Singa VS Kucing

Singa VS Kucing
Bagian 94


__ADS_3

"Iskandar !!!!" Teriakku memanggil namanya. Aku bisa lihat keringat-keringat sebesar biji jagung yang menetes dari wajahnya dan cairan kental yang keluar dari sudut bibirnya. Apa yang dia lakukan sebelum ke sini??? Apa ada luka lain di tubuhnya??? Seperti apa bentuk dendam Dion padanya??? Apa karena aku? Apa aku pembawa sial baginya??


"Sial !!!!" kata Emalia.


"Gak akan gue biarin !!!" Tiba-tiba ada seorang laki-laki datang ke arah Iskandar, tapi Iskandar langsung menendang perut orang itu sehingga terlempar. Aku kaget menyaksikannya, ini pertama kalinya aku melihat seorang Iskandar menendang orang.


"gue juga gak akan biarin...," kata Iskandar yang napasnya masih terengah-engah.


"dasar gak berguna.., apa gunanya gue sewa dua puluh orang kalo gak bisa menumbangkan satu anak SMA doang?" umpat Emalia.


"du,dua puluh??" batinku tak percaya. Apa maksudnya dua puluh orang itu menyerang Iskandar yang sendirian? Gak, Iskandar gak mungkin sendirian.


"Emalia.., lepasin Rin. Gue udah menepati janji, gue udah Nerima surprise Dion dan ini masih ada tiga puluh menit lagi, lepasin Rin." kata Iskandar.


"heh.., gak semudah itu...," kata Emalia.


"Emalia.., gue tahu, lu cuman marah, tapi please.., sadarkan diri lu. Lu gak pantas untuk jadi orang jahat..," kata Iskandar mulai berjalan mendekati tempat Emalia berdiri.


"gue? Jahat??? yang ada tunangan lu tuh yang jahat !! Dan anehnya lu masih setia di samping dia...," kata Emalia. Sepertinya dia memang tidak rela aku bahagia. Jelas saja, berkat aku, Juan jadi benar-benar jatuh ke pelukan Keisha.


"Gue tahu Rin jahat, Emalia.., tapi dia menyadari kejahatannya dan dia menyesal...," kata Iskandar lagi.


"lalu? lalu apa ?!!!"


"maka dari itu gue percaya sama lu kalau elu juga bakalan melakukan hal yang sama. Lu orang baik,kan?" tanya Iskandar masih berusaha membujuknya.


"Gu,gue orang baik? iya, gue emang orang baik..," kata Emalia.


Aku melihat orang-orang dengan sangat cepat dan tanpa suara masuk ke dalam ruangan tempat aku berada dan tiba-tiba menghilang. Siapa mereka? Orang jahat kah? komplotan Emalia? atau orangnya Iskandar?


"ya Emalia.., elu adalah orang yang baik...," Iskandar masih berusaha mempengaruhi Emalia.


"shuut, Rin.., are you okey?" tiba-tiba aku mendengar bisikan. Aku sangat mengenal suara ini.


"Keisha..," kataku berbisik.


"diam.., Jangan menoleh, pura-pura aja elu masih terikat..," bisik Keisha sambil melepas ikatanku.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" bisikku.


"nanti lu juga tahu...," bisik Keisha.


"HIYAAT !!" Tiba-tiba Dion datang sambil membawa pisau dan hendak menusuk Iskandar.

__ADS_1


"Iskandar !!!" kataku panik, tapi dengan sigap Iskandar menghindarinya, ya dia menghindarinya dan itu berarti Pisau kecil itu masih dengan santainya berada di tangan Dion.


"keh.., ternyata gue gak bisa meremehkan elu,ya..," kata Dion.


"Dion..., Berhenti !!!" teriakku. Dia boleh melakukan apapun padaku, tapi jangan pada Iskandarku !


"Berisik lu !!!" Teriak Emalia.


"Dion.., turunkan pisaunya. Gue udah menepati janji gue, sekarang gue di sini untuk jemput Rin. Lepasin dia...," kata Iskandar masih memohon.


"Hahahah...," Dion malah tertawa. Aku paling tidak mengerti kalau seseorang tertawa di saat seperti ini.


"ck,ck, ck..., ternyata Seorang Iskandar, yang bisa mengalahkan dua puluh orang sekaligus sekarang memohon pada gue?? Kalo tau kelemahan lu adalah anak kecil itu, udah gue habisin dia !!!!"


"gue bukan anak kecil !!!" Teriakku.


"bac*t lu !!!" balas Dion.


