
"Iskandar !!! kenapa kamu baru datang !!!" tanya Mami yang tiba-tiba melepas pelukannya denganku dan menghampiri putranya. Jadi dia asli dan aku tidak berhalusinasi?
"uhm.., Mami nangis? ada apa memangnya__,"
Bug !!
Aku melempar wajahnya dengan bantal dan tepat sasaran. Aku kesal sekali ! Di saat aku menangisi kepergiannya, dia malah dengan santainya bertanya ada apa???
"Rin??" katanya yang kaget karena kulempari bantal.
"haduuh.., mendingan kalian ngomong berdua dulu, deh.., Mami mau urus administrasi dulu," kata Mami lalu keluar.
Iskandar mengambil bantal yang aku lempar tadi dan duduk di sampingku, Ia memandangi wajahku. Mungkin mataku sembab karena menangis tadi.
"lu juga nangis, Rin? Emangnya ada apa, sih? Apa yang sakit?" tanyanya.
Aku langsung menatapnya tajam dan menunjuk dadaku. Ia hanya mengernyitkan dahinya heran.
"dasar Iskandar bodoh !!! Lu kira gue nangis kenapa ???" kataku merutukinya.
"lu masih shock?" tebaknya. Memang benar tebakannya, aku shock melihat dirinya yang hampir ditusuk punggungnya.
"iya !! iya !!! Gue shock !! Gue shock karena tindakan bodoh lu !!!" kataku malah menangis.
Tangan Iskandar lalu menyentuh pipiku dan ibu jarinya menyeka bulir air mataku yang menetes,
"maaf,ya.., maaf udah buat lu khawatir...," katanya lembut.
"kenapa, sih? kenapa elu sampe mau ngelakuin hal itu? Kenapa sampe rela mengorbankan diri lu sendiri??? Sebenarnya apa yang ada di kepala lu,hah?? Melawan dua puluh orang demi gue, melawan Dion demi gue..., Apa lu suka sama gue ???!!!!" Pertanyaan itu terlontar begitu saja membuat Iskandar terpaku.
"suka?" tanyanya.
"ya.., gue.., gue cuman menjalani kewajiban gue aja sebagai tunangan lu. Lagian incaran Dion emang gue...," katanya menggantung kalimatnya. Ternyata cintaku memang bertepuk sebelah tangan.
"jadi gitu,ya.., hiks!" kali ini aku menangis karena patah hati. Kenapa di saat aku pertama kali merasakan cinta, malah pahit begini ?
"Rin..," Ia memanggil namaku, tapi aku sangat kesal. Percuma sajakah aku mengkhawatirkannya? Aku masih menangis, tapi tidak bisa bersuara. Air mataku tidak bisa berhenti.
"Rin.., jangan begini !!" kata Iskandar sambil mengangkat kepalaku. Mataku terbelalak saat melihat wajahnya yang juga basah karena air mata. Kenapa dia juga menangis?
"gue tau lu cengeng dari dulu, tapi kalo lu nangis terus.., gue jadi sedih..," lirihnya. Bahkan seorang Iskandar yang sangar juga bisa menangis.
Kini tanganku memegang pipinya dan mengusap air matanya, aku menatap wajahnya yang sedih,
"kenapa?" tanyaku.
Ia tidak menjawabku, bahkan ia tidak berani menatap mataku.
"ah.., gue jadi emosional.., gue harus
__ADS_1
ke kamar mandi dulu buat cuci muka." katanya lalu melepaskan tanganku yang memegang kedua pipinya. Ia lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan ini. Apakah kisah cintaku sudah selesai sampai di sini?
Ceklek !
Tiba-tiba pintu terbuka lagi, Iskandar langsung berlari ke arahku dan memelukku.
"Gue suka sama lu, Rin !!" Suara lirihnya terdengar sangat jelas di telingaku, membuat aku mematung. Jantungku barusan seperti mau copot. Wajahku langsung terasa panas.
Ia lalu melepas pelukannya dan memandang wajahku yang pasti sudah seperti udah rebus ini.
"Gue gak akan menyembunyikan ini lagi." katanya.
Matanya yang tajam dengan percaya diri menatap mataku dengan intens,
"Gue suka sama lu, gue sayang sama lu, gue cinta sama lu, Arini Kalista..," kata-katanya berhasil membuat tubuhku teras lemas. Iskandar langsung menangkap tubuhku yang hampir terjatuh,
"Rin.., lu baik-baik aja?" tanyanya yang masih mengkhawatirkan aku.
