
Rin POV
Iskandar menggandengku sambil berlari. Bahkan Aku tidak mengerti kenapa kami berdua berlari. Tapi larinya itu sangat cepat, jelas saja, kakinya itu sangat panjang, aku hanyalah kerdil jika dibandingkan dengannya.
"Aduuh !!" Tiba-tiba aku sudah terduduk di atas aspal yang agak panas. Untungnya aku menggunakan celana jeans. Iskandar berhenti lalu berbalik menghampiriku,
"Rin.., Apa lu terluka?" katanya khawatir dan langsung memeriksa kedua lututku.
"enggak...," kataku.
"duuh.., Sorry..., gara-gara gue...," kata Iskandar sambil menggulung celana jeans ku sampai lutut. Benar saja, tidak ada luka apapun di sana.
"Iskandar..., gue beneran gak kenapa-napa...," kataku.
Iskandar lalu menatapku dengan tatapan khawatirnya,
"sorry..., ngeliat Juan nyium Keisha benar-benar bikin gue gugup jadi mau pergi sejauh-jauhnya aja...," kata Iskandar jujur.
Ya ampun, betapa polosnya lelaki sangar di hadapanku ini.
"iya.., gue juga gugup...," kataku jujur.
Iskandar lalu tersenyum,
"ayo, lu gue gendong...," kata Iskandar lagi-lagi menawarkan punggungnya.
"uhm.., digendong sama elu tuh mengerikan. Gue takut...," kataku.
"ya ampun..., emangnya lu phobia ketinggian?"
"enggak juga, sih...,"
"udah naik cepetan, biar makin cepet Sampai." katanya. Sialnya aku benar-benar sudah naik ke atas punggungnya.
"maksudnya biar cepet sampai__, Waaa !!! Iskandar !!!" teriakku yang takut ketika tiba-tiba dia berlari sambil menggendongku.
*
Aku memejamkan mataku sambil memeluk Iskandar erat.
"Rin...," katanya memanggil namaku.
"sudah sampai...," katanya sambil berjongkok untuk menurunkanku. Aku langsung turun dari punggungnya.
"Oh,iya , Iskandar..., apa punggungmu baik-baik saja?" tanyaku. Tunggu, kenapa aku menanyakan itu?
Iskandar malah tersenyum,
"itu,kan sudah lama. Seminggu juga udah sembuh." kata Iskandar sambil mengacak-acak rambutku.
"eh? ma,maaf...," katanya lalu merapikan rambutku lagi.
"nah, gini,kan cantik...," kata Iskandar lagi.
Aku mengernyitkan dahi,
"A,apaan, sih?" kataku malu. Wajahku pasti merah saat ini.
__ADS_1
Iskandar malah terdiam. Lagi-lagi suasana canggung.
"Rin..," ia memanggil namaku, memecahkan suasana.
"i,iya?"
"gue mau lari lagi,ya?" katanya.
"hah? ngapain?"
"perasaan gue benar-benar gak enak...," katanya lari di tempat.
"tapi...,"
"sorry...," katanya lalu langsung lari.
"Iskandar !! Tunggu!!" kataku malah ikut lari.
*
Sekarang kami berdua duduk di atas rumput-rumput sambil terengah-engah. Untungnya Iskandar memilih tempat di bawah pohon yang rindang, jadi kami tidak teralu kepanasan.
"ngapain juga lu ikutin gue...," omelnya.
"lu, sih..., lu yang ngajak gue ke sini.., lu juga yang ninggalin gue sendirian. Jahat!!" kataku kesal.
Iskandar hanya memandangku tanpa berkata apa-apa.
"sorry,ya, Rin...," kata Iskandar tiba-tiba.
"sorry? buat apa?" tanyaku.
Aku langsung menoleh dan memandang Iskandar yang sedang memandangiku. Tangannya lalu mengusap pipiku sambil tersenyum,
"tapi gue gak nyangka, lu bukan cuman licik, tapi kuat...," katanya.
Hampir saja aku bahagia karena dia minta maaf barusan karena hilang tiba-tiba. Tetapi bisa-bisanya dia malah meledekku. Aku langsung memutar tubuhku membelakanginya.
"hey.., gue itu barusan memuji elu tau...," katanya.
"apanya yang muji?" kataku kesal.
"Lu itu kuat, yah meskipun sempet sesat sebentar, sampai akhirnya lu kembali lagi ke diri elu..., Gue juga udah dengar semuanya dari Pak Jamil soal alasan lu gak cegah Keisha."
