. Tiba-tiba ada seseorang yang meletakkan tas di sampingnya. Yura langsung menoleh dan matanya langsung terbelalak. Ia langsung memalingkan wajahnya.


"Sorry...," kata orang itu yang sebenarnya adalah Ori sambil membenarkan kacamatanya.


"aku baru bisa hubungin kamu kemaren meskipun gak kamu bales juga...,"


Yura merasa ada yang berbeda dari kata-kata Ori, tapi dia masih belum mau menoleh,


"Soal kata-kata aku kemarin ke kak Nia...,"


Yura langsung memandang wajah Ori, Ternyata Ori juga memandangnya, mata mereka bertemu.


"itu masa lalu aku. Sekarang kan kamu pacar aku, jadi aku akan buang jauh-jauh perasaan itu. Lagipula kak Nia,kan istri Mas Wandi...," kata Ori.


Yura menggigit bibir bawahnya, tanpa berkata-kata ia langsung memeluk Ori,


"Eeh??" kata Ori kaget.


"Yura percaya sama Ori. Yura,kan suka sama Ori, Yura sayang sama Ori...," kata Yura. Ori tersenyum lalu membalas pelukan kekasihnya itu.


Yura lalu melepas pelukannya,


"kalo gitu, coba Ori bilang ke Yura, kalo Ori suka sama Yura...," kata Yura sambil menatap mata Ori.


"uhm.., itu...,"


"Ehem !" tiba-tiba Rin datang, membuat Ori dan Yura menoleh bersamaan.


"Ori, cari tempat duduk lain lu ! jangan duduk di tempat gue." kata Rin.


Ori mengernyitkan dahinya dan menatap Rin sinis,


"ini tempat gue,tuh. Yang ada elu yang cari tempat lain." kata Ori tak mau kalah.


"hah??" Rin tak percaya.


"Ori mau duduk sebangku sama Yura?" tanya Yura.


"emangnya gak boleh duduk sebangku sama pacar sendiri?" tanya Ori.


"hadeeh.., iya, deh, tau yang lagi kasmaran. Gue mah bisa apa?" kata Rin lalu memilih tempat duduk di depan Yura.


"Rin.., Rin jangan marah,ya...," kata Yura.


"hmph !" Rin hanya bisa mendengus.


Tiba-tiba ada seseorang yang meletakkan tas di sampingnya,


"Hallo Rin boncel." sapa orang itu yang ternyata adalah Roger.


"ngapain lu duduk di sebelah gue, cari sana tempat lain !!" kata Rin.

__ADS_1


"duuh.., Rin, jangan gitu,dong..., Gue,kan temen lu juga...," kata Roger.


"lu temen gue yang berhasil bikin gue jadi nyamuk, tau gak...," kata Rin.


"woy, Rin boncel, biasa aja kali..., lu ngegas mulu dari tadi. Berantem sama Iskandar lagi lu,ya...," tebak Ori.


"hey.., ssst...," kata Rin sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.


"woy, Rin.., tenang di sini baru kira-kita yang hadir di acara pertunangan lu. Iskandar juga udah wanti-wanti buat tutup mulut,kok..," kata Roger.


"sejak kapan lu akrab sama Iskandar?" tanya Rin.


"hehe.., sejak acara camping ke gunung kemaren. Iskandar ngajak gue karena gue pacarnya Liska yang sahabatan sama elu." kata Roger.


"bohong, dia.., Iskandar deketin dia karena dia gak kelar-kelar candunya sama rokok." kata Ori.


"eits..., buka kartu gue aja lu, Culun !" kata Roger.


"kalo itu, gue sih paham...," kata Rin.


*


*flashback*


Iskandar mengatur kompor portable untuk memasak makan siang.


"Ketua komdis ! nih air buat masaknya....," kata Roger sambil memberikkan panci berisikan air.


"thanks...," kata Iskandar lalu merebus air itu.


Roger lalu berjongkok di samping Iskandar,


"sebenarnya apa, sih yang mau lu omongin ke gue?" tanya Roger.


"gue pernah denger tentang hubungan lu sama Rin...," kata Iskandar sambil memasukkan 5 butir telur ketika airnya mulai mendidih.


