Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 44


__ADS_3

Rin menggulung tubuhnya dengan selimut.


CKLEK !


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka,


"ya ampun..., Rin !!! Bangun !! baru aja tunangan kemarin, langsung perilaku buruknya kambuh....," omel Amanda yang melihat anak gadisnya masih tidur di siang bolong begini.


"Rin capek, Bun...," lirih Rin dari balik selimutnya.


"gini doang capek, gimana kalo kamu nikah nanti ??" kata Amanda lalu menarik selimut Rin.


Rin langsung meringkuk. Ia tidak mau Amanda melihat wajahnya yang sembab karena menangis semalaman.


"cepat bangun..., Bantuin Bunda beberes...," kata Amanda.


"iya...," kata Rin.


*


Hari ini adalah hari pertama libur semesternya. Rasanya ia ingin hibernasi saja setelah menyelesaikan acara pertunangannya semalam. Ya, kini Rin adalah tunangan Iskandar. Namun setelah acara selesai Rin langsung pulang dan tidur. Bahkan ia tidak sempat berbincang-bincang dengan Iskandar setelah Iskandar menyematkan cincin pertunangan di jari manisnya.


Sayangnya belum lebih dari 24 jam ia tidak melihat Iskandar, kini ia harus bertemu tunangannya lagi. Rin kini berdiri di depan rumah Iskandar sambil membawa sebuah kotak besar berisikan cake tiramisu buatan Amanda. Rin lalu memencet bel rumah Iskandar,


"loh? Kak Rin?" tanya Dita yang ada di belakangnya. Rin langsung berbalik,


"Happy birthday yaaa...," kata Dita memberikan selamat pada Rin. Hari ini Dita adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulangtahun untuknya.


"UPS !" kata Dita.


"kenapa?" tanya Rin.


"pasti si cowok sangar itu belum ngucapin ke kakak,ya ?? Duuh.., harusnya dia,kan yang ngucapin pertama?? Aduuh..., aku ini benar-benar destroyer...," kata Dita panik sendiri.


"cowok sangar?" tanya Rin heran.


"iya..., muka Mas Iska, kan sangar..., hihi..., kak, jangan bilang-bilang,ya.., nanti dia marah. Matilah aku kalo dia marah, hihi..." kata Dita lalu membuka pagar rumahnya,


"ayo masuk, kak. eh, itu apa? sini, Dita yang bawa." kata Dita langsung mengambil kotak berisi kue yang dibawa Rin.


*


Saat masuk rumah, mereka sudah disambut oleh Friska,


"Rin menantuku !!!" kata Friska langsung memeluk Rin.


"Happy birthday sayang...," kata Friska lagi lalu mencium kening Rin.


"oh,iya.., kamu pasti mencari Iskandar,ya? Duuh, tuh anak dimana, ya?" tanya Friska.


"gak juga, sih. Gue,kan ke sini karena dipaksa Bunda...," batin Rin.


"kayaknya dia belum pulang dari Dojo." kata Dita.


"oh,iya.., mulai hari ini dia ngelatih anak-anak lagi,ya?" kata Friska.


"ngelatih anak-anak?" tanya Rin.


"dia ngelatih Judo di Dojo punya Papi. Dia juga alumni di situ."


"ooh...," kata Rin.


"satu lagi fakta tentang Iskandar...,"

__ADS_1


"kamu pasti bosan,ya? di saat kamu ulang tahun, tapi tunangan kamu gak ada...," kata Friska.


"ah, enggak, kok, Mi..," Rin sudah mulai terbiasa memanggil Friska dengan sebutan Mami,


"Rin juga mau pulang. Ada novel yang mau Rin beli." kata Rin lalu pamit.


"ya ampun.., dasar Iskandar, nanti kalo pulang Mami kasih petuah !" kata Friska.


"ugh.., berat-berat...," komentar Dita.


*


Rin berjalan sendirian ke toko buku langganannya. Bisa-bisanya dia ulang tahun setelah bertunangan. Rasanya suasananya berbeda sekarang. Padahal ibu dan adik tunangannya sudah mengucapkan ulang tahun padanya, tapi seperti biasa, hatinya merasa hampa. Itu sebabnya Amanda tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun. Membuat cake di hari ulang tahun Rin adalah cara Amanda mengucapkannya.


Mata Rin tiba-tiba terusik dengan alat-alat tulis setelah ia berhasil mendapatkan novelnya.


"sepertinya aku harus membeli pulpen warna-warni lagi..," katanya. Ia lalu pergi ke etalase pulpen itu.


