Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Extra Story 6


__ADS_3

"jangan-jangan dia hamil !!!" kata Friska heboh.


Iskandar menaikkan alisnya sebelah,


"tanda-tandanya memang sama, sih...," kata Iskandar.


"Hem.., coba kamu baik-baikin dia, terus ajak ke rumah sakit besok."


"besok???"


"morning...," Tiba-tiba Yoyo datang dan langsung duduk di mejanya.


"morning Papi...,"


"kalian lagi bicarain apa?" tanya Yoyo.


Friska langsung menyajikan sarapan untuk suaminya itu,


"Mami besok mau buat janji sama dokter kandungan yang Mami kenal." kata Friska bergerak cepat.


"buat apa, Mi__, Rin hamil?" tanya Yoyo yang sudah bisa menebak arah pembicaraan.


"entahlah, Pi.., makanya mau dites...," kata Iskandar.


"ya sudah, tes saja dulu.., siapa tahu emang beneran hamil." kata Yoyo enteng.


"tuh, denger kata Papi...," kata Friska.


"tapi, Mi...,"


"udah, nurut aja kata Mami...,"


Tiba-tiba ponsel Friska berdering,


"eh, Mas Awan telepon. Ada apa ini?" tanya Friska lalu menerima teleponnya sedangkan Iskandar melanjutkan sarapannya,


"assalamualaikum...," Friska terdiam, seolah menyimak apa yang Awan bicarakan disebrang.


"serius??? Minggu depan ??" tanya Friska tiba-tiba.


"oke fix, nanti Mami bilang Papi..., siap !!" kata Friska bersemangat lalu menutup teleponnya.


"ada apa Mi?" tanya Yoyo lagi.


Friska langsung menghampiri suaminya itu lalu memeluknya,


"Papi..., Awan bilang dia mau ngelamar Adiba Minggu depan !!!!" kata Friska heboh.


"Alhamdulillah....," kata Yoyo dan Iskandar bersamaan.


"kali ini tapi beneran, kan Mi?" tanya Yoyo.


"iya. pasti." kata Friska bersemangat.


"kalo gitu, Dita juga harus dihubungi, setidaknya dia harus balik sebentar untuk menghadiri acara lamaran Mas Awan." kata Iskandar.


"benar kamu.., pokoknya semua harus ikut, Rin juga..., inget, baik-baikin dia...," kata Friska.


*


Rin berdiri di depan kamarnya masih dengan hati yang marah. Namun sebenarnya Ia merasa sedikit takut memasuki kamar yang bagaikan kandang singa ini, Apakah Iskandar akan memarahinya habis-habisan?


"emangnya kenapa? Gue gak boleh marah gitu?" kata Rin yang egonya muncul. Ia lalu masuk ke kamarnya.


Rin melongok ke dalam, tapi tidak ada siapa-siapa,


"pasti dia belum pulang...," kata Rin. Perasaannya agak lega sekarang. Ia lalu langsung pergi mandi.


Rin membuka pintu kamar mandi dan ia langsung bisa menemukan seorang Iskandar yang sedang duduk di sisi pinggir tempat tidur. Iskandar langsung bisa menyadari bahwa istrinya itu sedang menatapnya,


"eh, Rin...," kata Iskandar ramah. Ia sama sekali tidak marah, padahal jelas sekali semalam nada bicaranya dingin.

__ADS_1


"Iskandar...," Rin yang tadinya sudah menyiapkan berbagai amunisi untuk perang argumen, langsung membuangnya begitu saja. Melihat wajah Iskandar yang tersenyum, ia seolah lupa sedang marah dengannya.


Iskandar lalu menghampiri Rin dan menghimpit kedua pipinya,


"aku kangen sama kamu...," kata Iskandar manja.


"apa?"


"aku mandi dulu, ada hal yang harus kita bicarakan...," kata Iskandar.


Deg !


Kalimat Iskandar berhasil membuatnya ketakutan. Apakah sekarang ia marah sambil tersenyum?


*


Rin duduk bersila di atas kasur sambil memegangi jari-jari kakinya.


Ceklek!


Bahkan bunyi pintu kamar mandi yang dibuka terdengar sangat "horror" baginya,


"kamu udah makan malam?" tanya Iskandar lalu naik ke atas kasur.


Rin bergeser menjauh,


"udah..,"


"apa hari ini kamu merasa lelah?" tanya Iskandar malah menempelkan punggung tangannya ke kening Rin,


"eng.., enggak...,"


"baguslah...," kata Iskandar lalu membelai kepala Rin lembut.


Rin malah heran diperlakukan begitu, Ia menyingkirkan tangan Iskandar yang membelai rambutnya,


"kamu gak marah sama aku?" tanya Rin.


"so,soalnya..., kemarin aku bentak kamu...," kata Rin.


"bentak? kapan?"