"ck,ck,ck..., duuh..., padahal Liska yang jadi cewek gue aja gak kesebar, malahan kabar kayak gini yang beredar..," kata Roger.


"jadi itu bener?"


"yah.., gak bisa gue bilang salah juga. Gak, itu emang faktanya, deh..," kata Roger mengaku.


"satu hal yang gue suka dari lu, lu selalu jujur kalo udah ketawan." kata Iskandar membuat Roger tertohok.


"yah.., gue ngomong ini karena lu tunangannya Rin," kata Roger.


"jujur, aslinya gue merasa bersalah, tapi gue gak mau pisah dari Liska. Gue suka banget sama dia, tapi gue gak bisa dengan mudah deketin dia kecuali lewat Rin." kata Roger tiba-tiba, Iskandar memicingkan matanya curiga,


"Rin pernah suka sama lu?" tanya Iskandar curiga.


"eeh, enggak, enggak.., maksudnya gue minta Rin comblangin gue...," kata Roger.


"ooh..., terus letak rasa bersalah lu dimana?" tanya Iskandar dengan rasa sedikit cemburu.


"karena gue udah bikin Rin jadi nyamuk..,"


"nyamuk?"


"ya, itu yang sering dia keluhkan kalo lagi bertigaan..,"


"begitu..., jadi sekarang mereka gak Deket lagi gara-gara lu?" kata Iskandar menarik kesimpulan.


"kelihatan,ya?"


Iskandar terdiam,


"lu mau gak Nebus kesalahan lu?" tanya Iskandar.

__ADS_1


"hah? maksud lu?"


"gue ngerasa Rin bakalan terlibat sama kejadian yang bahaya...,"


"hah? maksud lu ada yang benci dia?"


"bukan, tapi sebaliknya, dia yang benci seseorang." kata Iskandar.


"siapa?"


"gue belum bisa mastiin. Tapi lu bisa, gak jaga dia dari berbuat sesuatu yang "bodoh" ? tapi kalau lu gak bisa sampai mencegah, cukup laporin ke gue kalo dia udah melakukan sesuatu dan jangan lupa buktinya."


Mata Roger terbelalak,


"gila ! lu curigain tunangan lu sendiri ?!! gak percaya lu sama dia kalo dia anak baik-baik?? tampangnya aja culun gitu...," kata Roger tak percaya dengan apa yang barusan keluar dari mulut Iskandar.


Iskandar tersenyum,


"gue bukan curiga sama dia, cuman berusaha melindungi dia dari perbuatan yang seharusnya gak dilakuin...," kata Iskandar lagi.


"kenapa?" tanya Roger tiba-tiba.


"kenapa? maksud lu?"


"kenapa lu minta gue?" tanya Roger.


"karena lu temen Rin, karena kemungkinan besar lu bakalan sekelas sama Rin." jawab Iskandar lalu tersenyum.


Roger juga tersenyum,


"oke, oke..., gue bakalan berusaha sebisa mungkin. setidaknya untuk menebus rasa bersalah gue...,"


Iskandar merasa lega dengan jawaban Roger.


"eh, telurnya udah Mateng !" kata Roger yang melihat cangkang telurnya sudah retak.


"waduh angkat-angkat...," kata Iskandar dan Roger heboh.


*flashback off*


*


Author POV


Rin sibuk membuat kerangka konsep di jurnal pemberian Iskandar. Diam-diam Roger melirik apa yang sedang dibuat oleh Rin,


"ehm !" tegur Rin yang merasa dirinya diawasi.


"lu ngapain? tumben perhatian amat sama gue?" sindir Rin.


"ehehe..., gue penasaran aja, apa yang ada di dlaam kepala seorang pembuat konsten Mading...," kata Roger.


"baru sadar lu kemampuan hebat gue?" tanya Rin menyombong.


"hadeeh..., males, deh kalo gini caranya.., " kata Roger.


"nah, gampang,kan kalo mau ngusir elu..," kata Rin lagi.


"sebenarnya gue masih gak ngerti maksud Iskandar, di sebelah mananya, sih lu bakalan ngelakuin hal buruk?" batin Roger.


BLETAK !


Roger menjitak kepala Rin,


"Sembarangan lu !" kata Roger.


"iih.., sakit, tau !!" kata Rin yang hanya bisa mengeluh.

__ADS_1


__ADS_2