"Dion. Gue milih memohon sama elu karena elu adalah teman gue..," kata Iskandar. Bahkan dia masih menganggap Dion temannya. Dia memang manusia berjiwa besar.


"temen? kalo lu temen gue, kenapa lu menghalangi gue buat deketin Yura???" Tanya Dion. Yura? Dion suka sama Yura??? Wait. Ori putusin Yura karena Dion dan Dion memang sempat menyatakan perasaannya pada Yura, tapi bukankah Yura sudah menolaknya. Lalu kenapa Iskandar menghalanginya?


Iskandar menghela napas,


"keh..., emangnya gue gak tau kalo elu jelas membela temen culun lu itu !!!!" teriak Dion.


"Dion.., lu yang akan sakit hati kalo memaksakan kehendak Yura." Lagi-lagi Iskandar berusaha terlihat netral.


"Dion.., tenangkan diri lu. Jangan biarkan amarah lu yang mengendalikan emosi lu. Diri lu sendiri yang berhak mengendalikan tubuh lu. Tenanglah Dion...," kata Iskandar dan kini ia berjalan pelan-pelan menuju Dion yang entah kenapa hanya terdiam sambil menunduk. Mungkin ia sedang berpikir posisi Iskandar sekarang, temannya atau lawannya.


Iskandar lalu memeluk Dion. Bukankah itu sama saja bunuh diri? Apa yang ada di otaknya itu ?? Pisau itu masih ada di genggaman Dion ! Harusnya habisi saja Dion sampai tak sadarkan diri.


"Iskandar bodoh...," umpat Keisha yang dari tadi bersembunyi di belakangku. Sepertinya dia berpikiran sama denganku. Aku hendak berdiri, namun Keisha menahan tanganku,


"Rin..., lu jangan bertindak bodoh juga..," bisik Keisha.


Iskandar menepuk-nepuk punggung Dion,


"Dion.., tenangkanlah diri lu. Lu itu berhak mencintai dan dicintai...," kata Iskandar.


"Berhak mencintai?"


"ya..,"

__ADS_1


"tapi elu yang bikin gue tidak dicintai !!!" Tiba-tiba tangan yang memegang pisau itu langsung diayunkan ke punggung Iskandar,


"Iskandar !!!!" teriakku lalu semua gelap.


*


"Iskandar !!!!" Aku langsung bangun dan meneriakkan namanya. Aku sekarang sudah tidak di ruangan gelap tadi, semuanya di sini terang dan berwarna putih, tanganku juga tidak terikat, tapi ada jarum infus di tangan kananku.


"Rin..," Mami Friska ada di sampingku.


"Mami !!!" kataku lalu langsung memeluk Mami. Aku langsung menumpahkan kesedihanku. Terakhir aku melihat Dion mau menusukkan pisau ke punggung Iskandar. Apakah Iskandar baik-baik saja atau sudah tiada? Kenapa dia cepat sekali perginya? Aku bahkan belum mengungkapkan isi hatiku dengan benar.


"cup,cup.., jangan takut lagi,ya sayang.., semua baik-baik saja..," kata Mami sambil menepuk-nepuk punggungku.


"hiks..," aku terisak.


"semua baik-baik aja.., tapi Iskandar, Mi.., Iskandar...," kataku tak sanggup berkata-kata.


"ugh..., Dia baik-baik saja, sayang..," kata Mami. Pasti Mami hanya berusaha membuatku tenang.


"Iskandar mana, Mi.., Rin mau ketemu.., dia dimana?" tanyaku memburu pertanyaan pada Mami. Hatiku tidak akan tenang kalau tidak melihatnya.


"Dia nggak ada__,"


"Apa dia sudah pergi??" Tangisku makin deras. Kenapa dia harus mengorbankan dirinya demi aku?


"Tidak sayang.., dia tidak pergi...,"


"Mami jangan berusaha menghiburku, hwaa !!" tangisku lagi.


Mami mengusap-usap punggungku lagi,


"tenangkan dirimu sayang...,"


"huhuhu..., Iskandar...," aku menangis sambil menyebutkan namanya. Aku benar-benar tidak rela kalau begini.


"sudah-sudah sayang.., jangan buat Mami sedih...," kata Mami lirih, Bahkan Mami juga bisa merasakan kesedihanku. Apa Mami sudah mengikhlaskan Iskandar?


CKLEK !


Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan ini,


"Mami.., maaf, tadi jalanan macet...," Suara ini diikuti dengan kehadirannya--kehadiran seorang Iskandar di hadapanku. Apa aku tidak salah lihat? atau apakah aku berhalusinasi?

__ADS_1


__ADS_2