"ya ampun..., kenapa kalo lihat pulpen gue bisa khilaf,ya ?? duuh.., beli yang mana dulu...," kata Rin berjalan ke samping untuk memilih pulpen,


BUK !


tiba-tiba ia menabrak seseorang sampai barangnya terjatuh,


"eh, maaf !!" kata Rin lalu mengambil pulpen yang ia jatuhkan,


"Rin ?!" Suara berat yang sangat familiar di telinga Rin. Rin langsung mendongak, matanya langsung terbelalak,


"kenapa bisa ketemu di sini???"


laki-laki itu tersenyum,


"padahal gue mau dateng ke rumah elu.., tapi malah ketemu di sini...," katanya.


"oh...," kata Rin lalu memberikan pulpen yang barusan diambilnya,


"kan gue yang jatuhin..," kata Rin lalu melihat-lihat pulpen-pulpen yang terpajang di situ.


"bener juga...," kata Iskandar lalu meletakkan pulpen yang tadi dijatuhkan Rin ke dalam tas belanjanya.


Rin diam-diam melirik tas belanja yang digendong Iskandar, di dalam situ ada sebuah buku sketsa,


"ehm.., lu suka gambar?" tanya Rin mulai kepo.


"suka. Tapi gak suka-suka amet...," kata Iskandar.


"te,terus.., buku sketsa buat apa?" tanya Rin.


"buku sketsa? ooh.., ini buat Yura. Dia,kan ulang tahun bulan depan..," kata Iskandar.


"Yura ulang tahun masih bulan depan dan dia udah beli kadonya sekarang??" batin Rin.


"sebenarnya tunangannya siapa, sih?" kata Rin.


"ya elu,lah, Arini Kalista...," jawab Iskandar.


"apaan, sih?" tanya Rin heran.


"lu barusan nanya,kan siapa tunangan gue? ya gue jawab, elu,lah...," kata Iskandar.


"kapan gue nanya?" tanya Rin.


"barusan, sebenarnya tunangannya, siapa sih?" kata Iskandar mengulang kalimat Rin.

__ADS_1


"ya ampun.., jadi gue ngucapin? bukannya ngomong dalam hati ???" batin Rin.


"nah.., ini dia nomor nol koma lima." kata Iskandar.


"Rin..., lu udah? biar sekalian gue bayarin...," kata Iskandar.


Rin lalu memasukkan pulpen dengan tiga warna berbeda ke dalam tas belanjanya,


"lu itu tunangan gue, bukan suami gue !!!" kata Rin ketus lalu meninggalkan Iskandar.


Iskandar mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia lalu mengikuti Rin.


Rin cemberut sambil membayar pulpen dan novelnya di kasir bersamaan. Entah apa yang membuat suasana hatinya makin buruk.


"totalnya seratus tiga ribu rupiah..," kata Kasir.


"sama ini sekalian, mba...," kata Iskandar memberikan tas belanjanya.


Rin langsung sadar dan,


"lu__,"


"berapa semuanya,mba?" tanya Iskandar.


"ck !" Rin makin kesal karena tidak bisa mencegahnya.


"dua ratus delapan puluh tiga ribu rupiah..," kata kasir.


Iskandar langsung memberikan tiga lembar uang seratus ribuan. Rin langsung mengambil tas plastik berisi barangnya yang sudah dibungkus duluan lalu pergi begitu saja.


"Rin !" kata Iskandar sambil mengejar Rin setelah transaksinya selesai.


Rin berjalan dengan cepat. Rasanya ia ingin marah saja. Hatinya benar-benar panas,


"Rin !!" tiba-tiba tangannya ditarik, membuatnya berhenti.


Rin segera menoleh ke arah orang yang menarik tangannya, benar dugaannya, dia adalah Iskandar,


"Apa??? sekarang apa???" tanya Rin marah.


Tuk !


"saenggil chukka hamnida..," kata Iskandar sambil menempelkan sebuah jurnal di kening Rin,


"pengucapan gue udah bener belum, sih? lu itu anak-anak yang suka nonton Drakor pake proyektor sekolah,kan?"


"apaan, sih??" kata Rin, namun matanya berkaca-kaca, ia bahkan tidak mengerti kenapa matanya berkaca-kaca,


"yang bener itu saengil chugha hamnida, tau...," kata Rin.


"apa bedanya sih?"


"udah, bilang aja pake bahasa yang bisa...," kata Rin.


"oke,oke.., selamat ulang tahun, dan ini hadiah buat Rin, jurnal buat ngekepoin semua anak-anak di sekolah...,"


"ugh.., apaan ,sih??"


"terima dong.., hadiah dari tunangan lu nih..," kata Iskandar.


"iya,iya.., " kata Rin yang tersipu malu karena perkataan Iskandar.


"ya udah...," Iskandar lalu menggandeng tangan Rin,

__ADS_1


"ayo, gue anter. Kali ini naik mobil, kok, bukan angkutan umum." kata Iskandar.


Rin lalu menggandeng erat tangan Iskandar. Entah sejak kapan Rin merasa nyaman jika melakukan ini.


__ADS_2