"waktu kita berdebat mau ke Paris atau Seoul..," Rin terdiam sejenak,


"aku.., aku juga menghindari kamu hari ini untuk menenangkan diri..., aku...," Rin menatap Iskandar yang masih memandanginya,


"maafin aku Iskandar...., hwaa...," kata Rin malah menangis.


"kenapa kamu nangis?" lalu Iskandar memeluknya.


"apa dia benar-benar hamil? wait, bukannya kalo mau datang bulan juga jadi baperan,ya?" batin Iskandar.


"soalnya.., soalnya aku bodoh banget...,"


"aku marah sama kamu tanpa alasan..., aku malah ambil kesimpulan sendiri..., aku sama sekali gak mau dengerin kamu, padahal..., padahal kita udah janji untuk saling terbuka dan jujur...," kata Rin.


Iskandar mengelus punggung Rin,


"iya.., sejujurnya aku marah sama kamu..,tapi kata Mami, aku gak boleh marah sama kamu..,"


Rin melepas pelukannya,


"hah? kenapa?"


Iskandar tersenyum,


"ibarat api ketemu api jadinya kebakaran, air ketemu air jadinya banjir, makanya Api harus ketemu air supaya apinya padam...,"


"ih, Iskandar, sok puitis banget...," kata Rin.


Cup!

__ADS_1


Iskandar lalu mencium kening istrinya itu,


"galak banget, sih.., suaminya diomelin mulu..," canda Iskandar lalu mencolek ujung hidung Rin.


"oh,iya Iskandar..., ngomong-ngomong sebenarnya apa alasan kamu mau ke Paris?"


Iskandar terdiam,


"yang pasti bukan mau ketemu cewek-cewek cantik...," kata Iskandar.


"iya, makanya apa?"


"aku mau ketemu sama Idho..., Kemarin sempet gak sengaja ketemu Istiqomah, terus dia bilang kalau Ayahnya Idho ngelarang mereka buat datang ke sana, nemuin Idho. Yah.., Idho emang orangnya sangat bersemangat dan gak tau malu, tapi.., dia pasti juga butuh dukungan. Di sana dia emang tinggal sama Odi yang kebetulan ada famili, tapi mau bagaimanapun dia pasti butuh support dari banyak orang...," kata Iskandar lagi.


"ya ampun..., kamu sama Idho hubungannya deket banget,ya..," komnetar Rin.


"oh,iya.., aku juga mau sekalian ngajak dia duel, jangan-jangan udah lupa cara bertarung lagi, dia..," kata Iskandar.


Rin lalu memeluk pinggang Iskandar,


"apaan,sih.., kan harusnya kita yang bertarung...,"


"hah? ap__, ah.., Rin....," Iskandar tidak mampu berkata-kata ketika tahu maksudnya.


Rin lalu menunjukkan wajahnya pada Iskandar,


"muka kamu merah...," kata Rin sambil senyum-senyum sendiri.


Iskandar menghela nafasnya,


"jadi.., kamu tetap mau ke Seoul?"


Rin menggeleng, lalu memeluk Iskandar lagi,


"enggak.., ke Paris aja. Aku mau ke Seoul untuk bersenang-senang, tapi kalo dipikir cuman kita berdua, nanti kalo anak kita udah lahir, dia iri lagi. Jadi ke Seoulnya kalo udah punya anak aja...," kata Rin.


"anak..., oh iya..., besok kata Mami kita harus ke dokter kandungan jam empat sore, kamu udah pulang,kan jam segitu ?" kata Iskandar.


"hah? dokter kandungan?? Apa.., Apa aku hamil?" tanya Rin sambil memegangi perutnya.


"makanya, besok mau diperiksa..., besok bisa,gak?"


"bisa,sih..., kan yang gak bisa kamu...," kata Rin.


"ah.., benar juga...,"


"gak apa-apa, aku bisa pergi sama Mami, nanti hasilnya langsung aku kabarin kamu." kata Rin.


"bener?"


"bener."


"kalau begitu, sekarang tidurlah. Kamu harus istirahat..," kata Iskandar sambil menarik Rin agar tidur di sampingnya.


"iya..," kata Rin langsung memeluk suaminya. Iskandar juga tidur sambil memeluk istrinya.


*


Pukul 3.05, tiba-tiba Rin terbangun dan kini Iskandar masih memeluknya. Ia merasa harus pergi ke kamar mandi. Rin pelan-pelan memindahkan tangan Iskandar dari tubuhnya,


"ada apa, Rin?" tanya Iskandar yang masih memejamkan mata.


"aku mau ke kamar mandi...,"


Tak beberapa lama kemudian,


"ISKANDAAR !!!!!"


Iskandar langsung berdiri mendengar istrinya teriak dan pergi ke kamar mandi yang masih terkunci,


"Rin.., ada apa??? Buka pintunya !!!"

__ADS_1


__ADS_2