Kedua telapak tanganku ini langsung menyentuh pipinya yang hangat,
"Lalu.., apa ini alasan lu__,"
"iya.., ini alasan gue. Alasan gue yang selalu diam-diam memandang elu, alasan gue mau dijodohin sama elu, alasan gue yang mempercayai elu, alasan gue mau mengorbankan diri gue buat lu...," Ia lalu menempelkan keningnya ke keningku lalu memejamkan matanya.
"maaf, Rin.., gue baru jujur sekarang sama lu..," lirihnya.
"tapi kamu jangan bertindak bodoh !" kataku. Iskandar yang tadi memejamkan matanya, kini menatapku bingung,
"kalau kamu mati.., aku akan hidup dengan siapa?" tanyaku. Tatapannya makin bingung, seolah berusaha mencari tahu maksud perkataanku. kedua tangannya merembet ke tengkukku, menariknya agar ia bisa lebih jelas melihat maksudku lewat sorot mataku,
"apa?" katanya.
"apa maksud kamu?" Tanya Iskandar yang juga mengikutiku menggunakan "aku-kamu". Ternyata ia masih belum menemukannya.
Aku tersenyum,
"maksud aku__,"
"Ehem! Ternyata begini,ya kalo lagi ngeliat adegan romantis secara live, OMAYGAT !" kalimatku dipotong begitu saja oleh orang tak tau diri ini. Aku sangat mengenal logat menyebalkan ini. Kami berdua yang tadi beratatapan langsung sama-sama menoleh ke asal suara,
"Idho !!!!" kata kami berdua kompak.
"hallo, kami datang untuk menjenguk." kata Odi dan Bella tak kalah kompak. Ya ampun, kenapa Trio jomblo yang hood-looking ini malah mengganggu, sih?
"UPS.., salah momen,ya datangnya__,"
Bug !
Aku melempar bantalku lagi ke wajahnya.
__ADS_1
"Rin.., tenangkan dirimu...," kata Iskandar yang juga menahan rasa kesalnya.
"maaf, ya.., kalau begitu kita keluar dulu..," kata Bella langsung menarik kedua temannya itu.
"gak ! Lu di sini aja Bel ! Jagain Rin." kata Iskandar lalu melirik ke arah Idho dan Odi,
"lu berdua ikut gue!" kata Iskandar lalu menarik Idho dan Odi keluar dari ruanganku.
Bella lalu duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurku,
"ciee...," ledeknya.
"apaan, sih Bell...," kataku malu.
"undangan kayaknya sebentar lagi disebar, nih..," kata Bella masih meledekku.
"ih.., malu, tau, Bell !!" kataku sambil menutup wajahku.
*
Author POV
Iskandar mencuci wajahnya sedangkan Idho dan Odi menunggu di samping westafel,
"maaf,ya Iskandar.., kami benar-benar gak sengaja datang. soalnya Mami Friska bilang kamu gak datang-datang, jadi kami bertiga yang dipanggil untuk menjaga Rin." kata Odi.
"ya.., i know..," kata Iskandar sambil mengeringkan tangannya yang basah.
"jadi.., lu udah jujur sama Rin soal perasaan lu?" tanya Idho yang langsung mengintrogasi.
"udah." kata Iskandar.
"and then???" tanya Idho makin penasaran.
"and then ? lu berharap gue jawab apa?" tanya Iskandar.
"Rin gimana reaksinya?" tanya Idho.
"kaget." kata Iskandar.
"hah? kok kaget, sih? bukannya seharusnya...," kata Idho.
"yah, gue padahal bisa dapet jawabannya, tapi gegara lu bertiga muncul jadi dia belum bilang apa-apa...," kata Iskandar lalu menempeleng pelan kepala Idho setelah itu keluar dari kamar mandi.
"waduh.., jadi salah gue? Ah, sial.., padahal kapal Iskandar-Rin akan segera berlabuh, tapi malah dihancurkan dengan kedatangan badai lautan Ridho Al-fatah Putra Azzam, ck,ck,ck...," kata Idho bicara sendiri.
"Idho, Idho..," kata Odi sambil geleng-geleng kepala lalu pergi keluar mengikuti Iskandar.
"woy, Di.., lu juga salah. jangan berlagak gue doang yang salah !!" kata Idho sambil mengejar Odi dan Iskandar yang sudah keluar duluan.
__ADS_1