Aku lalu berbalik lagi menghadapnya,
"gue bersyukur lu gak terpuruk atau berbuat lebih parah lagi setelah ketawan dan dihukum..," katanya lagi.
"Gue bener-bener khawatir sama elu, tapi gue gak bisa nunjukin kalo diri gue peduli sama lu di sekolah." katanya lagi lalu tersenyum miring,
"lu kan maunya orang-orang gak tau hubungan kita yang sebenarnya. Selain itu gue juga harus membuat LPJ buat sidang abis UTS. Gue cuman bisa nanya Bunda tentang keadaan lu.., gue__," Ia terhenti karena aku menyentuh bibirnya dengan telunjukku. Matanya sampai melotot karena kaget.
"eh, maaf!" kataku yang sadar dengan apa yang barusan aku lakukan. Aku langsung menarik tanganku. Sebenarnya aku ini kenapa, sih?
"tidak apa-apa...," katanya sambil terus menatapku. Ia menatap mataku begitu dalam sampai membuat jantungku berdebar-debar.
"Iskandar...," kataku yang tidak kuat lalu memilih menunduk.
__ADS_1
"muka elu merah, Rin.., apa cuaca teralu panas?" tanya Iskandar sambil membentangkan kedua telapak tangannya di atas kepalaku. Kenapa dia melakukan ini? Kenapa bisa seromantis ini? Menyebalkan.
"udahlah, Iskandar." kataku menyingkirkan tangannya.
"Rin.., lu belum jawab gue...," katanya tiba-tiba.
"jawab apa?" tanyaku bingung.
"lu maafin gue,kan?"
Ya ampun, jadi dia benar-benar minta maaf. Aku kira bercanda. Aku sampai lupa karena kelakuanku sendiri tadi.
"mau gak dimaafin juga sama aja...,"
"oh,iya.., gue juga yang ngelaporin elu, Rin..., kalo yang ini pasti gak bisa dimaafkan, ya?" katanya lagi. Kalau itu aku juga tahu. Jelas-jelas dia yang ada di ruangan Pak Jamil saat aku dipanggil.
"gue yang harusnya minta maaf ke elu...," kataku.
"hah?"
"gue,kan tunangan lu, tapi gue malah berbuat onar. Bukannya itu bakalan memperburuk reputasi lu. Bagi seorang Iskandar reputasi yang baik itu,kan sangat penting...," kataku. Ini yang paling membuat aku sangat kecewa pada diriku sendiri.
"ooh.., kan, gak ada yang tau kita tunangan.., santai aja...,"
"tapi lu gak kecewa sama gue?" ini adalah hal yang paling membuatku penasaran.
"kecewa, sih, tapi gak nyangka juga."
"apaan, sih maksudnya...," kataku yang merasa digantung.
"Rin..., gue percaya sama elu, Lu gak mungkin melakukan hal yang lebih parah dari ini." katanya lalu membelai rambutku,
"makanya, jangan bikin gue kaget lagi, hahaha...," katanya malah tertawa.
"Kenapa? kenapa lu malah gak jauhin gue? kenapa lu tetep sepercaya itu sama gue?" tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca. Entah kenapa ungkapannya yang percaya padaku membuatku tersentuh.
"Gue belajar banyak selama jadi ketua komdis ini. Gue belajar untuk gak menilai seseorang dari satu sisi. Setiap kesalahan yang mereka perbuat, pasti ada penyebabnya. Ya meskipun kadang penyebabnya gak masuk akal juga." kata Iskandar lagi.
Aku menggigit bawah bibirku, entah kenapa aku merasa butiran-butiran air bening menetes dari pipiku.
"eh, loh? kok lu__,"
Aku memeluknya. Aku tidak peduli lagi dengan pemikiranku yang membencinya, tapi hatiku mendorongku untuk memeluknya.
"Rin...,"
"Terimakasih, Iskandar..., terimakasih karena gak benci sama gue..," kataku meluapkan perasaanku.
"Rin, tapi gue keringatan...," kata Iskandar.
"emangnya kenapa??" kataku sambil mendongakkan kepalaku,
"apa kalau tunangan lu meluk lu itu salah??" tanyaku.
"ah.., itu..," Ia lalu membalas pelukanku tapi membuang wajahnya.
"jangan nangis lagi, jelek tau..," katanya sambil mengusap-usap punggungku. Aku diam-diam tersenyum.
__ADS_1
"gawat..., kayaknya gue jatuh cinta sama Iskandar..," batinku.